NOVEL JEJAK CINTA YANG TERTINGGAL
NOVEL
JEJAK CINTA YANG TERTINGGAL
Tiga Bulan Pengabdian, Sebuah Desa, dan Cinta yang Tak Pernah Benar-Benar
Pergi
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Novel Jejak Cinta yang
Tertinggal merupakan karya fiksi yang mengambil latar kehidupan
pemerintahan dan masyarakat Desa Awan Biru.
Nama tokoh, lingkungan, hubungan
antartokoh, dialog, konflik, serta rangkaian peristiwa dalam novel ini
dikembangkan untuk kepentingan cerita.
Novel ini merupakan bagian dari
kesinambungan dunia cerita Tetralogi Bakti Mahasiswa KKN di Desa Awan Biru.
Beberapa tokoh pemerintahan desa, tokoh masyarakat, pemuda, tenaga kesehatan,
dan masyarakat yang telah dikenal dalam rangkaian cerita sebelumnya digunakan
kembali untuk menjaga kesinambungan latar dan karakter.
Meskipun mengambil inspirasi dari tata
kelola pemerintahan desa, pelayanan masyarakat, kegiatan pembangunan,
pemberdayaan, kesehatan, kepemudaan, dan kehidupan sosial masyarakat, novel ini
bukan dokumen resmi pemerintahan dan bukan laporan faktual mengenai
Pemerintah Desa Awan Biru.
Peristiwa, konflik, percakapan,
hubungan emosional, dan perjalanan Sugianto selama tiga bulan magang merupakan
bagian dari pengembangan sastra.
Apabila terdapat kesamaan dengan peristiwa
atau pengalaman nyata, hal tersebut merupakan bagian dari konstruksi cerita dan
tidak dimaksudkan sebagai gambaran lengkap mengenai kehidupan pribadi
seseorang.
PROLOG
Surat yang Membawa
Sugianto ke Desa Awan Biru
Pagi itu langit Desa Awan Biru tampak cerah. Kabut tipis
masih bergelayut di sela-sela pepohonan ketika suara mesin sepeda motor mulai
terdengar dari kejauhan, mendekat, lalu berhenti tepat di depan pagar kantor
desa.
Sugianto mematikan mesin. Ia tidak langsung turun.
Tangannya masih menggenggam setang. Matanya tertuju pada
papan nama di depannya:
PEMERINTAH DESA AWAN BIRU
Tulisan itu sederhana. Cat putih dengan latar biru tua.
Tidak ada hiasan berlebihan. Namun pagi itu, papan itu terasa seperti gerbang
menuju sesuatu yang belum ia kenal.
Tiga bulan.
Ia menghela napas. Dadanya terasa sedikit sesak, bukan
karena takut—atau mungkin justru karena takut. Ia tidak tahu.
"Sudah sampai, Gi. Turun," gumamnya sendiri.
Ia menepuk-nepuk pipinya, lalu menggerakkan bahu ke
belakang. Sebuah upaya kecil untuk mengusir rasa gugup yang menyelinap di
antara tulang rusuknya.
Dari dalam tas, ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat.
Surat pengantar dari kampus. Sudah di-stempel, sudah ditandatangani, sudah
dianggap sah oleh tiga orang dosen. Ia membacanya sekali lagi—untuk ketiga
kalinya pagi itu—meskipun isinya sudah ia hafal di luar kepala.
"Dengan ini kami mengirimkan mahasiswa atas nama
Sugianto untuk melaksanakan orientasi dan magang..."
Ia memasukkan surat itu kembali.
"Nih, Gi," katanya pelan, "ini hari pertama.
Jangan kacau."
Ia turun dari sepeda motor. Sepatu ketsnya menginjak tanah
yang masih sedikit basah oleh embun. Langit di atasnya mulai berubah dari
abu-abu kebiruan menjadi jingga muda. Sekelompok burung terbang rendah. Seorang
bapak dengan kopiah putih melintas di depannya sambil tersenyum.
"Pagi, Nak. Anak baru?"
Sugianto sedikit terkejut. Ia belum sempat membalas, tetapi
bapak itu sudah berjalan terus sambil tersenyum.
"Pagi, Pak..." gumam Sugianto terlalu lambat.
Ia menggelengkan kepala. Dasar.
Di depannya, Kantor Desa Awan Biru terbuka. Seorang
perempuan dengan kemeja batik lengan panjang sedang menyapu halaman. Sapu lidi
berderak di atas aspal. Ia mengangkat wajah dan menatap Sugianto.
"Pagi, Mas," sapanya ramah.
Sugianto tersenyum canggung. "Pagi, Bu."
"Mencari siapa?"
"Saya... saya Sugianto. Mahasiswa magang."
Perempuan itu berhenti menyapu. Matanya mengamati Sugianto
dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu ia tersenyum lebar.
"Oh, yang kemarin dikabari Pak Kades? Sudah, silakan
masuk. Ibu Lulu sudah di dalam."
"Terima kasih, Bu."
Sugianto berjalan melewati halaman. Sepatu ketsnya berderit
pelan di lantai keramik. Sebelum masuk, ia berhenti sejenak di depan pintu.
Ia menatap papan nama itu sekali lagi.
Tiga bulan. Sembilan puluh hari.
"Semoga semua berjalan baik," bisiknya.
Lalu ia melangkah masuk.
---
Di ruang pelayanan, suasana mulai hidup. Seorang ibu-ibu
muda—Ibu Lulu, pikir Sugianto—sedang mengatur tumpukan berkas di atas meja.
Rambutnya diikat rapi, kacamata bundar bertengger di pangkal hidungnya.
Ia mendongak ketika mendengar langkah kaki.
"Pagi," sapanya sambil tersenyum, tanpa
basa-basi. "Kamu Sugianto?"
Sugianto mengangguk cepat. "Iya, Bu."
"Anak magang yang dari kampus?"
"Iya, Bu."
Ibu Lulu menutup map yang sedang dipegangnya. "Surat
pengantarnya ada?"
Sugianto mengeluarkan amplop cokelat itu dengan sedikit
tergesa. "Ini, Bu."
Ibu Lulu menerima surat itu, membacanya sebentar, lalu
mengangguk.
"Baik. Selamat datang di Desa Awan Biru. Saya Lulu.
Kasi Pelayanan."
"Terima kasih, Bu." Sugianto membungkuk sedikit.
Ibu Lulu tertawa kecil. "Santai saja. Di sini semua
orang biasa. Nggak ada yang formal-formal amat."
Sugianto tersenyum. Sedikit lega.
Ibu Lulu berjalan ke arah pintu ruang sebelah. "Ikut
saya. Saya perkenalkan kamu sama yang lain."
"Baik, Bu."
Mereka berjalan menyusuri lorong pendek. Dari balik pintu,
Sugianto mendengar suara ketukan keyboard dan percakapan. Seorang laki-laki
paruh baya—rambutnya mulai memutih di pelipis—sedang menjelaskan sesuatu dengan
suara lantang.
"...tahun lalu kan sudah diajukan. Sekarang tinggal
menunggu verifikasi. Nggak bisa buru-buru."
"Tapi Pak Edi, warga sudah tanya berkali-kali."
"Ya saya tahu, Bu Yuni. Tapi kalau prosedur belum
selesai, kita nggak bisa main serobot."
Sugianto mengerjapkan mata.
Pak Edi? Bu Yuni?
Ibu Lulu membuka pintu. "Maaf, ganggu. Ini Sugianto.
Anak magang yang baru datang."
Ruangan itu berisi tiga orang. Seorang perempuan dengan
kacamata tebal dan buku catatan di tangan—Ibu Yuni, tebak Sugianto. Seorang
laki-laki gemuk dengan kemeja kotak-kotak yang duduk di depan komputer—mungkin
Pak Eko. Dan seorang laki-laki lain, yang tadi berbicara lantang, berdiri
dengan kedua tangan di pinggang.
Semua mata tertuju pada Sugianto.
"Wah, baru ya?" kata si laki-laki gemuk dari
balik komputer. "Selamat datang."
Sugianto mengangguk. "Terima kasih, Pak."
"Panggil saya Pak Eko," katanya sambil tersenyum
ramah. "Saya Kaur Perencanaan. Kalau ada yang nggak ngerti, tanya
saya."
Ibu Yuni mengamati Sugianto dengan senyum tipis. "Dari
mana?" tanyanya.
"Kampus Merah Putih, Bu."
"Oh. Berarti tiga bulan?"
"Iya, Bu."
Ibu Yuni mengangguk. "Cukup lama. Semoga betah."
Sugianto tersenyum. "Saya berusaha, Bu."
Laki-laki yang tadi berbicara lantang—Pak Edi, pikir
Sugianto—mengulurkan tangan. "Saya Edi. Kasi Kesra. Kalau ada masalah
masyarakat, nanti saya ajak kamu turun."
"Terima kasih, Pak."
Ibu Lulu melihat sekeliling. "Yang lain mana?"
"Kaur Keuangan ada di ruang belakang," kata Pak
Eko sambil menunjuk. "Bu Endang baru keluar sebentar. Si Amat entah ke
mana."
"Si Amat?" tanya Sugianto.
"Pria gendut yang suka di depan komputer," jawab
Pak Edi sambil tertawa. "Katanya admin website desa. Tapi kerjaannya main
game juga."
"Eh, jangan fitnah," terdengar suara dari balik
dinding. Lalu seorang pria muncul—rambutnya acak-acakan, kacamata sedikit
miring di hidungnya. "Saya nggak main game, Pak Edi. Saya monitoring server."
Pak Edi tertawa terbahak-bahak. "Iya, monitor server.
Pokoknya monitor terus."
Si Amat mendekati Sugianto dengan tangan terulur.
"Amat. Kasi Pemerintahan. Tapi kerjaan utama saya di website."
Sugianto menjabat tangannya. "Sugianto."
"Nama bagus," kata Si Amat. "Kalau nanti
tertarik belajar bikin berita desa, bilang saya."
"Boleh, Pak?"
"Boleh. Asal mau belajar, semua orang di sini bisa
ngajar."
Sugianto tersenyum. Untuk pertama kalinya pagi itu, dadanya
terasa sedikit lebih ringan.
---
Setelah perkenalan singkat, Ibu Yuni mengajak Sugianto ke
ruang Kepala Desa.
"Pak Iwan sudah menunggu," katanya.
Sugianto mengikuti langkah Ibu Yuni. Mereka melewati ruang
pertemuan, lalu berhenti di depan pintu kayu dengan tulisan "RUANG KEPALA
DESA".
Ibu Yuni mengetuk dua kali.
"Masuk."
Suara berat dari dalam. Ibu Yuni membuka pintu.
Di dalam ruangan itu, seorang pria paruh baya sedang duduk
di balik meja besar. Sekitar lima puluhan, rambutnya disisir rapi, dan di atas
hidungnya ada kacamata baca yang membuatnya terlihat seperti guru besar. Di
atas meja berserakan dokumen, sebuah laptop, dan segelas kopi yang sudah
setengah diminum.
"Ini Sugianto, Pak," kata Ibu Yuni.
Pak Iwan mengangkat wajah. Ia melepas kacamatanya,
meletakkan pulpen yang sedang dipegangnya, lalu menatap Sugianto.
"Duduk," katanya dengan nada pendek tapi tidak
kasar.
Sugianto duduk di kursi di hadapan meja itu. Tangannya
diletakkan di pangkuan.
Pak Iwan mengambil surat pengantar yang tadi diberikan Ibu
Lulu. Ia membacanya dengan tenang, sesekali menggerakkan bibir tanpa suara.
"Tiga bulan," ujarnya akhirnya.
"Iya, Pak."
Pak Iwan meletakkan surat itu. "Kamu tahu apa itu
pemerintahan desa?"
Pertanyaan itu membuat Sugianto sedikit tersentak. Ia
mengira akan ditanya tentang rencana magang atau kemampuan akademiknya.
"Pemerintahan desa adalah... lembaga yang mengelola
urusan masyarakat di tingkat desa, Pak."
Pak Iwan tersenyum. "Itu jawaban dari buku."
Sugianto tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya diam.
"Kalau di sini," lanjut Pak Iwan sambil menunjuk
ke jendela, "pemerintahan desa bukan tentang lembaga. Bukan tentang
dokumen. Bukan tentang aturan—meskipun semua itu penting."
Ia berhenti. Matanya menatap Sugianto.
"Pemerintahan desa adalah tentang mereka."
Sugianto mengikuti arah pandangnya. Di halaman kantor,
beberapa orang sedang menunggu di kursi-kursi panjang. Ada seorang bapak dengan
kaus lusuh yang memegang map merah. Ada seorang ibu yang menggendong anaknya.
Ada tiga pemuda yang duduk sambil mengobrol.
"Mereka?" tanya Sugianto.
"Warga," kata Pak Iwan. "Mereka yang datang
dengan berbagai urusan. Ada yang mau bikin KTP. Ada yang mau mengadu. Ada yang
cuma mau bertanya. Dan tugas kita—tugas Pemerintah Desa—adalah melayani
mereka."
Sugianto mengangguk.
"Selama tiga bulan ini," lanjut Pak Iwan,
"kamu akan belajar banyak soal administrasi, data, surat-menyurat, dan
lainnya. Tapi kalau hanya itu yang kamu pelajari, kamu belum mengerti
desa."
"Yang harus saya pelajari apa, Pak?" tanya
Sugianto, sekarang dengan nada lebih penasaran daripada gugup.
Pak Iwan bersandar di kursinya. "Belajarlah memahami
masyarakat. Kenapa mereka datang. Apa yang mereka butuhkan. Kenapa mereka
marah, kenapa mereka bingung, kenapa mereka sabar. Karena di balik setiap
dokumen yang mereka bawa, ada kehidupan."
Sugianto terdiam. Kata-kata itu terasa berat, tapi juga
membangkitkan sesuatu dalam dirinya.
Pak Iwan tersenyum. "Tapi jangan terlalu dipikirkan.
Nanti juga kamu paham."
"Baik, Pak."
"Dan satu lagi."
"Apa, Pak?"
"Jangan takut bertanya. Kalau salah, perbaiki. Kalau
belum tahu, tanya. Di sini bukan sekolah, tapi tempat belajar."
Sugianto tersenyum. "Siap, Pak."
Pak Iwan mengangguk. "Selamat datang di Desa Awan
Biru."
Sugianto bangkit. Untuk pertama kalinya, ia merasa lebih
siap—setidaknya lebih siap untuk mencari tahu apa yang harus dipersiapkan.
---
Sore hari, setelah semua perkenalan selesai dan Sugianto
mulai memahami alur ruangan di kantor desa, ia duduk di beranda depan. Sepatu
ketsnya sudah terlepas, kakinya diayunkan perlahan.
Sepuluh nama sudah ia catat di buku.
Pak Iwan Setiawan — Kepala Desa.
Ibu Yuni — Sekretaris Desa.
Pak Eko — Kaur Perencanaan.
Kaur Keuangan — (lupa namanya).
Ibu Lulu — Kasi Pelayanan.
Bu Endang — (belum ketemu).
Pak Edi — Kasi Kesra.
Si Amat — Kasi Pemerintahan.
Pak Didit — Ketua BPD (belum ketemu).
Pak Sugeng dan Pak Hasan — Tokoh Masyarakat (belum ketemu).
Ia menatap daftar itu. Masih banyak yang kosong.
Tiba-tiba tiga anak kecil berlari mendekati beranda.
Seorang laki-laki dengan celana pendek dan kaos merah, seorang perempuan dengan
bando kuning, dan seorang perempuan kecil yang memegang buku gambar.
"Kak!" teriak si laki-laki.
Sugianto tersentak. "Iya?"
"Kakak anak magang?"
Sugianto tersenyum. "Iya. Kenapa?"
"Namanya siapa?"
"Sugianto."
Si laki-laki mengangguk-angguk. "Saya Joko. Ini Titik.
Ini Juana."
Titik melambai. Juana hanya tersenyum malu-malu.
"Magang itu apa?" tanya Joko.
Sugianto berpikir. "Belajar bekerja."
"Berarti Kak Sugianto sekolah di kantor?"
Sugianto tertawa. "Kurang lebih begitu."
"Bagus!" seru Joko. "Nanti main sama kami,
ya?"
Sugianto mengangguk. "Kalau sudah selesai kerja."
"Janji?" tanya Titik.
"Janji."
Anak-anak itu berlari pergi, tertawa-tawa.
Sugianto memandangi mereka. Angin sore berhembus. Kantor
desa mulai sepi.
Ia membuka buku catatan. Di bawah daftar nama, ia menulis
satu kalimat:
"Hari ini, Desa Awan Biru mulai terasa seperti rumah
yang belum kukenal."
Ia menutup buku. Tersenyum. Lalu memasukkan sepatunya dan bangkit.
Perjalanan tiga bulan telah dimulai.
BAB
I
Langkah
Pertama di Desa Awan Biru
Pagi kedua Sugianto di Desa Awan Biru dimulai pukul
setengah tujuh.
Ia sudah mandi, sudah sarapan mi instan di warung depan
kos, dan sudah memarkir sepeda motornya di tempat yang sama seperti kemarin.
Pagi ini ia sengaja datang lebih awal—bukan karena disuruh, tapi karena ia
tidak mau terlambat di hari kedua.
Kantor desa belum ramai. Pintu besi masih setengah
tertutup. Hanya Si Amat yang sudah di dalam, duduk di depan komputer dengan
secangkir kopi di tangan kanan dan kiri di atas mouse.
"Pagi!" sapa Si Amat tanpa menoleh.
"Pagi, Pak."
"Kok pagi-pagi banget? Jam baru tujuh kurang."
"Pengen adaptasi, Pak."
Si Amat berbalik kursinya. "Kemarin bagaimana?
Capek?"
"Lumayan." Sugianto meletakkan tasnya.
"Banyak nama."
Si Amat tertawa. "Iya. Di sini emang banyak orang.
Nanti juga hapal."
Sugianto duduk di kursi yang kemarin digunakan—dekat dengan
jendela, pemandangan langsung ke halaman depan.
"Pak, boleh tanya?"
"Tentu."
"Tugas saya nanti apa, sebenarnya?"
Si Amat menyruput kopinya. "Tergantung Ibu Yuni. Tapi
biasanya anak magang: belajar administrasi, bantu pelayanan, kadang diajak Pak
Eko lihat data. Kadang juga disuruh Pak Edi ke lapangan. Ya, pokoknya
serba-serbi."
Sugianto mengangguk. "Berarti saya harus siap ke mana
saja."
"Ya. Tapi jangan stres," Si Amat tersenyum.
"Semua orang di sini baik."
"Kalau Pak Iwan?"
Si Amat mendengus. "Keras. Tapi adil. Dan yang paling
penting, beliau nggak suka orang malas."
"Jadi harus rajin."
"Sudah pasti."
---
Sekitar pukul delapan, satu per satu perangkat desa datang.
Pak Eko masuk dengan kemeja lengan pendek dan tas
selempang. Ia menyapa Sugianto sambil membuka laptopnya.
"Gi, coba lihat ini nanti," katanya sambil
meletakkan sebuah map di atas meja Sugianto. "Baca dulu. Nanti saya
jelaskan."
"Baik, Pak. Isinya apa?"
"Data penduduk." Pak Eko duduk, menghela napas.
"Buat perencanaan. Kalau mau paham desa, kamu harus paham dulu siapa aja
yang tinggal di sini."
Sugianto membuka map. Di dalamnya ada tabel-tabel panjang,
angka-angka, dan grafik.
"Banyak sekali, Pak."
"Memang. Tapi nggak usah dihapal. Yang penting paham
alurnya."
Sugianto mengangguk. Ia mulai membaca.
Tak lama kemudian Ibu Lulu datang.
"Gi," panggilnya dari ruang pelayanan.
Sugianto segera bangkit dan menghampiri. "Iya,
Bu?"
"Coba bantu saya rapikan ini." Ibu Lulu menunjuk
tumpukan dokumen di atas meja. "Pisahkan berdasarkan jenisnya. Yang
pengajuan, yang sudah selesai, dan yang masih proses."
"Baik, Bu."
Sugianto mulai bekerja. Ibu Lulu duduk di sampingnya sambil
menyusun catatan.
"Kemarin sempat gugup?" tanya Ibu Lulu tiba-tiba.
Sugianto tersenyum malu. "Iya, Bu. Banyak wajah
baru."
"Wajar. Dulu waktu saya baru mulai di sini, saya juga
gugup."
"Bu Lulu sudah berapa tahun di sini?"
Ibu Lulu menghitung dengan jari. "Lima tahun lebih.
Sebelumnya saya di swasta."
"Kenapa pindah ke desa?"
Ibu Lulu menatapnya dengan senyum tipis. "Pertanyaan
bagus."
Sugianto menunggu.
"Karena di swasta," kata Ibu Lulu pelan,
"saya cuma bekerja untuk gaji. Di sini, saya bekerja untuk orang
banyak."
Sugianto mengangguk perlahan. "Berat?"
"Berat." Ibu Lulu tertawa kecil. "Tapi kalau
lihat wajah warga yang terbantu, beratnya hilang."
Sugianto tersenyum. Ia melanjutkan memilah dokumen.
---
Menjelang siang, Bu Endang masuk. Sugianto belum pernah
bertemu dengannya—kemarin ia tidak ada di kantor.
"Anak magang?" tanya Bu Endang langsung.
"Iya, Bu. Sugianto."
Bu Endang mengangguk. "Saya Endang. Kerja di sini
juga."
"Senang bertemu, Bu."
Bu Endang mengamatinya sekilas. "Jangan terlalu
canggung. Nanti juga kaget sendiri."
Sugianto tertawa. "Kenapa, Bu?"
"Karena kantor desa ini nggak pernah sepi. Pagi-pagi
udah rame, siang rame, sore juga kadang rame. Kadang warga datang jam dua belas
malam—ya, nggak masuk sih, tapi besok paginya rame."
Sugianto tertawa lagi. "Berarti harus siap
sedia."
"Harus," kata Bu Endang. "Tapi tenang, nggak
ada yang digigit."
Sugianto tersenyum. Bu Endang kemudian berjalan ke ruang
belakang, meninggalkan Sugianto yang mulai merasa lebih tenang.
---
Siang itu, Pak Edi mengajak Sugianto ke ruang tamu kantor.
"Kemarin saya dengar kamu mau belajar soal
masyarakat?"
