NOVEL SENJA DI DESA TEGOREJO , CINTA PERTAMA MULAI BERSEMI
NOVEL
SENJA DI DESA TEGOREJO, CINTA PERTAMA MULAI BERSEMI
"Tentang Sepeda Ontel, Latihan
Karate, dan Dua Remaja Desa yang Diam-Diam Menyimpan Cinta Pertama di Tengah
Senja Tegorejo, Tersimpan
di Hati Hingga Usia Senja”
Disclaimer
Novel ini merupakan karya fiksi yang
terinspirasi dari kenangan masa remaja di Desa Tegorejo, Pegandon, Kendal pada
era 1990-an hingga 1994-an. Sebagian tokoh, tempat, percakapan, dan peristiwa
diolah kembali dengan sentuhan dramatik untuk memperkuat unsur cerita tanpa
menghilangkan ruh kenangan yang menjadi jiwa utama novel ini.
Kisah ini bukan sekadar tentang cinta
remaja, melainkan tentang waktu, tentang jarak, tentang persahabatan, tentang
keluarga, tentang mimpi anak desa, dan tentang seseorang yang diam-diam tetap
tinggal di hati meskipun kehidupan telah membawa masing-masing menuju jalan
yang berbeda.
Apabila pembaca menemukan kemiripan
nama, suasana, atau pengalaman dengan kehidupan nyata, hal tersebut semata-mata
merupakan bagian dari kedekatan kisah ini dengan kehidupan masyarakat desa pada
zamannya.
Karena pada akhirnya, setiap orang
pernah memiliki satu nama yang diam-diam tetap hidup di dalam hati hingga usia
senja.
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG
Sepeda Ontel dan Jalan Pulang Kenangan
Malam itu angin dari DAS Sungai Kapuas
berembus pelan melewati celah jendela kayu rumah tua milik Riyadi di Desa
Sriwidadi, Kecamatan Mantangai Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Udara
terasa lembap setelah hujan sore mengguyur desa kecil itu sejak menjelang
magrib. Di kejauhan terdengar suara jangkik, samar-samar bercampur bunyi
tonggeret malam yang bersahutan dari balik pepohonan rambai di tepi jalan.
Riyadi duduk sendirian di teras rumah
yang mulai kusam dimakan usia. Di sampingnya secangkir kopi hitam telah lama
kehilangan uap panasnya. Tangannya menggenggam gelas itu perlahan, namun
pikirannya tidak berada di Sriwidadi.
Pikirannya sedang berjalan jauh…
Sangat jauh…
Melewati ruang dan waktu puluhan tahun
yang lalu.
Kembali menuju sebuah desa kecil di Kecamatan
Pegandon, Kabupaten Kendal.
Dusun Kersan, Desa Tegorejo.
Desa yang jalannya sudah beraspal di
jalan randu gembyang dusun cegunan. Desa yang setiap sore dipenuhi suara
anak-anak bermain layangan di pematang sawah. Desa yang ketika malam tiba hanya
diterangi lampu sentir dan beberapa lampu PLN dengan bohlam redup dari
rumah-rumah penduduk.
Desa yang diam-diam menyimpan seluruh
masa remajanya.
Riyadi tersenyum kecil.
Keriput di wajahnya bergerak perlahan
saat kenangan itu datang lagi seperti tamu lama yang tak pernah bosan mengetuk
pintu ingatan.
“Sinok…”
Nama itu lirih keluar dari bibirnya.
Nama yang bahkan setelah puluhan tahun
masih terasa akrab di telinganya.
Aryanti.
Gadis desa yang dahulu sering tertawa
bersamanya di halaman SMP Negeri I Pegandon. Gadis yang sering memboncengkannya
dengan sepeda ontel melewati jalan-jalan desa yang diapit hamparan sawah hijau.
Gadis yang dulu dipanggilnya dengan nama khusus yang tak pernah ia berikan
kepada siapa pun selain dirinya.
Sinok.
Riyadi menghela napas panjang.
Kadang ia sendiri heran mengapa cinta
pertama memiliki kekuatan sebesar itu. Waktu boleh berjalan sejauh apa pun,
usia boleh berubah setua apa pun, kehidupan boleh membawa seseorang ke kota dan
pulau yang berbeda, tetapi cinta pertama sering kali tetap tinggal di tempat
yang sama.
Di hati.
Tidak bertambah besar.
Namun juga tidak pernah benar-benar
hilang.
Dari ruang tengah terdengar suara
televisi menyala pelan. Istrinya mungkin sudah tertidur di depan televisi
setelah seharian mengurus rumah. Anak-anak mereka telah dewasa dan memiliki
kehidupan masing-masing. Rumah itu sekarang lebih sering sunyi dibanding ramai.
Dan justru dalam kesunyian seperti
itulah kenangan lama sering datang tanpa permisi.
Riyadi memandang keluar jendela.
Gerimis kecil masih turun membasahi
halaman rumah. Bau tanah basah tiba-tiba membuat pikirannya melayang semakin
jauh.
Ia kembali melihat dirinya sebagai
remaja kurus berkulit sawo matang yang setiap pagi berangkat sekolah dengan
sepeda ontel tua.
Tahun 1990-an.
Saat hidup masih sederhana.
Saat tidak ada telepon genggam.
Tidak ada media sosial.
Tidak ada pesan instan.
Kalau rindu seseorang, satu-satunya
cara hanyalah menunggu kesempatan bertemu.
Atau diam-diam menyimpan rindu itu
sendiri.
Di Desa Tegorejo kala itu, kehidupan
berjalan lambat namun hangat. Orang-orang saling mengenal satu sama lain.
Anak-anak bermain sampai magrib tanpa takut kendaraan ramai. Para pemuda
berkumpul di gardu ronda sambil mendengarkan radio.
Dan radio…
Ah, radio.
Riyadi tersenyum lagi saat teringat
masa itu.
“Mak lampiiiiir…!”
Ia terkekeh kecil sendirian mengingat
suara legendaris sandiwara radio Misteri Gunung Merapi yang dulu sering mereka
dengarkan ramai-ramai di rumah Sopia di Dusun Tegolayang.
Kadang mereka juga mendengarkan Saur sandiwara
radio serial Sepuh sambil membayangkan pertarungan para pendekar di dalam
kepala masing-masing.
“Kancil… dunia ini sudah gila…”
Kalimat itu masih diingat Riyadi
sampai sekarang. Sebuah nama panggilan untuk dirinya kala itu.
Dulu, selepas ashar, rumah Sopia
selalu ramai. Munasro, Aripin, Komet, Riiyadi, Gito dan beberapa teman lainnya
duduk lesehan di lantai bambu sambil mendekat ke radio.
“Pelankan sedikit suaranya!” teriak
Munasro waktu itu.
“Jangan! Nanti nggak kedengeran!”
bantah Aripin.
“Diam kalian! Ini lagi seru!” kata
Gito sambil tertawa.
Riyadi hanya tersenyum kecil
Begitulah masa remaja mereka.
Sederhana.
Tetapi bahagia.
Dan di tengah masa-masa itulah Riyadi
mulai mengenal karate.
Awalnya hanya ikut-ikutan teman.
Namun lama-lama karate menjadi bagian
dari hidupnya.
Latihan di Ranting Cepiring.
Jatuh bangun.
Kaki lecet.
Pukulan yang salah.
Tendangan yang sering meleset.
Hingga akhirnya ia berhasil mencapai
sabuk coklat.
Karate mempertemukannya dengan banyak
teman baru.
Dan tanpa pernah ia duga sebelumnya…
Karate juga mempertemukannya dengan
Aryanti.
Riyadi memejamkan mata perlahan.
Bayangan seorang gadis remaja berambut
panjang terurai , hidung mancung, kembali muncul jelas di dalam pikirannya.
Aryanti waktu itu masih SMP.
Tubuhnya mungil.
Kulitnya kuning langsat.
Matanya jernih dan selalu tampak hidup
saat berbicara.
Ia termasuk gadis yang mudah akrab
dengan siapa saja.
Dan justru karena itulah banyak anak
laki-laki diam-diam menyukainya.
Termasuk Samid.
Cinta pertama Aryanti.
Riyadi masih mengingat bagaimana
Aryanti sering curhat kepadanya tentang hubungan remaja mereka yang naik turun.
“Kakang… Samid marah lagi sama aku…”
“Lho, marah kenapa?”
“Katanya aku kebanyakan teman cowok…”
Riyadi tertawa kecil waktu itu.
“Ya memang kamu orangnya gampang akrab
sama siapa saja.”
Aryanti manyun.
“Tapi aku nggak punya perasaan apa-apa
sama mereka…”
“Namanya juga anak remaja. Biasanya
gampang cemburu.”
Aryanti diam sebentar sebelum bertanya
pelan.
“Kakang pernah cemburu sama
seseorang?”
Riyadi sempat terdiam.
Entah kenapa pertanyaan itu terasa
aneh baginya waktu itu.
Ia lalu menjawab sekenanya.
“Belum tahu…”
Aryanti tertawa kecil.
“Berarti Kakang belum pernah jatuh
cinta.”
Dan Riyadi memang belum menyadari satu
hal.
Bahwa diam-diam, perasaan itu justru
sedang tumbuh perlahan di dalam dirinya sendiri.
Pelan…
Sangat pelan…
Sampai akhirnya ia tak tahu kapan
tepatnya Aryanti berubah dari sekadar adik angkat menjadi seseorang yang selalu
ingin ia temui setiap hari.
Hingga akhirnya teman-teman mereka
mulai menggoda.
“Wah… Riyadi sama Aryanti pacaran!”
“Cieee… dibonceng terus!”
“Kalau latihan maunya dekat terus!”
Aryanti biasanya hanya tertawa
malu-malu.
Sedangkan Riyadi pura-pura kesal.
“Ah, kalian ngawur!”
Namun jauh di dalam hati, ia menyukai
semua ejekan itu.
Karena diam-diam ia memang mulai
merasa kehilangan jika sehari saja tidak bertemu Aryanti.
Malam semakin larut.
Jam dinding tua di rumah Riyadi
berdetak pelan.
Tik…,Tak…, Tik…, Tak…
Dan seperti putaran waktu yang tidak
pernah berhenti, kenangan itu terus berjalan di dalam pikirannya.
Tentang jalan-jalan desa.
Tentang latihan karate di hari Minggu
pagi.
Tentang sepeda ontel.
Tentang tawa Aryanti.
Tentang perpisahan yang datang
diam-diam.
Tentang kepergian tanpa pamit.
Dan tentang seorang lelaki tua yang
sampai hari ini masih menyimpan satu nama di sudut terdalam hatinya.
Riyadi memandang langit malam di luar
jendela.
Hujan telah berhenti.
Angin malam bertiup lembut membawa
aroma tanah basah yang entah mengapa selalu mengingatkannya kepada Desa
Tegorejo.
Perlahan ia tersenyum tipis.
“Mungkin… cinta pertama memang tidak
ditakdirkan untuk dimiliki,” gumamnya lirih.
“Tetapi untuk dikenang… seumur hidup.”
BAB I
Desa yang Menyimpan Kenangan
Pagi di Desa Tegorejo selalu datang
dengan cara yang sederhana.
Tidak ada suara kendaraan yang terlalu
ramai. Tidak ada hiruk-pikuk kota. Yang terdengar hanyalah kokok ayam
bersahutan dari belakang rumah penduduk, suara traktor yang dituntun menuju
sawah, dan bunyi embun yang jatuh dari daun pisang di samping rumah-rumah kayu
beratap genteng tanah.
Kabut tipis masih menggantung di atas
hamparan sawah ketika matahari perlahan muncul dari ufuk timur. Jalan-jalan
desa yang sebagian masih berupa tanah berbatu tampak basah oleh sisa embun
malam. Beberapa ibu mulai menyapu halaman rumah, sementara anak-anak kecil
berlarian tanpa alas kaki mengejar capung di pematang sawah.
Di salah satu sudut Dusun Tegolayang,
berdiri sebuah rumah sederhana berdinding papan dengan halaman yang tidak
terlalu luas. Di depan rumah itu tumbuh pohon jambu air yang cukup rindang. Di
bawah pohon itulah seorang remaja kurus sedang duduk sambil membaca buku roman
yang sampulnya mulai lusuh dimakan waktu.
Namanya Riyadi.
Usianya waktu itu baru menginjak enam
belas tahun.
Rambutnya hitam agak ikal, kulitnya
sawo matang terbakar matahari desa, dan tubuhnya terlihat lebih kurus dibanding
teman-teman seusianya. Namun matanya selalu tampak hidup, terutama ketika
sedang membaca buku atau mendengarkan cerita.
Ia membalik halaman novel perlahan
sambil sesekali tersenyum sendiri.
Dari dalam rumah terdengar suara neneknya
memanggil.
“Riyadiii…!”
“Iya, Nek…” jawabnya tanpa mengalihkan
pandangan dari buku.
“Kamu itu kalau baca buku lupa waktu.
Cepat ngisi air ke gentung.”
“Iya, sebentar…”
Namun “sebentar” bagi Riyadi sering
berarti lama.
Ia terlalu tenggelam dalam cerita yang
dibacanya.
Kadang ia membayangkan dirinya menjadi
pendekar dalam cerita silat. Kadang membayangkan menjadi tokoh utama dalam
novel roman yang penuh petualangan dan cinta.
Buku-buku bekas pinjaman dari teman
atau perpustakaan sekolah dan meminjam ke tempat persewaan buku di cepiring menjadi
dunia lain baginya.
Mungkin karena kehidupan desa saat itu
berjalan sangat pelan, media social masih terbatas, sehingga imajinasi menjadi hiburan paling
murah dan paling menyenangkan.
“Riyadi!”
Kali ini suara neneknya terdengar
lebih keras.
“Iya, iyaaa…”
Riyadi buru-buru menutup bukunya lalu
berdiri sambil tertawa kecil.
Dari arah dapur, neneknya keluar
membawa tampah berisi singkong rebus.
“Kamu ini kalau baca buku seperti
orang kesurupan,” kata neneknya sambil geleng-geleng kepala.
Riyadi nyengir.
“Bukunya seru, Nek.”
“Seru terus sampai lupa bantu Nenek.”
“Nanti saya ambil air.”
Neneknya menghela napas panjang,
tetapi wajahnya tetap tersenyum. Ia sudah hafal kebiasaan anak laki-lakinya
itu.
“Kalau sudah besar jangan cuma jadi
tukang baca novel.”
Riyadi tertawa kecil.
“Siapa tahu nanti saya jadi penulis novel
terkenal, Nek.”
Neneknya spontan terkekeh.
“Yang penting sekarang ambil air dulu,
penulisnya nanti saja.”
“Iya, Nek.”
Riyadi membawa dua ember menuju sumur
di belakang rumah. Jalan setapak menuju sumur dipenuhi rumput liar yang masih
basah oleh embun. Udara pagi terasa dingin menusuk kulit.
Saat sedang menimba air, terdengar
suara seseorang memanggil dari depan rumah.
“Kancil!”
Suara itu sangat dikenalnya.
Aripin.
Sahabat karibnya sejak masuk SMP PGRI
05 Pegandon.
“Di belakang!” teriak Riyadi ( Kancil
).
Tak lama kemudian muncul seorang
remaja bertubuh agak tinggi dengan wajah bulat dan rambut cepak memasuki
halaman belakang.
“Kamu pagi-pagi sudah baca buku lagi?”
tanya Aripin alias pincuk sambil tertawa.
“Daripada bengong.”
“Dasar kutu buku.”
“Kamu sendiri pagi-pagi ke sini pasti
ada maunya.”
Pincuk tertawa lebar.
“Ada latihan nanti sore.”
“Oh iya…”
Riyadi langsung teringat jadwal
latihan karate di ranting SMPN I Pegandon.
Karate memang sudah menjadi bagian
penting dalam hidupnya sejak beberapa tahun terakhir.
Awalnya ia hanya ikut teman latihan di
Cepiring bersama Pincuk dan Munasro. Namun semakin lama ia justru semakin
serius menekuni bela diri itu.
“Sensei Sambas datang katanya,” ujar
Pincuk.
“Serius?”
“Iya. Katanya mau seleksi buat
kejuaraan.”
Mata Riyadi langsung berbinar.
“Wah, pasti latihan berat nanti.”
“Kamu takut?”
“Takut sih nggak…”
“Terus?”
“Takut tendanganku masih jelek.”
Mereka berdua tertawa bersamaan.
Setelah selesai mengambil air, Riyadi
duduk di bawah pohon jambu bersama Pincuk sambil makan singkong rebus.
Angin pagi bertiup pelan membawa aroma
sawah basah.
“Kancil…” kata Pincuk tiba-tiba.
“Hm?”
“Kamu pernah kepikiran nggak nanti
setelah lulus SMA mau jadi apa?”
Riyadi diam sejenak.
Pertanyaan itu sebenarnya sering
muncul di kepalanya sendiri.
Namun setiap kali memikirkannya, ia
justru bingung.
Anak desa seperti mereka tidak punya
banyak pilihan hidup.
Sebagian besar setelah lulus sekolah
akan membantu orang tua bertani, merantau ke kota, atau bekerja di pabrik.
“Belum tahu,” jawab Riyadi pelan.
“Kamu pintar sebenarnya.”
“Ah biasa saja.”
“Serius. Kamu kalau cerita atau nulis
bagus.”
Riyadi tersenyum kecil.
Ia memang suka menulis di buku catatan
kecilnya. Kadang puisi. Kadang cerita pendek. Kadang hanya potongan pikiran
yang muncul tiba-tiba.
Namun ia tidak pernah benar-benar
menunjukkan tulisannya kepada banyak orang.
“Kalau kamu?” tanya Riyadi balik.
Pincuk mengangkat bahu.
“Mungkin kerja.”
“Ke mana?”
“Entahlah. PT. Kayu Lapis mungkin, ke Semarang
mungkin. Atau Jakarta.”
Riyadi menghela napas perlahan.
Jakarta.
Kota itu terdengar sangat jauh bagi
anak-anak desa seperti mereka.
Bahkan pergi ke Kendal kota saja sudah
terasa seperti perjalanan besar waktu itu.
Mereka terdiam beberapa saat.
Dari kejauhan terdengar suara
anak-anak SD berjalan sambil bercanda menuju sekolah.
Beberapa masih tanpa sepatu.
Sebagian membawa tas kain lusuh.
Namun wajah mereka tampak bahagia.
Begitulah kehidupan di Tegorejo kala
itu.
Sederhana.
Tapi hangat.
Tidak ada yang benar-benar kaya.
Namun juga tidak banyak yang merasa
miskin.
Karena hampir semua hidup dengan
keadaan yang sama.
Menjelang siang, matahari mulai terasa
panas.
Riyadi bersiap berangkat ke sekolah
dengan sepeda ontel tuanya yang mulai berkarat di beberapa bagian.
Neneknya keluar mengasi sangu atau uanga jajan sekedarnya.
“Ini untuk jajan.”
“Matur nuwun, Nek.”
“Hati-hati di jalan.”
“Iya.”
Riyadi mengayuh sepeda pelan melewati
jalan desa yang diapit sawah hijau membentang luas.
Angin menerpa wajahnya.
Burung-burung pipit beterbangan di
atas pematang.
Di kejauhan tampak dataran tangah yang
lebih tinggi samar tertutup kabut tipis.
Kadang hidup terasa begitu damai saat
itu.
Dan Riyadi belum tahu…
Bahwa di desa kecil itulah nanti ia
akan menemukan sesuatu yang tak pernah benar-benar bisa ia lupakan sepanjang
hidupnya.
Sebuah cinta pertama.
Yang tumbuh diam-diam.
Di antara suara radio tua, latihan
karate, dan jalan-jalan desa yang setiap sore dipenuhi bayangan sepeda ontel.
BAB II
Anak Desa dan Buku-Buku Impian
Sore hari di Desa Tegorejo selalu
memiliki warna yang berbeda.
Jika pagi dipenuhi suara ayam dan
aktivitas para petani menuju sawah, maka sore adalah waktunya anak-anak remaja
desa berkumpul mencari hiburan sederhana setelah seharian beraktivitas.
Langit mulai menguning ketika Riyadi
pulang sekolah dengan sepeda ontelnya. Seragam putih abu-abunya tampak sedikit
kusut karena perjalanan jauh dari SMA Negeri I Pegandon. Tas kain cokelat yang
digantung di stang sepeda terlihat penuh dengan buku pelajaran bercampur
novel-novel pinjaman.
Jalan desa sore itu cukup ramai.
Beberapa petani baru pulang membawa
cangkul di pundak. Anak-anak kecil bermain gobak sodor di halaman rumah.