"Iya, Pak."
"Bagus." Pak Edi duduk dengan santai. "Tapi
jangan belajar dari buku."
"Lalu dari mana, Pak?"
"Dari ngobrol." Pak Edi menunjuk ke arah luar.
"Di sana ada warga. Duduk. Mereka nunggu. Kadang lama. Itu waktu yang
bagus untuk diajak ngobrol."
Sugianto melihat ke arah ruang tunggu. Beberapa orang
memang sedang duduk menunggu giliran.
"Tapi kalau mereka lagi sibuk?"
"Ya jangan diganggu," Pak Edi tertawa.
"Intinya, kalau ada kesempatan, ajak ngobrol. Tanya tentang keluarganya,
tentang pekerjaannya, tentang desa. Dari situ kamu akan paham banyak."
Sugianto mencatat di dalam kepala.
"Pernah, Pak, warga marah-marah?"
"Pernah." Pak Edi mengangguk. "Biasanya
karena urusan administrasi. Atau karena nunggu lama."
"Terus bagaimana?"
Pak Edi tersenyum. "Dengarkan dulu. Jangan potong.
Biarkan dia selesai. Setelah itu, baru kita jawab dengan tenang. Karena kalau
kita ikut emosi, masalahnya tambah panjang."
Sugianto mengangguk. "Baik, Pak."
---
Sore hari, setelah semua pekerjaan selesai, Sugianto duduk
di teras lagi. Ia membuka buku catatan dan menuliskan nama-nama yang telah
dikenalnya:
Pak Eko — perencanaan dan data.
Ibu Lulu — pelayanan.
Bu Endang — administrasi.
Pak Edi — masyarakat dan kesejahteraan.
Ia menambahkan catatan kecil di samping setiap nama:
· Pak Eko: ramah, sabar menjelaskan.
· Ibu Lulu: serius tapi bisa bercanda.
· Bu Endang: tegas, sedikit galak tapi perhatian.
· Pak Edi: supel, banyak cerita.
Sugianto tersenyum. Setiap orang mulai terlihat sebagai
pribadi, bukan sekadar jabatan.
Tiba-tiba suara langkah dari belakang.
"Masih di sini?"
Sugianto menoleh. Nadia—ia ingat wajahnya dari
kemarin—berdiri dengan dua botol air minum di tangannya.
"Lumayan," jawab Sugianto. "Mau pulang
sebentar lagi."
Nadia duduk di kursi di sebelahnya. "Kamu udah hapal
semua orang?"
"Belum. Masih banyak yang bingung."
Nadia tertawa. "Biasa. Nanti juga hapal. Saya dulu
juga bingung."
"Kamu kerja di sini?"
"Saya pemuda desa. Kadang bantu-bantu. Kadang cuma
numpang duduk." Nadia tersenyum. "Teman-teman saya juga sering ke
sini. Herman, Yulia, Anita. Nanti kamu kenal."
Sugianto mengangguk. "Kemarin saya sudah kenal
Herman."
"Ya, orangnya cerewet."
Sugianto tertawa. "Tapi seru."
Nadia berdiri. "Besok datang lagi?"
"Datang."
"Bagus." Nadia tersenyum. "Kalau nanti
bosan, ajak ngobrol."
"Baik."
Nadia pergi, meninggalkan Sugianto yang masih duduk di
teras. Angin sore berembus. Daun-daun bergerak.
Ia menulis nama baru di bukunya:
Nadia — pemuda desa. Ramah. Senyumnya—
Ia berhenti. Lalu mencoret kalimat terakhir.
"Belum saatnya," gumamnya sambil tersenyum sendiri.
---
Malam harinya, di kamar kosnya, Sugianto membuka surat dari
kampus. Ia membaca kalimat-kalimat formal itu, lalu melipatnya kembali.
"Hari kedua selesai," katanya pada diri sendiri.
Ia menatap buku catatan. Nama-nama baru. Cerita-cerita
kecil. Dan satu pertanyaan yang belum terjawab:
Apa yang akan kudapatkan dari Desa Awan Biru?
Ia menutup mata. Dalam gelap, bayangan papan nama itu
muncul lagi.
PEMERINTAH DESA AWAN BIRU.
Ia tersenyum.
"Kita lihat besok," bisiknya.
BAB
II
Di
Balik Pintu Kantor Desa
Pagi ketiga Sugianto di Desa Awan Biru dimulai dengan
langit mendung.
Ia tiba di kantor desa pukul setengah delapan, tepat saat
hujan rintik mulai turun. Tanpa payung, ia berlari kecil dari tempat parkir ke
serambi depan, tiba dengan nafas tersengal dan baju sedikit basah.
"Wah, kehujanan?" suara Si Amat dari dalam.
"Sedikit, Pak."
"Masuk sini. Di belakang ada handuk."
Sugianto masuk, mengibas-ngibaskan bajunya. Si Amat sudah
berdiri dengan handuk bersih di tangannya.
"Ini, pakai dulu."
"Terima kasih, Pak."
Sugianto mengeringkan rambutnya. Si Amat kembali ke
komputer.
"Kamu datang pagi banget," kata Si Amat sambil
membuka file. "Padahal hujan."
"Daripada telat, Pak."
Si Amat tersenyum. "Disiplin. Bagus."
Sugianto duduk di meja kerjanya. Hari itu Ibu Yuni belum
datang. Pak Eko juga belum. Hanya mereka berdua di ruang depan.
"Pak Amat," panggil Sugianto pelan.
"Iya?"
"Saya tadi lihat ada pengumuman di papan depan. Kenapa
ditulis tangan? Nggak pakai printer?"
Si Amat tertawa. "Printer rusak. Sudah seminggu. Lagi
nunggu bagian servis."
"Berapa lama biasanya?"
"Ya, kalau rezeki, seminggu. Kalau nggak, sebulan."
Sugianto mengangguk. "Berarti harus siap dengan cara
manual."
"Sudah biasa. Di desa, kita nggak bisa selalu
bergantung pada teknologi. Kadang kertas, pulpen, dan tenaga sendiri lebih
cepat."
Sugianto tersenyum. Ia mulai belajar pelajaran pertama hari
itu: kesiapan menghadapi keterbatasan.
---
Pukul delapan lebih, Ibu Yuni datang. Rambutnya dibasahi
gerimis, tasnya digenggam erat.
"Pagi," sapanya sambil meletakkan tas. "Gi,
nanti ikut saya ke ruang arsip."
"Baik, Bu."
"Bawa buku catatan."
Sugianto mengambil buku dan pulpen. Ia mengikuti Ibu Yuni
ke ruang kecil di ujung lorong belakang. Ruangan itu berisi lemari-lemari besi,
penuh dengan map-map tebal berwarna-warni.
"Ini," kata Ibu Yuni sambil membuka salah satu
lemari. "Arsip desa sejak sepuluh tahun lalu."
Sugianto memandang tumpukan map dengan mata membelalak.
"Sepuluh tahun?"
"Ya. Ada yang lebih tua juga, tapi disimpan di tempat
lain."
"Kenapa banyak sekali, Bu?"
Ibu Yuni mengeluarkan sebuah map biru dan menyerahkannya
kepada Sugianto. "Karena setiap keputusan, setiap surat, setiap kegiatan
harus didokumentasikan. Kalau nggak, kita nggak bisa tahu apa yang sudah
terjadi."
"Kalau ada yang hilang?"
"Nggak boleh hilang." Ibu Yuni menatapnya serius.
"Kalau arsip hilang, kita kehilangan jejak. Dan kalau kehilangan jejak,
kita bisa kehilangan hak masyarakat."
Sugianto terdiam. Kata-kata itu terasa berat.
"Buka map itu," suruh Ibu Yuni.
Sugianto membukanya. Di dalamnya ada surat-surat, tanda
tangan, stempel, dan catatan kaki yang rapi. Tanggal, nomor, perihal. Semua
tertata.
"Ini surat pengajuan bantuan jalan desa dari tiga
tahun lalu," kata Ibu Yuni. "Lihat di sini. Ada tanda tangan Kepala
Desa, Ketua BPD, dan camat. Semua lengkap."
Sugianto membaca. Ia melihat nama-nama yang ia kenal—Pak
Iwan, Pak Didit.
"Kalau ada kesalahan," tanya Sugianto, "bisa
diperbaiki, Bu?"
"Bisa. Tapi kalau sudah distempel dan ditandatangani,
prosesnya lebih rumit." Ibu Yuni menutup map itu. "Karena itu, kita
harus teliti sejak awal."
Sugianto mengangguk.
"Mulai hari ini," lanjut Ibu Yuni, "kamu
bantu saya merapikan arsip tahun lalu. Pisahkan berdasarkan jenis surat. Kalau
ada yang kurang jelas, tanya saya."
"Baik, Bu."
Mereka mulai bekerja. Sugianto membaca satu per satu,
memilah, mengelompokkan. Ibu Yuni sesekali mengecek pekerjaannya dengan tatapan
tajam.
"Gi."
"Iya, Bu?"
"Ini salah."
Sugianto mendekat. Ia melihat Ibu Yuni menunjuk sebuah map.
"Surat ini seharusnya masuk ke 'Pembangunan', bukan
'Administrasi'. Pindahkan."
"Maaf, Bu."
"Tidak apa-apa. Tapi lain kali baca dulu isinya, bukan
judulnya."
Sugianto mengambil map itu dan memindahkannya ke tempat
yang benar.
"Ternyata," katanya pelan, "pekerjaan
administrasi butuh ketelitian sekali."
Ibu Yuni tersenyum. "Betul. Karena satu kesalahan
kecil bisa berakibat panjang. Misalnya, kalau surat pengajuan bantuan salah
tempat, prosesnya tertunda. Kalau tertunda, masyarakat yang dirugikan."
Sugianto menulis di buku catatan:
"Satu kesalahan kecil bisa berakibat panjang."
---
Setelah dua jam bekerja di ruang arsip, Sugianto kembali ke
ruang depan. Ibu Lulu sudah melayani beberapa warga. Antrean di ruang tunggu
mulai mengular.
"Gi, bantu saya," panggil Ibu Lulu.
Sugianto menghampiri meja pelayanan. "Iya, Bu."
"Warga di depan ini mau mengurus KTP. Cek berkasnya
dulu."
Seorang bapak dengan kemeja lusuh dan topi petani berdiri
di hadapannya. Tangannya menggenggam map cokelat.
"Pagi, Pak," sapa Sugianto.
"Pagi, Mas."
"Berkasnya bisa saya lihat?"
Bapak itu menyerahkan mapnya dengan sedikit gemetar.
Sugianto membukanya perlahan.
KTP lama, surat keterangan domisili, dan beberapa fotokopi.
"Pak, surat keterangan domisilinya baru?" tanya
Sugianto.
"Baru, Mas. Saya buat kemarin."
"Ini fotokopi KTP-nya?"
"Sudah, Mas."
Sugianto memeriksa satu per satu. Semua lengkap. Ia
tersenyum.
"Baik, Pak. Silakan duduk dulu. Nanti Ibu Lulu yang
proses."
Bapak itu duduk dengan lega. "Terima kasih, Mas."
"Sama-sama, Pak."
Ibu Lulu yang memperhatikan dari samping berkata pelan,
"Kamu tadi nggak panik."
"Saya cuma periksa satu per satu, Bu."
"Bagus. Itu yang harus dilakukan. Jangan terburu-buru
meskipun antrean panjang."
Sugianto mengangguk. Ia membantu warga berikutnya—seorang
ibu muda yang mengurus akte kelahiran anaknya. Berkasnya juga lengkap.
Setelah antrean agak reda, Ibu Lulu mengajaknya minum di
dapur kecil kantor.
"Kamu tahu kenapa pelayanan itu penting?" tanya
Ibu Lulu sambil menuangkan air ke gelas.
"Karena warga butuh, Bu?"
"Iya. Tapi lebih dari itu." Ibu Lulu menyesap
airnya. "Pelayanan adalah wajah pemerintah. Kalau kita ramah, warga
percaya. Kalau kita cuek, warga kecewa. Dan kepercayaan itu susah dibangun,
tapi gampang hilang."
Sugianto meresapi kata-kata itu.
"Pernah, Bu, ada warga yang marah?"
"Pernah. Tiap bulan pasti ada."
"Terus bagaimana?"
Ibu Lulu tersenyum. "Dengarkan dulu. Jangan langsung
membela diri. Kadang orang marah bukan karena kita, tapi karena
masalahnya."
Sugianto mengangguk. Ia ingat perkataan Pak Edi kemarin.
---
Sore harinya, hujan reda. Sugianto duduk di teras lagi,
memandangi langit yang mulai cerah. Nadia datang dengan sepeda motor, berhenti
di depan.
"Kamu kok di sini terus?" tanyanya sambil turun.
"Saya sering di sini. Kerja."
Nadia tertawa. "Ya, saya tahu. Tapi kamu kelihatan
kayak orang yang lagi mikir berat."
Sugianto tersenyum. "Mikir berat memang. Tadi banyak
belajar administrasi."
"Bosen?"
"Nggak. Malah menarik."
Nadia duduk di sampingnya. "Kamu tipe orang yang
serius, ya?"
"Saya? Kayaknya sih biasa aja."
"Nggak. Dari kemarin saya perhatiin, kamu selalu bawa
buku catatan ke mana-mana. Wajahmu serius terus."
Sugianto tertawa. "Saya nggak sadar."
"Memang biasanya orang nggak sadar," kata Nadia.
"Tapi itu bagus kok. Berarti kamu serius belajar."
Mereka diam sejenak. Angin sore berhembus.
"Nadia," panggil Sugianto tiba-tiba.
"Iya?"
"Kenapa kamu sering ke kantor desa? Kerja?"
Nadia menggeleng. "Nggak. Saya ikut kegiatan pemuda.
Kadang bantu Herman, kadang cuma nongkrong."
"Kerjaanmu apa?"
"Saya pedagang kecil. Jualan sembako di warung dekat
pasar. Tapi kalau ada kegiatan desa, saya ikut."
Sugianto mengangguk. "Berarti kamu orang desa
asli?"
"Asli. Lahir di sini, besar di sini. Nggak pernah
pindah." Nadia tersenyum tipis. "Mungkin nanti, kalau ada kesempatan,
saya mau keluar juga. Lihat dunia lain."
"Kenapa belum?"
Nadia menatapnya. "Belum ada keberanian,
mungkin."
Sugianto tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya
mengangguk.
"Tapi," lanjut Nadia, "setelah lihat
kamu—anak kota yang datang ke desa—saya jadi mikir, mungkin saya juga
bisa."
Sugianto tersenyum. "Kamu pasti bisa."
"Kamu nggak kenal saya. Tapi bilang pasti bisa?"
Sugianto tertawa kecil. "Ya, tapi setidaknya kamu
sudah mau memikirkannya. Itu awal."
Nadia tersenyum. Ia berdiri.
"Aku pulang dulu. Besok datang lagi?"
"Datang."
Nadia melambaikan tangan lalu menaiki sepeda motornya.
Sugianto memandanginya sampai hilang di tikungan.
Ia menulis di buku catatan:
"Nadia — lahir di desa ini. Ingin pergi, tapi belum
berani. Aku tidak tahu kenapa, tapi ceritanya membuatku ingin membantu."
Ia menutup buku. Tersenyum sendiri.
---
Malam itu, ketika Sugianto baru saja ingin tidur, ponselnya
bergetar. Pesan dari nomor tak dikenal.
"Halo, ini Sugianto? Saya Raka."
Sugianto mengerutkan dahi. Raka? Nama itu belum pernah ia
dengar.
Ia membalas: "Iya, benar. Maaf, saya belum
kenal."
Balasan cepat masuk: "Saya mahasiswa KKN yang
akan datang ke Desa Awan Biru bulan depan. Dapat info dari Pak Iwan kalau ada
anak magang di sana. Nanti kita bisa kerja bareng."
Sugianto membaca pesan itu berulang kali.
Mahasiswa KKN?
Ia tidak tahu bagaimana perasaannya. Senang? Atau was-was
karena kantor desa akan lebih ramai?
Ia membalas: "Oh, iya. Nanti kita kenalan.
Saya masih magang di sini."
Raka: "Bagus. Nanti kita kolaborasi. Kabari
saya kalau ada yang perlu."
Sugianto menaruh ponselnya. Dalam gelap, ia memandang
langit-langit kamar.
Mahasiswa KKN. Berarti desa ini akan lebih ramai.
Dan mungkin—
Ia memikirkan Nadia. Dan warungnya. Dan mimpinya pergi.
Mungkin semua akan berubah.
Ia memejamkan mata. Besok masih panjang.
---
BAB
III
Mengenal
Wajah-Wajah Pemerintahan Desa
Hari keempat Sugianto di Desa Awan Biru dimulai dengan
kabar dari Ibu Yuni.
"Gi, hari ini kamu ikut Pak Eko," katanya ketika
Sugianto baru saja menaruh tasnya. "Beliau mau ke lapangan."
"Ke lapangan, Bu?"
"Iya. Melihat kondisi jalan desa yang akan
diperbaiki." Ibu Yuni menyodorkan sebuah map. "Bawa ini. Catatan data
jalan yang sudah rusak."
Sugianto menerima map itu. "Baik, Bu."
Dari pintu ruang sekretariat, Pak Eko muncul dengan kemeja
lengan pendek dan sepatu boots. "Gi, siap?"
"Siap, Pak."
"Pakai sepatu yang kuat. Jalannya becek."
Sugianto memandang sepatu ketsnya. "Ini, Pak."
"Ya sudah. Ayo."
Mereka berjalan keluar. Sepeda motor Pak Eko sudah menunggu
di halaman. Sugianto duduk di belakang sambil memegang erat map dan tasnya.
"Pegang yang kuat, Gi," kata Pak Eko sambil
menyalakan mesin. "Jalannya nggak mulus."
"Baik, Pak."
Sepeda motor melaju meninggalkan kantor desa. Mereka
melewati jalan aspal yang mulai retak, kemudian berbelok ke jalan tanah
berbatu. Pohon-pohon rindang di kiri-kanan, dan sesekali mereka berpapasan
dengan warga yang membawa cangkul atau keranjang.
Pak Eko berhenti di depan sebuah jembatan kecil.
Kayu-kayunya sudah lapuk. Beberapa papan bahkan hilang, menyisakan lubang
menganga.
"Ini," kata Pak Eko sambil turun. "Salah
satu titik yang harus diperbaiki."
Sugianto turun dan mendekati jembatan itu. Ia melihat ke
bawah—sungai kecil mengalir, airnya keruh, bebatuan berserakan.
"Rusak parah, Pak."
"Sudah dua tahun warga mengeluh," kata Pak Eko.
"Kalau hujan deras, jembatan ini nggak bisa dilewati. Anak-anak sekolah
terpaksa memutar jalan jauh."
"Kenapa belum diperbaiki?"
Pak Eko menghela napas. "Anggaran terbatas. Dan tahun
lalu prioritasnya untuk perbaikan irigasi. Jadi ini tertunda."
Sugianto mengangguk. "Berarti tahun ini?"
"Ya. Tapi harus melalui proses. Musyawarah dulu dengan
warga, lalu dengan BPD, lalu pengajuan anggaran." Pak Eko menatap
Sugianto. "Pemerintahan desa nggak bisa asal bangun. Harus ada
perencanaan."
Sugianto mengeluarkan buku catatan. "Boleh saya catat,
Pak?"
"Silakan."
Sugianto menulis:
Jembatan rusak — keluhan warga sejak 2 tahun lalu. Anggaran
terbatas. Prioritas sebelumnya: irigasi. Tahun ini diusulkan perbaikan. Proses:
musyawarah warga → BPD → pengajuan anggaran.
"Pak," tanya Sugianto kemudian, "kalau warga
mendesak?"
"Mendesak gimana?"
"Misalnya, jembatannya ambruk."
Pak Eko tersenyum tipis. "Kalau sudah darurat, ada
mekanisme cepat. Tapi tetap harus ada pertanggungjawaban. Nggak bisa asal
perbaiki, lalu nggak dicatat."
"Jadi semua harus terdokumentasi?"
"Semua." Pak Eko menunjuk map yang dipegang
Sugianto. "Itu sebabnya catatan penting. Kalau nggak ada catatan, kita
nggak bisa menjelaskan kenapa jembatan ini diperbaiki sekarang, bukan tahun
lalu."
Sugianto memandangi jembatan lapuk itu. "Saya baru
paham sekarang," katanya pelan. "Perencanaan itu bukan cuma bikin
daftar."
"Ya," kata Pak Eko. "Perencanaan adalah
alasan."
---
Mereka melanjutkan perjalanan. Pak Eko berhenti di tiga
titik lain—sebuah jalan tanah yang becek, sebuah saluran air yang tersumbat,
dan sebuah pos ronda yang atapnya bocor.
Di setiap titik, Pak Eko menjelaskan dengan sabar. Sugianto
mencatat semuanya.
"Kamu lihat sendiri, Gi," kata Pak Eko ketika
mereka berhenti di bawah pohon besar. "Desa itu banyak masalah. Tapi
masalahnya bukan tentang uang saja."
"Lalu apa, Pak?"
"Prioritas." Pak Eko menunjuk ke arah jalan yang
mereka lewati. "Jalan rusak, jembatan lapuk, irigasi mampet, pos ronda
bocor. Semua butuh perbaikan. Tapi uang desa terbatas."
"Jadi harus memilih?"
"Harus memilih." Pak Eko menatapnya. "Dan
memilih bukan berarti mengabaikan yang lain. Memilih adalah menunda, dengan
catatan."
Sugianto mengangguk perlahan. "Saya mulai mengerti,
Pak."
"Bagus." Pak Eko tersenyum. "Sekarang kita
balik. Nanti saya tunjukkan bagaimana rencana itu dibuat di atas kertas."
---
Kembali di kantor desa, Pak Eko membuka laptopnya. Sugianto
duduk di sampingnya, buku catatan terbuka.
"Ini," kata Pak Eko sambil membuka file,
"Rencana Kerja Pemerintah Desa tahun ini."
Sugianto melihat layar. Ada tabel panjang dengan
kolom: Kegiatan, Lokasi, Anggaran, Status.
"Yang hijau artinya sudah berjalan. Yang kuning masih
proses. Yang merah belum dimulai."
Sugianto membaca satu per satu. "Jembatan yang tadi
kita lihat... statusnya kuning, Pak."
"Ya. Artinya sudah diusulkan, tapi belum mendapat
anggaran."
"Kenapa belum?"
Pak Eko menggeser ke bawah. "Lihat di sini. Ada tiga
kegiatan lain yang lebih mendesak: perbaikan saluran irigasi, pembangunan
posyandu, dan perbaikan jalan utama. Semua merah tahun lalu, sekarang sudah
hijau. Baru setelah itu, jembatan."
Sugianto mengangguk. "Jadi semua ada urutannya."
"Betul." Pak Eko menutup laptop. "Orang
sering bilang, 'Desa kerjanya lambat.' Mungkin benar. Tapi di balik kelambatan
itu, ada proses. Ada pertimbangan. Ada mekanisme."
"Apakah semua warga paham itu, Pak?"
Pak Eko tersenyum. "Tidak semua. Kadang mereka hanya
lihat hasilnya. Kita yang harus menjelaskan."
Sugianto menulis di buku catatan:
"Di balik setiap keputusan desa, ada proses dan
pertimbangan. Tugas pemerintah desa: menjelaskan."
---
Siang itu, Sugianto bertemu dengan Pak Didit untuk pertama
kalinya.
Ia sedang membantu Ibu Lulu merapikan berkas ketika seorang
pria bertubuh tegap masuk ke ruang pelayanan. Rambutnya mulai memutih, kumisnya
tebal, dan matanya tajam.
"Lulu," sapanya dengan suara berat.
"Pak Didit," sambut Ibu Lulu sambil tersenyum.
"Silakan duduk. Kopi?"
"Sebentar. Saya mau ketemu Pak Iwan dulu."
Ibu Lulu menunjuk ke arah ruang Kepala Desa. "Beliau
di dalam."
Pak Didit mengangguk. Sebelum melangkah, ia menatap
Sugianto.
"Anak magang?" tanyanya.
Sugianto mengangguk cepat. "Iya, Pak. Sugianto."
"Nama saya Didit." Ia mengulurkan tangan.
Jabatannya kuat, singkat. "Ketua BPD."
"Senang bertemu, Pak."
Pak Didit mengamatinya sekilas. "Kamu sudah berapa
hari?"
"Empat hari, Pak."
"Belum terlalu lama." Pak Didit tersenyum tipis.
"Nanti kalau sudah sebulan, baru tahu rasanya."
"Rasanya bagaimana, Pak?"
Pak Didit tertawa kecil. "Kamu akan lihat
sendiri."
Ia kemudian melangkah menuju ruang Pak Iwan. Sugianto
memandanginya pergi.
"Pak Didit orangnya bagaimana, Bu?" tanyanya pada
Ibu Lulu.
"Tegas," jawab Ibu Lulu. "Kalau bicara,
langsung ke inti. Tapi adil. Sebagai Ketua BPD, beliau harus mengawasi jalannya
pemerintahan desa."
"Berarti beliau sering berbeda pendapat dengan Pak
Iwan?"
"Pernah." Ibu Lulu tersenyum. "Tapi itu bagian
dari demokrasi. Yang penting, mereka selalu menyelesaikan dengan
musyawarah."
Sugianto mengangguk. Musyawarah. Kata itu
mulai sering ia dengar.
---
Sore harinya, Sugianto bertemu dengan dua tokoh masyarakat:
Pak Sugeng dan Pak Hasan.
Mereka sedang duduk di teras depan, mengobrol dengan
beberapa warga. Sugianto mendekati mereka karena penasaran.
"Selamat sore, Pak," sapanya.
"Selamat sore," jawab Pak Sugeng, seorang pria
dengan sorban putih dan kemeja koko. "Kamu anak magang?"
"Iya, Pak. Sugianto."
Pak Hasan, yang duduk di sampingnya, tersenyum. "Sudah
kenal semua perangkat desa?"
"Belum semua, Pak. Masih belajar."
Pak Sugeng mengangguk. "Bagus. Tapi jangan belajar
hanya dari kantor."
Sugianto tersenyum. "Saya sudah dengar nasihat itu,
Pak."
"Dan?"
"Dan saya mulai paham." Sugianto duduk di kursi
kosong di hadapan mereka. "Hari ini saya diajak Pak Eko ke lapangan.
Melihat jembatan rusak, jalan becek, saluran air mampet."
Pak Sugeng mengangkat alis. "Oh, kamu sudah ke
lapangan?"
"Iya, Pak."
"Bagaimana perasaanmu?"
Sugianto berpikir. "Saya merasa... desa itu besar,
Pak. Banyak masalah. Tapi juga banyak yang bisa dilakukan."
Pak Hasan tertawa. "Bagus. Itu namanya mulai
ngerti."
Pak Sugeng menambahkan, "Kebanyakan anak magang cuma
duduk di kantor, lihat dokumen, lalu pulang. Kamu beda."
Sugianto tersenyum malu. "Saya hanya ikut Pak
Eko."
"Tapi kamu mau ikut," kata Pak Hasan. "Itu
yang penting."
Mereka berbincang beberapa saat. Pak Sugeng bercerita
tentang perubahan desa selama dua puluh tahun terakhir. Pak Hasan menambahkan
tentang bagaimana warga dulu dan sekarang.
"Waktu saya muda," kata Pak Sugeng, "jalan
desa masih tanah. Kalau hujan, nggak bisa lewat."
"Sekarang sudah aspal," tambah Pak Hasan.
"Tapi masih banyak yang harus diperbaiki." Pak
Sugeng menatap Sugianto. "Kamu muda. Kamu bisa bantu lihat hal-hal yang
mungkin kami lewatkan."
Sugianto terkejut. "Saya, Pak?"
"Iya. Kadang orang tua sudah terbiasa dengan masalah,
jadi nggak lihat lagi. Orang muda punya mata baru."
Sugianto tersenyum. "Saya coba, Pak."
---
Malam harinya, Sugianto duduk di kamar kos. Ia membuka buku
catatan dan menulis:
"Hari ini aku belajar banyak tentang perencanaan. Pak
Eko mengajarkanku bahwa setiap keputusan ada alasan dan prosesnya. Aku juga
bertemu Pak Didit—tegass. Dan Pak Sugeng serta Pak Hasan—mereka mengingatkanku
bahwa desa bukan hanya kantor."
Ia berhenti, lalu melanjutkan:
"Aku mulai melihat bahwa setiap orang di sini punya
peran. Pak Eko merencanakan. Pak Didit mengawasi. Pak Sugeng dan Pak Hasan
menyuarakan warga. Dan aku? Masih mencari peranku."
Ia menutup buku. Di luar, suara jangkrik mulai terdengar.
Ponselnya bergetar. Nadia.
"Kamu sudah tidur?"
Sugianto tersenyum. Ia membalas:
"Belum. Baru saja selesai mencatat."
Nadia: "Hari ini bagaimana?"
Sugianto: "Banyak belajar. Aku diajak Pak Eko
ke lapangan."
Nadia: "Bagus. Aku dengar kamu juga bertemu
Pak Sugeng dan Pak Hasan."
Sugianto: "Iya. Mereka baik."
Nadia: "Mereka memang sering ngobrol sama anak
muda. Kata mereka, orang muda harus diberi ruang."
Sugianto: "Kamu sering ngobrol dengan
mereka?"
Nadia: "Sering. Mereka seperti kakek-kakek
desa."
Sugianto tertawa sendiri.
Nadia: "Besok datang lagi?"
Sugianto: "Seperti biasa."
Nadia: "Bagus. Aku juga akan ke kantor besok.
Ada rapat pemuda."
Sugianto: "Rapat apa?"
Nadia: "Persiapan kegiatan dengan mahasiswa
KKN yang akan datang."
Sugianto menatap layar. Mahasiswa KKN. Raka.
"Aku juga sudah dihubungi Raka," tulisnya.
Nadia: "Oh, kamu sudah kenal dia?"
Sugianto: "Baru lewat chat. Katanya nanti kita
kolaborasi."
Nadia: "Bagus. Semoga desa ini makin
ramai."
Sugianto tersenyum. Ia mengetik:
"Aku harap begitu."
Nadia: "Aku tidur dulu. Besok ketemu."
Sugianto: "Besok ketemu."
Ia mematikan ponsel. Dalam gelap, ia tersenyum.
Besok akan ada rapat pemuda. Mahasiswa KKN. Dan Nadia.
Desa ini mulai terasa seperti rumah.
BAB
IV
Belajar
dari Meja Pelayanan
Hari kelima Sugianto di Desa Awan Biru dimulai dengan
sesuatu yang berbeda.
"Gi," panggil Ibu Lulu begitu ia masuk,
"mulai hari ini kamu duduk di meja pelayanan."
Sugianto terkejut. "Saya, Bu?"
"Iya. Saya mau lihat bagaimana kamu melayani
warga."
"Tapi saya belum paham semuanya, Bu."
Ibu Lulu tersenyum. "Itu sebabnya kamu belajar. Kalau
sudah paham, nggak perlu belajar lagi."
Sugianto menarik napas. Ia meletakkan tasnya, lalu duduk di
kursi di belakang meja pelayanan. Di hadapannya, kursi-kursi untuk warga mulai
terisi.
"Saya takut salah, Bu," katanya pelan.
"Kamu akan salah," jawab Ibu Lulu. "Tapi
itulah prosesnya."
Sugianto menegakkan punggungnya. Di dalam hati, ia berdoa agar
hari itu berjalan lancar.
---
Warga pertama datang lima menit kemudian.
Seorang bapak paruh baya dengan kemeja lengan panjang dan
tas selempang. Wajahnya serius.
"Selamat pagi, Pak," sapa Sugianto.
"Pagi."
"Ada yang bisa saya bantu?"
Bapak itu mengeluarkan map dari tasnya. "Saya mau
mengurus surat keterangan domisili."
Sugianto menerima map itu. Ia membukanya. Di dalamnya ada
KTP, fotokopi KK, dan beberapa lembar lain.
"Pak, ini sudah lengkap semua," katanya setelah
memeriksa. "Tapi... maaf, Pak, ada satu dokumen yang seharusnya
dilampirkan."
"apa?" suara bapak itu mulai meninggi.
Sugianto menelan ludah. "Surat keterangan dari RT,
Pak. Untuk domisili, harus ada tanda tangan ketua RT."
"RT saya nggak ada di rumah. Saya sudah datang tiga
kali, nggak ketemu."
Sugianto tidak tahu harus berkata apa. Ia menoleh ke Ibu
Lulu.
Ibu Lulu mendekat. "Bapak, maaf mengganggu,"
katanya dengan suara lembut. "Memang persyaratannya begitu. Tapi mungkin
Bapak bisa minta ke ketua RW? Beliau biasanya ada di rumah sampai jam
sepuluh."
Bapak itu menghela napas. "Baiklah. Saya coba."
"Terima kasih, Pak. Kami tunggu berkasnya."
Bapak itu pergi dengan sedikit kesal. Sugianto menghela
napas lega.
"Bu, tadi saya hampir panik."
"Iya, saya lihat." Ibu Lulu tersenyum. "Tapi
kamu tetap tenang. Itu bagus."
"Saya nggak tahu harus bilang apa."
"Kamu sudah bilang yang benar." Ibu Lulu menepuk
bahunya. "Yang penting jangan berbohong. Kalau syaratnya belum lengkap,
katakan. Tapi beri solusi."
Sugianto mengangguk. Ia mencatat di buku:
"Jangan berbohong. Beri solusi."
---
Warga kedua datang sepuluh menit kemudian. Seorang ibu-ibu
dengan kerudung pink dan anak kecil di gendongannya.
"Mas, saya mau daftar KIS," katanya.
"KIS, Bu?"
"Kartu Indonesia Sehat. Buat anak saya."
Sugianto mengangguk. "Baik, Bu. Bisa saya lihat
berkasnya?"
Ibu itu mengeluarkan map dari tasnya. Sugianto memeriksa
satu per satu. KTP, KK, fotokopi akte kelahiran, surat keterangan tidak mampu.
"Bu, ini sudah lengkap. Tapi ada satu yang perlu saya
tanyakan."
"Apa, Mas?"
"Surat keterangan tidak mampu ini masih berlaku?"
Ibu itu mengerutkan dahi. "Maksudnya?"
"Saya lihat tanggalnya sudah tiga bulan lalu. Biasanya
surat ini berlaku satu bulan."
"Ih, Mas, saya tidak tahu." Suara ibu itu mulai
panik. "Saya sudah susah payah ngurus ini. Sekarang harus ngurus
lagi?"
Sugianto merasa bersalah. Ia menoleh ke Ibu Lulu.
Ibu Lulu mendekat. "Bu, tenang," katanya.
"Kami bisa bantu. Surat ini memang harus diperbarui, tapi kami punya
contoh suratnya. Ibu tinggal minta tanda tangan kepala desa, lalu kami
proses."
"Bisa langsung?"
"Bisa. Nanti saya bantu."
Ibu itu lega. "Terima kasih, Bu."
"Kembali, Bu. Silakan tunggu sebentar."
Sugianto menghela napas setelah ibu itu pergi. "Bu,
kenapa semua aturan harus serumit itu?"
Ibu Lulu tertawa. "Bukan rumit, Gi. Itu untuk
melindungi. Kalau syaratnya longgar, banyak yang bisa menyalahgunakan."
"Saya mengerti, tapi..."
"Tapi kasihan warga?" Ibu Lulu mengangguk.
"Memang. Itu sebabnya kita harus sabar menjelaskan. Bukan hanya
menolak."
Sugianto mengangguk. Menjelaskan, bukan menolak.
---
Menjelang siang, kantor mulai ramai. Lima warga mengantre
di depan meja pelayanan. Sugianto melayani mereka satu per satu dengan napas
teratur.
Ada yang mengurus akte lahir. Ada yang mengurus pindah
penduduk. Ada yang hanya bertanya tentang jadwal pelayanan.
Setiap warga berbeda. Ada yang sabar, ada yang buru-buru,
ada yang bingung, ada yang sedikit marah.
Sugianto belajar membaca ekspresi mereka.
"Sabar, Bu, saya cek dulu."
"Maaf, Pak, ini masih kurang satu dokumen. Tapi nanti
saya bantu."
"Silakan duduk dulu, Nek. Nanti saya panggil."
"Iya, Mas, satu menit lagi."
Ibu Lulu memperhatikan dari kejauhan. Sesekali ia mendekat,
membisikkan arahan.
"Gi, untuk akte lahir, fotokopi KK harus dua
lembar."
"Baik, Bu."
"Gi, kalau warga marah, jangan ikut marah."
"Siap, Bu."
Setelah antrean reda, Sugianto menengadahkan kepala.
Lehernya pegal, tangannya sedikit gemetar.
"Bu, kenapa meja pelayanan seperti ini?"
tanyanya.
"Seperti apa?"
"Melelahkan. Tapi juga... menyenangkan."
Ibu Lulu tersenyum. "Karena di meja ini, kamu bertemu
dengan semua jenis manusia. Ada yang baik, ada yang kesal, ada yang bingung.
Tapi mereka semua datang karena butuh."
Sugianto mengangguk. "Saya mulai paham."
---
Sore harinya, Pak Edi duduk di samping Sugianto di teras.
"Kamu sudah melayani hari ini?"
"Sudah, Pak. Melelahkan."
Pak Edi tertawa. "Tapi?"
"Tapi... ada kepuasan tersendiri."
"Bagus." Pak Edi menunjuk ke arah ruang
pelayanan. "Di meja itu, kamu belajar tentang manusia. Bukan tentang
administrasi."
"Administrasi juga, Pak."
"Iya. Tapi manusia lebih penting." Pak Edi
menyandarkan tubuhnya. "Kamu tahu kenapa saya pilih kerja di bidang
kesra?"
"Kenapa, Pak?"
"Karena saya suka ngobrol dengan orang. Melihat
mereka, mendengar cerita mereka." Pak Edi tersenyum. "Dulu saya
pernah kerja di kantor swasta. Meja, komputer, laporan. Membosankan."
"Di sini berbeda?"
"Sangat berbeda." Pak Edi menatap Sugianto.
"Di sini, setiap hari saya bertemu orang baru. Mereka bawa cerita,
masalah, harapan. Saya bisa membantu, meski cuma sedikit."
Sugianto meresapi kata-kata itu.
"Pak Edi, pernah gagal membantu warga?"
"Pernah." Pak Edi mengangguk. "Ada warga
yang minta bantuan, tapi di luar kewenangan desa. Saya jelaskan, tapi dia
kecewa."
"Apa yang dilakukan?"
"Saya tetap berusaha membantu. Mencari tahu ke mana
dia harus pergi, siapa yang harus dia temui. Meskipun saya tidak bisa
menyelesaikannya, setidaknya saya tidak membiarkannya bingung."
Sugianto menulis di buku catatan:
"Membantu bukan selalu tentang menyelesaikan. Kadang
membantu adalah menunjukkan jalan."
---
Malam itu, sebelum tidur, Sugianto membuka buku catatan. Ia
membaca catatan-catatan dari hari itu:
"Jangan berbohong. Beri solusi."
"Menjelaskan, bukan menolak."
"Membantu adalah menunjukkan jalan."
Ia tersenyum. Hari kelima di Desa Awan Biru telah
mengajarkan banyak hal.
Ponselnya bergetar. Nadia.
"Hari ini gimana?"
Sugianto membalas:
"Melelahkan. Tapi aku senang."
Nadia: "Kenapa senang?"
Sugianto: "Aku melayani banyak warga. Ada yang
marah, ada yang bingung, ada yang senang. Aku belajar banyak."
Nadia: "Bagus. Aku juga hari ini rapat
pemuda."
Sugianto: "Hasilnya?"
Nadia: "Kami akan bantu mahasiswa KKN nanti.
Raka sudah kontak Herman."
Sugianto: "Jadi kalian sudah mulai
persiapan?"
Nadia: "Iya. Desa ini akan rame."
Sugianto: "Aku menunggu."
Nadia: "Aku juga."
Sugianto menatap layar. Ada sesuatu dalam kata "Aku
juga" yang membuatnya tersenyum.
Ia mematikan ponsel. Di luar, malam semakin larut.
Besok adalah hari baru. Dan Desa Awan Biru terus
mengajarinya.
BAB
V
Belajar
dari Perencanaan dan Administrasi Desa
Hari kedelapan Sugianto di Desa Awan Biru dimulai dengan
panggilan dari Ibu Yuni.
"Gi, mulai hari ini kamu belajar administrasi dari
awal sampai akhir," katanya sambil meletakkan tumpukan dokumen di atas
meja.
Sugianto memandang tumpukan itu. "Ini semua, Bu?"
"Ini baru sebagian." Ibu Yuni tersenyum tipis.
"Kamu akan lihat bagaimana sebuah surat dibuat, diproses, ditandatangani,
didistribusikan, dan diarsipkan."
"Saya siap, Bu."
"Duduk."
Sugianto duduk di hadapan Ibu Yuni. Ia membuka buku
catatan.
"Kita mulai dari surat masuk," kata Ibu Yuni
sambil mengambil sebuah amplop dari tumpukan. "Ini surat dari kecamatan.
Perhatikan alurnya."
Sugianto mengamati. Ibu Yuni membuka amplop itu, membaca
suratnya, lalu memberi stempel di bagian atas.
"Ini stempel tanggal masuk," jelasnya.
"Setiap surat harus dicatat kapan datangnya."
"Kenapa harus dicatat, Bu?"
"Untuk mengetahui kronologi. Kalau ada pertanyaan
nanti, kita tahu kapan surat itu masuk dan kapan kita merespons."
Ibu Yuni kemudian menulis nomor di sudut surat. "Nomor
ini urutan. Semua surat masuk punya nomor urut."
"Kalau nggak dicatat?"
"Surat itu bisa hilang, atau kita lupa
merespons." Ibu Yuni menatapnya serius. "Dan kalau kita lupa
merespons, warga atau instansi lain menganggap kita tidak profesional."
Sugianto mengangguk. Ia mencatat:
"Setiap surat masuk: stempel tanggal, nomor urut,
catatan."
---
Setelah menjelaskan surat masuk, Ibu Yuni beralih ke surat
keluar.
"Ini," katanya sambil menunjukkan sebuah dokumen,
"surat balasan dari desa ke kecamatan."
Sugianto melihat surat itu. Ada kepala surat, nomor,
tanggal, perihal, dan tanda tangan Pak Iwan.
"Prosesnya," lanjut Ibu Yuni, "draft dulu.
Lalu dicek oleh sekretaris. Lalu ditandatangani Kepala Desa. Lalu dicatat dalam
buku ekspedisi."
"Apa itu buku ekspedisi?"
Ibu Yuni membuka sebuah buku besar. Di dalamnya ada
kolom-kolom: nomor, tanggal, tujuan, perihal, dan tanda tangan penerima.
"Ini," katanya. "Setiap surat keluar harus
dicatat di sini. Jadi kita tahu surat itu dikirim ke mana dan kapan."
"Kalau suratnya hilang di jalan?"
"Itu di luar tanggung jawab kami. Tapi karena kita ada
catatannya, kita bisa mengirim ulang."
Sugianto mengangguk. "Jadi catatan adalah bukti."
"Betul." Ibu Yuni menutup buku itu.
"Administrasi yang baik adalah administrasi yang bisa
dipertanggungjawabkan."
Sugianto menulis kalimat itu di buku catatannya.
---
Siang harinya, Pak Eko memanggil Sugianto ke ruang
perencanaan.
"Gi, kemarin kita sudah lihat kondisi lapangan.
Sekarang kita lihat bagaimana semua itu menjadi rencana."
Pak Eko membuka laptop dan menunjukkan sebuah file.
"Ini dokumen perencanaan tahunan. Ada daftar kegiatan,
anggaran, dan jadwal."
Sugianto mendekat. Ia melihat tabel panjang dengan banyak
kolom.
"Pak, ini buat apa saja?"
"Ini untuk semua sektor: infrastruktur, pendidikan,
kesehatan, pemberdayaan masyarakat, dan lain-lain."
"Berarti semua kegiatan desa ada di sini?"
"Harusnya." Pak Eko tersenyum. "Tapi kadang
ada kegiatan yang muncul mendadak. Misalnya bencana. Itu masuk ke anggaran tak
terduga."
Sugianto mencatat:
"Perencanaan tahunan: semua kegiatan dicatat. Anggaran
tak terduga untuk keadaan darurat."