Sementara suara radio dari rumah-rumah penduduk mulai terdengar bersahutan
menyiarkan lagu-lagu campursari dan berita sore.
Riyadi mengayuh sepeda ontelnya dengan
santai sambil bersiul kecil.
Begitu sampai di rumah, ia langsung
menaruh sepeda di samping rumah lalu masuk dengan napas sedikit terengah.
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumsalam,” jawab Neneknya dari
dapur.
“Kamu belum mandi kan?” tanya Neneknya
tanpa melihat.
“Hehe… belum, Nek” Kacik nama
panggilannya setiap hari oleh teman-temannya.
“Jangan langsung baca buku lagi.”
Tegur Neneknya.
Riyadi tertawa kecil.
Nneneknya sudah hafal kebiasaannya.
Kalau sudah menemukan novel baru, ia
bisa lupa makan, lupa mandi, bahkan lupa waktu.
Di kamarnya yang sederhana, terdapat
sebuah rak kayu kecil berisi buku-buku bekas yang ia kumpulkan sedikit demi
sedikit. Ada komik silat, novel roman lama, cerita petualangan, sampai buku
cerita pinjaman dari perpustakaan sekolah.
Sebagian sampulnya sudah robek.
Sebagian lagi mulai menguning.
Namun bagi Riyadi, buku-buku itu lebih
berharga daripada barang mahal.
Karena dari buku-buku itulah ia
mengenal dunia yang lebih luas daripada sekedar Desa Tegorejo.
Kadang ia membayangkan kota Jakarta
dari novel yang dibacanya.
Kadang membayangkan kehidupan
bangsawan, konglomerat atau pejabat.
Kadang membayangkan menjadi pendekar
sakti seperti tokoh cerita silat.
Dan diam-diam…
Ia mulai menyukai kisah-kisah cinta.
Bukan karena ia sudah mengerti cinta.
Tetapi karena ia menyukai bagaimana
sebuah perasaan bisa membuat seseorang rela menunggu, berjuang, bahkan terluka.
Malam itu selepas ashar, Riyadi
bersiap keluar rumah.
“Mau ke mana?” tanya neneknyanya yang
sedang duduk di ruang depan sambil menginang.
“Ke rumah Sopia, Nek.”
“Mau dengar radio lagi?”
Riyadi tersenyum.
“Iya.”
Neneknya terkekeh pelan.
“Kalau dengar Mak Lampir jangan
teriak-teriak seperti kemarin.”
Riyadi tertawa malu.
“Siap, Nek.”
Ia lalu mengambil jaket tipis lusuh
dan berjalan menuju Dusun Tegolayang yang jaraknya tidak terlalu jauh dari
rumahnya.
Udara Sore desa terasa dingin dan
sejuk, kas udara pedesaan.
Langit sore itu sangat cerah tidak
berawan seperti biasanya yang suka mendung tebal berwarna hitam pekat.
Di sepanjang jalan anak-anak kecl
bermain di halaman, ada yang main petak umpet, atau rubak sodor.
Sesampainya di rumah Sopia, suara
radio sudah terdengar cukup keras dari dalam rumah.
“Hei! Kancil datang!” teriak Munasro,
ada beberapa teman riyadi yang suka memanggil si kancil terutamaa dengan
teman-teman di lingkungannya. Gelar Kancil ia dapatkan ketika riyadi masih usia
7 tahun katanya riyadi terkenal sebagai pelari cepat di lingkungannya
“Cepat masuk! Sudah mulai!” kata
Aripin sambil melambaikan tangan.
Riyadi melepas sandal lalu masuk ke
ruang tengah rumah kayu sederhana itu.
Di sana sudah berkumpul beberapa
remaja desa duduk lesehan mengelilingi radio tua besar yang diletakkan di atas
meja kecil. Diantaranya ada Gito, Aripin, Munasro, Komet dan Sopia sebagai tuan
rumah.
Radio itu menjadi pusat hiburan mereka
setiap sore.
“Sudah sampai mana?” tanya Riyadi
sambil duduk.
“Baru pembukaan,” jawab Sopia.
Tiba-tiba terdengar suara khas dari
radio.
“Pendengar… inilah serial sandiwara
Radio Misteri Gunung Merapi…”
Semua langsung diam.
Mereka mendengarkan dengan serius
seperti sedang menonton pertunjukan besar.
Kadang ada yang menirukan suara
tokohnya.
Kadang tertawa bersama.
Kadang ikut tegang saat adegan
pertarungan dimulai.
“Mak Lampir datang!” bisik Aripin
dramatis.
“Hushhh!” kata Munasro sambil memukul
lengannya.
Riyadi tertawa kecil.
Suasana sederhana seperti itu justru
terasa sangat membahagiakan.
Tak ada televisi mewah.
Tak ada internet.
Namun kebersamaan terasa begitu dekat.
Setelah sandiwara radio selesai,
mereka masih duduk mengobrol panjang.
“Kalau aku jadi pendekar, aku mau
punya jurus petir,” kata Aripin bersemangat.
“Kalau kamu jadi pendekar paling kalah
duluan,” ejek Munasro.
“Lho kenapa?”
“Soalnya lari saja paling lambat.”
Semua tertawa.
Riyadi ikut tersenyum sambil bersandar
di dinding rumah dari gedek babu.
“Kalau kamu, Kancil?” tanya Sopia.
“Mau jadi apa?”
Riyadi berpikir sejenak.
“Aku pengin bisa keliling banyak
tempat, jadi pendekar pengembara.”
“Wah, seperti petualang?”
“Entahlah…”
“Terus?”
“Pengin lihat dunia luar.”
Mereka mendadak diam.
Bagi anak-anak desa waktu itu, dunia
luar terdengar seperti sesuatu yang sangat jauh dan misterius.
Semarang saja terasa besar.
Apalagi Jakarta.
Apalagi Kalimantan.
“Kalau aku sih cukup di Tegorejo saja,
tapi kadang pengen kerja di malasyia, biar cepat kaya” kata Munasro sambil
tertawa.
“Kenapa?”
“Di sini sudah enak. Mau ke mana
lagi?”
Riyadi tersenyum kecil.
Ia sebenarnya juga mencintai desanya.
Namun di dalam dirinya selalu ada rasa
penasaran tentang dunia di luar sana.
Mungkin karena terlalu banyak membaca
buku.
Mungkin karena terlalu banyak
membayangkan kehidupan lain.
Atau mungkin karena sejak kecil ia
merasa hidupnya tidak akan berhenti hanya di Tegorejo.
Hari berganti senja, lampu PLN di
berbagai tempat sudah mulai menyala redup.
Satu per satu teman-temannya mulai
pulang.
Sebelum pulang, Aripin mendekati
Riyadi sambil membawa sebuah buku tipis.
“Ini novel pinjaman dari kakakku.”
Riyadi langsung tertarik.
“Apa judulnya?”
“Hati yang Terluka.”
“Novel cinta?”
“Iya.”
Aripin menyeringai jahil.
“Cocok buat kamu.”
“Apaan sih.”
“Siapa tahu nanti kamu jatuh cinta.”
Semua langsung tertawa.
Riyadi hanya menggeleng sambil
tersenyum malu.
Saat itu ia memang belum benar-benar
mengenal cinta.
Belum ada perempuan yang membuat
dadanya berdebar.
Belum ada seseorang yang selalu
memenuhi pikirannya.
Belum ada nama yang diam-diam ingin ia
temui setiap hari.
Namun waktu sedang berjalan perlahan
menuju ke sana.
Dan tanpa ia sadari…
Tak lama lagi hidupnya akan berubah
sejak bertemu seorang gadis bernama Aryanti.
Gadis yang kelak membuat seluruh
kenangan masa mudanya di Desa Tegorejo menjadi abadi.
BAB III
Jalan Menuju Karate
Minggu pagi di Desa Tegorejo selalu
terasa berbeda dibanding hari-hari lainnya.
Udara masih dingin ketika kabut tipis
menggantung di atas sawah. Jalan-jalan desa mulai ramai oleh anak-anak muda
yang membawa handuk di leher sepulang mandi di sungai atau bersiap mengikuti
kegiatan olahraga pagi.
Di halaman SMP Negeri I Pegandon,
beberapa remaja sudah mulai berkumpul mengenakan pakaian karate putih yang
sebagian warnanya mulai kusam karena sering dipakai latihan.
Di salah satu sudut halaman, Riyadi
sedang duduk di atas sepeda ontelnya sambil mengikat sabuk coklat di pinggang.
Tubuhnya masih terlihat kurus, namun
gerakannya mulai lebih tegap dibanding beberapa tahun sebelumnya.
“Riyadiii!”
Suara keras itu datang dari Sabara
yang berjalan tergesa sambil membawa tas olahraga.
“Kamu datang pagi amat,” kata Sabara.
“Daripada terlambat nanti disuruh
push-up sama Sensei Anton.”
Sabara langsung tertawa keras.
“Wah, kalau Sensei Anton datang kita
bisa habis hari ini.”
Riyadi ikut tersenyum.
Sensei Anton memang dikenal tegas dan
keras saat melatih. Namun justru karena itulah banyak murid hormat kepadanya.
Tak lama kemudian satu per satu
anggota karate mulai berdatangan.
Ada Aripin.
Karwan.
Ar Bukhori.
Dan beberapa junior baru yang masih
terlihat malu-malu memakai karate-gi mereka.
“Semuanya masuk barisan!”
Suara keras menggema di halaman
sekolah.
Semua spontan berdiri tegak.
Sensei Sambas datang bersama Sensei
Anton dari arah gerbang sekolah.
Riyadi langsung mengambil posisi
paling depan bersama Sabara sebagai kohai senior.
“Karateka Yoi!”
“Hormat kepada pelatih!”
“Osh!” serentak para kohai memberi
hormat kepada sensei sambas dan sensei anton
Suasana pagi itu langsung berubah
serius.
Latihan dimulai dengan pemanasan panjang.
Lari keliling halaman sekolah.
Push-up.
Sit-up.
Kuda-kuda.
Pukulan dasar.
Tendangan.
Keringat mulai bercucuran di wajah
para anggota meski matahari belum terlalu tinggi.
“Lebih rendah kuda-kudanya!” bentak
Sensei Anton.
“Karate bukan tari-tarian!”
“Osh!” jawab murid-murid serempak.
Riyadi menggertakkan giginya saat
menahan posisi kuda-kuda.
Pahanya terasa panas.
Namun ia sudah terbiasa dengan rasa
sakit seperti itu.
Karate mengajarinya tentang disiplin.
Tentang kesabaran.
Tentang menahan lelah.
Dan tentang tidak mudah menyerah.
Saat istirahat sebentar, Sabara duduk
di samping Riyadi sambil mengelap keringat.
“Kaki rasanya mau copot,” keluhnya.
“Baru juga setengah latihan.”
“Kamu sih kuat.”
Riyadi tertawa kecil.
“Dulu aku juga sering hampir pingsan waktu
awal latihan.”
Sabara memandang Riyadi beberapa saat.
“Kamu serius mau terus di karate?”
“Iya.”
“Mau jadi atlet?”
Riyadi mengangkat bahu.
“Entahlah. Yang penting latihan saja
dulu.”
Sebenarnya karate bagi Riyadi bukan
sekadar olahraga.
Di dalam latihan itu ia menemukan rasa
percaya diri yang dulu tidak pernah ia miliki.
Waktu masih kecil, ia termasuk anak
yang pendiam dan pemalu.
Namun setelah mengenal karate, ia
mulai berani berbicara, berani memimpin, dan mulai dihormati teman-temannya.
Bahkan sekarang di ranting Pegandon,
ia termasuk kohai paling senior.
Dan karena itulah ia sering diminta
membantu melatih junior-junior baru jika Sensei Anton atau Sensei Sambas
berhalangan hadir.
“Riyadi!”
“Iya, Sensei!”
“Pimpin latihan kihon!”
“Osh, sei!”
Riyadi segera berdiri di depan
barisan.
Meski masih remaja, suaranya cukup
lantang.
“Karateka, Yoi!”
“Mae geri!, tendangan lurus ke depan
maju tilangkah balik maju tiga lankah
balik”
“It…..!”
Puluhan kaki menendang bersamaan.
“Oi tsuki, Chudan, pukulan lurus ke
depan!”
“It…..!”
Suara pukulan menggema di halaman
sekolah.
Beberapa junior tampak kagum melihat
Riyadi memimpin latihan.
Namun di balik ketegasannya,
sebenarnya ia tetap remaja desa biasa yang suka bercanda bersama
teman-temannya.
Setelah latihan selesai menjelang
siang, suasana kembali santai.
Beberapa anggota duduk bergerombol
sambil minum air dan bercanda.
Karwan mendekati Riyadi sambil
tertawa.
“Kalau nanti kamu jadi pelatih, jangan
galak-galak ya.”
“Kenapa?”
“Takut muridnya kabur.”
Semua tertawa.
Aripin ikut menyahut.
“Apalagi kalau disuruh kuda-kuda
setengah jam.”
“Itu namanya penyiksaan,” tambah
Sabara.
Riyadi hanya tersenyum sambil
menggeleng.
Di tengah obrolan itu, tiba-tiba
perhatian mereka teralihkan oleh beberapa siswi SMP yang berjalan melewati
halaman sekolah.
Salah satunya adalah seorang gadis
berambut panjang, hidung mbangir atau mancung yang membawa tas kecil di
pundaknya.
Langkahnya ringan.
Wajahnya cerah.
Dan tawanya terdengar jelas saat
berbicara dengan teman-temannya.
“Eh itu Aryanti,” bisik Aripin.
Riyadi sekilas menoleh.
Hanya sekilas.
Namun entah kenapa matanya sempat
tertahan beberapa detik.
Gadis itu memang cukup dikenal di
lingkungan sekolah dan di karate karena sifatnya yang mudah bergaul.
“Aryanti sekarang ikut latihan juga kan?”
tanya Sabara.
“Iya,” jawab Karwan.
“Adiknya juga ikut katanya.”
“Yang kecil itu?”
“Iya, Rosita.”
Aryanti yang sedang berjalan tiba-tiba
melihat ke arah mereka.
Ia lalu melambaikan tangan kecil
sambil tersenyum ramah.
“Mas Riyadiii!”
Riyadi agak terkejut.
“Eh…”
Teman-temannya langsung saling pandang
lalu tertawa jahil.
“Wah… sudah dipanggil duluan.”
“Diam kalian,” gerutu Riyadi.
Aryanti mendekat bersama dua temannya.
“Kalian latihan dari pagi?” tanyanya.
“Iya,” jawab Riyadi singkat.
“Capek dong?”
“Lumayan.”
Aryanti tersenyum kecil.
Meski masih SMP, caranya berbicara
sudah cukup luwes dan percaya diri.
Berbeda dengan kebanyakan gadis desa
seusianya yang masih pemalu.
“Mas Riyadi nanti datang latihan Rabu
sore kan?”
“Datang.”
“Bagus.”
“Kenapa memang?”
Aryanti tersenyum jahil.
“Biar rame.”
Teman-teman Riyadi langsung menahan
tawa.
Sedangkan Riyadi hanya pura-pura biasa
saja meski sedikit salah tingkah.
“Sudah ah, kami duluan,” kata Aryanti.
“Ya.”
“Dadah!”
Mereka pergi sambil tertawa kecil.
Begitu Aryanti menjauh, Aripin
langsung menyikut lengan Riyadi.
“Wah wah wah…”
“Apaan?”
“Biar rame katanya…”
“Biasa saja.”
Sabara ikut tertawa.
“Kayaknya ada yang mulai diperhatikan
nih.”
“Ngawur kalian.”
Namun entah kenapa…
Untuk pertama kalinya sejak lama,
Riyadi mulai penasaran dengan seorang gadis.
Dan ia belum tahu…
Bahwa pertemuan-pertemuan kecil di
halaman SMP itu nantinya perlahan akan tumbuh menjadi kenangan terbesar dalam
hidupnya.
BAB IV
Ranting Baru di SMPN I Pegandon
Hari Rabu sore menjadi hari yang paling
ditunggu oleh anak-anak karate di Desa Tegorejo.
Sejak berdirinya ranting baru Lemkari
di SMP Negeri I Pegandon, suasana desa terasa lebih hidup. Lapangan sekolah
yang biasanya sepi selepas jam pelajaran kini ramai oleh suara teriakan
latihan, hentakan kaki, dan tawa para remaja yang mulai menemukan dunianya
sendiri.
Bagi Riyadi, ranting baru itu bukan
sekadar tempat latihan.
Tempat itu perlahan menjadi bagian penting
dalam perjalanan masa remajanya.
Sore itu matahari mulai condong ke
barat ketika Riyadi mengayuh sepeda ontelnya menuju SMPN I Pegandon. Angin sore
bertiup lembut melewati jalan-jalan desa yang diapit pohon kelapa dan sawah
hijau menguning.
Di belakang sepedanya tergantung tas
kain berisi karate-gi putih yang sudah agak lusuh di bagian lengan.
Sesampainya di sekolah, beberapa
anggota sudah datang lebih dulu.
Sabara sedang menyapu halaman latihan.
Karwan duduk di teras kelas sambil
menggulung sabuknya.
Sedangkan Aripin sibuk bercermin di
kaca jendela kelas sambil merapikan rambut.
Riyadi langsung tertawa melihat
tingkahnya.
“Pincok…”
“Apa?”
“Kamu latihan karate apa mau
kondangan?”
Aripin spontan nyengir.
“Kalau ada cewek cantik harus tetap
rapi.”
Sabara langsung menyahut.
“Paling juga nggak ada yang lihat
kamu.”
“Eh jangan salah.”
“Memangnya siapa?”
Aripin mendekat sambil berbisik
dramatis.
“Aryanti.”
Semua langsung tertawa.
“Dasar kamu,” kata Karwan sambil
melempar handuk kecil ke arah Aripin.
Tak lama kemudian Riyadi mulai
membantu menyiapkan latihan.
Sebagai kohai paling senior di ranting
itu, ia memang memiliki tanggung jawab lebih besar dibanding anggota lainnya.
Bahkan meski usianya masih SMA, banyak
junior yang sudah sangat hormat kepadanya.
“Riyadi,” panggil Sabara pelan.
“Hm?”
“Kamu sadar nggak?”
“Sadar apa?”
“Kamu sekarang seperti pengurus
beneran.”
Riyadi tertawa kecil.
“Ya mau bagaimana lagi.”
“Capek nggak?”
“Capek sih iya.”
“Terus kenapa masih semangat?”
Riyadi terdiam sejenak.
Ia memandang halaman sekolah yang
mulai ramai oleh anggota karate.
Entah kenapa, setiap kali berada di tempat
itu, ia merasa memiliki tujuan.
Merasa dibutuhkan.
“Karena aku suka,” jawabnya pelan.
Sabara mengangguk kecil.
Ia paham.
Karate memang sudah menjadi bagian
dari hidup Riyadi.
Di tengah keterbatasan hidup anak
desa, latihan karate memberi mereka ruang untuk bermimpi lebih besar.
Beberapa menit kemudian, anggota
perempuan mulai berdatangan.
Suasana mendadak lebih ramai.
Ada yang bercanda.
Ada yang sibuk mengganti pakaian
latihan.
Ada pula yang saling mengejek karena
salah memakai sabuk.
Dan di antara mereka, Aryanti datang
bersama adiknya, Rosita Sari.
Riyadi yang sedang menyusun barisan
spontan menoleh.
Aryanti memakai karate-gi putih dengan
rambut panjang diikat sederhana. Wajahnya tampak segar meski baru pulang
sekolah.
Sementara Rosita yang masih SD
terlihat lebih kecil dan pemalu.
“Mas Riyadiii…” panggil Rosita kecil
sambil berlari mendekat.
Riyadi tersenyum.
“Eh, Rosita.”
“Sabukku susah diikat.”
“Coba sini.”
Riyadi jongkok membantu mengikatkan
sabuk Rosita dengan rapi.
Aryanti berdiri di samping sambil
memperhatikan.
“Mas Riyadi memang paling sabar sama
anak kecil,” katanya sambil tersenyum.
Riyadi tertawa kecil.
“Daripada nanti sabuknya lepas waktu
latihan.”
Rosita terkikik kecil.
Aryanti lalu ikut duduk di teras dekat
Riyadi.
“Aku dengar nanti ada latihan gabungan
ke Cepiring?”
“Iya mungkin minggu depan.”
“Asyik…”
“Kamu ikut?”
“Kalau diizinkan ibu.”
“Bu Ros galak ya?”
Aryanti langsung manyun.
“Bukan galak… cuma terlalu khawatir.”