"Pak, siapa yang menentukan kegiatan mana yang
prioritas?"
"Banyak pihak," jawab Pak Eko. "Ada usulan
dari warga, dari BPD, dari perangkat desa, bahkan dari kecamatan. Semua dibahas
dalam musyawarah."
"Jadi warga ikut menentukan?"
"Iya. Itu sebabnya setiap tahun ada musyawarah
perencanaan pembangunan desa."
Sugianto terkejut. "Warga diajak langsung?"
"Ya. Mereka duduk bersama, menyampaikan usulan,
berdiskusi, lalu menentukan prioritas bersama."
Sugianto diam sejenak. "Saya kira perencanaan hanya
dilakukan oleh pemerintah desa."
Pak Eko tertawa. "Kalau hanya pemerintah desa, namanya
bukan perencanaan partisipatif."
"Partisipatif?"
"Melibatkan masyarakat." Pak Eko menatapnya.
"Desa itu milik warga. Bukan milik kepala desa atau perangkat desa."
Sugianto mengangguk perlahan. Partisipatif. Kata
itu mulai ia pahami.
---
Sore harinya, Sugianto membantu Kaur Keuangan memeriksa
dokumen anggaran.
"Gi, coba lihat ini," kata Kaur Keuangan sambil
menunjuk sebuah kolom. "Angka ini harus sesuai dengan bukti
pengeluaran."
Sugianto membandingkan angka di dokumen dengan bukti-bukti
yang ada. Semua cocok.
"Pak, ini semua harus dicocokkan?"
"Semua. Setiap rupiah harus ada buktinya."
"Kalau ada yang nggak cocok?"
"Kita cari tahu kenapa. Mungkin salah catat, mungkin
bukti hilang." Kaur Keuangan menghela napas. "Itu pekerjaan paling
melelahkan. Tapi harus dilakukan."
Sugianto mengamati tumpukan dokumen. "Berarti keuangan
desa sangat ketat?"
"Sangat ketat. Karena ini uang rakyat." Kaur
Keuangan menatapnya serius. "Kalau kita salah, kita bukan hanya merugikan
desa. Kita bisa kena sanksi."
"Berat, Pak."
"Memang." Kaur Keuangan tersenyum. "Tapi
kalau dikerjakan dengan benar, rasanya lega."
Sugianto membantu memeriksa dokumen satu per satu. Ia
menemukan satu angka yang tidak sesuai.
"Pak, ini," katanya sambil menunjuk.
Kaur Keuangan mendekat, memeriksa. "Kamu benar. Ini
salah catat. Harusnya 5.000.000, bukan 500.000."
"Kenapa bisa salah?"
"Mungkin karena terburu-buru." Kaur Keuangan
memperbaiki data itu. "Bagus kamu menemukannya."
Sugianto tersenyum bangga. "Saya cuma periksa
pelan-pelan, Pak."
"Itu yang benar. Jangan terburu-buru."
---
Malam itu, Sugianto duduk di teras kos. Ia memandang langit
yang mulai gelap.
Ponselnya bergetar. Nadia.
"Hari ini gimana?"
Sugianto membalas:
"Belajar administrasi dan perencanaan. Banyak
dokumen."
Nadia: "Bosen?"
Sugianto: "Nggak. Aku malah tertarik. Ternyata
semua ada prosesnya."
Nadia: "Proses apa?"
Sugianto: "Dari surat masuk sampai keluar,
dari usulan warga sampai keputusan, dari anggaran sampai
pertanggungjawaban."
Nadia: "Kamu jadi suka administrasi?"
Sugianto tersenyum. "Mungkin. Aku suka karena
ada logikanya."
Nadia: "Aku nggak ngerti administrasi. Tapi
aku senang kamu senang."
Sugianto menatap layar cukup lama. Ada kehangatan dalam
kalimat itu.
"Terima kasih," tulisnya.
Nadia: "Besok ke kantor?"
Sugianto: "Iya. Masih banyak belajar."
Nadia: "Bagus. Aku juga ke sana. Ada kegiatan
pemuda."
Sugianto: "Sampai besok."
Nadia: "Sampai besok."
Ia mematikan ponsel. Di dalam hati, ia merasa hari itu
adalah hari yang baik.
Banyak dokumen. Banyak angka. Banyak proses.
Tapi ada satu hal yang ia pelajari:
"Di balik setiap angka dan dokumen, ada tanggung jawab
kepada masyarakat."
Dan mungkin, tanpa ia sadari, Desa Awan Biru mulai
mengajarkan kepadanya tentang makna pekerjaan yang sesungguhnya.
BAB
VI
Belajar
dari Angka, Data, dan Amanah
Hari kesepuluh Sugianto di Desa Awan Biru dimulai dengan
suasana yang berbeda.
Ia datang pagi-pagi, seperti biasa. Namun begitu masuk, ia
melihat Kaur Keuangan sudah duduk di meja kerjanya, memandangi tumpukan dokumen
dengan ekspresi lelah.
"Pagi, Pak," sapa Sugianto.
Kaur Keuangan mengangkat wajah. "Pagi, Gi."
"Pak, wajah Bapak kelihatan capek."
Kaur Keuangan menghela napas. "Semalaman ngerjain
laporan keuangan. Deadline besok."
"Wah, berat sekali."
"Memang." Kaur Keuangan meregangkan punggungnya.
"Tapi sudah biasa. Akhir bulan selalu begini."
Sugianto meletakkan tasnya. "Ada yang bisa saya bantu,
Pak?"
Kaur Keuangan menatapnya sejenak. "Kamu bisa bantu
periksa angka-angka ini?"
"Bisa, Pak. Tapi saya masih belajar."
"Tidak apa. Nanti saya bimbing."
Sugianto duduk di hadapan Kaur Keuangan. Ia membuka buku
catatan dan bersiap.
"Ini," kata Kaur Keuangan sambil menyerahkan
setumpuk dokumen, "laporan penggunaan dana desa untuk kegiatan pembangunan
jalan. Coba periksa apakah semua angka sesuai dengan bukti."
Sugianto mulai membaca. Satu per satu, ia membandingkan
angka di laporan dengan bukti-bukti yang ada.
"Pak, yang ini," katanya setelah beberapa menit,
"angka di laporan 2.500.000, tapi di bukti 2.550.000."
Kaur Keuangan mendekat, memeriksa. "Benar. Ini salah
catat. Harusnya 2.550.000."
"Kenapa bisa salah, Pak?"
"Karena laporan ini dibuat terburu-buru." Kaur
Keuangan menghela napas. "Angka-angka seperti ini sering terlewat. Padahal
selisih 50.000 saja bisa jadi masalah."
"Kenapa, Pak?"
"Karena kalau diaudit, pertanyaan pertama: 'Kenapa
beda? Uangnya ke mana?'" Kaur Keuangan menatap Sugianto. "Kalau kita
nggak bisa jawab, kita dianggap tidak bertanggung jawab."
Sugianto mengangguk. "Berarti harus teliti."
"Harus." Kaur Keuangan menekankan kata itu.
"Setiap angka adalah amanah."
Sugianto mencatat di buku:
"Setiap angka adalah amanah."
---
Setelah membantu Kaur Keuangan selama dua jam, Sugianto
beristirahat di ruang depan. Ibu Yuni melihatnya dari meja kerja.
"Gi, bagaimana tadi?"
"Melelahkan, Bu. Tapi saya belajar banyak."
"Belajar apa?"
Sugianto berpikir. "Bahwa keuangan desa itu rumit. Dan
satu angka saja yang salah bisa jadi masalah besar."
Ibu Yuni tersenyum. "Sekarang kamu tahu kenapa saya
selalu memeriksa dokumen berkali-kali."
"Saya dulu mengira Ibu terlalu hati-hati."
"Dan sekarang?"
Sugianto tersenyum malu. "Saya mengerti kenapa."
Ibu Yuni mengangguk. "Semua orang bisa membuat
kesalahan. Tapi di pekerjaan ini, kesalahan kecil bisa berdampak besar."
"Karena menyangkut uang rakyat?"
"Bukan hanya uang. Kepercayaan." Ibu Yuni
menatapnya. "Masyarakat mempercayakan uangnya kepada kita. Kalau kita
ceroboh, kita mengkhianati kepercayaan itu."
Sugianto terdiam. Kata-kata itu terasa berat.
"Bu, bagaimana caranya agar tidak pernah salah?"
Ibu Yuni tertawa kecil. "Tidak mungkin tidak pernah
salah. Tapi kita bisa meminimalkan."
"Dengan cara?"
"Periksa ulang. Minta orang lain memeriksa. Dan jangan
terburu-buru."
Sugianto mencatat:
"Periksa ulang. Minta bantuan. Jangan
terburu-buru."
---
Siang itu, Sugianto duduk di teras bersama Si Amat. Mereka
makan siang sederhana—nasi bungkus dari warung depan.
"Gi, kamu sudah lihat website desa?" tanya Si
Amat sambil mengunyah.
"Belum, Pak."
"Kamu harus lihat." Si Amat membuka laptopnya di
pangkuan. "Ini."
Sugianto mendekat. Di layar, sebuah website sederhana
terbuka. Ada foto kegiatan, pengumuman, dan informasi desa.
"Ini semua dikerjakan sendiri, Pak?"
"Sendiri. Tapi dibantu beberapa orang."
"Berat?"
Si Amat mengangguk. "Mengumpulkan informasi, menulis
berita, mengedit foto, memastikan semua benar. Itu pekerjaan yang tidak pernah
selesai."
"Kenapa tidak pernah selesai?"
"Karena kegiatan desa tidak pernah berhenti." Si
Amat menutup laptop. "Setiap hari ada yang baru. Dan setiap hari saya
harus update."
"Pak Amat, kenapa mau mengerjakan ini?"
Si Amat tertawa. "Pertanyaan bagus."
Sugianto menunggu.
"Karena," kata Si Amat kemudian, "informasi
adalah pelayanan. Kalau warga nggak tahu apa yang dilakukan pemerintah desa,
mereka nggak percaya."
"Jadi website ini untuk transparansi?"
"Ya. Dan untuk dokumentasi. Jadi kelak, kalau ada yang
bertanya, 'Desa ini sudah melakukan apa saja?', kita bisa tunjukkan."
Sugianto mengangguk. "Berarti website ini seperti
arsip hidup."
"Persis." Si Amat tersenyum. "Kamu cepat
paham."
Sugianto tersenyum bangga.
---
Sore harinya, Sugianto bertemu Pak Sugeng di halaman
kantor. Pak Sugeng sedang duduk di bangku, memandangi anak-anak bermain.
"Pak Sugeng," sapa Sugianto.
"Gi. Duduk."
Sugianto duduk di sampingnya.
"Hari ini belajar apa?" tanya Pak Sugeng.
"Belajar keuangan dan data, Pak."
"Berat?"
"Berat, Pak. Tapi menyenangkan."
Pak Sugeng tertawa. "Kamu memang anak muda yang
aneh."
"Mengapa aneh, Pak?"
"Kebanyakan anak muda benci angka dan dokumen. Kamu
malah suka."
Sugianto tersenyum. "Saya suka karena semua ada
logikanya, Pak. Angka, data, dokumen... semuanya saling berhubungan."
Pak Sugeng mengangguk. "Bagus. Tapi jangan lupa, di
balik angka itu ada manusia."
"Maksudnya, Pak?"
"Angka kemiskinan bukan sekadar angka. Itu tetangga
kita yang sulit makan. Angka kesehatan bukan sekadar data. Itu ibu-ibu yang
melahirkan." Pak Sugeng menatap Sugianto. "Jangan pernah lupa
itu."
Sugianto terdiam. Ia teringat kata-kata Pak Eko minggu
lalu. Tentang data dan manusia.
"Pak, bagaimana caranya agar tidak lupa?"
"Ya dengan turun ke lapangan. Bertemu langsung dengan
mereka." Pak Sugeng tersenyum. "Kamu sudah melakukannya. Itu
bagus."
Sugianto mengangguk. "Saya akan terus melakukannya,
Pak."
---
Malam itu, Sugianto membuka buku catatan. Ia menulis:
"Hari ini aku belajar tentang angka dan amanah. Kaur
Keuangan mengajarkanku bahwa setiap angka adalah tanggung jawab. Ibu Yuni
mengingatkanku bahwa kepercayaan adalah hal yang paling berharga. Si Amat
menunjukkan bahwa informasi juga pelayanan. Dan Pak Sugeng mengingatkanku bahwa
di balik semua angka, ada manusia."
Ia berhenti, lalu melanjutkan:
"Aku mulai melihat bahwa setiap pekerjaan di desa ini
saling terhubung. Keuangan, administrasi, perencanaan, pelayanan, informasi...
semuanya untuk satu tujuan: masyarakat."
"Dan aku? Aku ingin menjadi bagian dari itu."
Ia menutup buku. Di luar, suara jangkrik mulai terdengar.
Ponselnya bergetar. Nadia.
"Kamu sudah tidur?"
Sugianto tersenyum.
"Belum. Baru saja selesai mencatat."
Nadia: "Hari ini gimana?"
Sugianto: "Banyak belajar tentang angka dan
amanah."
Nadia: "Bosen?"
Sugianto: "Nggak. Aku malah suka."
Nadia: "Aku nggak ngerti angka. Tapi aku
senang kamu suka."
Sugianto: "Kamu kenapa belum tidur?"
Nadia: "Nggak bisa tidur. Pikiran rame."
Sugianto: "Pikiran apa?"
Nadia: "Pemikiran tentang masa depan. Tentang
desa. Tentang apa yang akan terjadi."
Sugianto: "Kamu khawatir?"
Nadia: "Sedikit."
Sugianto mengetik pelan:
"Apa pun yang terjadi, aku yakin kamu bisa."
Nadia tidak membalas untuk beberapa saat. Kemudian:
"Terima kasih. Aku jadi lebih tenang."
Sugianto: "Tidur yang nyenyak."
Nadia: "Kamu juga."
Sugianto mematikan ponsel. Ia tersenyum dalam gelap.
Malam itu, ia merasa Desa Awan Biru semakin terasa seperti
rumah.
BAB
VII
Ketika
Kepercayaan Mulai Diberikan
Hari keempat belas Sugianto di Desa Awan Biru dimulai
dengan panggilan tak terduga.
Ia baru saja menaruh tasnya ketika Pak Iwan muncul dari
ruang kerjanya.
"Sugianto," panggilnya.
Sugianto menoleh. "Iya, Pak?"
"Masuk sebentar."
Sugianto mengikuti Pak Iwan ke dalam ruangan. Di dalam, Ibu
Yuni, Pak Eko, dan Si Amat sudah duduk. Suasana terasa sedikit formal.
"Duduk," kata Pak Iwan sambil menunjuk kursi
kosong.
Sugianto duduk. Tangannya diletakkan di pangkuan. "Ada
apa, Pak?"
Pak Iwan menyandarkan tubuhnya. "Kamu sudah hampir dua
minggu di sini."
"Iya, Pak."
"Bagaimana perasaanmu?"
Sugianto berpikir sejenak. "Saya merasa... banyak
belajar, Pak. Dan saya mulai nyaman."
Pak Iwan mengangguk. "Itu bagus. Tapi kami tidak
memanggilmu hanya untuk bertanya kabar."
Sugianto menegakkan punggungnya.
"Kami ingin memberi kamu tanggung jawab lebih,"
lanjut Pak Iwan.
Sugianto terkejut. "Saya, Pak?"
"Iya. Kamu." Pak Iwan tersenyum tipis.
"Selama dua minggu, kami melihat kamu serius belajar. Kamu tidak malas.
Kamu bertanya. Kamu datang tepat waktu."
Sugianto tidak tahu harus berkata apa.
"Karena itu," lanjut Pak Iwan, "kami
memutuskan untuk memberi kamu tugas yang lebih mandiri."
Sugianto menelan ludah. "Tugas apa, Pak?"
Pak Iwan menatap Ibu Yuni. Ibu Yuni membuka catatannya.
"Kamu akan membantu Si Amat mengelola dokumentasi
kegiatan desa," katanya. "Juga membantu menyusun informasi untuk
website dan media publikasi."
Sugianto menoleh ke Si Amat. Si Amat mengangguk sambil
tersenyum.
"Dan," lanjut Ibu Yuni, "kamu akan
mendampingi Pak Eko dalam pengumpulan data untuk perencanaan."
Sugianto menoleh ke Pak Eko. Pak Eko mengacungkan jempol.
"Apakah saya sanggup, Pak?" tanya Sugianto dengan
suara sedikit bergetar.
Pak Iwan menyandarkan tubuhnya. "Kami tidak akan
memberi tugas jika kami tidak yakin kamu mampu."
"Tapi kalau saya salah?"
"Kamu akan salah." Pak Iwan tersenyum. "Itu
bagian dari belajar. Yang penting, perbaiki dan jangan ulangi."
Sugianto mengangguk perlahan.
"Dan satu lagi," tambah Pak Iwan. "Kamu akan
tetap membantu pelayanan. Ibu Lulu masih membutuhkanmu."
"Baik, Pak."
Pak Iwan mengulurkan tangannya. "Selamat, Sugianto.
Kamu sekarang bukan lagi anak magang biasa."
Sugianto menjabat tangannya. Tangannya sedikit gemetar.
---
Setelah keluar dari ruang Pak Iwan, Si Amat menepuk
bahunya.
"Selamat, Gi. Sekarang kamu resmi jadi anak buah
saya."
Sugianto tertawa. "Anak buah, Pak?"
"Iya. Tugas pertama: hari ini ada kegiatan posyandu.
Kamu ikut saya mendokumentasikan."
"Sekarang, Pak?"
"Sekarang." Si Amat sudah mengambil kameranya.
"Ayo. Jangan lama-lama."
Sugianto mengikuti Si Amat keluar. Mereka menaiki sepeda
motor Si Amat menuju balai desa.
Di balai desa, suasana sudah ramai. Ibu-ibu dengan balita
duduk di kursi-kursi panjang. Beberapa kader kesehatan sibuk menimbang bayi dan
mencatat di buku.
"Amati," kata Si Amat. "Lihat bagaimana kader
bekerja. Ambil foto mereka saat berinteraksi dengan ibu-ibu."
Sugianto mengambil kamera. Ia mulai memotret.
"Jangan hanya foto orang berdiri," bisik Si Amat.
"Ambil momen. Ibu yang tersenyum saat anaknya ditimbang. Kader yang
menjelaskan dengan sabar."
Sugianto mengikuti instruksi. Ia memotret dari berbagai
sudut.
"Bagaimana?" tanya Si Amat setelah beberapa
menit.
"Saya coba, Pak."
Si Amat melihat hasilnya. "Bagus. Tapi ini masih
kurang."
"Kurang apa, Pak?"
"Mata." Si Amat menunjuk foto. "Lihat mata ibunya.
Ada kebahagiaan, ada kekhawatiran, ada harapan. Foto yang bagus menangkap
itu."
Sugianto mengangguk. Ia kembali memotret, kali ini lebih
fokus pada ekspresi.
---
Setelah kegiatan selesai, mereka kembali ke kantor. Si Amat
mengajak Sugianto ke depan komputer.
"Sekarang kita pilih foto," katanya.
Sugianto duduk di sampingnya. Si Amat membuka folder berisi
puluhan foto.
"Pilih lima yang terbaik."
Sugianto mulai memilih. Ia ingat pesan Si Amat: tangkap
mata, tangkap momen.
"Ini, Pak," katanya sambil menunjuk tiga foto.
"Ini yang menurut saya bagus."
Si Amat memeriksa. "Kenapa yang ini?"
"Karena kader sedang menjelaskan dengan sabar. Dan ibu
itu mendengarkan dengan serius."
"Bagus. Yang ini?"
"Ini anak kecil tersenyum setelah ditimbang."
"Dan yang ini?"
"Ini ibu-ibu sedang antre, tapi mereka saling
mengobrol. Ada kebersamaan."
Si Amat tersenyum. "Kamu mulai paham."
Sugianto tersenyum bangga.
"Sekarang," lanjut Si Amat, "tulis
beritanya."
"Saya, Pak?"
"Iya. Kamu yang melihat langsung, kamu yang foto. Kamu
yang menulis."
Sugianto menatap layar kosong. "Tapi saya belum pernah
menulis berita, Pak."
"Semua orang pernah pertama kali." Si Amat
menyerahkan keyboard. "Mulai."
Sugianto mengetik pelan-pelan. Judul. Paragraf pembuka.
Deskripsi kegiatan. Nama-nama. Tujuan.
Setelah selesai, ia menyerahkan laptop ke Si Amat.
Si Amat membaca. Wajahnya serius.
"Bagaimana, Pak?" tanya Sugianto cemas.
Si Amat tersenyum. "Lumayan. Tapi kalimat ini terlalu
panjang. Pecah."
Sugianto memperbaikinya.
"Bagaimana sekarang?"
"Lebih baik." Si Amat menambahkan beberapa kata.
"Sekarang sudah siap dipublikasikan."
Sugianto tersenyum lebar. "Berarti saya sudah bisa
menulis berita, Pak?"
"Kamu sudah mulai. Terus belajar."
---
Sore itu, Sugianto duduk di teras dengan perasaan campur
aduk. Bangga, senang, tapi juga sedikit takut.
Nadia datang dengan sepeda motor. Ia turun dan duduk di
sampingnya.
"Kamu kelihatan senang," katanya.
"Saya dapat tugas baru."
"Apa?"
"Saya sekarang bantu Si Amat dokumentasi dan menulis
berita."
Nadia tersenyum. "Bagus! Kamu pasti bisa."
"Kamu yakin?"
"Iya. Kamu orangnya teliti dan serius."
Sugianto tertawa. "Kata orang sih saya terlalu
serius."
"Nggak apa-apa. Itu bagus." Nadia menatapnya.
"Aku senang kamu berkembang."
Sugianto tersenyum. "Terima kasih."
Mereka diam sejenak. Angin sore berhembus.
"Nadia," panggil Sugianto tiba-tiba.
"Iya?"
"Kenapa kamu suka datang ke sini?"
Nadia berpikir. "Karena di sini ada orang-orang yang
peduli. Ada kegiatan. Ada cerita."
"Dan aku?"
Nadia menatapnya. "Kamu salah satu cerita itu."
Sugianto merasa dadanya berdetak lebih cepat.
Nadia tersenyum. "Sudah. Aku pulang dulu. Besok datang
lagi?"
Sugianto mengangguk. "Datang."
Nadia pergi. Sugianto masih duduk di teras, memandang
langit sore yang mulai jingga.
---
Malam itu, Sugianto membuka buku catatan. Ia menulis:
"Hari ini, Pak Iwan dan yang lain memberi saya
kepercayaan. Saya sekarang bertanggung jawab atas dokumentasi dan informasi
desa. Saya juga mulai menulis berita."
Ia berhenti, lalu melanjutkan:
"Aku tidak tahu apakah aku layak mendapat kepercayaan
ini. Tapi aku akan berusaha sebaik mungkin."
"Dan Nadia... dia bilang aku adalah salah satu cerita
di desa ini. Aku tidak tahu apa artinya. Tapi aku ingin menjadi cerita yang
baik."
Ia menutup buku. Di luar, malam semakin larut.
Ponselnya bergetar. Raka.
"Gi, bagaimana kabarmu? Kami akan datang minggu
depan."
Sugianto tersenyum. Ia membalas:
"Aku siap. Desa ini siap."
Raka: "Bagus. Nanti kita kerja bareng."
Sugianto: "Kutunggu."
Ia mematikan ponsel. Dalam gelap, ia tersenyum.
Minggu depan. Mahasiswa KKN. Dan semuanya akan berubah.
BAB VIII
Ketika
Tugas Berubah Menjadi Pengabdian
Hari ketujuh belas Sugianto di Desa Awan Biru dimulai
dengan sesuatu yang membuatnya tersenyum sendiri.
Ia tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Pintu masih
terkunci. Hanya lampu di ruang pelayanan yang menyala redup. Sugianto duduk di
teras, menikmati udara pagi yang masih segar.
Ketika pintu dibuka oleh Si Amat sekitar pukul setengah
tujuh, Sugianto sudah berdiri di depan meja kerja.
"Wah, pagi sekali," kata Si Amat sambil menguap.
"Kamu tadi sudah di sini?"
"Sudah, Pak. Sekitar lima belas menit."
"Kenapa nggak ketok pintu?"
"Saya pikir Bapak masih tidur."
Si Amat tertawa. "Memang. Tapi kalau kamu ketok, saya
bangun."
Sugianto tersenyum. "Besok saya ketok."
Si Amat meletakkan tasnya. "Gi, hari ini ada rapat
koordinasi kecamatan. Pak Iwan, Bu Yuni, dan Pak Eko pergi. Jadi kantor agak
sepi."
"Berarti saya sendiri, Pak?"
"Kamu sama saya. Dan Ibu Lulu serta Bu Endang."
Si Amat menyalakan komputer. "Tapi jangan khawatir. Kita tetap punya
pekerjaan."
"Pekerjaan apa, Pak?"
Si Amat menunjuk ke layar. "Kita selesaikan berita
tentang posyandu kemarin. Lalu saya mau ajari kamu cara mengelola
website."
Mata Sugianto berbinar. "Saya bisa belajar langsung,
Pak?"
"Ya. Itu kan tugas barumu."
Sugianto duduk di samping Si Amat. Ia membuka buku catatan.
---
Si Amat membuka halaman admin website. Tampilan sederhana
dengan menu-menu di samping.
"Ini," katanya sambil menunjuk, "halaman
utama. Di sini kita bisa menambah berita, mengedit, atau menghapus."
Sugianto mengamati. "Ini seperti blog, Pak?"
"Kurang lebih. Tapi lebih terstruktur." Si Amat
mengetik beberapa kata. "Coba kamu tulis judul berita tadi."
Sugianto mengetik: "Posyandu Desa Awan Biru
Berjalan Lancar"
"Bagus. Sekarang isi."
Sugianto mengetik isi berita yang sudah ia tulis kemarin.
Si Amat memperhatikan dari samping.
"Kamu cepat mengetik," komentarnya.
"Kebiasaan, Pak. Saya sering ngetik tugas
kuliah."
"Bagus. Itu keahlian yang berguna."
Setelah selesai, Si Amat memeriksa. "Sudah benar.
Sekarang kita tambahkan foto."
Si Amat mengajarkan cara mengunggah gambar, memberi
caption, dan menyesuaikan ukuran.
"Foto harus sesuai dengan berita," jelasnya.
"Jangan asal tempel."
"Baik, Pak."
Sugianto mengunggah tiga foto yang dipilihnya kemarin. Ia
memberi caption di bawah setiap foto.
Si Amat membaca. "Bagus. Sekarang klik
'Publikasikan'."
Sugianto mengklik tombol itu. Layar berubah. Berita itu
muncul di halaman utama website Desa Awan Biru.
"Ini," kata Si Amat sambil menunjuk, "berita
pertamamu."
Sugianto menatap layar. Ada namanya di bagian bawah sebagai
penulis.
"Saya nggak nyangka," katanya pelan. "Berita
pertama saya."
"Rasanya bagaimana?"
Sugianto tersenyum. "Bangga, Pak. Tapi juga ngeri.
Kalau ada yang salah, semua orang bisa lihat."
Si Amat tertawa. "Itu yang membuatmu akan lebih
hati-hati."
Sugianto mengangguk.
---
Siang itu, Ibu Lulu memanggil Sugianto ke ruang pelayanan.
"Gi, ada warga yang mau ngurus KTP. Tolong
bantu."
"Baik, Bu."
Seorang pemuda seusia Sugianto duduk di kursi tunggu.
Wajahnya sedikit gelisah.
"Selamat siang," sapa Sugianto.
"Siang."
"Ada yang bisa saya bantu?"
Pemuda itu mengeluarkan map. "Saya mau bikin KTP baru.
Tapi saya nggak bawa KK."
Sugianto mengangguk. "Untuk KTP baru, memang harus ada
fotokopi KK, Pak."
"Iya, saya tahu. Tapi KK saya lagi dipakai ibu saya di
luar kota."
Sugianto berpikir. "Pak, apakah Bapak punya surat
keterangan dari RT atau RW?"
Pemuda itu menggeleng. "Nggak."
Sugianto menoleh ke Ibu Lulu. Ibu Lulu mendekat.
"Mas," katanya pada pemuda itu, "untuk KTP
baru, memang persyaratannya harus lengkap. Tapi ada solusi. Bapak bisa minta
surat keterangan domisili dari RT, lalu kami proses."
"Berapa lama?"
"Kalau semua lengkap, dua hari."
Pemuda itu menghela napas. "Baiklah. Saya urus
dulu."
"Terima kasih, Pak."
Pemuda itu pergi. Sugianto menoleh ke Ibu Lulu.
"Bu, saya tadi hampir bingung."
"Tapi kamu tetap tenang."
"Saya ingat pesan Ibu: jangan berbohong, beri
solusi."
Ibu Lulu tersenyum. "Bagus. Itu yang harus
dilakukan."
---
Sore harinya, Sugianto duduk di teras sambil memandangi
berita yang baru ia tulis. Sudah dibaca beberapa kali. Tidak ada kesalahan.
Pak Edi datang dan duduk di sampingnya.
"Gi, saya dengar kamu sekarang bantu Si Amat."
"Iya, Pak."
"Bagaimana rasanya?"
"Menyenangkan, Pak. Tapi juga menegangkan."
"Kenapa menegangkan?"
"Karena semua orang bisa baca tulisan saya."
Pak Edi tertawa. "Itu bagus. Kamu jadi lebih
berhati-hati."
"Pak Edi, dulu waktu Bapak mulai bekerja di sini, apa
yang paling sulit?"
Pak Edi berpikir. "Yang paling sulit? Memahami bahwa
saya tidak bisa membantu semua orang."
Sugianto menatapnya. "Maksudnya?"
"Ada warga yang datang dengan masalah. Saya ingin
membantu, tapi kadang di luar kewenangan saya." Pak Edi menghela napas.
"Saya harus belajar menerima bahwa saya terbatas."
"Lalu bagaimana?"
"Saya bantu sebisa saya. Kalau tidak bisa, saya
arahkan ke orang yang bisa." Pak Edi tersenyum. "Itu yang terbaik
yang bisa dilakukan."
Sugianto mengangguk. "Saya mulai mengerti, Pak."
"Kamu sudah banyak berubah, Gi," kata Pak Edi.
"Dulu kamu masih canggung. Sekarang sudah mulai percaya diri."
"Karena saya belajar dari banyak orang, Pak."
"Terus belajar. Jangan pernah berhenti."
---
Malam itu, Sugianto duduk di kamar kos. Ia membuka laptop
dan melihat website desa. Berita pertamanya masih di halaman utama.
Ia membuka buku catatan dan menulis:
"Hari ini aku menerbitkan berita pertamaku. Aku
belajar mengelola website. Aku juga membantu warga yang bingung dengan
persyaratan KTP."
Ia berhenti, lalu melanjutkan:
"Aku mulai merasa bahwa pekerjaan ini bukan hanya
tugas. Ini adalah pengabdian. Setiap berita yang kutulis, setiap warga yang
kubantu, setiap data yang kucatat—semua itu untuk masyarakat."
"Dan aku menyukainya."
Ponselnya bergetar. Nadia.
"Kamu sudah tidur?"
Sugianto tersenyum. Ia membalas:
"Belum. Baru saja selesai menulis."
Nadia: "Hari ini gimana?"
Sugianto: "Aku menerbitkan berita pertama. Dan
aku membantu warga yang bingung."
Nadia: "Kamu hebat."
Sugianto: "Aku hanya melakukan yang
terbaik."
Nadia: "Itu sudah hebat."
Sugianto: "Kamu kenapa belum tidur?"
Nadia: "Aku memikirkan sesuatu."
Sugianto: "Apa?"
Nadia: "Tentang desa. Tentang masa depan.
Tentang..."
Ia berhenti.
Nadia: "Tentang kamu."
Sugianto menatap layar. Jantungnya berdegup.
Sugianto: "Tentang aku?"
Nadia: "Iya. Aku memikirkan bagaimana kamu
bisa berubah begitu cepat. Dari anak magang yang canggung, menjadi seseorang
yang percaya diri."
Sugianto: "Karena aku belajar dari banyak
orang. Termasuk kamu."
Nadia: "Dari aku?"
Sugianto: "Iya. Kamu mengingatkanku bahwa di
balik semua pekerjaan, ada manusia."
Nadia tidak membalas untuk beberapa saat. Kemudian:
"Aku senang kamu bilang begitu."
Sugianto: "Aku juga senang bisa
mengenalmu."
Nadia: "Tidurlah. Besok kita bertemu."
Sugianto: "Besok kita bertemu."
Ia mematikan ponsel. Dalam gelap, ia tersenyum.
Besok. Dan hari-hari berikutnya. Desa Awan Biru terus
mengajarinya.
BAB IX
Pertemuan
Dua Dunia Pengabdian
Hari kedua puluh Sugianto di Desa Awan Biru dimulai dengan
kabar yang membuat suasana kantor berbeda.
"Gi," panggil Ibu Yuni ketika ia baru masuk,
"kamu dengar kabar?"
"Kabar apa, Bu?"
"Mahasiswa KKN akan datang hari ini."
Sugianto terkejut. "Hari ini, Bu?"
"Iya. Raka sudah mengabari. Mereka tiba siang."
Sugianto teringat percakapannya dengan Raka beberapa minggu
lalu. Minggu depan. Dan sekarang minggu itu telah tiba.
"Berapa orang, Bu?"
"Sepuluh." Ibu Yuni menunjuk ke ruang pertemuan.
"Kita sudah siapkan tempat untuk mereka."
"Ada yang bisa saya bantu, Bu?"
"Bantu Si Amat menyiapkan dokumentasi. Nanti ada
sambutan."
"Baik, Bu."
Sugianto berjalan menuju meja Si Amat. Si Amat sedang
memeriksa kamera.
"Pak, saya dengar mahasiswa KKN datang hari ini."
"Iya." Si Amat tanpa menoleh. "Kamera ini
harus siap. Nanti kita foto acara penyambutan."
"Pak, saya bantu apa?"
"Pastikan baterai penuh. Dan siapkan buku catatan.
Nanti kita catat nama-nama mereka."
Sugianto mengangguk. Ia memeriksa baterai kamera, lalu
menyiapkan buku catatan.
---
Siang itu, sebuah kendaraan berhenti di depan kantor desa.
Sepuluh mahasiswa turun satu per satu. Mereka membawa tas, koper, dan
perlengkapan.
Sugianto berdiri di samping Si Amat. Ia memperhatikan
mereka dengan rasa ingin tahu.
Yang pertama turun adalah seorang pria berpostur tegap,
berkemeja putih, dan membawa map. Ia berjalan ke depan dan menyapa Pak Iwan
yang sudah menunggu.
"Pak Iwan? Saya Raka. Ketua kelompok KKN."
Pak Iwan tersenyum. "Selamat datang, Raka. Silakan
masuk."
Raka menoleh ke teman-temannya. "Semua, masuk."
Mereka berjalan masuk ke halaman kantor. Sugianto memperhatikan
satu per satu.
Seorang perempuan dengan kamera di lehernya—mungkin
bertugas dokumentasi. Seorang pria dengan laptop di tangannya—mungkin bagian
teknologi. Dua orang lain dengan buku catatan. Sisanya membawa peralatan
kegiatan.
"Ini ramai sekali," bisik Sugianto pada Si Amat.
"Ya. Desa ini akan lebih hidup."
Pak Iwan mempersilakan mereka masuk ke ruang pertemuan.
Sugianto mengikuti dari belakang.
"Silakan duduk," kata Pak Iwan. "Ini adalah
awal dari empat puluh hari kalian di Desa Awan Biru."
Raka mengangguk. "Terima kasih, Pak. Kami siap
bekerja."
Pak Iwan kemudian menoleh ke Sugianto. "Ini Sugianto.
Dia sedang magang di sini. Nanti kalian bisa bekerja sama."
Raka menatap Sugianto dan tersenyum. "Sugianto? Yang
sudah chat dengan saya?"
Sugianto mengangguk. "Iya, Mas Raka."
"Akhirnya ketemu." Raka mengulurkan tangan.
"Senang bertemu langsung."
"Senang bertemu juga, Mas."
Raka kemudian memperkenalkan teman-temannya.
"Ini Agatha. Dia bertanggung jawab atas
PDD—dokumentasi dan publikasi."
Agatha tersenyum. "Halo, Mas Sugianto."
"Ini Farida dan Jevin. Mereka juga membantu publikasi
dan konten."
Farida melambai. Jevin mengangguk.
"Ini Theo Rahman. Dia ahli teknologi informasi. Dia
yang akan mengembangkan perpustakaan digital."
Theo mengangkat tangan. "Halo."
"Dan yang lain: Evianti, Rina, Dani, Tari, dan
Aris."
Sugianto berusaha mengingat semua nama. Sepuluh orang.
Banyak.
"Senang bertemu kalian semua," katanya.
"Semoga betah di sini."
---
Setelah acara sambutan, Raka menghampiri Sugianto.
"Mas Sugianto, saya dengar kamu sudah dua minggu di
sini?"
"Tiga minggu, Mas. Tepatnya hari ini hari ke-21."
"Wah, sudah banyak tahu tentang desa ini?"
Sugianto tersenyum. "Sedikit. Masih banyak
belajar."
"Kami butuh bantuanmu." Raka menatapnya serius.
"Kami perlu tahu kondisi desa, kebutuhan masyarakat, dan siapa yang harus
kami temui."
Sugianto mengangguk. "Saya bisa bantu. Nanti saya
kenalkan ke Pak Edi, Pak Sugeng, dan Pak Hasan. Mereka tahu banyak tentang
masyarakat."
"Bagus." Raka tersenyum. "Kita mulai besok
pagi."
"Baik, Mas."
Raka pergi. Sugianto memandanginya. Ia merasa ada tanggung
jawab baru di pundaknya.
---
Sore itu, Sugianto duduk di teras bersama Herman, Nadia,
Yulia, dan Anita. Mereka sedang membicarakan kedatangan mahasiswa KKN.
"Rame banget," kata Herman. "Sepuluh
orang."
"Kita harus bantu mereka," kata Nadia.
Yulia mengangguk. "Kita kenal desa ini lebih
baik."
Anita menambahkan, "Kita bisa ajak mereka ke kegiatan
pemuda."
Sugianto mendengarkan. "Mas Herman, kalian sudah punya
rencana?"
"Belum. Tapi kita bisa diskusi." Herman menatap
Sugianto. "Kamu kan sudah kenal Raka. Kamu bisa jadi penghubung."
Sugianto terkejut. "Saya?"
"Iya. Kamu kenal perangkat desa, kenal mahasiswa,
kenal kami." Herman tersenyum. "Kamu posisi yang tepat."
Sugianto terdiam. Ia tidak pernah berpikir bahwa ia bisa
menjadi jembatan.
"Kamu mau?" tanya Nadia.
Sugianto memandang mereka. "Saya coba."
Nadia tersenyum. "Kamu pasti bisa."
---
Namun di balik percakapan hangat itu, ada yang lain. Dari
balik pohon dekat halaman, seorang pemuda mengamati mereka dengan tatapan
tajam. Rambutnya panjang, sedikit kusut. Sebatang rokok menggantung di
bibirnya.
Ia mendengus pelan.
"Penghubung?" bisiknya. "Anak magang tiga
bulan mau jadi penghubung?"
Ia membuang puntung rokok dan menginjaknya. Kemudian
berjalan mendekati kelompok itu.
"Herman," sapanya dengan nada datar.
Herman menoleh. "Anto. Ada apa?"
Anto tidak menjawab Herman. Matanya tertuju pada Sugianto.
"Jadi kamu yang jadi penghubung?" tanyanya.
Sugianto mengangguk. "Iya. Saya Sugianto."
Anto tersenyum, tapi senyumnya tidak ramah. "Anto.
Saya juga pemuda desa."
"Senang bertemu, Mas."
"Senang?" Anto tertawa kecil. "Kami sudah
bertahun-tahun di sini. Tahu seluk-beluk desa. Tahu mana yang boleh dan tidak
boleh." Ia menatap Sugianto dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Tapi kalian datang, terus kalian yang ngatur?"
Herman melerai. "Anto, jangan begitu. Gi sudah banyak
membantu."
"Membantu?" Anto mendengus. "Anak magang
tiga bulan mau membantu? Apa yang dia tahu tentang desa ini?"
Sugianto merasa dadanya berdebar. Ia tidak tahu harus
menjawab apa.
Nadia berdiri. "Anto, cukup."
Anto menatap Nadia. Matanya berubah—ada sesuatu di sana.
Sesuatu yang membuat Nadia menunduk.
"Kamu bela dia?" tanya Anto pelan.
"Aku tidak membela siapa pun. Aku hanya bilang
cukup."
Anto tersenyum tipis. "Baik. Tapi kita lihat
nanti." Ia menatap Sugianto sekali lagi. "Jangan sampai
program-program kalian cuma bikin repot warga."
Ia berbalik dan pergi. Langkahnya tegap, meninggalkan
keheningan.
---
Setelah Anto pergi, suasana menjadi canggung.
Herman menghela napas. "Maaf, Gi. Anto memang..."
"Tidak apa-apa, Mas." Sugianto mencoba tersenyum.
"Dia hanya..."
"Dia hanya tidak suka perubahan," kata Yulia.
Anita menambahkan, "Dan dia tidak suka orang
luar."
Nadia diam. Ia memandang ke arah Anto yang sudah menghilang
di tikungan.
"Gi," katanya pelan, "hati-hati sama
Anto."
Sugianto menatapnya. "Kenapa?"
Nadia menunduk. "Dulu dia... dekat denganku. Sangat
dekat. Tapi aku sudah tidak ingin lagi."
Sugianto merasa ada sesuatu yang mengganjal di dadanya.
"Dia masih menyukaimu?"
Nadia tidak menjawab. Tapi diamnya sudah cukup.
Herman memecah keheningan. "Sudah, nanti kita
bicarakan lagi. Gi, besok kita mulai?"
Sugianto mengangguk, meskipun pikirannya masih tertinggal
pada tatapan Anto tadi.
---
Malam itu, Sugianto duduk di kamar kos. Ia membuka buku
catatan.
"Hari ini mahasiswa KKN datang. Sepuluh orang. Raka,
Agatha, Farida, Jevin, Theo, Evianti, Rina, Dani, Tari, Aris. Aku harus
mengingat semua nama mereka."
Ia berhenti, lalu melanjutkan:
"Aku diminta menjadi penghubung antara mahasiswa,
pemerintah desa, dan pemuda. Aku tidak tahu apakah aku mampu. Tapi aku akan
mencoba."
"Tapi ada yang lain. Seorang pemuda bernama Anto. Dia
tidak suka padaku. Dia tidak suka orang luar. Dan dia... dekat dengan Nadia.
Sangat dekat."
"Saat dia menatap Nadia, aku melihat sesuatu di
matanya. Aku tidak tahu apa. Tapi aku tidak suka."
Ponselnya bergetar. Raka.
"Mas Sugianto, besok pagi kita mulai. Saya siapkan tim
untuk diskusi dengan perangkat desa."
Sugianto membalas:
"Saya siap. Besok saya kenalkan kalian ke Pak Edi dan
yang lain."
Raka: "Terima kasih. Kita kerja bareng."
Sugianto: "Kerja bareng."
Ia mematikan ponsel. Dalam gelap, ia memandang
langit-langit.
Besok. Hari pertama kolaborasi. Dan Anto...
Ia memejamkan mata.
---
Pagi berikutnya, Sugianto datang lebih awal. Raka dan
timnya sudah berkumpul di ruang pertemuan.
"Mas Sugianto," sapa Raka. "Kita siap."
"Baik, Mas. Ikut saya."
Sugianto membawa mereka ke ruang Pak Edi. Pak Edi sedang
membaca dokumen.
"Pak Edi," panggil Sugianto.
Pak Edi mengangkat wajah. "Gi. Ini teman-teman
KKN?"
"Iya, Pak. Ini Raka, ketua kelompok. Mereka mau
belajar tentang masyarakat."
Pak Edi tersenyum. "Silakan duduk.
Cerita-cerita."
Mereka duduk melingkar. Pak Edi mulai bercerita tentang
kondisi desa, kebutuhan warga, dan program-program yang sudah berjalan.
Raka mencatat dengan serius. Agatha sesekali mengambil
foto. Theo mendengarkan dengan saksama.