“Namanya juga orang tua.”
Aryanti menghela napas pelan.
“Kadang aku iri sama teman-teman yang
bebas.”
“Kamu juga masih bebas kok.”
“Enggak.”
“Lho?”
Aryanti mendekat sedikit lalu berbisik
pelan.
“Kalau aku pulang telat sedikit pasti
ditanya macam-macam.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Berarti ibumu sayang.”
Aryanti diam sebentar.
Lalu tersenyum tipis.
“Iya sih…”
Bel latihan tiba-tiba dipukul keras
oleh Sabara.
“Ting tong tong!”
“Latihan mulaiii!”
Semua anggota segera berlari menuju
lapangan.
Riyadi berdiri paling depan memimpin
barisan.
“Siap!, Karateka , Yoi”
“Hormat kepada pelatih!”
“Osh!”
Latihan sore itu berjalan cukup berat.
Sensei Sambas meminta semua anggota
memperbaiki teknik tendangan dan ketepatan pukulan.
“Kuda-kudanya jangan malas!” bentak
Sensei Sambas.
“Osh!”
Suara teriakan memenuhi halaman
sekolah.
Aryanti yang berada di barisan
perempuan tampak berusaha serius mengikuti latihan meski beberapa kali
kehilangan keseimbangan saat menendang.
“Eh!” katanya sambil hampir jatuh.
Rosita langsung tertawa kecil.
“Mbak nggak kuat!”
“Diam kamu!”
Riyadi yang melihat itu spontan ikut
tersenyum.
Entah kenapa tingkah Aryanti selalu
mudah membuat suasana terasa lebih hidup.
Saat latihan sparring dimulai,
beberapa anggota mulai tegang.
Sebagian takut terkena pukulan.
Sebagian lagi terlalu semangat.
Aryanti tampak gugup ketika dipasangkan
dengan senior perempuan dari ranting lain.
“Mas Riyadi…” panggilnya pelan sebelum
mulai.
“Hm?”
“Aku takut salah.”
“Tenang saja.”
“Kalau aku kena pukul?”
“Namanya latihan pasti kena sedikit.”
Aryanti mengerucutkan bibir.
“Kalau sakit?”
“Ya tahan.”
“Kok enak bilangnya.”
Riyadi tertawa kecil.
“Kamu pasti bisa.”
Aryanti memandang Riyadi beberapa
detik.
Lalu mengangguk pelan.
“Aku percaya sama Mas Riyadi.”
Kalimat sederhana itu entah kenapa
membuat Riyadi sedikit salah tingkah.
Untung latihan segera dimulai sehingga
ia bisa menyembunyikan rasa aneh yang tiba-tiba muncul di dadanya.
Sore semakin turun.
Langit mulai berubah jingga keemasan.
Keringat membasahi pakaian para
anggota karate.
Namun suasana justru terasa hangat.
Bagi mereka, tempat itu bukan hanya
ruang latihan.
Tetapi juga tempat tumbuhnya
persahabatan.
Tempat berbagi cerita.
Tempat bercanda.
Dan perlahan…
Tempat tumbuhnya perasaan-perasaan
baru yang belum benar-benar mereka pahami.
Seusai latihan, sebagian anggota duduk
santai di teras sekolah menikmati angin sore.
Aryanti menghampiri Riyadi yang sedang
membereskan Hand Protektor yang dipakai latihan.
“Capek?” tanya Riyadi.
“Lumayan.”
“Tapi tadi bagus.”
“Bohong.”
“Serius.”
Aryanti tersenyum kecil.
“Kalau Mas Riyadi bilang bagus berarti
aku percaya.”
“Jangan percaya terus.”
“Kenapa?”
“Nanti aku besar kepala.”
Aryanti tertawa lepas.
Suara tawanya terdengar ringan dan
hangat di telinga Riyadi.
Dan tanpa ia sadari…
Sejak sore-sore latihan itulah,
Aryanti perlahan mulai mengisi ruang kecil di dalam hatinya.
BAB V
Pertemuan dengan Aryanti
Sejak aktifnya ranting karate di SMP
Negeri I Pegandon, kehidupan Riyadi perlahan berubah menjadi lebih sibuk.
Pagi sekolah di SMA Negeri I Pegandon.
Sore membantu latihan karate, kadaang
mendengarkan serial sandiwara radio misteri gungnun merapi atau mak lampir,
kadang saur sepur brahma kumbara.
Malam berkumpul nongkrong di warung
depan , kadang nonton TV bersama teman-temannya.
Hari-harinya berjalan sederhana, namun
terasa penuh.
Dan di antara rutinitas itulah, tanpa
benar-benar ia sadari, sosok Aryanti mulai semakin sering hadir dalam
kesehariannya.
Awalnya biasa saja.
Sangat biasa.
Riyadi menganggap Aryanti hanya salah
satu junior karate yang kebetulan cukup dekat dengannya karena sering bertanya
tentang latihan.
Namun semakin sering bertemu, semakin
sering bercanda, semakin sering berbicara, perlahan hubungan mereka berubah
menjadi lebih akrab dibanding anggota lainnya.
Sore itu cuaca di Tegorejo cukup
cerah.
Angin berembus lembut membawa aroma
jerami dari sawah yang baru dipanen.
Riyadi datang lebih awal ke SMPN I
Pegandon untuk membuka gudang perlengkapan latihan.
Saat ia sedang menaruh Hand Protektor di
halaman sekolah, tiba-tiba terdengar suara sepeda berhenti di depan gerbang.
“Mas Riyadiii…”
Riyadi menoleh.
Aryanti datang bersama Rosita Sari.
Mereka berboncengan sepeda ontel warna
biru muda yang bagian belnya sudah agak berkarat.
Aryanti mengayuh sendiri, sementara
Rosita duduk di belakang sambil membawa tas karate.
Riyadi spontan tersenyum kecil.
“Tumben datang cepat.”
Aryanti memarkir sepeda sambil
mengusap keringat di dahinya.
“Rosita tadi maksa berangkat duluan.”
Rosita langsung membela diri.
“Biar nggak kesorean!”
Riyadi tertawa kecil.
“Rajin juga kamu sekarang.”
Rosita membusungkan dada bangga.
“Tentu.”
Aryanti duduk di teras sekolah sambil
melepas sandal.
“Mas Riyadi dari tadi sendiri?”
“Iya.”
“Yang lain belum datang?”
“Belum.”
Aryanti memandang halaman sekolah yang
masih sepi.
Lalu tanpa canggung ia membantu Riyadi
menyusun perlengkapan latihan.
“Kamu nggak usah bantu,” kata Riyadi.
“Nggak apa-apa.”
“Nanti capek.”
Aryanti tersenyum kecil.
“Aku kan calon karateka hebat.”
Riyadi tertawa.
“Wah, percaya diri sekali.”
“Harus dong.”
Rosita yang duduk di teras ikut
menyahut.
“Mbak Aryanti kalau latihan sering
jatuh.”
“Rositaaa!”
Mereka semua langsung tertawa.
Suasana seperti itu terasa sangat
alami.
Tidak dibuat-buat.
Tidak canggung.
Aryanti memang tipe gadis yang cepat
akrab dengan siapa saja.
Bahkan kepada Riyadi yang awalnya
cukup pendiam pun, ia bisa berbicara santai seolah sudah lama mengenal.
Beberapa menit kemudian, anggota
lainnya mulai berdatangan.
Suasana halaman sekolah menjadi ramai.
Namun entah kenapa, di antara semua
suara dan keramaian itu, Riyadi mulai terbiasa mencari sosok Aryanti dengan
pandangan matanya.
Kadang hanya sekilas.
Kadang lebih lama.
Dan tanpa sadar, ia mulai hafal banyak
hal kecil tentang gadis itu.
Cara Aryanti tertawa sambil sedikit
menutup mulut.
Cara ia mengikat rambutnya sebelum
latihan.
Cara ia mengerucutkan bibir saat
kesal.
Dan cara matanya berbinar ketika
sedang bercerita.
Latihan sore itu berlangsung cukup
santai karena Sensei Anton tidak hadir.
Sensei Sambas lalu meminta Riyadi dan
Sabara membantu melatih dasar-dasar pukulan untuk anggota baru.
“Riyadi!” panggil Sensei Sambas.
“Osh, Sensei.”
“Kamu pegang kelompok perempuan.”
Riyadi agak gugup.
“Osh…”
Sabara langsung menyenggol lengannya
pelan sambil menyeringai jahil.
“Wah, senang dong.”
“Apaan sih.”
Aryanti yang mendengar itu ikut
tersenyum malu-malu.
Latihan dimulai.
Riyadi berdiri di depan barisan
perempuan sambil memberi contoh gerakan.
“Pukulannya jangan terlalu kaku.”
“Osh!”
“Siku dirapatkan.”
“Osh!”
Aryanti mencoba mengikuti gerakan,
tetapi pukulannya malah melenceng.
“Eh salah lagi…” keluhnya.
Riyadi mendekat.
“Begini.”
Ia lalu membetulkan posisi tangan
Aryanti perlahan.
Aryanti mendadak diam.
Entah kenapa wajahnya sedikit memerah.
“Sudah benar?”
“Hmm…”
“Coba ulangi.”
Aryanti kembali memukul.
“Kali ini bagus.”
“Serius?”
“Iya.”
Aryanti tersenyum puas seperti anak
kecil yang baru dipuji.
Dari belakang, Sabara dan Aripin
saling pandang lalu menahan tawa.
“Wah… pelatih pribadi,” bisik Aripin.
“Hush!” jawab Sabara sambil tertawa
kecil.
Menjelang magrib latihan selesai.
Sebagian anggota langsung pulang.
Namun Aryanti dan Rosita masih duduk
di teras sekolah sambil menunggu suasana agak sepi.
Riyadi yang sedang membereskan
perlengkapan mendekat.
“Belum pulang?”
“Nunggu dingin dulu,” jawab Aryanti.
“Capek?”
“Lumayan.”
Rosita tiba-tiba berdiri lalu menunjuk
ke arah warung kecil dekat sekolah.
“Aku beli es dulu!”
Belum sempat dicegah, anak kecil itu
sudah berlari pergi.
Aryanti menggeleng sambil tertawa
kecil.
“Adikku kalau lihat es seperti lihat
harta karun.”
Riyadi ikut tertawa.
Angin sore bertiup lembut melewati
halaman sekolah yang mulai sepi.
Langit berubah jingga kemerahan.
Untuk beberapa saat mereka hanya diam
menikmati suasana.
Lalu Aryanti tiba-tiba bertanya.
“Mas Riyadi…”
“Hm?”
“Mas Riyadi nanti kalau lulus SMA mau
ke mana?”
Pertanyaan itu membuat Riyadi terdiam
sejenak.
Ia sendiri belum benar-benar tahu.
“Mungkin kerja.”
“Di mana?”
“Belum tahu.”
“Jangan jauh-jauh.”
Riyadi menoleh.
Aryanti tampak menunduk memainkan
ujung sabuk karatenya.
“Kenapa?”
Aryanti tersenyum kecil.
“Nanti ranting kita sepi.”
Jawaban itu sederhana.
Namun entah kenapa membuat hati Riyadi
terasa hangat.
Untuk pertama kalinya, ia mulai merasa
bahwa keberadaannya berarti bagi seseorang.
Dan tanpa mereka sadari…
Hubungan sederhana di halaman SMP itu
perlahan sedang tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar
persahabatan biasa.
BAB VI
Gadis yang Banyak Teman
Nama Aryanti mulai semakin dikenal di
lingkungan karate Cabang Kendal.
Bukan karena ia atlet terbaik.
Bukan pula karena sabuknya paling
tinggi.
Melainkan karena kepribadiannya yang
hangat dan mudah akrab dengan siapa saja.
Ke mana pun pergi, selalu ada saja
orang yang menyapanya.
Baik teman perempuan maupun laki-laki.
Baik dari ranting Pegandon, Cepiring,
maupun ranting-ranting lain di Kendal.
Dan justru karena sifat itulah,
Aryanti sering tanpa sadar menjadi pusat perhatian.
Sore itu latihan gabungan diadakan di
Ranting Cepiring.
Sejak siang beberapa anggota dari
Pegandon sudah bersiap berangkat bersama menggunakan sepeda ontel. Jalan menuju
Cepiring cukup jauh untuk ukuran anak-anak desa kala itu, tetapi justru
perjalanan seperti itulah yang paling mereka nikmati.
Rombongan kecil itu dipimpin Riyadi
dan Sabara sebagai senior.
Di belakang mereka, beberapa junior
mengayuh sepeda sambil bercanda sepanjang jalan.
“Eh jangan ngebut!” teriak Rosita dari
belakang.
“Kamu saja yang pelan!” balas Aripin.
Aryanti yang bersepeda membonceng,
Riyadi tertawa kecil melihat keributan itu.
Angin sore bertiup cukup kencang
membuat ujung rambut Aryanti yang keluar dari ikatan sesekali beterbangan.
Riyadi diam-diam memperhatikan sejenak
sebelum buru-buru mengalihkan pandangan.
“Mas Riyadi…”
“Hm?”
“Kalau capek bilang ya.”
“Lho memang kenapa?”
“Nanti gantian aku yang bonceng.”
Riyadi spontan tertawa.
“Memangnya kuat?”
Aryanti membusungkan dada.
“Jangan salah.”
Sabara yang mendengar langsung
menyahut keras.
“Wah! Riyadi dibonceng cewek lagi!”
Rombongan langsung tertawa ramai.
Aryanti malah ikut tertawa tanpa malu.
Sedangkan Riyadi hanya menggeleng
sambil tersenyum kecil.
“Dasar kalian.”
Perjalanan menuju Cepiring terasa
menyenangkan.
Mereka melewati hamparan sawah luas,
jalan-jalan kecil antar desa, serta beberapa sungai kecil yang airnya mengalir
jernih.
Kadang mereka berhenti sebentar
membeli es lilin di pinggir jalan.
Kadang berhenti hanya untuk bercanda.
Masa remaja mereka terasa begitu
ringan saat itu.
Tanpa beban besar.
Tanpa banyak ketakutan tentang masa
depan.
Sesampainya di ranting Cepiring,
suasana sudah cukup ramai.
Banyak anggota dari ranting lain
berkumpul di halaman sekolah tempat latihan.
Beberapa langsung menyapa Aryanti
begitu melihatnya datang.
“Aryantiii!”
“Haiii!”
“Kamu datang juga!”
Aryanti membalas semua sapaan itu
dengan ramah.
“Iya dong.”
“Besok jadi ikut ke Kendal?”
“Mungkin.”
“Wah asyik!”
Riyadi memperhatikan dari kejauhan.
Ia mulai sadar bahwa Aryanti memang
mudah sekali bergaul.
Bahkan di tempat baru sekalipun, gadis
itu bisa cepat akrab dengan siapa saja.
“Sinokmu populer juga,” bisik Aripin
jahil. Aryanti dilingkungan Karate di panggil sinok oleh riyadi bersama teman-temannya.
Itu merupakan panggila khas yang dibrikan oleh Riyadi kepadanya dan Aryanti
justru sangaat suka pada panggilan sinok itu.
Riyadi langsung menyikut lengannya.
“Ngaco.”
“Lho memang bukan?”
“Bukan.”
Sabara ikut tertawa.
“Tapi cocok sih.”
Riyadi pura-pura tidak mendengar.
Namun entah kenapa dadanya terasa
sedikit aneh saat melihat Aryanti tertawa bersama teman-teman laki-lakinya dari
ranting lain.
Perasaan yang sebelumnya belum pernah
benar-benar ia rasakan.
Latihan gabungan sore itu berlangsung
cukup keras.
Sensei Anton datang langsung memimpin
latihan bersama beberapa pelatih lain dari Cabang Kendal.
“Semua harus serius!” bentaknya.
“Osh!”
Puluhan suara menjawab bersamaan.
Riyadi dan Sabara berada di barisan
depan.
Sedangkan Aryanti di barisan tengah
bersama anggota perempuan lainnya.
Beberapa kali Sensei Anton memuji
teknik Riyadi yang semakin matang.
“Bagus, Riyadi.”
“Terima kasih, Sensei.”
Aryanti yang mendengar itu tersenyum
bangga.
“Mas Riyadi keren ya,” bisiknya pada
teman di sebelah.
Riyadi yang kebetulan mendengar jadi
salah tingkah sendiri.
Latihan selesai menjelang magrib.
Karena lelah, sebagian anggota duduk
santai di bawah pohon besar dekat lapangan.
Aryanti tampak dikerubungi beberapa
teman laki-laki dari ranting lain yang mengajaknya bercanda.
“Aryanti, nanti ikut nonton
pertandingan di Kendal nggak?”
“Kalau boleh.”
“Naik apa?”
“Belum tahu.”
“Nanti ikut rombongan kami saja.”
Aryanti tertawa kecil.
“Nanti aku pikir dulu.”
Riyadi duduk agak jauh bersama Sabara
sambil minum air.
Namun entah kenapa telinganya tetap
menangkap percakapan itu.
“Kenapa mukamu cemberut?” tanya Sabara
tiba-tiba.
“Hah?”
“Cemburu ya?”
“Apaan sih.”
Sabara tertawa kecil.
“Kelihatan kok.”
“Aku nggak cemburu.”
“Serius?”
“Iya.”
Sabara memandang Riyadi beberapa saat
lalu tersenyum tipis.
“Berarti kamu mulai suka.”
Kalimat itu membuat Riyadi diam.
Ia tidak langsung menjawab.
Karena sebenarnya ia sendiri belum
mengerti apa yang sedang ia rasakan.
Ia hanya merasa senang saat dekat
Aryanti.
Merasa ingin terus melihat tawanya.
Dan entah kenapa merasa sedikit tidak
suka ketika Aryanti terlalu dekat dengan laki-laki lain.
Apakah itu cinta?
Atau hanya rasa sayang sebagai kakak
angkat?
Riyadi belum tahu.
Senja mulai turun ketika rombongan
Pegandon bersiap pulang.
Karena beberapa anggota kelelahan,
akhirnya mereka pulang lebih pelan.
Di tengah perjalanan, rantai sepeda
Aryanti tiba-tiba lepas.
“Eh eh eh!”
Aryanti buru-buru turun.
“Kenapa?” tanya Riyadi sambil
menghentikan sepeda.
“Rantainya lepas.”
“Coba lihat.”
Riyadi jongkok memperbaiki rantai
sepeda itu dengan tangan penuh oli hitam.
Aryanti berdiri di samping sambil
memperhatikan.
“Mas Riyadi memang bisa semuanya ya.”
“Ah biasa saja.”
“Karate bisa. Betulin sepeda bisa.”
Riyadi tertawa kecil.
“Kalau makan juga bisa.”
Aryanti spontan tertawa keras.
Suara tawanya pecah di tengah jalan
desa yang mulai gelap.
Entah kenapa, mendengar Aryanti
tertawa selalu membuat hati Riyadi terasa ringan.
Setelah rantai selesai dipasang,
Aryanti memandang tangan Riyadi yang penuh oli.
“Sebentar.”
Ia lalu mengambil sapu tangan kecil
dari tasnya.
“Nih.”
“Buat apa?”
“Bersihkan tangan.”
“Nggak usah.”
“Pakai saja.”
Riyadi akhirnya menerima sapu tangan
itu perlahan.
Dan untuk pertama kalinya…
Ada getaran aneh yang sulit ia
jelaskan saat jari mereka tanpa sengaja bersentuhan sebentar di bawah cahaya
bulan desa yang mulai naik perlahan di langit Pegandon.
BAB VII
Cinta Pertama Aryanti
Musim hujan mulai datang di Desa
Tegorejo.
Langit sering mendung sejak siang, dan
sore hari hujan turun perlahan membasahi jalan-jalan desa yang masih berupa
tanah bercampur batu. Aroma tanah basah menyebar ke mana-mana, bercampur dengan
suara kodok dari pematang sawah yang mulai tergenang air.
Sore itu latihan karate di SMPN I
Pegandon tetap berlangsung meski gerimis turun tipis.
Sebagian anggota memilih berteduh di
teras sekolah sambil menunggu hujan reda.
Riyadi duduk bersandar di tiang kelas
sambil memperhatikan tetesan air hujan jatuh dari atap sekolah.
Di sampingnya, Sabara dan Aripin
sedang bercanda soal pertandingan karate yang akan datang.
Namun perhatian Riyadi sesekali justru
tertuju ke arah Aryanti yang sejak tadi tampak lebih pendiam dari biasanya.
Biasanya gadis itu paling ramai.
Paling banyak tertawa.
Paling sering menggoda teman-temannya.
Tetapi sore itu berbeda.