"Pak Edi," tanya Raka, "menurut Bapak, apa
yang paling dibutuhkan masyarakat saat ini?"
Pak Edi berpikir. "Infrastruktur. Jalan, jembatan,
irigasi. Tapi juga literasi. Anak-anak butuh bahan bacaan."
Theo langsung menatap Raka. "Itu bisa kita
bantu."
Raka mengangguk. "Kita akan pikirkan."
---
Setelah diskusi dengan Pak Edi, Sugianto membawa mereka ke
Pak Sugeng dan Pak Hasan.
"Pak Sugeng, Pak Hasan," kata Sugianto, "ini
teman-teman KKN. Mereka ingin mendengar langsung dari Bapak-bapak."
Pak Sugeng tersenyum. "Duduk. Kami siap cerita."
Mereka duduk di teras. Pak Sugeng dan Pak Hasan bergantian
bercerita tentang perubahan desa, kehidupan warga, dan harapan mereka.
"Kami orang tua," kata Pak Sugeng. "Kami
sudah melihat banyak perubahan. Tapi masih banyak yang harus diperbaiki."
"Kami datang untuk membantu," kata Raka.
"Bagus." Pak Sugeng menatap Raka. "Tapi
jangan datang dengan program jadi."
"Maksudnya, Pak?"
"Dengarkan dulu. Pahami dulu. Baru buat program."
Pak Sugeng tersenyum. "Itu pengabdian yang benar."
Raka mengangguk. "Kami belajar, Pak."
Pak Hasan menambahkan, "Kalau kalian mau kenal desa,
jangan hanya duduk di kantor. Turun ke lapangan."
"Baik, Pak."
---
Sore itu, Sugianto bertemu Nadia di halaman.
"Bagaimana?" tanya Nadia. "Mereka sudah
mulai?"
"Sudah. Mereka diskusi dengan Pak Edi, Pak Sugeng, dan
Pak Hasan."
"Bagus." Nadia tersenyum. "Kamu jadi
penghubung yang baik."
"Aku hanya mengantar mereka."
"Tapi kamu tahu siapa yang harus ditemui." Nadia
menatapnya. "Itu penting."
Sugianto tersenyum. "Terima kasih."
Mereka diam sejenak. Angin sore berhembus.
"Nadia," panggil Sugianto.
"Iya?"
"Tentang Anto..."
Nadia menunduk. "Aku tahu kamu akan bertanya."
"Aku tidak mau ikut campur. Tapi aku ingin tahu."
Nadia menghela napas. "Dulu, sebelum kamu datang, Anto
dan aku dekat. Sangat dekat. Keluarga kami bahkan sudah bicara tentang masa
depan."
"Tapi?"
"Tapi aku tidak pernah mencintainya. Aku hanya...
nyaman. Dan dia menganggap itu cukup." Nadia menatap Sugianto. "Lalu
kamu datang. Dan semuanya berubah."
"Aku?"
"Kamu membuatku menyadari bahwa nyaman bukanlah
cinta." Nadia tersenyum tipis. "Dan Anto tidak suka itu."
Sugianto terdiam. Ia menggenggam tangan Nadia.
"Aku tidak mau menjadi alasan masalah," katanya.
"Kamu bukan alasan masalah, Gi. Kamu alasan aku berani
memilih."
Mereka saling menatap. Angin sore berhembus. Dari kejauhan,
bayangan seseorang mengintai dari balik pohon.
Anto menggigit bibirnya. Tangan mengepal.
---
Malam itu, Sugianto membuka buku catatan. Ia menulis:
"Hari ini aku menjadi penghubung antara mahasiswa KKN,
pemerintah desa, dan masyarakat. Aku tidak tahu apakah aku melakukannya dengan
baik. Tapi aku mencoba."
"Raka dan timnya serius. Mereka ingin belajar. Mereka
ingin membantu. Aku senang bisa menjadi bagian dari itu."
"Tapi ada Anto. Dia menyukai Nadia. Dan dia melihatku
sebagai saingan."
"Nadia bilang dia tidak pernah mencintai Anto. Tapi
Anto tidak menerima itu."
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi aku tidak
akan menyerah pada Nadia."
Ia menutup buku. Di luar, malam semakin larut.
Ponselnya bergetar. Pesan dari nomor tak dikenal.
"Anak magang, kamu pikir kamu bisa merebut Nadia
dariku? Kita lihat nanti."
Sugianto menatap layar. Dadanya berdegup.
Ia tidak membalas. Hanya mematikan ponsel dan memejamkan
mata.
Besok. Hari baru. Kolaborasi baru. Dan Anto...
Ia menarik napas.
...aku siap.
---
BAB X
Empat
Puluh Hari yang Harus Bermakna
Hari kedua puluh tiga Sugianto di Desa Awan Biru dimulai
dengan rapat pagi di ruang pertemuan.
Raka mengumpulkan seluruh anggota KKN. Sugianto diundang
untuk ikut. Perangkat desa juga hadir—Pak Iwan, Ibu Yuni, dan Pak Eko.
Raka berdiri di depan. "Kita punya waktu empat puluh
hari kalender," katanya. "Bukan empat puluh hari kerja. Bukan empat
puluh hari yang bisa kita gunakan sesuka hati."
Semua diam mendengarkan.
"Mulai hari ini sampai hari keempat puluh,"
lanjut Raka, "setiap hari berarti. Termasuk hari Minggu. Termasuk hari
libur."
Agatha mengangkat tangan. "Raka, kalau kita
sakit?"
Raka tersenyum. "Ya, itu juga terhitung. Tapi kita
usahakan jangan sakit."
Jevin menimpali, "Berarti kita harus jaga
kesehatan."
"Dan jaga waktu," tambah Farida.
Theo membuka laptopnya. "Aku sudah buat jadwal kasar.
Kita bisa sesuaikan."
Raka mengangguk. "Bagus. Kita akan bahas satu per
satu."
Pak Iwan yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.
"Raka, saya mau tanya."
"Silakan, Pak."
"Kalian punya banyak program. Apakah semuanya bisa
selesai dalam empat puluh hari?"
Raka terdiam sejenak. "Kami akan berusaha, Pak."
Pak Iwan tersenyum tipis. "Berusaha itu penting. Tapi
jangan sampai mengejar banyak kegiatan lalu tidak ada yang berkelanjutan."
Ruangan hening.
"Lebih baik beberapa program benar-benar bermanfaat
daripada banyak program yang hanya selesai di atas kertas," lanjut Pak
Iwan.
Raka mengangguk. "Kami pahami, Pak. Kami akan
prioritaskan."
Pak Iwan mengangguk puas.
---
Setelah rapat, Raka menghampiri Sugianto.
"Mas Sugianto, tolong bantu saya."
"Bantu apa, Mas?"
"Lihat daftar program kami." Raka membuka
catatan. "Kami punya delapan program. Tapi menurutmu, mana yang paling
penting?"
Sugianto membaca daftar itu. Ada program tentang literasi,
kesehatan, infrastruktur, pemberdayaan pemuda, dan lainnya.
"Menurut saya," kata Sugianto perlahan,
"yang paling penting adalah yang bisa diteruskan setelah kalian
pergi."
Raka menatapnya. "Maksudmu?"
"Misalnya perpustakaan digital. Itu bisa terus
berjalan. Yang lainnya..." Sugianto berhenti. "Maaf, Mas. Saya bukan
ahli."
"Kamu sudah membantu." Raka tersenyum.
"Pendapatmu bagus. Kami akan pikirkan."
---
Namun di balik percakapan itu, dari balik pintu ruang
pertemuan yang setengah terbuka, seseorang mendengarkan. Anto berdiri di
lorong, menyandarkan bahu ke dinding. Matanya menyipit.
"Perpustakaan digital?" bisiknya. "Bikin repot lagi."
Ia mendengus. Kemudian berjalan menjauh dengan langkah
santai.
---
Siang itu, Sugianto membantu Agatha dan Farida menyusun
dokumentasi.
"Mas Sugianto," panggil Agatha, "kamu sudah
pernah bikin berita desa?"
"Sudah. Saya bantu Si Amat."
"Bagus. Kita bisa kerja sama." Agatha membuka
laptopnya. "Kami perlu dokumentasi setiap kegiatan. Foto, video,
catatan."
Farida menambahkan, "Kami mau buat konten harian.
Empat puluh hari, empat puluh cerita."
Sugianto terkejut. "Setiap hari?"
"Iya. Tidak harus panjang. Tapi setiap hari harus
ada."
"Saya bantu," kata Sugianto. "Saya kenal
orang-orang di sini."
Agatha tersenyum. "Terima kasih, Mas."
---
Sore itu, Sugianto bertemu Theo di ruang perpustakaan desa.
Theo sedang membuka laptop, layarnya penuh dengan kode-kode
dan rancangan.
"Theo," sapa Sugianto, "lagi apa?"
Theo mengangkat wajah. "Mas Sugianto. Saya sedang
merancang perpustakaan digital."
"Bisa saya lihat?"
"Tentu."
Sugianto mendekat. Di layar, ada tampilan sederhana—judul,
kategori, dan daftar bacaan.
"Ini masih konsep," kata Theo. "Tapi nanti
akan ada buku, artikel, dokumentasi, dan informasi desa."
"Keren sekali."
Theo tersenyum. "Tapi saya butuh bantuan."
"Bantuan apa?"
"Saya butuh bahan. Buku, artikel, dokumentasi desa.
Apa saja yang bisa dimasukkan."
Sugianto mengangguk. "Saya bisa bantu cari."
"Bagus." Theo menatapnya. "Mas Sugianto,
kamu tahu kenapa saya pilih proyek ini?"
"Kenapa?"
"Karena saya percaya teknologi bisa membantu
masyarakat. Bukan hanya untuk hiburan, tapi untuk belajar."
Sugianto meresapi kata-kata itu. "Saya setuju."
---
Malam itu, Sugianto duduk di teras bersama Nadia. Mereka
memandang langit yang mulai gelap.
"Kamu sibuk hari ini," kata Nadia.
"Iya. Rapat, dokumentasi, perpustakaan digital."
"Kamu terlihat senang."
Sugianto tersenyum. "Aku senang. Ada banyak hal
baru."
Nadia menatapnya. "Aku senang melihatmu senang."
Mereka diam sejenak.
"Nadia," panggil Sugianto.
"Iya?"
"Kamu kenapa sering ke sini? Padahal kamu nggak kerja
di kantor."
Nadia tersenyum. "Karena di sini ada orang-orang yang
aku pedulikan."
"Termasuk aku?"
Nadia menatapnya lama. "Termasuk kamu."
Sugianto merasa dadanya berdegup.
"Gi," kata Nadia pelan, "aku nggak tahu apa
yang akan terjadi setelah empat puluh hari ini. Tapi aku senang kamu ada di
sini."
Sugianto tersenyum. "Aku juga."
Mereka duduk berdampingan dalam diam. Angin malam berhembus
lembut.
---
Dari balik pepohonan di halaman belakang, seseorang
mengawasi mereka.
Anto menggigit bibirnya. Jari-jarinya menekan kulit
tangannya sendiri.
"Duduk berdua," bisiknya. "Mesra
sekali."
Ia mengepalkan tangan. Tatapannya membara.
"Kamu pikir kamu bisa?" gumamnya. "Anak
magang tiga bulan. Datang, bikin program, ambil Nadia, lalu pergi?"
Ia menendang batu kecil. Batu itu meluncur jauh ke
kegelapan.
"Kita lihat nanti, Sugianto. Kita lihat siapa yang
bertahan."
Ia berbalik dan pergi. Langkahnya berat, penuh amarah yang
tertahan.
---
Pagi berikutnya, Sugianto membantu Raka mempersiapkan
kegiatan pertama KKN: sosialisasi di balai desa.
"Mas, tolong bantu siapkan meja dan kursi," kata
Raka.
"Baik, Mas."
Sugianto mengatur kursi-kursi. Herman dan beberapa pemuda
datang membantu. Anto juga ada di antara mereka, tapi ia tidak ikut bekerja.
Hanya berdiri di sudut, merokok, mengamati.
"Gi, ada apa ini?" tanya Herman.
"Sosialisasi. Mahasiswa mau kenalan dengan
warga."
"Bagus. Kami bantu."
Mereka bekerja bersama. Dalam waktu singkat, balai desa
siap.
Sugianto menoleh ke arah Anto. "Mas Anto, mau
bantu?"
Anto menatapnya dingin. "Saya cuma lihat."
"Baik. Silakan."
Herman mendekati Sugianto. "Gi, jangan terlalu
dipikirkan. Anto memang begitu."
"Kenapa dia tidak mau bantu?"
Herman menghela napas. "Dia tidak suka ada orang luar
yang mengatur. Apalagi mahasiswa KKN."
"Tapi ini untuk warga."
Herman menepuk bahunya. "Aku tahu. Tapi Anto belum
melihatnya seperti itu."
---
Warga mulai berdatangan. Ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak.
Balai desa penuh.
Raka berdiri di depan. "Selamat pagi, Bapak-Ibu. Kami
mahasiswa KKN dari Universitas Merah Putih. Kami akan tinggal di sini selama
empat puluh hari."
Warga bertepuk tangan.
"Kami datang untuk belajar dan membantu," lanjut
Raka. "Kami tidak tahu banyak tentang desa ini. Tapi kami mau mendengar.
Apa yang Bapak-Ibu butuhkan?"
Seorang bapak mengangkat tangan. "Jalan desa masih
rusak."
Seorang ibu menambahkan, "Posyandu butuh
peralatan."
Seorang pemuda berkata, "Kami butuh kegiatan untuk
anak muda."
Raka mencatat semuanya. "Baik. Kami catat semua. Nanti
kami diskusikan dengan pemerintah desa."
Sosialisasi berlangsung dua jam. Sugianto membantu mencatat
usulan warga.
Namun di tengah keramaian, Anto mendekati beberapa pemuda
di sudut ruangan. Suaranya pelan, tapi cukup jelas.
"Program mahasiswa," katanya dengan nada sinis.
"Mereka datang, bikin kegiatan, lalu pergi. Warga cuma jadi objek
foto."
Seorang pemuda mengangguk. "Iya, kadang begitu."
"Tapi sekarang ada anak magang yang jadi
penghubung." Anto tertawa kecil. "Katanya mau bantu. Padahal cari
muka."
Pemuda lain bertanya, "Kamu yakin?"
"Lihat saja nanti. Program mereka nggak akan bertahan
setelah KKN selesai."
Sugianto tidak mendengar percakapan itu. Tapi Herman, yang
lewat di dekat mereka, mendengar semuanya.
---
Setelah sosialisasi selesai, Raka menghampiri Sugianto.
"Terima kasih, Mas."
"Sama-sama, Mas."
"Ini baru awal. Masih banyak yang harus
dilakukan."
Sugianto tersenyum. "Saya siap membantu."
Herman tiba-tiba muncul di samping mereka. Wajahnya serius.
"Gi, aku perlu bicara."
"Ada apa, Mas?"
Herman menarik Sugianto ke sudut ruangan. "Aku dengar
Anto bicara."
"Bicara apa?"
"Dia menyebarkan isu. Katanya program kalian cuma cari
muka. Katanya warga cuma jadi objek foto."
Sugianto terdiam. "Kenapa dia melakukan itu?"
"Karena dia tidak suka perubahan. Dan karena..."
Herman berhenti.
"Karena apa?"
"Karena dia melihatmu sebagai saingan. Dengan
Nadia."
Sugianto menghela napas. "Aku tidak mau ada
masalah."
"Masalah sudah ada, Gi. Anto sedang menyusun
sesuatu." Herman menatapnya serius. "Kamu harus hati-hati."
---
Sore itu, Sugianto kembali ke kantor dengan pikiran berat.
Ia duduk di teras, memandangi langit yang mulai jingga.
Nadia datang dan duduk di sampingnya.
"Kamu kelihatan murung," katanya.
"Ada masalah."
"Cerita."
Sugianto menceritakan apa yang didengar Herman. Nadia
mendengarkan dengan saksama.
"Anto memang bisa seperti itu," katanya akhirnya.
"Aku tidak mau perasaannya kepadamu mengganggu
program."
Nadia menatapnya. "Ini bukan tentang perasaannya
kepadaku. Ini tentang dia yang tidak bisa menerima perubahan."
"Tapi aku..."
Nadia meraih tangannya. "Kamu tidak melakukan
kesalahan apa pun, Gi. Kamu datang untuk membantu. Itu yang penting."
Sugianto tersenyum. "Terima kasih."
"Tapi," lanjut Nadia, "kamu memang harus
hati-hati. Anto tidak akan berhenti begitu saja."
---
Malam itu, Sugianto menulis di buku catatan:
"Hari ini aku membantu sosialisasi KKN. Warga datang
dan menyampaikan usulan. Aku melihat antusiasme mereka. Juga melihat Raka dan
timnya yang serius mendengarkan."
"Empat puluh hari. Rasanya singkat. Tapi aku yakin
mereka akan meninggalkan jejak."
"Tapi ada Anto. Herman bilang Anto menyebarkan isu
negatif. Dia tidak suka program ini. Dia tidak suka aku."
"Dan Nadia... dia bilang aku tidak bersalah. Tapi aku
tetap khawatir."
"Aku tidak tahu bagaimana menghadapi Anto. Tapi aku
tidak akan menyerah."
Ia menutup buku. Di luar, angin malam berhembus.
Ponselnya bergetar. Raka.
"Mas Sugianto, besok kita mulai program pertama. Kami
butuh bantuanmu."
Sugianto membalas:
"Saya siap, Mas. Besok pagi."
Raka: "Bagus. Kita kerja bareng."
Sugianto: "Kerja bareng."
Ia mematikan ponsel. Di luar jendela, bayangan seseorang
bergerak di kegelapan.
Anto berdiri di bawah pohon, menatap kamar Sugianto. Lampu
kamar masih menyala.
"Besok program pertama," bisiknya. "Mari
kita lihat seberapa kuat kamu, anak magang."
Ia berbalik dan menghilang dalam gelap.
BAB XI
Perpustakaan
Digital dan Kerja Sama yang Terus Tumbuh
Hari kedua puluh enam Sugianto di Desa Awan Biru. Mahasiswa
KKN sudah satu minggu berada di desa.
Pagi itu, Sugianto datang ke kantor dengan perasaan sedikit
gugup. Theo telah mengirim pesan semalam: "Besok kita mulai uji
coba perpustakaan digital. Kamu siap?"
Sugianto belum pernah terlibat dalam proyek teknologi sebelumnya.
Tapi ia ingin belajar.
Ketika memasuki ruang perpustakaan desa, Theo sudah di
sana. Laptopnya terbuka, beberapa kabel berserakan, dan secangkir kopi hampir
habis di sampingnya.
"Mas Theo, pagi," sapa Sugianto.
Theo mengangkat wajah. Matanya sedikit sembab. "Pagi,
Mas. Maaf, tadi saya begadang."
"Begadang?"
"Iya. Ada beberapa bug di sistem. Saya perbaiki
semalam." Theo meregangkan punggungnya. "Tapi sekarang sudah
jalan."
"Bagus." Sugianto duduk di sampingnya. "Apa
yang harus saya bantu?"
Theo menunjuk layar. "Ini tampilan awal perpustakaan
digital. Coba kamu lihat."
Sugianto mendekat. Di layar, ada halaman sederhana dengan
judul "Perpustakaan Digital Desa Awan Biru". Di bawahnya,
ada beberapa kategori: Bacaan Anak, Informasi Desa, Kesehatan, dan Pendidikan.
"Bagus sekali, Mas," kata Sugianto jujur.
"Tampilannya bersih."
"Terima kasih. Tapi belum ada isinya."
Sugianto menatapnya. "Maksudnya?"
"Saya sudah buat kategorinya. Tapi belum ada buku,
artikel, atau dokumen yang dimasukkan." Theo menghela napas. "Saya
butuh bahan."
"Bahan seperti apa?"
"Buku cerita anak. Artikel kesehatan. Informasi desa.
Dokumentasi kegiatan. Apa saja yang bermanfaat."
Sugianto mengangguk. "Saya bisa bantu cari."
"Bagus." Theo tersenyum. "Tapi ada satu hal
lagi."
"Apa?"
"Kita butuh orang yang mau mengelola ini setelah saya
pergi."
Sugianto terdiam. "Berarti orang desa?"
"Iya. Kalau hanya saya yang bisa, program ini akan
berhenti setelah KKN selesai." Theo menatapnya serius. "Kita butuh
keberlanjutan."
Sugianto berpikir. "Saya bisa belajar
mengelolanya."
Theo terkejut. "Kamu?"
"Iya. Saya masih di sini sampai magang selesai.
Setelah itu..." Sugianto berhenti. "Setelah itu mungkin ada orang
lain."
Theo tersenyum. "Itu awal yang baik. Nanti saya ajari
kamu."
---
Setelah dua jam belajar sistem perpustakaan digital,
Sugianto beristirahat di teras. Ia meregangkan lehernya yang pegal.
Nadia datang dengan dua gelas es teh. Ia duduk di
sampingnya.
"Kamu kelihatan capek," katanya sambil
menyerahkan satu gelas.
Sugianto menerimanya. "Terima kasih. Iya, tadi belajar
sistem perpustakaan digital."
"Perpustakaan digital?"
"Iya. Buatan Theo. Nanti bisa diakses lewat komputer.
Ada buku, artikel, informasi desa."
Nadia terlihat penasaran. "Bisa dibaca siapa
saja?"
"Siapa saja yang punya akses. Nanti akan dipasang di
balai desa dan sekolah."
"Bagus sekali." Nadia menyesap tehnya.
"Anak-anak di sini suka membaca. Tapi bukunya terbatas."
Sugianto menatapnya. "Kamu tahu banyak tentang
anak-anak?"
Nadia tersenyum. "Aku sering main dengan mereka. Joko,
Titik, Juana. Mereka suka cerita."
"Kamu baik."
"Aku hanya suka anak-anak." Nadia menunduk.
"Mereka polos. Mereka tidak punya banyak beban."
Mereka diam sejenak. Angin pagi berhembus.
"Nadia," panggil Sugianto pelan.
"Iya?"
"Aku mau minta tolong."
"Tolong apa?"
"Bantu aku mengumpulkan bahan untuk perpustakaan
digital. Buku cerita anak, informasi kesehatan, apa saja."