Aryanti hanya duduk diam sambil
memainkan ujung sabuk karatenya.
Sesekali menghela napas pelan.
“Tumben Sinok diam,” gumam Riyadi
dalam hati.
Tak lama kemudian latihan dibubarkan
lebih cepat karena hujan semakin deras.
Satu per satu anggota pulang.
Namun Aryanti masih duduk di teras
sekolah sambil memandangi hujan.
Rosita sudah lebih dulu pulang bersama
tetangga mereka.
Riyadi yang sedang membereskan
perlengkapan akhirnya mendekat.
“Kamu belum pulang?”
Aryanti menoleh pelan.
“Hujannya deras.”
“Takut kehujanan?”
Aryanti tersenyum tipis.
“Bukan itu.”
“Terus?”
Aryanti diam beberapa detik sebelum
berkata lirih.
“Mas Riyadi…”
“Hm?”
“Kalau seseorang berubah setelah
pacaran itu wajar nggak?”
Pertanyaan itu membuat Riyadi sedikit
heran.
“Berubah bagaimana?”
Aryanti menunduk.
“Jadi gampang marah.”
“Siapa?”
Aryanti menghela napas kecil.
“Samid.”
Nama itu sebenarnya sudah pernah
beberapa kali didengar Riyadi dari teman-teman sekitar rumah Aryanti.
Samid tinggal tidak terlalu jauh dari
rumah Aryanti dan kabarnya memang cukup dekat dengannya.
Namun Riyadi tidak pernah terlalu
memikirkan itu sebelumnya.
“Memangnya kenapa?” tanya Riyadi
pelan.
Aryanti terlihat ragu-ragu.
Lalu akhirnya mulai bercerita.
“Awalnya dia baik.”
“Hmm.”
“Dia sering nemenin aku pulang
sekolah.”
“Terus?”
“Tapi sekarang dia sering marah kalau
aku ngobrol sama teman cowok.”
Riyadi diam mendengarkan.
“Padahal aku biasa saja,” lanjut
Aryanti.
“Aku memang gampang akrab sama orang.”
“Iya…”
“Tapi dia nggak suka.”
Aryanti menatap hujan di depan
sekolah.
Wajahnya tampak murung.
“Katanya aku terlalu banyak teman
laki-laki.”
“Dia cemburu mungkin.”
“Aku capek kalau dicurigai terus.”
Suasana mendadak hening.
Hanya suara hujan yang terdengar jatuh
di halaman sekolah.
Riyadi sebenarnya bingung harus
menjawab apa.
Ia belum terlalu mengerti urusan
cinta.
Apalagi soal hubungan remaja.
Namun entah kenapa ia tetap ingin
mendengarkan Aryanti.
“Mungkin dia takut kehilangan,”
katanya akhirnya.
Aryanti tertawa hambar.
“Kalau sayang harusnya percaya kan?”
Riyadi tidak langsung menjawab.
Karena sebenarnya ia juga merasa hal
yang sama.
Kalau menyukai seseorang, bukankah
seharusnya membuat orang itu nyaman?
Bukan malah terkekang.
Aryanti memeluk lututnya pelan.
“Mas Riyadi…”
“Hm?”
“Menurut Mas Riyadi aku salah nggak?”
“Kalau menurutku sih nggak.”
“Serius?”
“Iya.”
Aryanti menatap Riyadi beberapa saat.
Tatapannya terlihat lega.
“Makasih ya.”
“Buat apa?”
“Sudah mau dengerin aku.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Ya namanya teman.”
Aryanti tiba-tiba tertawa pelan.
“Kadang aku lebih nyaman cerita sama
Mas Riyadi daripada sama cewek.”
“Kenapa?”
“Soalnya Mas Riyadi nggak banyak
ngomel.”
“Kalau aku ngomel nanti kamu kabur.”
Aryanti terkekeh kecil.
Suasana yang tadinya murung perlahan
mencair kembali.
Namun sejak sore itu, Aryanti mulai
semakin sering curhat kepada Riyadi.
Tentang Samid.
Tentang sekolah.
Tentang teman-temannya.
Tentang hal-hal kecil yang kadang
sebenarnya tidak penting.
Dan anehnya…
Riyadi selalu mau mendengarkan.
Bahkan diam-diam mulai menunggu
cerita-cerita itu.
Hari demi hari berlalu.
Hubungan Aryanti dan Samid ternyata
semakin sering bermasalah.
Samid mulai tidak suka Aryanti terlalu
aktif di karate.
Tidak suka Aryanti terlalu dekat
dengan banyak teman laki-laki.
Bahkan suatu sore ketika latihan
selesai, Aryanti datang dengan wajah kesal.
“Kesel aku!”
Riyadi yang sedang menggulung matras
menoleh.
“Lho kenapa lagi?”
“Samid.”
“Marah lagi?”
“Iya.”
“Sekarang kenapa?”
Aryanti mendesah kesal.
“Tadi dia lihat aku ngobrol sama anak
ranting Cepiring.”
“Terus?”
“Dia bilang aku genit.”
Riyadi spontan mengernyit.
“Dia ngomong begitu?”
Aryanti mengangguk.
“Aku sampai malas ketemu dia.”
Riyadi diam.
Entah kenapa ada rasa tidak suka
muncul di dadanya mendengar Aryanti diperlakukan begitu.
“Kalau menurutku…” kata Riyadi pelan.
“Hm?”
“Kamu nggak salah.”
Aryanti menatapnya.
“Benarkah?”
“Iya.”
Aryanti tersenyum kecil.
“Makanya aku senang cerita sama Mas
Riyadi.”
Riyadi ikut tersenyum.
Namun diam-diam, ada sesuatu yang
mulai berubah di dalam hatinya.
Awalnya ia hanya merasa kasihan kepada
Aryanti.
Lalu merasa ingin melindunginya.
Lalu mulai merasa tidak suka ketika
Aryanti sedih karena laki-laki lain.
Dan tanpa sadar…
Ia mulai terlalu sering memikirkan
gadis itu.
Malam harinya, saat berkumpul di rumah
Sopia mendengarkan radio, Aripin tiba-tiba menyenggol Riyadi.
“Kamu dekat banget sekarang sama
Aryanti.”
“Biasa saja.”
“Ah masa.”
“Serius.”
Aripin menyeringai jahil.
“Jangan-jangan kamu suka.”
Riyadi langsung menyangkal.
“Ngaco.”
“Tapi kalian cocok.”
Nasro ikut tertawa.
“Iya, Aryanti kalau dekat Riyadi beda.”
“Beda bagaimana?”
“Lebih nurut.”
“Ah kalian kebanyakan mikir.”
Namun malam itu, setelah pulang ke
rumah dan berbaring di kamarnya, Riyadi justru tidak bisa tidur cepat.
Pikirannya dipenuhi wajah Aryanti.
Tawanya.
Suaranya.
Cara gadis itu memanggilnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam
hidupnya…
Riyadi mulai bertanya pada dirinya
sendiri.
Apakah mungkin…
Tanpa ia sadari…
Ia mulai jatuh cinta?
BAB VIII
Ketika Hati Mulai Berbeda
Sejak Aryanti semakin sering bercerita
tentang masalahnya dengan Samid, hubungan dirinya dengan Riyadi perlahan
berubah menjadi jauh lebih dekat dibanding sebelumnya.
Bukan kedekatan yang diumbar seperti
pasangan remaja lain.
Bukan pula hubungan yang penuh rayuan.
Kedekatan mereka tumbuh secara pelan.
Sederhana.
Natural.
Seperti dua orang sahabat yang terlalu
sering bersama hingga tanpa sadar mulai saling mengisi hari-hari satu sama
lain.
Namun justru karena itu, perubahan
kecil di hati Riyadi terasa semakin membingungkan.
Awalnya ia masih menganggap Aryanti
hanya adik angkat biasa.
Seorang junior karate yang sering
meminta bantuan.
Seorang gadis cerewet yang suka
bercerita.
Tetapi entah sejak kapan, perasaan itu
mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Dan Riyadi mulai menyadarinya sedikit
demi sedikit.
Pagi itu langit Tegorejo tampak cerah
setelah beberapa hari diguyur hujan.
Riyadi sedang membersihkan sepeda
ontelnya di halaman rumah ketika Sudaryono datang sambil membawa buku
pelajaran.
“Riyadi!”
“Hm?”
“Belajar matematika nanti jadi kan?”
“Jadi.”
Sudaryono duduk di bangku bambu sambil
memperhatikan Riyadi yang sibuk mengelap rantai sepeda.
“Kamu sekarang sering ke rumah Aryanti
ya?”
Riyadi spontan berhenti mengelap.
“Hah?”
“Jangan pura-pura.”
“Biasa saja.”
Sudaryono tertawa kecil.
“Anak-anak sudah pada ngomong.”
“Ngomong apa?”
“Katanya kamu sama Aryanti cocok.”
Riyadi menghela napas.
“Teman-teman memang suka ngawur.”
“Tapi kamu sendiri bagaimana?”
“Maksudnya?”
“Kamu suka sama dia?”
Pertanyaan itu membuat Riyadi diam
cukup lama.
Ia pura-pura sibuk membersihkan pedal
sepeda.
Padahal sebenarnya dadanya mulai tidak
tenang.
“Aku menganggap dia adik,” jawabnya
akhirnya.
Sudaryono memperhatikan wajah
sahabatnya beberapa detik.
Lalu tersenyum tipis.
“Kalau cuma adik, biasanya orang nggak
sampai sering melamun.”
Riyadi langsung menoleh cepat.
“Siapa bilang aku melamun?”
“Kelihatan.”
“Ah sok tahu.”
Sudaryono tertawa keras.
“Sudah lah. Aku temanmu dari kecil.”
Riyadi hanya menggeleng sambil
tersenyum malu.
Namun setelah Sudaryono pulang, ucapan
itu terus terngiang di kepalanya.
Benarkah dirinya mulai berubah?
Benarkah perasaannya kepada Aryanti
sudah bukan sekadar rasa sayang sebagai kakak angkat?
Sore harinya latihan karate kembali
diadakan.
Begitu sampai di SMPN I Pegandon,
Riyadi melihat Aryanti sedang duduk di teras sekolah sambil tertawa bersama
beberapa teman perempuan.
Saat melihat Riyadi datang, wajah
Aryanti langsung tampak lebih cerah.
“Mas Riyadiii!”
“Hm?”
“Sini dulu.”
Riyadi mendekat.
“Ada apa?”
Aryanti menunjukkan buku kecil
bergambar bunga.
“Lihat.”
“Apa ini?”
“Buku puisi.”
“Kamu suka puisi?”
“Suka.”
Aryanti membuka salah satu halaman
lalu membaca pelan.
“Cinta kadang datang diam-diam,
tanpa mengetuk pintu hati lebih dulu…”
Riyadi spontan tersenyum kecil.
“Kamu cocok jadi penyair.”
Aryanti tertawa.
“Kalau Mas Riyadi?”
“Apa?”
“Pernah jatuh cinta belum?”
Pertanyaan itu datang tiba-tiba.
Riyadi mendadak salah tingkah.
“Kenapa tanya begitu?”
“Ya pengin tahu saja.”
“Belum.”
“Bohong.”
“Serius.”
Aryanti menyipitkan mata jahil.
“Masa anak karate senior belum pernah
suka cewek?”
“Memangnya aneh?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Soalnya…”
Aryanti berhenti sebentar lalu tertawa
kecil.
“Mas Riyadi sebenarnya lumayan.”
“Lumayan apa?”
“Lumayan bikin cewek suka.”
Riyadi langsung tertawa malu.
“Ngawur.”
Aryanti ikut tertawa puas melihat
reaksinya.
Dan anehnya…
Ucapan sederhana itu membuat hati
Riyadi berdebar lebih lama dari seharusnya.
Latihan sore itu berlangsung cukup
ringan.
Namun perhatian Riyadi sering terpecah
karena tanpa sadar ia terus memperhatikan Aryanti.
Cara gadis itu tertawa.
Cara ia berlari kecil saat dipanggil.
Cara ia membereskan rambut setelah
latihan.
Hal-hal kecil yang dulu tak pernah
benar-benar ia pikirkan kini justru terasa begitu jelas di matanya.
Saat istirahat, Aryanti duduk di
samping Riyadi sambil minum dari botol plastik kecil.
“Capek?” tanya Riyadi.
“Lumayan.”
“Kamu tadi tendangannya sudah bagus.”
Aryanti tersenyum bangga.
“Karena pelatihnya hebat.”
“Bisa saja.”
Aryanti memandang Riyadi beberapa
detik.
“Mas Riyadi baik ya.”
“Biasa saja.”
“Enggak.”
“Lho?”
“Kalau aku cerita apa pun, Mas Riyadi
selalu dengerin.”
Riyadi terdiam.
Aryanti melanjutkan dengan suara lebih
pelan.
“Kadang aku merasa nyaman kalau dekat
Mas Riyadi.”
Kalimat itu membuat dada Riyadi
mendadak hangat.
Ia mencoba tetap tenang meski
jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
“Aku juga nyaman sama kamu,” jawabnya
pelan.
Aryanti tersenyum kecil.
Tatapannya berubah lembut.
Dan untuk beberapa detik, suasana di
antara mereka mendadak terasa berbeda.
Bukan lagi seperti kakak dan adik
biasa.
Ada sesuatu yang perlahan tumbuh di
sana.
Sesuatu yang belum berani mereka
ucapkan.
Menjelang magrib latihan selesai.
Karena arah rumah mereka sejalan,
Riyadi dan Aryanti pulang bersama menggunakan sepeda ontel masing-masing.
Langit sore tampak indah berwarna
jingga keemasan.
Angin bertiup pelan melewati hamparan
sawah yang mulai menghijau setelah musim hujan datang.
Aryanti mengayuh sepeda di samping
Riyadi sambil bersenandung kecil.
“Mas Riyadi…”
“Hm?”
“Kalau nanti aku sudah besar…”
“Kenapa?”
“Aku pengin tetap bisa latihan karate.”
“Bagus dong.”
“Terus…”
Aryanti menoleh sebentar sambil
tersenyum malu.
“Pengin tetap dekat sama Mas Riyadi.”
Jantung Riyadi terasa berdegup keras.
Namun ia hanya tertawa kecil untuk
menutupi rasa gugupnya.
“Memangnya sekarang jauh?”
Aryanti tertawa pelan.
“Enggak sih…”
Mereka kembali mengayuh sepeda
perlahan di jalan desa yang mulai sepi.
Dan di tengah langit senja Pegandon
yang perlahan memerah itu…
Riyadi akhirnya mulai mengerti satu
hal.
Perasaannya kepada Aryanti sudah
berubah.
Bukan lagi sekadar rasa sayang seorang
kakak angkat.
Melainkan perasaan yang diam-diam
mulai tumbuh menjadi cinta pertama.
BAB IX
Sinok
Nama itu lahir begitu saja.
Tanpa direncanakan.
Tanpa dipikirkan panjang.
Namun justru karena lahir secara
sederhana, nama itu akhirnya menjadi sesuatu yang sangat istimewa di hati
Riyadi maupun Aryanti.
Sinok.
Sebuah panggilan kecil yang kelak akan
tinggal sangat lama di dalam ingatan mereka.
Pagi itu suasana Desa Tegorejo masih
diselimuti kabut tipis. Udara dingin khas pedesaan terasa menusuk kulit. Dari
kejauhan terdengar suara pedagang sayur berkeliling sambil memukul kentongan
kecil.
Riyadi sedang duduk di bawah pohon
jambu depan rumah sambil membaca novel pinjaman dari Aripin ketika terdengar
suara sepeda berhenti di depan pagar bambu rumahnya.
“Kakang Riyadiii!”
Riyadi spontan menoleh.
Aryanti berdiri di samping sepeda
ontelnya sambil tersenyum lebar.
Ia memakai baju lengan panjang warna
biru muda dan rok hitam sederhana. Rambut panjangnya diikat seadanya, namun
justru terlihat manis di mata Riyadi.
“Eh kamu pagi-pagi ke sini?”
Aryanti masuk ke halaman rumah sambil
membawa sesuatu di tangannya.
“Ibu bikin getuk.”
“Terus?”
“Disuruh nganter ke sini.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Masuk dulu.”
Aryanti duduk santai di bangku bambu
tanpa canggung sedikit pun.
Ia memang sudah cukup akrab dengan lingkugan
Riyadi.
Bahkan Riyadi sendiri sudah menganggap Aryanti
seperti adik sendiri karena gadis itu sering datang ngajak main.
“Lagi baca apa?” tanya Aryanti sambil
melirik buku di tangan Riyadi.
“Novel.”
“Novel cinta lagi?”
“Lho kok tahu?”
Aryanti tertawa kecil.
“Mas Riyadi itu bacaannya antara silat
sama cinta.”
“Biar lengkap.”
Aryanti mengambil novel itu lalu
membaca judulnya keras-keras.
“Hati yang Tak Pernah Pergi…”
“Wah romantis.”
Riyadi terkekeh.
“Kamu sendiri suka baca beginian kan.”
Aryanti mengangguk cepat.
“Suka banget.”
“Memangnya kenapa suka cerita cinta?”
Aryanti berpikir sebentar.
“Soalnya indah.”
“Indahnya di mana?”
“Entahlah…”
Aryanti tersenyum kecil sambil menatap
halaman rumah yang masih basah oleh embun.
“Kadang aku suka membayangkan ada
seseorang yang terus ingat sama kita walaupun sudah lama nggak ketemu.”
Riyadi diam mendengar itu.
Entah kenapa kalimat sederhana dari
Aryanti sering terasa dalam di telinganya.
“Kalau Mas Riyadi?”
“Apa?”
“Percaya cinta sejati nggak?”
Riyadi tertawa kecil.
“Kamu masih SMP sudah ngomong cinta
sejati.”
“Kan nggak apa-apa.”
“Hmmm…”
Riyadi pura-pura berpikir.
“Percaya mungkin.”
“Nah itu.”
“Tapi belum tentu semua orang ketemu.”
Aryanti memandang Riyadi beberapa
detik.
“Kalau aku sih pengin ketemu.”
“Ketemu siapa?”
Aryanti langsung tertawa malu.
“Rahasia.”
Suasana pagi itu terasa hangat.
Sederhana.
Namun nyaman.
Mereka bisa berbicara tentang apa saja
tanpa merasa canggung.
Dan justru karena terlalu nyaman
itulah, hubungan mereka semakin dekat dari hari ke hari.
Tak lama kemudian Riyadi keluar membawa teh panas.
“Ini diminum dulu.”
“Matur nuwun.”
Nenek Riyadi duduk sebentar sambil
memperhatikan mereka bercakap-cakap.
Entah kenapa ia mulai melihat perubahan
kecil pada cucu laki-lakinya.
Riyadi yang biasanya pendiam kini
lebih sering tersenyum jika Aryanti datang.
Dan Aryanti sendiri tampak sangat
nyaman berada di rumah itu.
“Kalian nanti latihan?” tanya nenek
Riyadi.
“Iya, Bu,” jawab Aryanti.
“Jangan pulang kemalaman.”
“Iya.”
Setelah Nenek Riyadi masuk kembali ke
dapur, Aryanti menyesap teh pelan lalu berkata tiba-tiba.
“Kakang…”
Riyadi sedikit terkejut.
“Hm?”
“Kalau aku punya nama panggilan lucu
bagaimana?”
“Memangnya sekarang belum lucu?”
Aryanti manyun.
“Maksudku nama khusus.”
“Untuk apa?”
“Biar beda.”
Riyadi tertawa kecil.
“Kamu ini aneh.”
Aryanti mendekat sedikit sambil
tersenyum jahil.
“Ayo dong.”
Riyadi memandang wajah Aryanti
beberapa detik.
Gadis itu memang manis.
Apalagi kalau sedang tersenyum seperti
itu.
Entah kenapa tiba-tiba muncul satu
kata di kepala Riyadi.
“Sinok.”
Aryanti mengerjapkan mata.
“Hah?”
“Sinok.”
Aryanti langsung tertawa kecil.
“Kenapa Sinok?”
“Ya cocok saja.”
“Artinya apa?”
“Gadis kecil.”
Aryanti tersenyum lebar.
“Lucu juga.”
“Mulai sekarang aku panggil kamu Sinok
saja.”
Aryanti tampak senang mendengarnya.
“Berarti spesial dong?”
“Kenapa?”
“Soalnya cuma Mas Riyadi yang manggil
begitu.”
Riyadi ikut tersenyum.
“Iya mungkin.”
Aryanti tertawa pelan.
Dan sejak hari itulah, nama “Sinok”
melekat pada Aryanti.
Nama yang hanya keluar dari mulut
Riyadi.
Nama yang selalu membuat Aryanti
tersenyum setiap mendengarnya.
Sore harinya saat latihan karate,
Riyadi tanpa sadar kembali memanggil.
“Sinok!”
Aryanti spontan menoleh cepat.
“Hm?”
Teman-teman mereka langsung saling
pandang.
“Eh eh eh…”
“Sinok katanya…”
Sabara langsung tertawa keras.
“Wah panggilan khusus nih!”
Aryanti langsung salah tingkah.
“Apaan sih kalian.”
Sedangkan Riyadi pura-pura sibuk
membereskan hand protektor meski wajahnya sedikit memerah.
Aripin mendekat sambil menyeringai
jahil.
“Kalau sudah pakai nama khusus begini
bahaya.”
“Diam kamu.”
“Tinggal nunggu jadian.”
Aryanti spontan melempar handuk kecil
ke arah Aripin.
Semua tertawa ramai.
Namun diam-diam…
Aryanti menyukai panggilan itu.
Karena setiap kali Riyadi memanggilnya
“Sinok”, ada rasa hangat yang sulit dijelaskan tumbuh di dalam hatinya.
Dan bagi Riyadi sendiri…
Tanpa sadar nama itu menjadi tanda
bahwa Aryanti mulai memiliki tempat khusus di hidupnya.
Bukan lagi sekadar junior karate.
Bukan lagi sekadar adik angkat.
Melainkan seseorang yang perlahan
mulai tinggal di sudut terdalam hatinya.
BAB X
Sepeda Ontel dan Jalanan Desa
Hari-hari di Desa Tegorejo terus
berjalan pelan seperti aliran sungai kecil di musim kemarau.
Namun bagi Riyadi dan Aryanti,
masa-masa itu justru menjadi bagian paling indah dalam hidup mereka.
Tidak ada gedung megah.
Tidak ada tempat hiburan modern.
Tidak ada telepon genggam ataupun
media sosial.
Yang ada hanyalah jalan-jalan desa, hamparan
sawah, angin sore, latihan karate, dan sepeda ontel yang menemani ke mana pun
mereka pergi.
Dan justru dari kesederhanaan itulah,
kedekatan mereka tumbuh semakin dalam.
Sore itu latihan di SMPN I Pegandon
selesai lebih cepat karena Sensei Sambas harus menghadiri acara keluarga.
Langit masih terang ketika para
anggota mulai bersiap pulang.
Sebagian langsung bergegas.
Sebagian lagi masih duduk santai di
teras sekolah sambil bercanda.
Aryanti sedang membereskan rambutnya
di depan kaca jendela kelas ketika Rosita tiba-tiba berkata pelan.
“Mbak…”
“Hm?”
“Ban sepeda kita kempes.”
“Hah?”
Aryanti buru-buru keluar memeriksa
sepedanya.
Benar saja.
Ban belakang sepeda ontel biru mudanya
tampak kempes total.
“Ya ampun…” keluh Aryanti sambil
memegang dahinya.
Rosita langsung panik.
“Terus pulangnya bagaimana?”
Riyadi yang mendengar itu segera
mendekat.
“Kenapa?”
“Ban sepedaku bocor,” jawab Aryanti
dengan wajah pasrah.
Riyadi jongkok memeriksa ban.
“Paku mungkin.”
“Bisa diperbaiki?”
“Bisa, tapi tukang tambal bannya
jauh.”
Aryanti menghela napas panjang.
“Waduh…”
Aziz yang sejak tadi memperhatikan
langsung menyeringai jahil.
“Sudah… pulang bareng Riyadi saja.”
Aryanti spontan menoleh cepat.
“Hah?”
Aripin langsung ikut tertawa.
“Iya! Cocok tuh.”
“Rosita ikut siapa?”
“Aku bisa bonceng Rosita,” kata Aziz
cepat.
Rosita malah terlihat senang.
“Asyik!”
Aryanti tampak salah tingkah.
Sedangkan Riyadi mencoba tetap tenang
meski sebenarnya dadanya ikut berdebar.
“Kalau nggak keberatan…” kata Riyadi
pelan.
Aryanti menggigit bibir kecilnya
sebentar lalu tersenyum malu.
“Ya sudah…”
Teman-teman mereka langsung bersorak
heboh.
“Wuuuhhh!”
“Jangan pulang muter-muter nanti!”
“Jangan berhenti di sawah!”
Aryanti langsung melempar handuk kecil
ke arah Aziz.
“Kalian ini!”
Suasana sore itu mendadak penuh tawa.
Akhirnya mereka pulang bersama.
Rosita dibonceng Aziz di depan
rombongan.
Sedangkan Aryanti duduk di boncengan
belakang sepeda Riyadi.
Untuk pertama kalinya.
Dan entah kenapa…
Momen sederhana itu terasa sangat
berbeda bagi keduanya.
Awalnya suasana agak canggung.
Aryanti duduk pelan sambil memegang
ujung jok belakang.
Sedangkan Riyadi mengayuh sepeda
sedikit kaku.
“Berat nggak?” tanya Aryanti pelan.
Riyadi tertawa kecil.
“Enggak.”
“Bohong.”
“Serius.”
Aryanti ikut tertawa kecil.
Angin sore bertiup lembut menerbangkan
sedikit rambut Aryanti hingga menyentuh bahu Riyadi.
Jantung Riyadi berdegup lebih cepat.
Namun ia berusaha tetap terlihat biasa
saja.
Jalan desa sore itu tampak sangat
indah.
Hamparan sawah menguning tertiup
angin.
Burung-burung pipit beterbangan
rendah.
Anak-anak kecil bermain layangan di
pematang.
Sedangkan langit perlahan berubah
jingga keemasan menjelang matahari terbenam.
“Mas Riyadi…”
“Hm?”
“Capek nggak bonceng aku?”
“Kalau capek nanti aku jatuhkan.”
Aryanti spontan tertawa keras.
“Jahat!”
“Katanya berat.”
“Ya tetap saja.”
Riyadi tersenyum kecil.
Sebenarnya ia berharap jalan itu
terasa lebih panjang.
Karena untuk pertama kalinya ia merasa
begitu dekat dengan Aryanti.
Bukan sekadar teman latihan.
Bukan sekadar kakak angkat.
Melainkan seseorang yang diam-diam
mulai memenuhi ruang hatinya.
Di depan sana, Aziz sengaja
memperlambat sepeda lalu menoleh ke belakang sambil tertawa.
“Wah cocok sekali!”
“Diam kamu!” teriak Riyadi.
Aryanti malah tertawa malu-malu.
Begitulah hari-hari mereka.
Kadang Riyadi yang membonceng Aryanti.
Kadang justru Aryanti yang membonceng
Riyadi karena gadis itu memang cukup berani dan kuat mengayuh sepeda.
Dan setiap kali mereka lewat bersama,
hampir selalu ada saja orang yang menggoda.
“Eh pasangan karate lewat!”
“Cieee…”
“Pacaran ya?”
Awalnya Riyadi selalu menyangkal.
Namun lama-kelamaan ia hanya tersenyum
malu.
Sedangkan Aryanti justru lebih santai
menghadapi ejekan itu.
Suatu sore saat mereka pulang latihan
berdua, Aryanti tiba-tiba berkata sambil tertawa kecil.
“Mas Riyadi…”
“Hm?”
“Kalau orang-orang terus ngira kita
pacaran bagaimana?”
Riyadi pura-pura santai.
“Ya biarkan saja.”
Aryanti memandang punggung Riyadi
beberapa detik.
“Kalau Mas Riyadi malu?”
“Kenapa harus malu?”
Aryanti tersenyum kecil.
“Berarti nggak masalah dong?”
Riyadi tidak langsung menjawab.
Karena sebenarnya…
Jauh di dalam hati, ia justru mulai
menyukai semua ejekan itu.
Sebab setiap kali orang-orang
menganggap mereka pasangan, ada rasa hangat yang tumbuh diam-diam di dadanya.
Malam harinya, saat berkumpul di rumah
Sopia ngerumpi ala remaja pada masanya, Aripin kembali menggoda Riyadi.
“Kancil…” sahut Riyadi curiga.
“Apa?”
“Kalau nanti nikah undang kami ya.”
Riyadi langsung melempar bantal kecil
ke arah Aripin.
“Ngaco!”
Gito tertawa keras.
“Tapi serius, kalian memang kelihatan
dekat.”
“Biasa saja.”
“Biasa dari mana.”
“Ah kalian terlalu banyak mikir.”
Namun ketika malam semakin larut dan
Riyadi pulang sendirian melewati jalan desa yang sunyi…
Ia tiba-tiba tersenyum sendiri mengingat
sore tadi.
Tentang Aryanti yang tertawa di
boncengan belakang.
Tentang rambutnya yang tertiup angin.
Tentang suara gadis itu memanggil
namanya.
Dan untuk pertama kalinya…
Riyadi mulai takut kehilangan
seseorang.
BAB XI
Rahasia di Balik Latihan Karate
Kedekatan Riyadi dan Aryanti semakin
sulit disembunyikan.
Bukan karena mereka melakukan sesuatu
yang berlebihan.
Justru sebaliknya.
Hubungan mereka tetap sederhana
seperti biasa, latihan bersama, pulang bersama, bercanda bersama di tengah
teman-teman karate.
Namun justru karena terlalu sering
bersama, semua orang perlahan mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda di
antara mereka.
Dan anehnya…
Baik Riyadi maupun Aryanti sama-sama
belum berani mengakuinya secara terang-terangan.
Malam Minggu itu Desa Tegorejo terasa
lebih ramai dibanding biasanya.
Di beberapa rumah terdengar suara
radio memutar lagu-lagu lawas. Anak-anak muda berkumpul di gardu ronda sambil
bercanda, sementara para orang tua duduk santai di teras rumah menikmati udara
malam.
Di rumah Sopia, Riyadi dan
teman-temannya kembali berkumpul mendengarkan lagu campur sari di radio.
Namun malam itu perhatian Riyadi tidak
sepenuhnya berada pada lagu campur sari di radio.
Pikirannya justru dipenuhi Aryanti.
“Kancil…”
Suara Aripin membuatnya tersadar.
“Hm?”
“Kamu melamun lagi.”
“Enggak.”
“Bohong.”
Sopia langsung tertawa kecil.
“Pasti mikirin Sinok.”
Riyadi spontan menoleh cepat.
“Jangan panggil begitu sembarangan.”
“Nah tuh…” kata Aripin sambil menunjuk
wajah Riyadi.
“Kalau orang lain manggil Sinok
langsung sensitif.”
Semua langsung tertawa.
Riyadi hanya menggeleng sambil
tersenyum malu.
Namun jauh di dalam hati, ia memang
merasa nama itu terlalu spesial untuk dipakai sembarang orang.
Karena “Sinok” bukan sekadar
panggilan.
Nama itu adalah caranya diam-diam
menunjukkan bahwa Aryanti berbeda dari gadis lain.
“Serius ya, Kancil,” kata Nasro
kemudian.
“Kamu sebenarnya suka kan sama
Aryanti?”
Suasana mendadak sedikit hening.
Riyadi terdiam beberapa saat sebelum
menjawab pelan.
“Aku sendiri nggak tahu.”
“Lho?”
“Kalau dekat dia rasanya nyaman.”
“Nah itu tandanya.”
“Tapi aku takut salah.”
“Takut kenapa?”
Riyadi menghela napas perlahan.
“Dia masih SMP.”
“Terus?”
“Aku juga sudah dianggap kakak
angkatnya.”
Gito mengangguk pelan.
Ia mulai mengerti kegelisahan
sahabatnya itu.
“Kadang…” lanjut Riyadi lirih.
“Aku takut kalau perasaan ini malah
bikin semuanya berubah.”
Aripin yang biasanya suka bercanda
kali ini ikut diam.
Karena untuk pertama kalinya mereka
melihat Riyadi benar-benar serius soal seseorang.
Keesokan sorenya latihan karate
kembali diadakan.
Seperti biasa, Riyadi datang lebih
awal membantu menyiapkan latihan.
Tak lama kemudian Aziz, Sabara, Karwan
dan Aryanti datang bersama Rosita.
Namun kali ini wajah Aryanti tampak
lebih cerah dari biasanya.
“Mas Riyadiii!”
“Hm?”
“Aku bawa sesuatu.”
“Apa?”
Aryanti mengeluarkan sebungkus kecil
kacang rebus dari tasnya.
“Ibu masak banyak.”
“Wah…”
“Buat Mas Riyadi.”
“Lho kok cuma aku?”
Aryanti tersenyum jahil.
“Karena yang lain nggak spesial.”
Jantung Riyadi langsung berdegup lebih
cepat.
Untung Aripin belum datang, kalau
tidak pasti gadis itu sudah digoda habis-habisan.
“Terima kasih,” kata Riyadi pelan.
Aryanti duduk di sampingnya sambil
tersenyum kecil.
“Kakang Riyadi…”
“Hm?”
“ bolehkan Aryanti panggil Kakang.”
“Boleh, emang kenapa .”
“Panggilan special.”
“Ada-ada saja, Sinok , ini”
Aryanti tersenyum simpul” Biar lebih
dekat dan akrap.” Katanya pelan
Riyadi tersenyum kecil” Iya , juga ,
sih.” Jawabnya singkat
“Aku senang kalau latihan.”
“Karena karate?”
Aryanti menggeleng pelan.
“Karena bisa ketemu.”
Riyadi mendadak diam.
Aryanti tampaknya baru sadar dengan
kalimatnya sendiri.
Wajahnya langsung memerah.
“Maksudku… ketemu teman-teman.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Iya… teman-teman.”
Mereka berdua sama-sama salah tingkah.
Namun justru sejak saat itu, suasana
di antara mereka semakin berbeda.
Latihan karate perlahan menjadi alasan
untuk saling bertemu.
Kadang setelah latihan selesai mereka
masih duduk lama di teras sekolah hanya untuk mengobrol hal-hal kecil.
Tentang sekolah.
Tentang cita-cita.
Tentang buku.
Tentang lagu-lagu dari radio.
Tentang masa depan yang saat itu masih
terasa sangat jauh.
Suatu sore setelah latihan selesai dan
anggota lain sudah banyak yang pulang, Aryanti duduk di tangga kelas sambil
memandangi langit senja.
“Cantik ya…” katanya pelan.
Riyadi duduk di sampingnya.
“Iya.”
Langit Tegorejo sore itu memang indah
sekali.
Awan tipis berwarna jingga memenuhi
cakrawala.
Angin bertiup lembut membawa aroma
sawah basah.
“Kakang Riyadi…”
“Hm?”
“Kalau nanti kita sudah besar…”
“Kenapa?”
“Apa kita masih begini?”
“Begini bagaimana?”
“Masih sering ketemu.”
Pertanyaan itu membuat Riyadi terdiam
cukup lama.
Karena sebenarnya ia sendiri tidak
tahu.
Kehidupan setelah lulus sekolah terasa
begitu misterius bagi anak-anak desa seperti mereka.
Mungkin bekerja.
Mungkin merantau.
Mungkin terpisah jauh.
Namun entah kenapa, membayangkan tidak
bertemu Aryanti lagi mendadak terasa tidak menyenangkan.
“Aku harap begitu,” jawab Riyadi
akhirnya.
Aryanti tersenyum kecil.
“Aku juga.”
Mereka kembali diam.
Namun diam yang kali ini terasa
nyaman.
Tidak canggung.
Tidak kosong.
Dan di tengah senja Desa Tegorejo itu…
Perasaan mereka sebenarnya sudah
saling tumbuh.
Hanya saja belum ada yang cukup berani
mengucapkannya.
Karena cinta pertama kadang memang
datang seperti itu.
Pelan.
Diam-diam.
Tumbuh di sela-sela kebersamaan
sederhana tanpa pernah benar-benar direncanakan.
BAB XII
Pesan dari Bu Ros
Semakin hari, kedekatan Riyadi dan
Aryanti semakin sulit disembunyikan.
Meski mereka tidak pernah
terang-terangan mengaku berpacaran, hampir semua teman karate mulai memahami
bahwa hubungan keduanya sudah lebih dari sekadar kakak angkat biasa.
Mereka selalu terlihat bersama.
Datang latihan bersama.
Pulang bersama.
Bercanda bersama.
Bahkan dalam latihan gabungan di
ranting lain pun, Aryanti hampir selalu mencari Riyadi lebih dulu.
Dan seperti kebanyakan ibu di desa
yang sangat mengenal perubahan kecil pada anak gadisnya…
Bu Ros mulai menyadari semuanya.
Sore itu suasana Desa Tegorejo terasa
teduh setelah hujan turun sejak siang. Jalan-jalan desa masih basah, dan aroma
tanah bercampur daun pisang memenuhi udara.
Riyadi datang ke rumah Aryanti untuk
mengajak latihan bersama ke ranting Cepiring.
Rumah keluarga Aryanti cukup
sederhana, namun terasa hangat dan ramai. Di halaman depan terdapat mushola
yang selalu ramai untuk anak-anak mengaji.
Begitu Riyadi sampai, Rosita langsung
berlari keluar rumah.
“Mas Riyadi datang!”
Riyadi tertawa kecil.
“Iya.”
“Mbak Aryanti lagi dandan!”
“Rositaaa!” teriak Aryanti dari dalam
rumah.
Tak lama kemudian Aryanti keluar
sambil merapikan rambutnya yang masih agak basah.
“Kamu ini lama sekali,” kata Riyadi
sambil tersenyum.
“Biar cantik.”
“Memangnya sekarang belum?”
Aryanti spontan terdiam beberapa
detik.
Wajahnya langsung memerah.
Sedangkan Riyadi sendiri baru sadar
dengan apa yang baru saja ia ucapkan.
Rosita malah tertawa keras.
“Cieeee!”
Aryanti buru-buru mencubit lengan
adiknya.
“Diam!”
Suasana menjadi sedikit kikuk.
Untung saat itu Bu Ros keluar dari
dapur membawa teh hangat.
“Eh Riyadi datang.”
“Iya, Bu.”
“Masuk dulu.”
“Iya.”
Mereka duduk di ruang tamu sederhana
berlantai semen dingin.
Di dinding tergantung kalender lama
dan foto keluarga hitam putih.
Bu Ros menuangkan teh ke gelas sambil
memperhatikan Riyadi dan Aryanti bergantian.
Entah kenapa tatapannya sore itu
terasa lebih serius dibanding biasanya.
“Kalian latihan terus ya,” katanya
pelan.
“Iya, Bu,” jawab Riyadi sopan.
“Bagus sih.”
Aryanti tampak santai meminum teh.
Namun Riyadi mulai merasa ada sesuatu yang
ingin disampaikan Bu Ros.
Benar saja.
Beberapa menit kemudian, Bu Ros
berkata pelan sambil memandang Riyadi.
“Riyadi…”
“Iya, Bu?”
“Kamu kan sudah SMA kelas tiga.”
“Iya.”
“Sudah besar.”
Riyadi mengangguk pelan.
“Saya senang kamu mau membantu latihan
karate anak-anak.”
“Ah, biasa saja Bu.”
“Enggak.”
Bu Ros tersenyum tipis.
“Kamu anak baik.”
Riyadi menunduk sedikit merasa
sungkan.
Namun suasana kembali berubah ketika
Bu Ros melanjutkan kalimatnya lebih pelan.
“Tapi saya titip Aryanti sama Rosita
ya.”
Aryanti yang sejak tadi santai
langsung terdiam.
Riyadi pun mendadak gugup.
“Maksudnya, Bu?”
“Kalian masih remaja.”
“Iya…”
“Pergaulan sekarang macam-macam.”
Bu Ros menghela napas perlahan.
“Saya percaya sama kamu, Riyadi.”
Kalimat itu justru membuat Riyadi semakin
tidak tenang.
“Jaga mereka baik-baik.”
“Iya, Bu.”
“Tapi…” Bu Ros berhenti sebentar.
“Kedekatan kalian jangan sampai
macam-macam.”
Aryanti langsung menunduk.
Sedangkan Riyadi merasa dadanya
mendadak sesak.
Bu Ros menatap Riyadi lembut, tidak
marah, tidak membentak.
Justru itu yang membuat kata-katanya
terasa lebih dalam.
“Kamu anggap Aryanti sebagai adik
saja.”
Ruang tamu mendadak hening.
Hanya terdengar suara sendok kecil
menyentuh gelas teh.
Riyadi mengangguk pelan.
“Iya, Bu.”
Aryanti diam sejak tadi.
Wajahnya sulit ditebak.
Namun Riyadi tahu gadis itu pasti
mengerti maksud ibunya.