Nadia tersenyum. "Aku bisa bantu. Aku kenal banyak
orang."
"Terima kasih."
"Tapi ada syaratnya."
Sugianto terkejut. "Syarat apa?"
Nadia tertawa. "Nanti kalau perpustakaannya selesai,
kamu harus bacakan cerita untuk anak-anak."
Sugianto tertawa. "Baiklah. Aku setuju."
---
Dari balik dinding kantor, Anto mendengar tawa mereka. Ia
sedang duduk di bangku dekat pintu belakang, merokok. Suara tawa Sugianto dan
Nadia terdengar jelas.
Ia mengepalkan tangan. Batang rokok di jarinya patah.
"Bacakan cerita untuk anak-anak?" bisiknya dengan
nada sinis. "Mana berani."
Ia membuang patahan rokok dan berdiri. Langkahnya menuju ke
arah teras.
"Pagi," sapanya dengan nada datar.
Sugianto dan Nadia menoleh. Anto berdiri di hadapan mereka,
tangan di saku celana.
"Anto," sapa Nadia dengan hati-hati.
"Kalian lagi ngomongin apa? Kedengarannya seru."
Sugianto mencoba tersenyum. "Kami sedang bicara
tentang perpustakaan digital, Mas."
"Perpustakaan digital?" Anto tertawa kecil.
"Mahasiswa bawa-bawa teknologi. Kayak desa ini kekurangan buku."
"Tapi ini bisa membantu anak-anak," kata
Sugianto. "Mereka bisa baca lebih banyak."
Anto menatapnya. "Kamu tahu anak-anak di sini butuh
apa?"
Sugianto terdiam.
"Mereka butuh perhatian. Butuh orang tua yang ada.
Butuh guru yang sabar." Anto mendekat. "Bukan komputer."
Nadia berdiri. "Anto, jangan."
"Aku cuma bilang fakta." Anto menatap Nadia.
"Kamu terlalu percaya pada orang luar, Nadia."
"Anto, cukup."
Anto tersenyum tipis. "Baik. Tapi kita lihat saja
nanti. Program teknologi di desa biasanya cuma jadi pajangan."
Ia berbalik dan pergi. Sugianto memandanginya pergi dengan
perasaan tidak nyaman.
---
Siang itu, Sugianto, Theo, dan Nadia duduk di ruang
perpustakaan. Mereka sedang menyusun daftar bahan yang dibutuhkan.
"Kita butuh buku cerita untuk anak-anak," kata
Theo sambil mengetik.
Nadia mengangguk. "Aku bisa minta ke guru SD. Mereka
punya koleksi."
"Informasi kesehatan?" tanya Sugianto.
"Itu bisa minta ke Ibu Amelia," kata Nadia.
"Bidan desa. Dia pasti punya bahan."
Sugianto mencatat. "Bagus. Nanti saya temui Ibu
Amelia."
Theo menambahkan, "Dokumentasi desa. Berita, foto,
kegiatan. Itu bisa minta ke Si Amat."
"Saya sudah bicara dengan Si Amat," kata
Sugianto. "Dia setuju."
Theo tersenyum. "Bagus. Semua mulai bergerak."
Nadia memandang Sugianto. "Kamu cepat sekali
bergerak."
"Saya hanya melakukan yang bisa saya lakukan."
"Tidak semua orang seperti itu." Nadia tersenyum.
"Kebanyakan orang hanya menunggu."
Sugianto merasa tersanjung. "Aku hanya ingin
membantu."
Pintu ruang perpustakaan tiba-tiba terbuka. Anto masuk
dengan langkah santai, tangan di saku.
"Wah, rapat ya?" katanya dengan nada sinis.
"Boleh ikut?"
Theo mengangkat wajah. "Kami sedang mendiskusikan
perpustakaan digital."
"Ah, perpustakaan digital." Anto duduk di kursi
tanpa diundang. "Cerita dong. Aku juga mau tahu."
Sugianto dan Nadia saling pandang.
"Jadi," lanjut Anto, "kalian mau kumpulin
buku, terus dimasukin ke komputer?"
"Kurang lebih begitu, Mas," kata Sugianto.
"Terus, siapa yang baca?"
"Masyarakat. Anak-anak. Siapa saja yang mau."
Anto tertawa. "Kamu pikir anak-anak di sini punya
komputer? Atau internet?"
Theo menjawab, "Kami akan pasang di balai desa. Dan di
sekolah. Jadi bisa diakses."
Anto mengangkat alis. "Balai desa? Sekolah?" Ia
menggeleng. "Listrik di sini sering mati."
"Kami sudah siapkan solusi cadangan," kata Theo.
Anto menatap Sugianto. "Kamu orang kota, ya? Pasti
nggak tahu susahnya hidup di desa."
Sugianto tidak menjawab.
"Tapi sudahlah," lanjut Anto. "Kalian mau
coba. Nanti kalau gagal, baru tahu."
Ia berdiri. Sebelum keluar, ia menatap Nadia. "Nadia,
hati-hati sama orang luar. Mereka datang, bikin program, lalu pergi. Kita yang
ditinggal."
Ia keluar. Ruangan menjadi hening.
Theo menatap Sugianto. "Siapa dia?"
"Anto. Pemuda desa."
"Tidak suka program kita?"
"Tidak suka banyak hal." Sugianto menghela napas.
Nadia diam. Tangannya menggenggam erat buku catatan.
---
Sore itu, Sugianto pergi ke rumah Ibu Amelia. Ia membawa
buku catatan dan pulpen.
Ibu Amelia sedang merapikan alat-alat kesehatan di ruang
praktiknya. Ketika melihat Sugianto, ia tersenyum.
"Gi, ada apa?" tanyanya.
"Bu, saya mau minta tolong."
"Tolong apa?"
"Perpustakaan digital. Kami butuh bahan tentang
kesehatan. Yang bisa dibaca masyarakat."
Ibu Amelia mengangguk. "Bagus. Saya punya beberapa
brosur dan leaflet. Juga ada buku saku tentang kesehatan ibu dan anak."
"Boleh saya pinjam?"
"Boleh. Tapi nanti dikembalikan."
"Baik, Bu."
Ibu Amelia mengambil beberapa buku dan brosur dari rak. Ia
menyerahkannya ke Sugianto.
"Ini. Semoga bermanfaat."
"Terima kasih, Bu."
"Gi," panggil Ibu Amelia sebelum Sugianto pergi.
"Iya, Bu?"
"Kamu anak yang baik. Selalu mau membantu."
Sugianto tersenyum malu. "Saya hanya melakukan tugas,
Bu."
"Tidak semua orang melakukan tugas dengan
sungguh-sungguh." Ibu Amelia menatapnya. "Teruslah seperti ini."
Sugianto mengangguk. "Baik, Bu."
---
Dalam perjalanan pulang dari rumah Ibu Amelia, Sugianto
berpapasan dengan Anto di jalan. Anto sedang duduk di warung, minum kopi.
"Eh, anak magang," sapa Anto dengan nada tinggi.
"Mau ke mana?"
Sugianto berhenti. "Dari rumah Ibu Amelia.
Mengumpulkan bahan kesehatan untuk perpustakaan digital."
Anto mendengus. "Bidan Amelia? Dia orang baik. Tapi
kamu memanfaatkannya."
"Saya tidak memanfaatkan siapa pun, Mas. Saya hanya
meminta bantuan."
"Bantuan?" Anto tertawa. "Kamu datang ke
desa, minta ini minta itu, lalu pergi. Yang repot orang desa."
Sugianto menatap Anto dengan tenang. "Mas Anto, saya
datang ke sini untuk belajar dan membantu. Saya tidak berniat menyusahkan siapa
pun."
Anto berdiri. Matanya menatap Sugianto tajam.
"Kamu pikir dengan bicara manis, semua orang akan
percaya padamu?" Ia mendekat. "Aku sudah melihat banyak orang seperti
kamu. Datang dengan program, janji manis, lalu pergi. Desa ini tetap
sama."
"Mungkin," kata Sugianto. "Tapi setidaknya
aku mencoba."
Anto tersenyum sinis. "Mencoba. Kata-kata bagus untuk
orang yang takut gagal."
Ia menepuk bahu Sugianto—tapi keras, bukan ramah.
"Kita lihat nanti, anak magang. Kita lihat seberapa
lama kamu bertahan."
Ia pergi meninggalkan Sugianto di depan warung.
---
Malam itu, Sugianto, Theo, dan Nadia berkumpul lagi di
ruang perpustakaan. Mereka mulai memasukkan bahan-bahan yang sudah terkumpul ke
dalam sistem.
"Ini buku cerita dari SD," kata Nadia sambil
menyerahkan tumpukan buku.
"Ini brosur kesehatan dari Ibu Amelia," kata
Sugianto.
"Ini dokumentasi desa dari Si Amat," tambah Theo
sambil membuka folder.
Mereka bekerja bersama. Theo mengajarkan Sugianto cara
mengunggah dan mengkategorikan. Nadia membantu memilih buku yang paling cocok
untuk anak-anak.
"Kita sudah punya dua puluh judul buku," kata
Theo setelah beberapa jam. "Lima artikel kesehatan. Dan sepuluh
dokumentasi desa."
"Masih sedikit," kata Sugianto.
"Tapi ini awal." Theo tersenyum. "Yang
penting sistemnya berjalan."
Nadia menguap. "Aku ngantuk."
"Kita istirahat," kata Theo. "Besok
lanjut."
Mereka beranjak. Di luar, malam sudah larut.
Bintang-bintang terlihat jelas.
"Terima kasih sudah membantu, Gi," kata Theo.
"Sama-sama, Mas."
"Aku juga," kata Nadia. "Ini
menyenangkan."
Sugianto menatap Nadia. "Aku senang kamu ikut."
Nadia tersenyum. "Aku juga senang."
Theo melihat mereka bergantian. "Baiklah. Saya pulang
dulu. Jangan terlalu larut."
Theo pergi. Sugianto dan Nadia masih berdiri di halaman.
"Nadia," panggil Sugianto.
"Iya?"
"Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Tapi aku
senang kamu ada di sini."
Nadia menunduk. "Aku juga."
Mereka berdiri dalam diam. Angin malam berhembus.
"Gi," kata Nadia pelan, "aku tahu Anto
membuatmu tidak nyaman."
"Sedikit."
"Dia tidak akan berhenti. Dia akan terus mencari cara
untuk mengganggumu."
Sugianto menatapnya. "Kenapa dia begitu?"
"Karena dia kehilangan." Nadia menunduk.
"Dia kehilangan aku. Dan dia tidak bisa menerimanya."
Sugianto meraih tangannya. "Aku tidak akan
membiarkannya memisahkan kita."
Nadia tersenyum. "Aku tahu."
Mereka berdiri dalam diam. Lampu-lampu mulai padam satu per
satu.
---
Malam itu, Sugianto menulis di buku catatan:
"Hari ini aku belajar sistem perpustakaan digital.
Theo mengajariku dengan sabar. Nadia membantuku mengumpulkan bahan. Aku senang
melihat semua mulai bergerak."
"Tapi Anto terus mengganggu. Hari ini dia mendatangi
kami di perpustakaan. Dia meremehkan program ini. Dia mengatakan anak-anak desa
tidak butuh komputer."
"Aku tidak tahu apakah dia benar. Tapi aku tidak akan
menyerah."
"Dan Nadia... dia selalu ada. Mengingatkanku bahwa aku
tidak sendiri."
Ia menutup buku. Di luar, malam semakin larut.
Ponselnya bergetar. Pesan dari nomor tak dikenal—tapi
Sugianto sudah tahu siapa.
"Anak magang, kamu pikir perpustakaan digital akan
bertahan? Aku akan pastikan semua orang tahu programmu cuma buang-buang
waktu."
Sugianto menatap layar. Dadanya berdegup.
Ia tidak membalas. Hanya mematikan ponsel dan memejamkan
mata.
Besok. Hari baru. Masih banyak yang harus dilakukan.
Dan Anto...
Ia menarik napas.
...aku tidak akan menyerah padanya. Aku tidak akan menyerah
pada siapa pun.
---
BAB XII
Ketika
Semua Program Saling Menguatkan
Hari ketiga puluh Sugianto di Desa Awan Biru. Mahasiswa KKN
sudah dua minggu berada di desa.
Pagi itu, Sugianto tiba di kantor dengan perasaan lega.
Perpustakaan digital sudah mulai berjalan. Beberapa anak sudah mencoba
menggunakannya. Namun ada satu hal yang mengganggu pikirannya.
Di meja kerja, ia menemukan secarik kertas dari Si Amat:
"Gi, kita perlu rapat. Ada beberapa program yang
tumpang tindih. Datang ke ruang pertemuan jam 9."
Sugianto mengerutkan dahi. Program tumpang tindih?
Ia bergegas ke ruang pertemuan. Di dalam, sudah ada Pak
Iwan, Ibu Yuni, Pak Eko, Pak Edi, Si Amat, Raka, Agatha, Theo, dan beberapa
perangkat desa lainnya.
"Silakan duduk, Gi," kata Pak Iwan.
Sugianto duduk di kursi kosong di samping Si Amat. Dari
sudut ruangan, ia melihat Anto berdiri di dekat pintu, bersandar dengan tangan
di saku. Matanya mengawasi dengan tajam.
Anto? Kenapa dia di sini?
Pak Iwan membuka rapat. "Kita berkumpul karena ada
beberapa hal yang perlu dibicarakan. Beberapa program berjalan sendiri-sendiri.
Ada yang tumpang tindih. Ada yang tidak terkoordinasi."
Raka mengangguk. "Kami menyadari itu, Pak. Kami akan
perbaiki."
"Bukan menyalahkan," kata Pak Iwan. "Tapi
kita perlu melihat gambaran besar."
Ibu Yuni membuka catatan. "Ada tiga program yang
berjalan paralel: dokumentasi desa oleh Agatha, publikasi konten oleh Farida
dan Jevin, dan perpustakaan digital oleh Theo. Semua baik. Tapi tidak
terintegrasi."
Agatha mengangkat tangan. "Saya setuju, Bu. Kami
sering bekerja sendiri-sendiri."
Theo menambahkan, "Padahal semua saling berhubungan.
Dokumentasi bisa menjadi bahan perpustakaan. Konten bisa mempromosikan
perpustakaan."
Pak Edi yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. "Kalau
begitu, kenapa tidak kita satukan?"
Semua menoleh ke Pak Edi.
"Maksud Bapak?" tanya Raka.
Pak Edi tersenyum. "Buat satu tim. Agatha, Farida,
Jevin, Theo, dan Gi. Kalian kerja bareng. Dokumentasi, konten,
perpustakaan—semua dalam satu alur."
Sugianto terkejut. "Saya, Pak?"
"Iya. Kamu sudah kenal semua. Kamu bisa jadi
penghubung."
Raka mengangguk. "Ide bagus, Pak Edi."
Pak Iwan menambahkan, "Tapi harus ada yang
memimpin."
Semua menoleh ke Raka.
Raka tersenyum. "Saya siap, Pak. Tapi saya butuh
bantuan."
"Bantuan siapa?"
Raka menatap Sugianto. "Mas Sugianto. Dia tahu desa
ini lebih baik dari kami."
Sugianto merasa dadanya berdegup. "Saya hanya anak
magang, Mas."
"Tapi kamu sudah tiga minggu di sini. Kamu kenal
perangkat desa, pemuda, dan masyarakat." Raka tersenyum. "Kamu adalah
jembatan yang kami butuhkan."
Pak Iwan mengangguk. "Setuju. Gi, kamu bantu
Raka."
Sugianto menarik napas. "Baik, Pak. Saya coba."
---
Namun dari balik pintu, Anto mendengarkan dengan saksama.
Matanya menyipit ketika mendengar nama Sugianto disebut sebagai koordinator.
"Koordinator?" bisiknya. "Anak
magang tiga bulan jadi koordinator?"
Ia mengepalkan tangan. Kemudian berjalan menjauh dengan
langkah cepat.
---
Setelah rapat, Sugianto, Raka, Agatha, Farida, Jevin, dan
Theo berkumpul di ruang perpustakaan. Mereka mulai menyusun rencana.
"Kita bagi tugas," kata Raka. "Agatha, kamu
tetap pegang dokumentasi. Farida dan Jevin, konten. Theo, perpustakaan
digital."
"Lalu saya?" tanya Sugianto.
Raka menatapnya. "Kamu koordinator lapangan. Kamu yang
memastikan semua berjalan dan terhubung."
Sugianto terkejut. "Koordinator?"
"Iya. Kamu tahu kondisi desa. Kamu kenal
orang-orangnya. Kamu yang paling cocok."
Agatha mengangguk. "Setuju. Mas Sugianto orangnya
teliti dan ramah."
Farida menambahkan, "Dan kamu cepat belajar."
Theo tersenyum. "Kamu sudah bisa mengelola
perpustakaan. Itu awal yang bagus."
Sugianto merasa hangat mendengar kata-kata mereka.
"Baiklah. Saya coba."
---
Siang itu, Sugianto bertemu dengan Herman, Nadia, Yulia,
dan Anita di halaman kantor. Ia menceritakan rencana baru.
"Jadi kamu sekarang koordinator?" tanya Herman
dengan nada kagum.
"Bukan koordinator resmi, Mas. Cuma bantu Raka."
"Tapi kamu jadi penghubung antara mahasiswa, perangkat
desa, dan kami." Herman tersenyum. "Itu penting."
Nadia menatap Sugianto. "Kamu pasti bisa."
Yulia menambahkan, "Kami siap bantu."
Anita mengangguk. "Kami bisa bantu sosialisasi ke
pemuda."
Sugianto tersenyum. "Terima kasih. Aku butuh
kalian."
Mereka berbincang beberapa saat. Herman menceritakan
rencana kegiatan pemuda. Yulia dan Anita memberikan masukan. Nadia diam-diam
memperhatikan Sugianto dengan senyum tipis.
Setelah yang lain pergi, Nadia mendekati Sugianto.
"Kamu kelihatan lebih percaya diri," katanya.
"Aku merasa lebih tenang. Karena ada yang
membantu."
"Kamu tidak sendiri, Gi." Nadia menatapnya.
"Ingat itu."
Sugianto tersenyum. "Aku ingat."
---
Dari kejauhan, Anto mengamati mereka. Ia sedang duduk di
bangku di bawah pohon, merokok. Matanya tidak lepas dari Nadia dan Sugianto
yang berbicara akrab.
"Koordinator," gumamnya dengan nada sinis.
"Anak magang jadi koordinator."
Ia membuang puntung rokok dan menginjaknya. Seorang pemuda
lain mendekatinya.
"Anto, dengar kabar?" kata pemuda itu.
"Kabar apa?"
"Anak magang itu sekarang jadi koordinator program
KKN."
Anto mendengus. "Aku tahu. Aku dengar dari rapat
tadi."
"Kamu nggak keberatan?"
Anto tersenyum tipis. "Keberatan? Aku malah penasaran.
Seberapa lama dia bisa bertahan."
"Kita lihat saja," kata pemuda itu.
"Ya," kata Anto. "Kita lihat saja."
---
Sore itu, Sugianto mengunjungi Pak Sugeng dan Pak Hasan di
rumah Pak Sugeng. Ia ingin mendengar pendapat mereka tentang program-program
yang sedang berjalan.
"Pak Sugeng, Pak Hasan," sapa Sugianto ketika
tiba.
"Gi, masuk," kata Pak Sugeng.
Sugianto duduk di kursi tamu. Pak Hasan sudah ada di sana,
minum teh.
"Ada apa, Gi?" tanya Pak Hasan.
"Saya mau minta pendapat Bapak-bapak. Mahasiswa KKN
punya beberapa program. Dokumentasi, konten, perpustakaan digital. Kami mau
menyatukannya."
Pak Sugeng mengangguk. "Bagus. Program harus saling
mendukung."
"Tapi," lanjut Sugianto, "kami khawatir masyarakat
belum sepenuhnya terlibat."
Pak Hasan menatapnya. "Itu masalah yang sering
terjadi."
"Bagaimana solusinya, Pak?"
Pak Sugeng berpikir. "Libatkan mereka sejak awal.
Jangan hanya saat program sudah jadi."
"Contohnya?"
"Misalnya perpustakaan digital. Ajak anak-anak melihat
prosesnya. Biarkan mereka memilih buku yang mereka suka." Pak Sugeng
tersenyum. "Kalau mereka merasa memiliki, mereka akan menjaga."
Sugianto mencatat. "Baik, Pak."
Pak Hasan menambahkan, "Dan pemuda. Libatkan mereka.
Mereka bisa jadi penggerak."
"Terima kasih, Pak. Saya sampaikan ke Raka."
Pak Sugeng menepuk bahunya. "Kamu sudah berkembang,
Gi. Teruslah seperti ini."
---
Malam itu, Sugianto melaporkan hasil diskusinya kepada Raka
dan tim.
"Pak Sugeng dan Pak Hasan bilang, kita harus libatkan
masyarakat sejak awal. Anak-anak dan pemuda."
Raka mengangguk. "Setuju. Kita buat kegiatan kecil.
Ajak anak-anak melihat perpustakaan digital. Ajak pemuda membantu
sosialisasi."
Agatha menambahkan, "Saya bisa dokumentasikan."
Farida berkata, "Saya bisa buat konten tentang
mereka."
Theo tersenyum. "Kalau mereka terlibat, perpustakaan
ini akan hidup."
Sugianto merasa lega. Semua sepakat.
"Besok kita mulai," kata Raka. "Gi, kamu
yang koordinasi dengan pemuda dan anak-anak."
"Baik, Mas."
---
Keesokan paginya, Sugianto menghampiri Herman di posko
pemuda.
"Mas Herman, Raka mau ajak pemuda untuk sosialisasi
perpustakaan digital."
Herman mengangguk. "Bagus. Aku bisa kumpulkan beberapa
orang."
"Kami butuh bantuan."
"Tentu. Kapan?"
"Besok sore. Di balai desa."
Herman tersenyum. "Siap. Aku kabari yang lain."
Sugianto merasa senang. Semua mulai bergerak.
---
Namun di warung dekat pasar, Anto sedang duduk bersama
beberapa pemuda. Herman datang untuk mengajak mereka.
"Anto, besok ada acara di balai desa. Perpustakaan
digital. Kamu ikut?" tanya Herman.
Anto menatap Herman dengan malas. "Perpustakaan
digital lagi?"