Bu Ros tersenyum tipis lagi.
“Bukan saya melarang berteman.”
“Iya, Bu.”
“Kalian masih remaja. Fokus sekolah
dulu.”
“Iya.”
Aryanti akhirnya bicara pelan.
“Ibu ini…”
“Kenapa?”
“Maluin.”
Bu Ros malah tertawa kecil.
“Biar jelas.”
Rosita yang sedari tadi memperhatikan
tiba-tiba menyahut polos.
“Padahal Mbak Aryanti memang senang
sama Mas Riyadi.”
“ROSITAAA!”
Aryanti langsung panik.
Sedangkan Riyadi spontan tersedak teh.
Bu Ros menahan senyum sambil
menggeleng pelan.
“Sudah sana latihan.”
Aryanti langsung berdiri cepat karena
malu.
“Ayo Kakang Riyadi!”
“Iya…”
Sepanjang perjalanan menuju tempat
latihan, suasana di antara mereka agak canggung.
Biasanya Aryanti cerewet.
Namun sore itu ia lebih banyak diam
sambil mengayuh sepeda pelan.
“Sinok…” panggil Riyadi akhirnya.
Aryanti menoleh sedikit.
“Hm?”
“Kamu marah?”
Aryanti menggeleng.
“Enggak.”
“Terus kenapa diam?”
Aryanti tersenyum tipis.
“Ibu memang begitu.”
Riyadi ikut menghela napas.
“Beliau cuma khawatir.”
“Aku tahu.”
Angin sore bertiup pelan melewati
sawah yang mulai menghijau.
Beberapa saat mereka sama-sama diam.
Lalu Aryanti berkata lirih tanpa
menoleh.
“Kakang Riyadi…”
“Hm?”
“Kalau ibu bilang kita cuma boleh jadi
kakak adik…”
Suara Aryanti menggantung.
Riyadi memandang jalan di depannya.
Dadanya terasa aneh.
Karena untuk pertama kalinya, ia sadar
bahwa perasaannya kepada Aryanti ternyata jauh lebih dalam daripada sekadar
rasa sayang seorang kakak.
“Aku nggak tahu,” jawabnya pelan.
Aryanti menggigit bibir kecilnya.
“Aku juga…”
Langit sore perlahan berubah jingga.
Dan di tengah perjalanan sederhana
menggunakan sepeda ontel itu…
Mereka mulai sadar bahwa cinta pertama
tidak selalu berjalan mudah.
Kadang bahkan harus tumbuh diam-diam.
Disembunyikan di balik tawa, latihan
karate, dan status “kakak angkat” yang sebenarnya sudah tidak mampu lagi
menjelaskan isi hati mereka masing-masing.
BAB XIII
Pacaran Diam-Diam
Setelah pembicaraan sore itu di rumah
Aryanti, hubungan Riyadi dan Aryanti berubah menjadi semakin hati-hati.
Mereka tetap bertemu seperti biasa.
Tetap latihan bersama.
Tetap pulang bersama.
Tetap bercanda bersama teman-teman
karate.
Namun kini keduanya mulai sadar bahwa
ada batas yang diam-diam sedang diperhatikan oleh Bu Ros.
Dan justru karena itulah…
Perasaan mereka semakin sulit
disembunyikan.
Bukan lagi sekadar kedekatan biasa.
Melainkan cinta remaja yang mulai
tumbuh diam-diam di balik kebersamaan sederhana.
Malam itu Riyadi sulit tidur.
Ia terus memikirkan ucapan Bu Ros.
“Anggap Aryanti sebagai adik saja…”
Kalimat itu terus terngiang di
kepalanya.
Padahal jauh di dalam hati, ia tahu
perasaannya sudah berbeda.
Ia tidak lagi memandang Aryanti hanya
sebagai adik angkat.
Ada rasa ingin selalu dekat.
Rasa ingin menjaga.
Rasa takut kehilangan.
Dan rasa bahagia kecil yang selalu
muncul setiap kali mendengar gadis itu memanggil namanya.
Pagi harinya Riyadi duduk di depan
rumah sambil membersihkan sepeda ontelnya ketika Aryanti datang.
Namun kali ini gadis itu tampak lebih
malu-malu dibanding biasanya.
“Kakang Riyadi…”
“Hm?”
“Ayo jalan.”
“Ke mana?”
“Muter desa.”
“Sekarang?”
Aryanti mengangguk kecil.
“Rosita ikut?”
“Enggak.”
Riyadi sedikit heran.
Biasanya Rosita selalu ikut ke
mana-mana.
Namun ia tidak banyak bertanya.
“Ya sudah.”
Mereka lalu berangkat berdua mengayuh
sepeda melewati jalan-jalan kecil Desa Tegorejo.
Udara pagi terasa sejuk.
Embun masih terlihat di ujung daun
padi.
Beberapa petani mulai turun ke sawah
sambil membawa cangkul di pundak.
Sesekali warga yang berpapasan tersenyum
melihat mereka.
“Pagi, Riyadi.”
“Pagi.”
Aryanti mengayuh di samping Riyadi
sambil sesekali menunduk malu.
“Tumben diam,” kata Riyadi.
Aryanti tersenyum kecil.
“Kakang Riyadi juga.”
“Lho aku kenapa?”
“Sejak kemarin beda.”
Riyadi tertawa kecil.
“Kamu juga.”
Aryanti menghela napas pelan.
“Ibu memang suka khawatir.”
“Iya.”
“Tapi…”
Aryanti berhenti sebentar.
“Aku nggak mau kalau kita jadi jauh
gara-gara itu.”
Kalimat itu membuat Riyadi menoleh.
Tatapan mata Aryanti terlihat
sungguh-sungguh.
Dan untuk pertama kalinya, Riyadi
melihat jelas bahwa gadis itu ternyata memiliki perasaan yang sama.
“Aku juga nggak mau jauh,” jawab
Riyadi pelan.
Aryanti tersenyum kecil.
Wajahnya tampak lega.
Mereka terus mengayuh sepeda pelan
melewati jalan desa yang diapit pohon bambu dan hamparan sawah luas.
Sampai akhirnya mereka berhenti di
bawah pohon besar dekat pematang.
Tempat itu cukup sepi.
Hanya terdengar suara angin dan
gemericik air irigasi kecil.
Aryanti duduk di rerumputan sambil
memainkan ujung rok sekolahnya.
“Kakang Riyadi…”
“Hm?”
“Kalau orang suka sama seseorang itu
salah nggak?”
Pertanyaan itu membuat Riyadi terdiam.
“Kenapa tanya begitu?”
Aryanti menunduk.
“Ya… pengin tahu saja.”
Riyadi duduk di sampingnya.
“Kalau menurutku sih nggak salah.”
“Walaupun masih sekolah?”
“Iya.”
Aryanti tersenyum kecil.
“Kalau suka diam-diam?”
“Juga nggak salah.”
Aryanti tertawa pelan.
“Berarti aman ya.”
Riyadi ikut tersenyum.
Lalu suasana kembali hening beberapa
saat.
Sampai akhirnya Aryanti berkata lirih.
“Aku nyaman dekat Kakang Riyadi.”
Jantung Riyadi berdegup lebih cepat.
“Aku juga.”
Aryanti menoleh perlahan.
Tatapan mereka bertemu cukup lama.
Dan untuk pertama kalinya…
Tak ada lagi kata “adik angkat” di
antara mereka.
Yang ada hanyalah dua remaja desa yang
mulai saling jatuh cinta.
“Kakang Riyadi…”
“Hm?”
“Kita pacaran ya?”
Kalimat itu begitu pelan.
Namun cukup membuat Riyadi terpaku
beberapa detik.
Aryanti langsung menunduk malu setelah
mengatakannya.
“Kalau nggak mau juga nggak apa-apa…”
Belum selesai ia bicara, Riyadi langsung
tersenyum kecil.
“Siapa bilang nggak mau?”
Aryanti perlahan mengangkat wajahnya.
“Serius?”
Riyadi mengangguk pelan.
“Iya.”
Aryanti spontan tertawa kecil karena
gugup.
Wajahnya merah sekali.
Sedangkan Riyadi sendiri merasa
dadanya hangat oleh perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Begitulah akhirnya.
Tidak ada tembakan romantis.
Tidak ada bunga.
Tidak ada hadiah mahal.
Hanya dua anak desa di bawah pohon
dekat sawah, ditemani sepeda ontel dan angin pagi.
Namun justru karena sederhana itulah…
Momen itu terasa begitu indah.
Sejak hari itu, Riyadi dan Aryanti
resmi pacaran.
Diam-diam.
Tanpa sepengetahuan Bu Ros.
Tanpa diumumkan kepada siapa pun.
Meski sebenarnya teman-teman mereka
perlahan mulai menyadari semuanya.
Namun hubungan mereka tetap sederhana.
Mereka tidak pernah pergi berduaan ke
tempat jauh.
Tidak pernah melakukan hal berlebihan.
Mereka lebih sering berkumpul bersama
teman-teman karate.
Latihan rame-rame.
Pergi rame-rame.
Bercanda rame-rame.
Hanya saja kini ada perasaan berbeda
setiap kali mereka saling memandang.
Suatu sore setelah latihan, Aziz
sahabat karibnya mendekati Riyadi sambil menyeringai.
“Jadi juga akhirnya?”
Riyadi pura-pura tidak mengerti.
“Apaan?”
“Sudahlah.”
Aripin ikut tertawa.
“Kami bukan anak kecil.”
Riyadi hanya tersenyum malu.
Sedangkan Aryanti yang mendengar dari
kejauhan langsung salah tingkah sambil pura-pura sibuk membereskan sabuknya.
Aziz lalu mendekat ke Aryanti.
“Sinok…”
Aryanti langsung melotot.
“Jangan ikut-ikut manggil begitu!”
“Wah berarti memang spesial.”
Aryanti langsung tersipu malu.
Semua tertawa ramai.
Dan di tengah masa-masa remaja yang
sederhana itu…
Riyadi dan Aryanti mulai menikmati
cinta pertama mereka.
Cinta yang polos.
Cinta yang diam-diam.
Cinta yang tumbuh di antara latihan
karate, jalanan desa, dan sepeda ontel yang terus menemani perjalanan masa
remaja mereka.
BAB XIV
Cinta di Antara Banyak Teman
Pacaran Riyadi dan Aryanti berjalan
dengan cara yang sangat sederhana.
Tidak seperti kisah cinta remaja di
kota yang bisa pergi berdua ke bioskop atau jalan-jalan ke pusat keramaian.
Mereka hanyalah anak desa di Tergorejo
pada masa ketika sepeda ontel masih menjadi kendaraan utama, ketika sore hari
lebih banyak dihabiskan di lapangan latihan atau duduk di gardu sambil
mendengarkan radio.
Karena itu, hubungan mereka tumbuh di
tengah kebersamaan banyak teman.
Tidak pernah benar-benar berdua.
Namun justru di situlah indahnya.
Mereka saling dekat tanpa harus selalu
saling memiliki sepenuhnya.
Sore itu latihan gabungan kembali
diadakan di Ranting Cepiring.
Sejak siang halaman SMPN I Pegandon
sudah ramai oleh anggota karate yang bersiap berangkat bersama.
Aripin sibuk memompa ban sepeda.
Aziz bercanda dengan junior-junior.
Sedangkan Rosita mondar-mandir mencari
tempat duduk di boncengan.
Aryanti berdiri di dekat pohon mangga
sambil merapikan rambutnya yang panjang terurai.
Saat Riyadi datang membawa sepeda
ontelnya, Aryanti langsung tersenyum kecil.
“Mas Riyadi…”
“Hm?”
“Ban sepedaku kayaknya agak kempes.”
Riyadi langsung jongkok memeriksa.
“Masih bisa dipakai.”
“Tapi berat.”
Aryanti berkata sambil pura-pura
manja.
Aziz yang melihat langsung tertawa
keras.
“Sudah lah! Dibonceng saja!”
Aryanti pura-pura melotot.
“Siapa yang mau?”
“Padahal pengin.”
Semua langsung tertawa ramai.
Wajah Aryanti memerah.
Sedangkan Riyadi hanya menggeleng
sambil tersenyum malu.
Akhirnya seperti biasa, mereka
berangkat bersama rombongan besar menuju Cepiring.
Kadang Aryanti gak mau di bonceng.
Justru pengennya Riyadi yang ia bonceng
Dan setiap kali itu terjadi,
teman-teman mereka pasti tidak berhenti menggoda.
“Wah pengantin lewat!”
“Pegang yang kuat, Sinok!”
“Riyadi senyum-senyum tuh!”
Aryanti sampai menutup wajahnya karena
malu.
Namun diam-diam ia menikmati semua
itu.
Perjalanan sore itu terasa
menyenangkan.
Jalan desa yang panjang, hamparan
sawah, suara angin, dan tawa anak-anak karate menjadi bagian dari masa muda
mereka yang sederhana namun sangat hidup.
Sesampainya di Cepiring, suasana
latihan sudah ramai.
Anggota dari berbagai ranting
berkumpul memenuhi halaman sekolah.
Begitu Aryanti datang, beberapa teman
langsung menyapanya.
“Aryantiii!”
“Hai!”
“Kamu datang juga!”
Aryanti tertawa sambil menghampiri
mereka.
Riyadi memperhatikan dari jauh.
Dan seperti biasanya, Aryanti selalu
mudah akrab dengan siapa saja.
Ia bisa tertawa dengan teman
perempuan.
Bisa bercanda dengan teman laki-laki.
Bisa berbicara dengan semua orang
tanpa canggung.
Namun berbeda dengan dulu…
Kini Riyadi mulai merasakan sesuatu
yang aneh setiap melihat Aryanti terlalu dekat dengan laki-laki lain.
Bukan marah.
Bukan benci.
Tapi semacam rasa tidak nyaman yang
perlahan tumbuh diam-diam.
Saat latihan dimulai, Riyadi mencoba
fokus.
Namun beberapa kali pandangannya tetap
mencari Aryanti.
Gadis itu tampak ceria sekali sore
itu.
Bahkan ketika sedang istirahat, ia duduk
bercanda bersama beberapa anggota laki-laki dari ranting lain.
Aziz yang duduk di samping Riyadi
menyenggol lengannya pelan.
“Cemburu?”
“Apaan.”
“Kelihatan kok.”
Riyadi menghela napas kecil.
“Aryanti memang banyak teman.”
“Nah itu.”
“Aku nggak bisa melarang.”
Sabara tersenyum tipis.
“Kalau sayang ya percaya.”
Kalimat itu membuat Riyadi diam.
Karena sebenarnya ia tahu.
Aryanti memang seperti itu sejak awal.
Supel.
Ramah.
Mudah akrab dengan siapa saja.
Dan justru sifat itulah yang membuat
banyak orang menyukainya.
Seusai latihan, mereka semua duduk
santai di bawah pohon besar sambil minum es lilin.
Aryanti duduk di dekat Riyadi sambil
tertawa kecil.
“Capek?”
“Lumayan.”
“Tadi Kakang Riyadi serius sekali.”
“Serius bagaimana?”
“Mukanya galak.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Biasa saja.”
Aryanti memperhatikan wajah Riyadi
beberapa detik.
Lalu tiba-tiba mendekat sedikit.
“Kakang Riyadi cemburu ya?”
Riyadi langsung salah tingkah.
“Siapa bilang?”
Aryanti terkikik kecil.
“Kelihatan.”
“Enggak.”
“Bohong.”
Riyadi akhirnya tertawa kecil
menyerah.
“Sedikit mungkin.”
Aryanti tersenyum lembut.
“Aku cuma anggap mereka teman.”
“Iya aku tahu.”
“Aku paling nyaman sama Kakang
Riyadi.”
Kalimat sederhana itu langsung membuat
rasa tidak nyaman di hati Riyadi perlahan hilang.
Aryanti memang mudah berteman dengan
siapa saja.
Namun Riyadi mulai mengerti satu hal.
Di antara semua orang yang dekat
dengan Aryanti…
Ada tempat khusus di hati gadis itu
yang hanya diberikan untuk dirinya.
Malam harinya setelah pulang latihan,
rombongan mereka berhenti sebentar di jembatan kecil dekat sawah.
Udara malam terasa dingin.
Bulan tampak bulat sempurna di langit.
Aripin tiba-tiba bersiul jahil.
“Eh lihat…”
“Apa?”
“Pasangan romantis.”
Semua langsung menoleh ke arah Riyadi
dan Aryanti yang sedang berdiri berdekatan.
Aryanti langsung malu.
“Apaan sih kalian!”
Aziz tertawa keras.
“Sudah ketahuan dari dulu!”
Rosita ikut menimpali polos.
“Memang Mbak Aryanti suka sama Mas
Riyadi kok.”
“ROSITAAA!”
Semua tertawa semakin keras.
Sedangkan Riyadi dan Aryanti hanya
bisa saling memandang sambil tersenyum malu di bawah cahaya bulan desa yang
tenang.
Dan malam itu…
Di tengah tawa teman-teman karate dan
dinginnya angin Pegandon…
Cinta pertama mereka terasa semakin
nyata.
BAB XV
Kelulusan dan Jalan yang Mulai Berbeda
Waktu berjalan begitu cepat.
Tanpa terasa, Riyadi kini sudah berada
di penghujung masa SMA-nya.
Hari-hari yang dulu terasa panjang
kini perlahan berubah menjadi hitungan menuju kelulusan.
Suasana di SMA Negeri I Pegandon mulai
dipenuhi kesibukan ujian akhir.
Buku-buku pelajaran menumpuk di meja.
Guru-guru semakin serius.
Sedangkan para siswa mulai sibuk
membicarakan masa depan mereka masing-masing.
Ada yang ingin kuliah.
Ada yang ingin bekerja.
Ada pula yang masih bingung akan
melangkah ke mana setelah lulus sekolah.
Dan di tengah semua perubahan itu…
Riyadi mulai merasakan ketakutan yang
belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Takut berpisah dari Aryanti.
Sore itu latihan karate berjalan lebih
sepi dari biasanya.
Sebagian anggota sedang sibuk ujian
sekolah.
Langit tampak mendung sejak siang,
membuat suasana halaman SMPN I Pegandon terasa sendu.
Aryanti duduk di teras sekolah sambil
memperhatikan Riyadi yang sedang membantu Sabara menyusun matras latihan.
Tatapan gadis itu tampak berbeda.
Lebih banyak diam.
Lebih sering melamun.
Setelah latihan selesai dan anggota
lain mulai pulang, Aryanti menghampiri Riyadi perlahan.
“Kakang Riyadi…”
“Hm?”
“Capek?”
“Sedikit.”
Aryanti duduk di sampingnya.
Beberapa detik mereka hanya diam
mendengar suara angin sore yang berembus melewati pohon-pohon besar di halaman
sekolah.
Lalu Aryanti berkata pelan.
“Nanti kalau Mas Riyadi lulus…”
Riyadi menoleh.
“Kenapa?”
“Mau ke mana?”
Pertanyaan itu membuat Riyadi terdiam
cukup lama.
Karena sebenarnya ia sendiri belum
benar-benar punya jawaban pasti.
“Aku mungkin kerja,” jawabnya pelan.
“Kerja di mana?”
“Belum tahu.”
“Di Kendal?”
“Mungkin.”
“Atau keluar kota?”
Riyadi menghela napas kecil.
“Bisa jadi.”
Aryanti menunduk memainkan ujung sabuk
karatenya.
“Aku nggak suka kalau dengar Mas
Riyadi mau pergi jauh.”
Kalimat itu terdengar lirih sekali.
Namun cukup membuat hati Riyadi terasa
sesak.
“Aku juga belum tentu pergi.”
“Tapi pasti nanti pergi.”
Aryanti tersenyum tipis.
“Orang laki-laki biasanya merantau.”
Riyadi memandang wajah Aryanti beberapa
saat.
Untuk pertama kalinya, ia melihat
ketakutan di mata gadis itu.
Takut kehilangan.
Takut ditinggalkan.
Dan sebenarnya Riyadi merasakan hal
yang sama.
Namun ia tidak tahu harus berkata apa.
Karena kehidupan setelah lulus sekolah
memang belum jelas bagi anak-anak desa seperti mereka.
“Sinok…” panggil Riyadi pelan.
“Hm?”
“Walaupun nanti aku pergi…”
Aryanti langsung menoleh.
“Aku nggak akan lupa sama kamu.”
Aryanti tersenyum kecil.
Namun matanya mulai berkaca-kaca.
“Janji?”
“Janji.”
Aryanti lalu menunduk lagi sambil
tertawa kecil menutupi rasa sedihnya.
“Kalau lupa nanti aku marah.”
Riyadi ikut tersenyum.
“Siap.”
Hari-hari berikutnya terasa semakin
cepat berlalu.
Riyadi mulai sibuk mempersiapkan
kelulusan.
Sedangkan Aryanti masih menjalani
sekolah SMP seperti biasa.
Namun justru karena waktu terasa
semakin sedikit, mereka semakin sering memanfaatkan kesempatan untuk bertemu.
Kadang hanya duduk bersama setelah
latihan.
Kadang bersepeda mengelilingi desa.
Kadang sekadar berbicara tentang
hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting.
Namun semua itu terasa sangat berarti
bagi mereka.
Suatu sore mereka duduk di pematang
sawah sambil memandangi langit yang mulai memerah.
Aryanti memetik rumput kecil di
sampingnya sambil berkata pelan.
“Kakang Riyadi…”
“Hm?”
“Kalau nanti kita sudah nggak sering
ketemu…”
“Kenapa?”
“Apa Mas Riyadi bakal punya pacar
lain?”
Pertanyaan itu membuat Riyadi tertawa
kecil.
“Kok mikir ke sana.”
“Ya pengin tahu saja.”
Riyadi menatap langit sebentar lalu
menjawab pelan.
“Aku nggak tahu masa depan.”
Aryanti langsung manyun kecil.
“Nah kan.”
“Tapi sekarang…”
Riyadi menoleh ke arah Aryanti.
“Aku cuma suka sama kamu.”
Wajah Aryanti langsung merah.
Ia buru-buru menunduk sambil tersenyum
malu.
“Mas Riyadi sekarang pintar ngomong.”
“Ini serius.”
Aryanti tertawa kecil.
“Aku juga.”
Angin sore bertiup pelan melewati
hamparan padi yang bergoyang seperti ombak hijau.
Dan untuk beberapa saat…
Dunia terasa begitu tenang bagi
mereka.
Namun jauh di dalam hati, keduanya
mulai sadar bahwa waktu perlahan sedang membawa mereka menuju jalan yang
berbeda.
Malam harinya saat berkumpul di rumah
Sopia mendengarkan radio, Sudaryono tiba-tiba bertanya kepada Riyadi.
“Kalau lulus nanti jadi kerja ke luar
kota?”
“Mungkin.”
“Serius?”
Riyadi mengangguk pelan.
“Di desa susah cari kerja.”
Sabara menghela napas.
“Kalau kamu pergi nanti ranting sepi.”
Aripin ikut menyahut.
“Dan Sinok pasti nangis.”
Semua langsung tertawa.
Namun Riyadi hanya tersenyum kecil.
Karena sebenarnya…
Ia tahu kemungkinan itu memang nyata.
Cepat atau lambat, hidup akan membawa
mereka ke arah masing-masing.
Dan malam itu…
Di tengah suara sandiwara radio yang
terus mengalun dari tape tua milik Sopia…
Riyadi mulai merasakan bahwa cinta
pertama tidak selalu tentang memiliki selamanya.
Kadang cinta pertama justru datang
untuk meninggalkan kenangan paling indah sebelum hidup mulai berubah menjadi
lebih dewasa.
BAB XVI
Kepergian yang Tak Berpamitan
Hari kelulusan akhirnya tiba.
Suasana SMA Negeri I Pegandon pagi itu
penuh campuran rasa bahagia dan haru. Beberapa siswa tertawa gembira karena
berhasil lulus, sementara sebagian lainnya justru termenung memikirkan masa
depan yang masih gelap di depan mata.
Riyadi berdiri di halaman sekolah
bersama Sudaryono sambil memegang map berisi surat kelulusannya.
Angin pagi bertiup pelan.
Langit tampak cerah.
Namun entah kenapa hati Riyadi justru
terasa berat.
“Selamat ya,” kata Sudaryono sambil
menepuk bahunya.
“Kamu juga.”
“Jadi sekarang resmi pengangguran.”
Riyadi tertawa kecil.
“Iya.”
Namun tawa itu tidak benar-benar lepas.
Karena sejak beberapa minggu terakhir,
pikirannya terus dipenuhi satu hal.
Merantau.
Banyak temannya sudah lebih dulu
bekerja di luar daerah, seperti Karwan di Tanggerang. Kesempatan kerja di desa
sangat sedikit, sedangkan kebutuhan hidup semakin besar.
Dan akhirnya, setelah banyak
pertimbangan, Riyadi memutuskan menerima tawaran bekerja di sebuah pabrik
pensil di Tangerang, menyusul Karwan di sana .
Keputusan itu sebenarnya belum
sepenuhnya siap ia jalani.
Namun keadaan membuatnya harus
berangkat.
Yang paling berat bukan meninggalkan
desa.
Melainkan meninggalkan Aryanti.
Sore itu Riyadi datang ke latihan
karate seperti biasa.
Namun sejak tadi pikirannya kacau.
Ia ingin mengatakan tentang
keberangkatannya kepada Aryanti.
Tetapi setiap kali melihat wajah gadis
itu, keberaniannya mendadak hilang.
Aryanti sendiri tampak sangat ceria
sore itu.
Ia terus bercerita tentang kegiatan
sekolahnya sambil membantu Riyadi membereskan perlengkapan latihan.
“Kakang Riyadi…”
“Hm?”
“Nanti minggu depan jadi latihan
gabungan ke Kendal?”
“Mungkin.”
“Jangan mungkin terus.”
Aryanti tertawa kecil.
“Kalau Mas Riyadi nggak ikut pasti
sepi.”
Riyadi tersenyum tipis.
Dadanya terasa sesak mendengar itu.
Beberapa kali ia mencoba membuka
pembicaraan tentang keberangkatannya.
Namun selalu gagal.
Entah kenapa ia takut melihat wajah
sedih Aryanti.
Takut mendengar gadis itu menahannya
pergi.
Dan mungkin…
Ia juga takut menjadi ragu untuk
berangkat.
Menjelang magrib latihan selesai.
Aryanti dan Riyadi duduk sebentar di
teras sekolah seperti biasanya.
Langit sore tampak merah keemasan.
Burung-burung mulai kembali ke sarang.
“Kakang Riyadi kok diam terus?” tanya
Aryanti pelan.
“Capek mungkin.”
“Bohong.”
Aryanti memandang wajah Riyadi
lekat-lekat.
“Kamu lagi mikir sesuatu.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Perasaanmu tajam ya.”
Aryanti tertawa kecil.
“Soalnya aku hafal.”
Kalimat itu membuat Riyadi semakin
sulit berbicara.
Beberapa detik mereka hanya diam.
Lalu Aryanti berkata pelan.
“Kakang Riyadi…”
“Hm?”
“Jangan pernah hilang ya.”
Jantung Riyadi terasa seperti diremas.
Ia memandang wajah Aryanti yang
tersenyum lembut di bawah cahaya senja.
Dan untuk sesaat…
Ia hampir mengatakan semuanya.
Tentang Tangerang.
Tentang pekerjaan.
Tentang keberangkatannya beberapa hari
lagi.
Namun akhirnya…
Ia hanya tersenyum kecil.
“Iya.”
Aryanti tampak puas dengan jawaban
itu.
Sedangkan Riyadi justru merasa semakin
bersalah.
Dua hari kemudian, sebelum subuh,
Riyadi bersiap berangkat menuju Tangerang.
Suasana rumah masih gelap dan sunyi.
Sedangkan Riyadi duduk diam memandangi
sepeda ontelnya di halaman rumah.
Sepeda yang selama ini menemaninya
melewati begitu banyak kenangan bersama Aryanti.
Ia sebenarnya ingin berpamitan.
Ingin sekali.
Namun sampai detik terakhir,
keberanian itu tidak juga datang.
Akhirnya Riyadi memilih pergi
diam-diam.
Hanya beberapa teman dekat yang tahu
keberangkatannya.
Termasuk Sudaryono dan Sabara, Aziz,
Aripin dan teman lainnya.
Bus antarkota perlahan bergerak
meninggalkan Pegandon.
Riyadi duduk dekat jendela sambil
memandangi jalan-jalan desa yang mulai menjauh.
Sawah.
Pohon-pohon kelapa.
Jembatan kecil.
Semua perlahan menghilang di balik
kabut pagi.
Dan bersamaan dengan itu…
Hatinya terasa kosong.
Sementara itu di Desa Tegorejo,
Aryanti baru mengetahui kepergian Riyadi beberapa hari kemudian dari adiknya
Sudaryono, yang satu kelas dengan Aryanti
Saat itu Aryanti mebdengar kabar dari
adiknya sudaryono.
“Jadi benar Kakang Riyadi sudah berangkat ?”
tanyanya pelan kepada ibu Riyadi.
“Iya …”
“Kemana?”
“Riyadi berangkat kerja ke Tangerang
tadi subuh.”
Aryanti langsung terdiam.
“Kok gak pamit sama aku?”
“Iya, entahlah.”
“Berangkat, sendiri?”
“Iya.”
Aryanti mematung beberapa detik.
Wajahnya berubah pucat.
“Kenapa nggak pamit…kakang riyadi,
tega” bisiknya lirih.
“Mungkin takut sedih.”
Aryanti langsung menunduk cepat.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Rosita yang berdiri di samping
kakaknya ikut diam.
“Mbak…”
Aryanti tidak menjawab.
Ia hanya menatap langit senja .
Langit senja di Tegorejo semburat
berwarna jingga.
Dan entah kenapa…
Baru kali itu Aryanti benar-benar merasa
kehilangan seseorang.
Sore harinya ia duduk sendirian di
teras rumah sambil memandangi jalan desa.
Biasanya sore seperti itu Riyadi
datang mengajaknya latihan atau sekadar bersepeda keliling desa.
Namun kali ini jalan itu kosong.
Tidak ada suara sepeda.
Tidak ada suara Riyadi memanggilnya
“Sinok”.
Rosita duduk di sampingnya pelan.
“Mbak…”
“Hm?”
“Mbak nangis ya?”
Aryanti buru-buru menghapus air
matanya.
“Enggak.”
“Tapi matanya merah.”
Aryanti tersenyum kecil.
“Cuma kangen.”
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka
saling jatuh cinta…
Jarak mulai memisahkan Riyadi dan
Aryanti.
Tanpa janji pasti.
Tanpa kepastian kapan bertemu lagi.
Hanya menyisakan rindu diam-diam di
hati dua remaja desa yang belum benar-benar siap kehilangan satu sama lain.
BAB XVII
Rindu dari Tangerang
Tangerang terasa seperti dunia yang
sangat berbeda bagi Riyadi.
Tidak ada hamparan sawah luas seperti
di Tegorejo.
Tidak ada jalan kecil tempat anak-anak
bersepeda ontel sambil bercanda.
Tidak ada suara jangkrik malam dari
pematang sawah.
Dan yang paling terasa…
Tidak ada Aryanti.
Hari-hari pertama bekerja di pabrik
pensil terasa berat baginya.
Suara mesin terus berdengung sejak
pagi hingga sore. Udara panas bercampur bau kayu dan cat memenuhi ruangan
produksi.
Riyadi yang terbiasa hidup santai di
desa harus mulai belajar menghadapi ritme kehidupan kota dan dunia kerja yang
keras.
Pagi bekerja.
Sore kembali ke kontrakan kecil
bersama beberapa teman sesama perantau.
Malam tubuhnya lelah.
Namun pikirannya justru semakin sering
pulang ke Desa Tegorejo.
Ke jalan-jalan desa.
Ke latihan karate.
Ke suara tawa Aryanti.
Dan terutama…
Ke panggilan “Kakang Riyadi” yang kini
hanya tinggal kenangan di telinganya.
Suatu malam Riyadi duduk sendirian di
depan kontrakan sambil memandangi langit kota yang nyaris tak berbintang.
Di tangannya ada secarik kertas
kosong.
Ia sebenarnya ingin menulis surat
untuk Aryanti.
Namun sudah hampir satu jam kertas itu
tetap kosong.
“Aneh…” gumamnya pelan.
Ia tidak tahu harus mulai dari mana.
Apakah meminta maaf karena pergi tanpa
berpamitan?
Ataukah menuliskan rasa rindunya?
Namun setiap kali mencoba menulis,
hatinya justru semakin sesak.
Akhirnya kertas itu dilipat kembali
tanpa satu kata pun tertulis.
Di sisi lain, di Desa Tegorejo,
Aryanti mulai menjalani hari-harinya tanpa Riyadi.
Awalnya terasa sangat aneh.
Setiap sore ia masih datang latihan
karate.
Namun suasananya berbeda.
Tidak ada lagi yang membantu
mengikatkan sabuk Rosita.
Tidak ada lagi yang diam-diam
memperhatikannya saat latihan.
Tidak ada lagi yang memanggilnya
“Sinok” dengan suara lembut itu.
Bahkan teman-teman karate pun mulai
merasakan kehilangan.
Suatu sore setelah latihan, Sabara
duduk di teras sekolah bersama Aryanti dan Aripin.
“Kalau Riyadi masih di sini pasti
sekarang ribut,” kata Aripin sambil tertawa kecil.
Aryanti tersenyum tipis.
“Iya.”
Sabara memandang Aryanti pelan.
“Kamu masih kepikiran ya?”
Aryanti diam beberapa detik.
Lalu tersenyum kecil sambil menunduk.
“Sedikit.”
Aripin langsung menyahut jahil.
“Sedikit katanya.”
Aryanti melempar handuk kecil ke arah
Aripin.
Namun setelah tawa itu reda, suasana
kembali terasa sepi.
Karena sebenarnya mereka semua tahu.
Riyadi bukan sekadar senior karate
biasa.
Ia adalah bagian penting dari masa
muda mereka.
Malam-malam di Tangerang terasa
semakin sunyi bagi Riyadi.
Kadang setelah pulang kerja, ia
sengaja mencari warung kecil yang memutar radio.
Saat mendengar sandiwara radio seperti
Saur Sepuh atau Misteri Gunung Merapi, pikirannya langsung terlempar jauh ke
masa-masa berkumpul di rumah Sopia.
Dan tanpa sadar…
Wajah Aryanti selalu muncul di
kepalanya.
Suatu malam seorang teman kerja
bertanya kepadanya.
“Riyadi…”
“Hm?”
“Kamu punya pacar di kampung ya?”
Riyadi tersenyum kecil.
“Kenapa?”
“Dari tadi melamun terus.”
Riyadi tertawa pelan.
“Mungkin.”
“Cantik?”
Riyadi memandang langit malam beberapa
saat sebelum menjawab.
“Cantik.”
“Namanya siapa?”
Riyadi tersenyum kecil lagi.
“Sinok.”
Temannya tertawa heran.
“Itu nama?”
“Nama khusus.”
Dan hanya dengan menyebut nama itu
pelan di dalam hati…
Rasa rindunya terasa semakin nyata.
Waktu terus berjalan.
Satu bulan.
Dua bulan.
Tiga bulan.
Namun tidak ada surat.
Tidak ada kabar.
Bukan karena mereka saling melupakan.
Justru sebaliknya.
Mereka terlalu muda untuk mengerti
bagaimana menjaga hubungan jarak jauh di masa ketika komunikasi begitu sulit.
Kadang Riyadi ingin pulang.
Kadang Aryanti berharap tiba-tiba
melihat Riyadi datang dari ujung jalan desa.
Namun hidup terus berjalan membawa
mereka ke arah masing-masing.
Suatu sore Aryanti duduk sendirian di
bawah pohon dekat pematang sawah tempat mereka dulu pernah berbicara tentang
cinta diam-diam.
Angin bertiup lembut memainkan rambut
panjangnya.
Rosita yang duduk di samping kakaknya
bertanya pelan.
“Mbak…”
“Hm?”
“Mbak masih suka sama Mas Riyadi?”
Aryanti tersenyum kecil.
“Kenapa tanya begitu?”
“Soalnya Mbak sering melamun.”
Aryanti memandang langit senja yang
mulai memerah.
Lalu menjawab sangat pelan.
“Ada orang yang walaupun jauh… tetap
tinggal di hati.”
Rosita tampak belum terlalu mengerti.
Namun ia melihat mata kakaknya berkaca-kaca.
Sementara jauh di Tangerang…
Di tengah bising mesin pabrik dan
kerasnya kehidupan kota…
Riyadi juga masih menyimpan satu nama
yang tidak pernah benar-benar pergi dari pikirannya.
Aryanti.
Sinok kecil dari Desa Tegorejo.
Cinta pertamanya yang kini hanya bisa
ia peluk lewat rindu dan kenangan.
BAB XVIII
Pertemuan Terakhir di Kapolres Cup
Dua tahun berlalu sejak Riyadi
meninggalkan Desa Tegorejo.
Waktu perlahan mengubah banyak hal.
Riyadi kini terlihat lebih dewasa
setelah bekerja di Tangerang. Wajahnya mulai tampak lebih matang, kulitnya
sedikit lebih gelap karena kerasnya kehidupan kerja.
Sedangkan Aryanti sudah tumbuh menjadi
gadis remaja yang semakin cantik.
Ia telah lulus SMP dan melanjutkan
sekolah ke STM di Klaten.
Dunia mereka perlahan berubah.
Kesibukan masing-masing membuat
hubungan mereka semakin jauh tanpa benar-benar disadari.
Tidak ada surat.
Tidak ada kabar.
Hanya kenangan yang masih diam-diam
tinggal di hati keduanya.
Hingga akhirnya…
Takdir mempertemukan mereka kembali
dalam sebuah turnamen karate Kapolres Cup di Kendal 1994.
Pagi itu suasana GOR tempat
pertandingan berlangsung sangat ramai.
Ratusan karateka dari berbagai ranting
dan daerah berkumpul memenuhi arena pertandingan. Suara teriakan semangat,
hentakan kaki, dan pengumuman panitia terdengar bersahut-sahutan.
Riyadi datang bersama beberapa teman
lama dari Pegandon.
Sudah lama ia tidak mengikuti suasana
karate seperti ini.
Namun begitu memasuki arena, kenangan
masa mudanya langsung terasa hidup kembali.
Tentang latihan di SMPN I Pegandon.
Tentang perjalanan naik sepeda ontel.
Tentang tawa teman-teman karate.
Dan tentu saja…
Tentang Aryanti.
“Riyadi!”
Aziz yang melihatnya langsung memeluk
bahunya.
“Lama sekali kamu nggak muncul!”
Riyadi tertawa kecil.
“Kerja terus.”
“Sekarang tambah kurus.”
“Kerja pabrik memang begitu.”
Mereka bercanda cukup lama.
Sampai akhirnya Aripin tiba-tiba
menyenggol lengan Riyadi pelan.
“Eh…”
“Hm?”
“Itu…”
Riyadi mengikuti arah pandangan
Aripin.
Dan seketika…
Dadanya terasa berhenti sesaat.
Di ujung lorong arena pertandingan,
Aryanti sedang berjalan bersama beberapa teman sekolahnya.
Rambutnya kini lebih panjang.
Wajahnya terlihat jauh lebih dewasa
dibanding dua tahun lalu.
Namun senyumnya…
Masih sama seperti yang selalu
tersimpan di ingatan Riyadi.
Untuk beberapa detik Riyadi hanya
diam.
Jantungnya berdetak sangat keras.
“Sudah sana,” bisik Sabara sambil
tersenyum kecil.
Riyadi menarik napas perlahan.
Lalu melangkah mendekat.
Aryanti yang sedang berbicara dengan
temannya tiba-tiba menoleh.
Dan saat mata mereka bertemu…
Waktu seperti kembali mundur ke
masa-masa latihan karate di Desa Tegorejo.
Aryanti tampak terkejut.
“Mas… Riyadi?”
Riyadi tersenyum kecil.
“Iya.”
Aryanti mematung beberapa detik
sebelum akhirnya ikut tersenyum.
“Ya ampun…”
“Kamu sehat?”
“Iya.”
“Kamu tambah tinggi.”
Aryanti tertawa kecil.
“Mas Riyadi juga beda sekarang.”
“Bedanya?”
“Lebih dewasa.”
Mereka sama-sama tertawa kecil karena
gugup.
Namun di balik senyum itu, ada rasa
canggung yang tidak pernah ada sebelumnya.
Karena kini mereka bukan lagi dua
remaja yang setiap hari bertemu di latihan karate.
Waktu dan jarak sudah mengubah banyak
hal.
“Sekarang sekolah di Klaten ya?” tanya
Riyadi.
Aryanti mengangguk.
“Iya.”
“Karate masih aktif?”
“Masih kadang-kadang.”
Aryanti lalu balik bertanya.
“Mas Riyadi kerja di Tangerang?”
“Iya.”
“Capek?”
“Lumayan.”
Aryanti tersenyum kecil.
“Dulu Mas Riyadi pergi nggak pamit.”
Kalimat itu diucapkan pelan.
Tidak marah.
Namun cukup membuat hati Riyadi terasa
tertusuk.
“Aku…”
Riyadi menunduk sebentar.
“Maaf.”
Aryanti tersenyum tipis.
“Aku sempat nangis tahu.”
Riyadi terdiam.
Dadanya terasa sesak mendengar
pengakuan itu.
“Aku takut kalau pamit malah nggak
jadi berangkat,” katanya jujur.
Aryanti memandang Riyadi beberapa
detik.
Lalu tersenyum kecil lagi.
“Sekarang aku sudah nggak marah.”
“Benarkah?”
“Iya.”
Mereka kembali diam beberapa saat.
Di sekitar mereka suasana pertandingan
masih ramai.
Namun bagi Riyadi, suara-suara itu
seperti menghilang perlahan.
Yang tersisa hanya sosok Aryanti di
depannya.
Sinok kecil dari Desa Tegorejo yang
pernah menjadi bagian terindah masa mudanya.
Lalu tanpa sengaja Riyadi melihat
seorang laki-laki muda berdiri tak jauh dari Aryanti.
Laki-laki itu melambaikan tangan.
“Yan!”
Aryanti menoleh cepat.
“Oh iya…”
Aryanti tampak sedikit salah tingkah.
“Itu temanku.”
Namun entah kenapa, Riyadi langsung
mengerti.
Tatapan laki-laki itu kepada Aryanti
terlalu berbeda untuk sekadar teman biasa.
Dan saat itulah Riyadi sadar…
Waktu memang tidak pernah berhenti
menunggu siapa pun.
“Mas Riyadi…”
“Hm?”
“Sekarang masih manggil aku Sinok
nggak?”
Pertanyaan itu membuat Riyadi
tersenyum kecil.
“Kalau kamu masih mau dipanggil
begitu.”
Aryanti tertawa pelan.
“Masih.”
Untuk sesaat mereka kembali seperti
dulu.
Namun hanya sesaat.
Karena setelah itu panitia memanggil
peserta pertandingan dan Aryanti harus kembali ke rombongannya.
“Mas…”
“Hm?”
“Hati-hati ya.”
“Iya.”
Aryanti tersenyum lembut.
“Senang bisa ketemu lagi.”
“Aku juga.”
Lalu gadis itu berjalan pergi perlahan
meninggalkan Riyadi.
Dan anehnya…
Riyadi tidak mencoba menahannya.
Ia hanya berdiri diam memandangi
punggung Aryanti yang semakin jauh di tengah keramaian arena karate.
Karena jauh di dalam hati…
Ia mulai sadar bahwa mungkin itulah
pertemuan terakhir mereka sebagai dua orang yang pernah saling mencintai
diam-diam di masa remaja.
Namun meski waktu sudah membawa mereka
ke jalan berbeda…
Satu hal tetap tidak berubah.
Aryanti tetap menjadi cinta pertama
yang tersimpan paling dalam di hati Riyadi.
BAB XIX
Bayangan Aryanti di Kota Banjarmasin
Beberapa bulan setelah pertemuan di
Kapolres Cup Kendal, hidup Riyadi kembali berubah.
Ia memutuskan meninggalkan Tangerang
dan menyusul kedua orang tuanya ke Kalimantan, tepatnya di Kota Kuala Kapuas.
Keputusan itu tidak mudah.
Karena sekali lagi, ia harus meninggalkan
tanah Jawa yang penuh kenangan masa remajanya.
Termasuk Desa Tegorejo.
Termasuk jalan-jalan kecil tempat ia
dan Aryanti dulu bersepeda bersama.
Dan termasuk semua jejak cinta
pertamanya yang masih tertinggal di sana.
Perjalanan menuju Kalimantan terasa
panjang dan melelahkan.
Untuk pertama kalinya Riyadi
benar-benar merasa jauh dari kampung halamannya.
Berbeda dengan Tangerang yang masih
berada di Pulau Jawa, Kalimantan terasa seperti dunia baru yang asing.
Sungai-sungai besar.
Hutan lebat.
Udara yang lebih panas dan lembap.
Semuanya berbeda dari desa kecilnya di
Tegorejo.
Namun kehidupan harus terus berjalan.
Di Kuala Kapuas, Riyadi mulai membantu
orang tuanya sambil mencari pekerjaan baru.
Kadang ia bekerja serabutan.
Kadang membantu kenalan keluarga.
Sampai akhirnya ia sempat bekerja di
Banjarmasin.
Dan justru di kota itulah…
Kenangan tentang Aryanti kembali
datang dengan cara yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Pagi itu Riyadi sedang berdiri di
depan tempatnya bekerja di kawasan kampong Gadang yang cukup ramai di
Banjarmasin.
Hari masih sangat pagi.
Kabut tipis bercampur asap kendaraan
menggantung di udara.
Beberapa siswa berseragam sekolah
mulai terlihat melintas menggunakan sepeda dan angkutan kota.
Riyadi sebenarnya tidak terlalu memperhatikan
siapa pun.
Sampai tiba-tiba…
Ia melihat seorang gadis remaja
berseragam SMP berjalan perlahan melewati jalan depan tempatnya bekerja.
Dan seketika…
Jantung Riyadi terasa berhenti sesaat.
Gadis itu sangat mirip Aryanti.
Bukan hanya wajahnya.
Tetapi semuanya.
Cara berjalan sepeda.
Rambut panjangnya yang terurai.
Cara menoleh sambil tersenyum kecil
kepada temannya.
Bahkan bentuk matanya terasa begitu
identik.
Riyadi sampai terpaku memandanginya.
“Ya Tuhan…” bisiknya lirih.
Gadis itu terus melangkah pergi menuju
ke sekolah.
Namun bayangannya tertinggal sangat
kuat di kepala Riyadi.
Hari itu Riyadi menjadi tidak fokus
bekerja.
Pikirannya terus kembali pada gadis
berseragam SMP tadi pagi.
Karena kemiripannya dengan Aryanti
benar-benar sulit dipercaya.
Dan sejak hari itu…
Tanpa sadar Riyadi mulai menunggu.
Setiap pagi.
Di jam yang sama.
Di tempat yang sama.
Hanya untuk melihat gadis itu lewat
menuju sekolah.
Teman kerjanya sampai heran melihat
kebiasaannya.
“Riyadi…”
“Hm?”
“Kamu tiap pagi lihat apa sih?”
Riyadi tersenyum kecil.
“Lihat orang lewat.”
“Orang siapa?”
Riyadi terdiam sejenak sebelum
menjawab pelan.
“Kenangan.”
Temannya tertawa bingung.
Namun Riyadi tidak menjelaskan lebih
jauh.
Karena bahkan ia sendiri sulit
menjelaskan perasaannya.
Ia tidak pernah berkenalan dengan
gadis SMP itu.
Tidak pernah menyapanya.
Tidak pernah tahu namanya.
Ia hanya diam memandangi dari
kejauhan.
Namun anehnya…
Setiap melihat gadis itu, rindunya
kepada Aryanti terasa sedikit terobati.
Kadang gadis itu lewat sambil tertawa
bersama teman-temannya.
Kadang terlihat murung.
Kadang rambutnya diikat.
Kadang terurai panjang tertiup angin
pagi.
Dan setiap kali itu terjadi…
Riyadi seperti melihat kembali Sinok
kecil dari Desa Tegorejo.
Suatu pagi hujan turun cukup deras di
Banjarmasin.
Riyadi berdiri di depan tempat kerja
sambil memandang jalan yang basah.
Entah kenapa ia tetap menunggu.
Dan benar saja.
Beberapa menit kemudian gadis SMP itu
muncul memakai jas hujan tipis sambil berjalan pelan menembus hujan.
Riyadi tersenyum kecil sendiri.
“Masih lewat juga…”
Untuk sesaat, kenangan tentang Aryanti
kembali begitu hidup di kepalanya.
Tentang hujan di Tegorejo.
Tentang latihan karate sore hari.
Tentang perjalanan naik sepeda ontel.
Tentang suara gadis itu memanggilnya.
“Kakang Riyadi…”
Dan tiba-tiba dadanya terasa sesak
oleh rindu yang belum benar-benar hilang.
Malam harinya Riyadi duduk sendirian
di tepi sungai kecil dekat tempat tinggalnya.
Air sungai memantulkan cahaya lampu
kota yang bergetar pelan.
Angin malam bertiup lembut.
Dan di tengah kesunyian itu, ia
akhirnya mulai memahami sesuatu.
Cinta pertama memang aneh.
Kadang tidak benar-benar pergi.
Ia hanya berubah menjadi kenangan yang
tinggal diam-diam di hati.
Mungkin seseorang bisa menikah.
Bisa memiliki keluarga.
Bisa menjalani kehidupan baru.
Namun cinta pertama…
Sering kali tetap memiliki ruang kecil
yang tak pernah benar-benar tergantikan.
Riyadi tersenyum kecil sambil
memandang langit malam Kalimantan.
“Apa kabarmu sekarang, Sinok…”
bisiknya lirih.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara angin malam dan aliran
sungai yang terus berjalan membawa waktu semakin jauh dari masa muda mereka di
Desa Tegorejo.
BAB XX
Cinta Pertama Tersimpan di Hati
Waktu terus berjalan tanpa pernah
menunggu siapa pun.
Tahun demi tahun berlalu membawa Riyadi
dan Aryanti ke kehidupan mereka masing-masing.
Anak-anak remaja yang dulu sering
bersepeda ontel mengelilingi Desa Tegorejo kini perlahan berubah menjadi orang
dewasa dengan tanggung jawab hidup yang jauh berbeda.
Riyadi akhirnya menetap di Kalimantan.
Menjalani kehidupan, bekerja,
membangun keluarga, dan perlahan belajar menjadi kepala rumah tangga yang
bertanggung jawab.
Sedangkan Aryanti di tanah Jawa juga
menjalani kehidupannya sendiri.
Ia tumbuh menjadi perempuan dewasa,
memiliki keluarga kecil, dan menjalani hari-hari sebagaimana perempuan pada
umumnya.
Kehidupan membawa mereka semakin jauh.
Namun anehnya…
Ada satu hal yang tidak pernah
benar-benar hilang dari hati Riyadi.
Kenangan tentang cinta pertamanya di
Desa Tegorejo.
Masa-masa sederhana itu tetap hidup
sangat jelas di ingatannya.
Tentang latihan karate di SMPN I
Pegandon.
Tentang jalanan desa yang dipenuhi
sawah hijau.
Tentang suara sandiwara radio di rumah
Sopia.
Tentang perjalanan naik sepeda ontel
bersama teman-teman.
Dan terutama…
Tentang seorang gadis bernama Aryanti
yang dulu dipanggilnya dengan nama khusus:
Sinok.
Kadang ketika usia mulai bertambah dan
rambut perlahan memutih, Riyadi sering duduk sendirian di teras rumah pada
malam hari sambil mengenang masa mudanya.
Ada rasa hangat yang sulit dijelaskan
setiap kali kenangan itu datang.
Bukan penyesalan.
Bukan pula keinginan untuk kembali
memiliki.
Melainkan rasa syukur karena pernah
merasakan cinta pertama yang begitu tulus dan polos.
Suatu malam ketika hujan turun pelan
di desa, Riyadi duduk sambil memandangi tetesan air di halaman rumahnya.
Anak-anaknya sudah dewasa.
Kesibukan hidup perlahan mulai
berkurang.
Dan di usia yang mulai menua itu,
kenangan masa remajanya justru semakin sering muncul.
Ia teringat kembali pada satu sore di
Desa Tegorejo.
Tentang Aryanti yang duduk di
boncengan sepeda ontelnya sambil tertawa kecil.
Tentang suara gadis itu berkata:
“Kakang Riyadi jangan pernah hilang
ya…”
Riyadi tersenyum kecil sendiri.
Karena pada akhirnya…
Ia memang tidak pernah benar-benar
hilang.
Ia hanya berjalan terlalu jauh
mengikuti jalan hidupnya sendiri.
Kadang Riyadi bertanya dalam hati.
Apakah Aryanti sesekali juga masih
mengingatnya?
Apakah perempuan itu masih mengingat
latihan karate di Tegorejo?
Masih ingat jalan-jalan desa?
Masih ingat panggilan “Sinok”?
Ataukah semua itu sudah terkubur jauh
oleh waktu?
Namun semakin dewasa, Riyadi mulai
memahami satu hal penting.
Tidak semua cinta harus dimiliki
sampai akhir hayat untuk menjadi indah.
Ada cinta yang memang hadir hanya
untuk menjadi kenangan paling hangat dalam hidup seseorang.
Dan cinta pertama sering kali seperti
itu.
Ia tidak selalu berakhir bersama.
Tetapi selalu meninggalkan jejak yang
abadi.
Suatu sore Riyadi membuka kembali
album pada profil akun Face Book milki Aryanti, yang masih tetap cantik
walaupun usianya mendekati setengah abat terhitung pada 17 desember 2027.
Di sela-sela memandang foto profilnya yang
membuatnya lama terdiam.
Foto keluarga kecilya yang dangat
bahagia.
Dan di sudut foto…
Aryanti sedang tersenyum kecil ke arah
kamera.
Riyadi memandang foto itu lama sekali.
Lalu tersenyum tipis sambil menggeleng
pelan.
“Sinok…”
Suara itu lirih sekali.
Namun cukup membuat kenangan puluhan
tahun lalu kembali hidup di dadanya.
Ia tidak lagi sedih.
Tidak lagi merasa kehilangan.
Karena kini yang tersisa hanyalah rasa
hangat.
Hangat dari masa Remaja yang pernah
begitu indah.
Dan jauh di dalam hati kecilnya…
Masih tersimpan sebuah harapan
sederhana.
Bahwa suatu hari nanti, di usia senja
mereka…
Tuhan mungkin akan kembali mempertemukan
mereka.
Bukan sebagai dua remaja yang saling
jatuh cinta diam-diam.
Melainkan sebagai dua sahabat lama
yang pernah mengisi masa remaja satu sama lain.
Mungkin mereka akan duduk bersama di
teras rumah di Dusun Kersan Desa Tegorejo.
Membicarakan masa lalu sambil tertawa
kecil mengenang kebodohan masa remaja.
Tentang sepeda ontel.
Tentang latihan karate.
Tentang ejekan teman-teman.
Tentang cinta pertama yang dulu
disembunyikan rapat-rapat.
Dan jika hari itu benar-benar datang…
Riyadi hanya ingin memanggil satu nama
sekali lagi dengan penuh rasa hangat.
“Apa kabar, Sinok…”
Karena pada akhirnya…
Cinta pertama di Desa Tegorejo memang
tidak pernah benar-benar pergi.
Ia hanya tersimpan diam-diam di hati.
Selamanya.
EPILOG
Harapan di Usia Senja
Matahari sore perlahan turun di ufuk
barat Kota Kuala Kapuas tepatnya di Desa Sriwidadi, Kecamatan Mantangai,
Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah.
Langit memerah keemasan.
Angin sungai bertiup pelan membawa
aroma air dan dedaunan basah setelah hujan siang tadi.
Di teras rumah sederhana yang kini
mulai dipenuhi sebuah harapan kecilnya, untuk segera menimang seorang cucu,
Riyadi duduk sendiri di teras rumahnya sambil memandang langit senja.
Usianya kini tidak lagi muda. Lebih
dari setengah abad
Rambut yang dahulu hitam pekat mulai
dipenuhi uban.
Garis-garis usia tampak jelas di
wajahnya.
Namun jauh di dalam hatinya…
Masih ada satu sudut kecil yang tetap
menyimpan kenangan masa remaja di Desa Tegorejo.
Kenangan yang tidak pernah benar-benar
hilang walau puluhan tahun telah berlalu.
Kadang hidup memang aneh.
Banyak hal besar justru terlupakan
oleh waktu.
Namun beberapa kenangan sederhana
malah tetap hidup begitu jelas.
Dan bagi Riyadi…
Kenangan itu bernama Aryanti.
Sinok kecil yang dahulu sering
memboncengnya naik sepeda ontel melewati jalan-jalan desa Tegorejo-Pegandon.
Malam itu setelah azan magrib
berkumandang dari kejauhan, Riyadi membuka kembali kotak kayu lama yang sudah
mulai usang.
Di dalamnya tersimpan beberapa benda
masa lalu.
Sabuk karate lama yang warnanya mulai
pudar.
Tidak ada Foto-foto hitam putih.
Tiadak ada Kartu pelajar.
Dan tidak potongan kenangan yang masih
ia simpan diam-diam hingga usia senjanya.
Tangannya berhenti pada satu foto profil
di akun Face Bookn milik Aryanti.
Foto keluarga dengan anak gadisnya .
Foto itu mungkin di ambila sekira
tahun 2012 san.
Namun wajah-wajah di dalamnya masih
jelas, tetap Cantik seperti dahulu.
Dan Aryanti…
Yang tersenyum manis di sudut foto
sambil memandang kamera.
Riyadi tersenyum kecil.
Lama sekali ia memandangi foto itu.
Lalu perlahan ia bersandar di dinding
teras rumahnya sambil memejamkan mata.
Dan seperti biasa…
Kenangan masa muda kembali datang satu
per satu.
Suara sepeda ontel.
Suara latihan karate.
Suara teman-temannya bercanda.
Suara radio tua yang memutar Misteri
Gunung Merapi dan Saur Sepuh.
Dan suara lembut seorang gadis yang
memanggilnya:
“Kakang Riyadi…”
Kadang Riyadi bertanya dalam hati…
Apakah Aryanti di sana juga masih
sesekali mengingat masa itu?
Apakah perempuan itu masih mengingat
jalan-jalan kecil Desa Tegorejo?
Masih ingat latihan karate?
Masih ingat panggilan “Sinok”?
Ataukah semua itu kini hanya tinggal
kenangan di hatinya sendiri?
Namun semakin tua, Riyadi semakin
memahami bahwa tidak semua pertanyaan hidup harus memiliki jawaban.
Karena beberapa kenangan memang cukup
disimpan sebagai rasa hangat di hati.
Bukan untuk dimiliki kembali.
Bukan pula untuk disesali.
Melainkan untuk dikenang dengan penuh
rasa syukur.
Riyadi memandang langit malam yang
mulai gelap.
Bintang-bintang kecil bermunculan satu
per satu.
Dan di usia senjanya kini…
Ia hanya memiliki satu harapan
sederhana.
Bukan untuk mengulang cinta masa lalu.
Bukan untuk kembali muda.
Bukan pula untuk mengubah takdir hidup
mereka.
Ia hanya berharap…
Suatu hari nanti Tuhan memberi
kesempatan untuk kembali bersilaturahmi dengan Aryanti.
Sekadar bertemu.
Sekadar berbincang.
Sekadar mengenang masa remaja mereka
yang pernah begitu indah.
Mungkin di teras rumah tua di Dusun
Kersan Desa Tegorejo.
Mungkin di sebuah acara reuni karate.
Atau mungkin secara tidak sengaja
dipertemukan oleh waktu yang panjang.
Dan jika hari itu benar-benar datang…
Riyadi ingin tersenyum sambil berkata
pelan:
“Sinok… ternyata kita sudah setua ini
ya.”
Lalu mereka mungkin akan tertawa kecil
bersama.
Mengenang masa ketika cinta masih
begitu sederhana.
Ketika kebahagiaan cukup dengan naik
sepeda ontel mengelilingi desa.
Ketika rindu hanya disimpan diam-diam
di hati.
Dan ketika cinta pertama terasa begitu
murni tanpa kepentingan apa pun.
Hidup memang terus berjalan.
Waktu terus membawa manusia menuju
usia tua.
Namun cinta pertama…
Kadang tetap tinggal diam-diam di
sudut hati paling dalam.
Tidak mengganggu.
Tidak meminta kembali.
Hanya hidup sebagai kenangan yang
hangat.
Dan bagi Riyadi…
Cinta Pertama di Desa Tegorejo akan
selalu menjadi bagian terindah dari perjalanan hidupnya.
Sebuah kisah sederhana tentang dua
remaja desa…
Yang pernah saling mencintai
diam-diam.
Lalu dipisahkan oleh waktu.
Namun tidak pernah benar-benar saling
melupakan.
TAMAT.
"Salam hangat untuk Sinok, terima kasih telah
menjadi bagian terindah dari masa remaja yang tak pernah benar-benar pergi dari
hati — Slamet Riyadi."
Desa Sriwidadi, 9
Mei 2026
https://sriwidadi.simsa.id

Komentar
Posting Komentar