"Iya. Mahasiswa mau sosialisasi. Kita bantu."
Anto tertawa kecil. "Bantu? Buat apa? Cuma buang-buang
waktu."
Herman menghela napas. "Anto, ini untuk desa
kita."
"Untuk desa?" Anto berdiri. "Kamu pikir
mereka peduli sama desa kita? Mereka datang, bikin program, lalu pergi. Kita
yang repot."
Pemuda lain mengangguk. "Anto benar. Program mahasiswa
sering cuma foto-foto."
Herman menatap mereka. "Kalau kalian nggak mau ikut,
ya sudah. Tapi jangan menghalangi."
Anto tersenyum tipis. "Kami tidak menghalangi. Kami
hanya tidak mau dibodohi."
Ia menepuk bahu Herman. "Silakan, Herman. Bantu anak
magangmu itu."
Herman pergi dengan perasaan kecewa.
---
Sore itu, Sugianto mengajak Joko, Titik, dan Juana ke ruang
perpustakaan.
"Kak Sugianto, ini apa?" tanya Joko dengan mata
berbinar.
"Ini perpustakaan digital," jawab Sugianto.
"Kalian bisa baca buku di sini."
"Di mana bukunya?" tanya Titik bingung.
Sugianto menunjuk layar komputer. "Di sini. Di dalam
komputer."
Anak-anak itu terkejut. "Bisa?"
"Bisa. Coba lihat."
Sugianto membuka salah satu buku cerita. Joko, Titik, dan
Juana mendekat. Mereka terpukau melihat gambar-gambar berwarna di layar.
"Keren!" seru Joko.
"Aku mau baca!" kata Titik.
Juana hanya tersenyum lebar.
Sugianto tersenyum melihat mereka. "Nanti kalian bisa
baca sendiri. Asal minta izin."
"Boleh, Kak?" tanya Joko.
"Boleh."
Anak-anak itu berlarian keluar, memberitahu teman-teman
mereka. Sugianto mendengar mereka berteriak, "Ada perpustakaan di
komputer!"
---
Namun di luar, Anto mendengar teriakan anak-anak itu. Ia
sedang duduk di bangku dekat pintu belakang.
"Perpustakaan di komputer," ulangnya dengan nada
sinis. "Anak-anak mana ngerti komputer."
Ia melihat Joko, Titik, dan Juana berlari kegirangan.
Matanya menyipit.
"Anak magang itu pasti senang sekali. Jadi
pahlawan."
Ia membuang puntung rokok. Kemudian berjalan menuju ruang
perpustakaan.
Pintu terbuka. Anto masuk tanpa mengetuk.
"Wah, rame," katanya dengan nada tinggi.
Sugianto menoleh. "Mas Anto."
"Anak-anak senang ya?" Anto tersenyum—tapi
senyumnya tidak ramah. "Kamu berhasil bikin mereka senang."
Sugianto tidak tahu harus menjawab apa.
"Tapi," lanjut Anto, "setelah kalian pergi,
apa yang terjadi? Anak-anak ini akan kembali ke kehidupan mereka. Tanpa
komputer. Tanpa perpustakaan."
"Kami akan latih pengelola," kata Sugianto.
"Jadi program ini tetap berjalan."
"Pengelola?" Anto tertawa. "Siapa? Herman?
Nadia?" Ia menatap Sugianto. "Kamu pikir mereka bisa?"
"Saya percaya mereka bisa."
Anto mendekat. Suaranya pelan, tapi menusuk. "Kamu
terlalu percaya pada orang lain, anak magang. Nanti kamu sendiri yang
kecewa."
Ia berbalik dan keluar. Pintu ditutup dengan keras.
Sugianto berdiri diam. Dadanya terasa sesak.
---
Sore itu, Sugianto duduk di teras bersama Nadia. Mereka
melihat anak-anak bermain di halaman.
"Kamu berhasil," kata Nadia.
"Berhasil apa?"
"Membuat anak-anak senang."
Sugianto tersenyum. "Mereka mudah senang."
"Karena mereka melihat sesuatu yang baru. Dan kamu
yang memperkenalkannya."
Sugianto terdiam. "Aku hanya melakukan tugas."
"Tidak semua orang melakukan tugas dengan hati."
Nadia menatapnya. "Kamu melakukannya dengan hati."
Sugianto merasa hangat. "Terima kasih."
Mereka diam sejenak. Angin sore berhembus.
"Nadia," panggil Sugianto.
"Iya?"
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah semua
ini. Tapi aku senang kamu ada di sini."
Nadia tersenyum. "Aku juga."
"Tapi Anto..."
Nadia menunduk. "Aku tahu. Dia terus
mengganggumu."
"Aku tidak takut padanya. Tapi aku khawatir dia akan
merusak program ini."
Nadia meraih tangannya. "Dia tidak akan berhasil, Gi.
Karena kita tidak sendirian."
---
Malam itu, Sugianto menulis di buku catatan:
"Hari ini aku belajar bahwa program yang baik adalah
program yang melibatkan masyarakat. Pak Sugeng dan Pak Hasan mengajariku itu.
Anak-anak Joko, Titik, dan Juana menunjukkan bahwa kebahagiaan sederhana bisa
menjadi kekuatan."
"Tapi Anto terus mengganggu. Hari ini dia datang ke
perpustakaan. Dia meremehkan program ini di depan anak-anak. Dia bilang aku
terlalu percaya pada orang lain."
"Mungkin dia benar. Tapi aku tidak akan berhenti
percaya."
"Dan Nadia... dia selalu ada. Mengingatkanku bahwa aku
tidak sendiri."
"Aku mulai memahami bahwa kolaborasi bukan hanya
tentang kerja sama. Tapi tentang saling percaya dan saling mendukung."
"Dan melawan mereka yang mencoba
menghancurkannya."
Ia menutup buku dan tersenyum.
"Besok. Hari baru. Masih banyak yang harus
dilakukan."
"Dan Anto... aku tidak akan membiarkannya menghentikanku."
---
Ponselnya bergetar. Raka.
"Gi, besok sosialisasi perpustakaan. Aku dengar Anto
menyebarkan isu negatif. Hati-hati."
Sugianto membalas:
"Aku tahu, Mas. Aku siap."
Raka: "Kita hadapi bersama."
Sugianto: "Bersama."
Ia mematikan ponsel. Di luar, malam semakin larut.
Dari balik jendela, bayangan seseorang bergerak. Anto
berdiri di bawah pohon, menatap kamar Sugianto.
"Besok sosialisasi," bisiknya. "Mari kita
lihat seberapa banyak warga yang datang."
Ia tersenyum tipis dalam gelap.
"Kita lihat siapa yang menang."
---
BAB XIII
Ketika
Pengabdian Diuji
Hari ketiga puluh lima Sugianto di Desa Awan Biru.
Mahasiswa KKN sudah tiga minggu berada di desa.
Pagi itu, Sugianto datang ke kantor dengan semangat.
Perpustakaan digital mulai ramai dikunjungi anak-anak. Dokumentasi berjalan
lancar. Konten Farida dan Jevin mulai menarik perhatian warga.
Namun ketika ia masuk, suasana kantor terasa berbeda.
Ibu Lulu sedang berbicara dengan seorang warga dengan nada
serius. Wajah warga itu terlihat kesal.
"Bu, saya sudah datang tiga kali. Katanya surat saya
sudah selesai, tapi kenapa belum bisa diambil?" suara warga itu meninggi.
Ibu Lulu tetap tenang. "Pak, saya cek dulu. Mungkin
ada kendala administrasi."
"Sudah seminggu, Bu! Saya butuh surat itu untuk
kerja."
Sugianto mendekat. "Bu, ada yang bisa saya
bantu?"
Ibu Lulu menoleh. "Gi, tolong cek arsip surat Pak
Slamet. Nomor 047/2024."
"Baik, Bu."
Sugianto bergegas ke ruang arsip. Ia mencari di rak yang
sesuai. Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Surat itu tidak ada.
Ia kembali ke ruang pelayanan dengan wajah pucat.
"Bu, saya tidak menemukan."
Ibu Lulu mengerutkan dahi. "Tidak ada?"
"Tidak ada, Bu."
Warga itu semakin kesal. "Apa? Surat saya hilang? Saya
sudah mengurus semua persyaratan!"
"Tenang, Pak," kata Ibu Lulu. "Kami akan
cari."
Sugianto merasa bersalah. "Maaf, Pak. Saya coba cari
lagi."
Ia kembali ke ruang arsip. Kali ini ia memeriksa lebih
teliti. Rak demi rak. Map demi map.
Akhirnya, di rak yang salah, ia menemukannya. Surat itu
tertukar tempat dengan surat lain.
Sugianto menghela napas lega. Ia segera membawanya ke Ibu
Lulu.
"Ketemu, Bu. Tadi tertukar rak."
Ibu Lulu memeriksa surat itu. "Benar. Ini
suratnya." Ia menyerahkannya ke warga. "Maaf, Pak. Ada kesalahan
administrasi. Surat Bapak sudah selesai."
Warga itu masih cemberut, tapi sedikit lega. "Baiklah.
Tapi lain kali lebih teliti."
"Kami minta maaf, Pak," kata Ibu Lulu.
Warga itu pergi. Sugianto menunduk.
"Bu, saya minta maaf. Saya yang salah menaruh."
Ibu Lulu menatapnya. Bukan dengan marah, tapi dengan
tatapan tegas.
"Gi, kesalahan ini kecil. Tapi dampaknya besar. Warga
kecewa. Kepercayaan mereka terganggu."
Sugianto mengangguk. "Saya mengerti, Bu."
"Kamu harus lebih teliti. Setiap dokumen punya
tempatnya."
"Baik, Bu. Saya perbaiki."
---
Setelah kejadian itu, Sugianto duduk di teras dengan
perasaan berat. Ia memandangi langit yang mulai mendung.
Pak Iwan muncul dari ruang kerjanya. Ia berjalan mendekati
Sugianto dan duduk di sampingnya.
"Gi."
Sugianto menoleh. "Pak Iwan."
"Saya dengar ada masalah dengan surat."
"Iya, Pak. Saya salah menaruh. Warga kecewa."
Pak Iwan mengangguk. "Itu terjadi. Kesalahan
administrasi."
"Saya merasa bersalah, Pak."
"Kamu seharusnya merasa bersalah." Pak Iwan
menatapnya. "Tapi jangan larut dalam rasa bersalah."
Sugianto menatapnya. "Maksudnya, Pak?"
"Kesalahan adalah pelajaran. Tapi kalau kamu terus
memikirkannya, kamu tidak akan belajar." Pak Iwan tersenyum tipis.
"Perbaiki. Dan jangan ulangi."
Sugianto mengangguk. "Baik, Pak."
"Dan satu lagi."
"Apa, Pak?"
"Jangan biarkan satu kesalahan menghancurkan semua hal
baik yang sudah kamu lakukan." Pak Iwan menepuk bahunya. "Kamu sudah
banyak membantu. Teruslah."
Sugianto merasa sedikit lega. "Terima kasih,
Pak."
---
Namun kabar tentang kesalahan administrasi itu ternyata
menyebar lebih cepat daripada yang Sugianto bayangkan.
Di warung dekat pasar, Anto duduk bersama beberapa pemuda.
Ia tersenyum mendengar cerita yang baru saja didengarnya.
"Kalian dengar?" katanya dengan nada puas.
"Anak magang itu kehilangan surat warga. Sampai warga marah-marah."
Seorang pemuda mengangguk. "Iya, saya dengar dari Pak
Slamet. Katanya suratnya hilang."
"Hilang?" Anto tertawa. "Katanya sih
tertukar. Tapi tetap saja. Namanya juga anak magang."
Pemuda lain bertanya, "Terus, apakah dia
dipecat?"
"Belum. Tapi ini pelajaran." Anto menyesap
kopinya. "Saya sudah bilang. Anak magang cuma bikin repot."
Salah satu pemuda yang duduk di sudut—Herman—mendengar
percakapan itu. Ia menatap Anto dengan tajam.
"Anto, kamu nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi,"
kata Herman.
Anto menoleh. "Oh, Herman. Kamu datang."
"Gi sudah memperbaiki kesalahannya. Dan itu bukan
kesalahan besar."
"Kesalahan tetaplah kesalahan." Anto tersenyum.
"Kamu terlalu percaya padanya."
Herman berdiri. "Aku percaya padanya karena dia melakukan
yang terbaik."
"Terserah kamu, Herman." Anto mengangkat bahu.
"Tapi lihat saja. Kesalahan ini akan berlanjut."
Herman pergi dengan perasaan kesal.
---
Sore itu, Sugianto bertemu Raka di ruang pertemuan. Raka
sedang menatap laptop dengan wajah serius.
"Mas Raka, ada apa?" tanya Sugianto.
Raka mengangkat wajah. "Ada masalah. Beberapa warga
mengeluh tentang kegiatan kami."
"Keluhan apa?"
"Mereka bilang kami terlalu sibuk dengan program, tapi
tidak melibatkan mereka sejak awal." Raka menghela napas. "Mereka
merasa program kami datang dari luar, bukan dari mereka."
Sugianto teringat nasihat Pak Sugeng dan Pak Hasan.
"Itu yang dikhawatirkan Pak Sugeng."
"Iya. Kami salah." Raka menutup laptop.
"Kami terlalu fokus pada target, bukan proses."
"Bagaimana sekarang?"
Raka menatapnya. "Kami harus perbaiki. Tapi kami butuh
bantuanmu."
"Bantuan apa, Mas?"
"Bantu kami berkomunikasi dengan warga. Jelaskan bahwa
kami mau mendengar. Kami mau belajar dari mereka."
Sugianto mengangguk. "Baik, Mas. Saya bantu."
---
Malam itu, Sugianto menerima pesan dari Herman.
"Gi, hati-hati. Anto menyebarkan isu tentang
kesalahanmu. Dia bilang kamu tidak kompeten. Beberapa warga mulai
percaya."
Sugianto menatap layar. Dadanya terasa sesak.
Ia membalas:
"Terima kasih, Mas. Aku akan hadapi."
Herman:
"Kami di belakangmu, Gi. Jangan menyerah."
Sugianto tersenyum tipis. Jangan menyerah. Kata-kata
itu menguatkannya.
---
Pagi berikutnya, Sugianto datang ke kantor dengan tekad
baru. Ia akan membuktikan bahwa kesalahan kemarin adalah pelajaran, bukan
akhir.
Di ruang pelayanan, ia bertemu Ibu Lulu.
"Bu, saya mau minta maaf sekali lagi."
Ibu Lulu tersenyum. "Sudah, Gi. Tidak perlu
terus-terusan minta maaf."
"Tapi..."
"Tapi apa?" Ibu Lulu menatapnya. "Kamu sudah
memperbaiki. Kamu sudah belajar. Itu yang penting."
Sugianto mengangguk. "Terima kasih, Bu."
"Dan satu lagi."
"Apa, Bu?"
"Ada yang menyebarkan cerita tentang
kesalahanmu." Ibu Lulu menatapnya serius. "Saya dengar dari warga.
Katanya ada pemuda yang bilang kamu tidak kompeten."
Sugianto terdiam. "Anto."
"Kamu tahu?"
"Saya tahu, Bu."
Ibu Lulu menghela napas. "Jangan biarkan kata-katanya
mengganggumu. Kamu sudah menunjukkan bahwa kamu bisa belajar dari
kesalahan."
"Terima kasih, Bu."
---
Siang itu, Sugianto, Raka, dan beberapa mahasiswa menemui
Pak Sugeng dan Pak Hasan. Mereka duduk di teras rumah Pak Sugeng.
"Pak, kami minta maaf," kata Raka. "Kami
kurang melibatkan masyarakat."
Pak Sugeng tersenyum. "Kalian sadar. Itu sudah
bagus."
Pak Hasan menambahkan, "Sekarang perbaiki. Jangan
hanya minta maaf."
"Bagaimana caranya, Pak?" tanya Raka.
Pak Sugeng berpikir. "Pertama, dengarkan warga.
Kumpulkan mereka. Tanya apa yang mereka butuhkan. Kedua, libatkan mereka dalam
pelaksanaan."
"Kami bisa lakukan itu," kata Raka.
Pak Hasan menambahkan, "Dan ketiga, jangan
terburu-buru. Pengabdian bukan lomba."
Raka mengangguk. "Kami pahami, Pak."
Sugianto mendengarkan dengan saksama. Ia merasa nasihat itu
juga berlaku untuk dirinya.
---
Setelah pertemuan, Pak Hasan memanggil Sugianto.
"Gi."
"Iya, Pak?"
"Aku dengar ada masalah dengan surat kemarin."
Sugianto menunduk. "Iya, Pak. Saya salah."
Pak Hasan tersenyum. "Kamu sudah memperbaikinya?"
"Sudah, Pak."
"Itu yang penting." Pak Hasan menatapnya.
"Tapi aku juga dengar ada yang menyebarkan cerita itu."
Sugianto mengangguk. "Anto, Pak."
Pak Hasan menghela napas. "Anto memang anak yang keras
kepala. Dia tidak suka perubahan. Dan dia tidak suka kamu."
"Saya tahu, Pak."
"Tapi jangan biarkan dia menghentikanmu." Pak
Hasan menepuk bahunya. "Kamu sudah berkembang, Gi. Jangan biarkan satu
orang menghancurkan semua itu."
Sugianto tersenyum. "Terima kasih, Pak."
---
Malam itu, Sugianto dan Nadia duduk di halaman kantor.
Lampu-lampu mulai menyala.
"Kamu kelihatan lelah," kata Nadia.
"Aku lelah. Tapi aku belajar banyak."
"Belajar apa?"
"Bahwa pengabdian tidak selalu mulus. Ada kesalahan.
Ada kekecewaan. Ada kritik." Sugianto berhenti. "Dan ada orang yang
memanfaatkan semua itu untuk menjatuhkanmu."
Nadia menatapnya. "Anto."
"Iya."
"Maafkan aku, Gi." Nadia menunduk. "Ini
semua karena aku."
Sugianto terkejut. "Apa maksudmu?"
"Anto melakukan semua ini karena aku. Karena dia
cemburu. Karena dia tidak bisa menerima bahwa aku memilihmu." Nadia
menggenggam tangannya. "Aku menyesal."
Sugianto meraih wajahnya. "Ini bukan salahmu, Nadia.
Anto memilih untuk menjadi seperti ini. Kamu tidak bisa menyalahkan dirimu
sendiri."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi." Sugianto tersenyum. "Aku
tidak akan membiarkan Anto menghancurkan apa yang kita bangun."
Nadia tersenyum, meskipun matanya berkaca-kaca. "Kamu
yakin?"
"Aku yakin."
Mereka saling menatap. Angin malam berhembus.
---
Saat mereka berpelukan, dari balik pepohonan, Anto
mengamati. Tangannya mengepal di saku celana. Ia menggigit bibirnya.
"Pelukan," bisiknya. "Mesra
sekali."
Ia mendekat. Langkahnya pelan, hampir tanpa suara.
Ketika Sugianto dan Nadia melepaskan pelukan, Anto sudah
berdiri beberapa meter dari mereka.
"Wah, romantis," kata Anto dengan nada sinis.
Nadia terkejut. "Anto?"
Anto tersenyum—tapi senyumnya dingin. "Maaf
mengganggu. Tapi aku ada urusan dengan si anak magang."
Sugianto berdiri. "Ada apa, Mas?"
Anto mendekat. "Aku dengar kamu mau mengumpulkan warga
untuk sosialisasi. Betul?"
"Betul."
Anto tertawa kecil. "Kamu pikir warga akan datang?
Setelah apa yang terjadi? Setelah surat hilang? Setelah program-program yang
cuma buang-buang waktu?"
Sugianto menatapnya dengan tenang. "Saya akan tetap
mencoba."
"Mencoba?" Anto mendekat. Matanya menatap
Sugianto tajam. "Kamu terus-terusan bilang mencoba. Tapi hasilnya?
Kesalahan. Kekecewaan. Warga marah."
Nadia melangkah di antara mereka. "Anto, cukup!"
Anto menatap Nadia. Matanya berubah—ada kesedihan di sana,
tapi juga kemarahan.
"Nadia," katanya pelan, "kamu lebih baik
memilihku. Dia hanya anak magang. Dia akan pergi. Aku yang akan tetap di
sini."
"Anto, aku sudah bilang. Aku tidak mencintaimu."
Anto terdiam. Wajahnya mengeras.
"Baiklah." Suaranya dingin. "Tapi suatu hari
nanti, kamu akan menyesal."
Ia menatap Sugianto sekali lagi. "Dan kamu, anak
magang. Nikmati waktumu di sini. Karena setelah kamu pergi, semuanya akan
kembali seperti semula. Aku yang akan menang."
Ia berbalik dan pergi. Langkahnya tegap, penuh amarah.
---
Sugianto menatap Nadia. "Kamu baik-baik saja?"
Nadia mengangguk, meskipun tangannya gemetar. "Aku...
aku minta maaf."
"Kenapa minta maaf?"
"Karena kamu harus menghadapi semua ini."
Sugianto meraih tangannya. "Aku tidak takut menghadapi
Anto. Yang aku takutkan adalah kehilanganmu."
Nadia tersenyum. "Kamu tidak akan kehilangan aku,
Gi."
Mereka berdiri dalam diam. Angin malam berhembus.
---
Malam itu, Sugianto menulis di buku catatan:
"Hari ini aku belajar bahwa pengabdian diuji oleh
kesalahan dan kritik. Aku salah menaruh surat dan membuat warga kecewa. Raka
dan timnya dikritik karena kurang melibatkan masyarakat."
"Tapi kami belajar. Kami memperbaiki. Dan kami tidak
menyerah."
"Pak Iwan mengingatkanku bahwa kesalahan adalah
pelajaran. Pak Sugeng dan Pak Hasan mengajarkan bahwa pengabdian harus
melibatkan masyarakat."
"Dan Anto... dia semakin agresif. Hari ini dia mengancam.
Dia bilang dia akan menang setelah aku pergi."
"Mungkin dia benar. Mungkin aku hanya anak magang yang
akan pergi. Tapi aku tidak akan menyerah padanya. Aku tidak akan menyerah pada
program ini. Aku tidak akan menyerah pada Nadia."
"Aku akan membuktikan bahwa tiga bulan di sini bukan
sia-sia."
Ia menutup buku dan menarik napas dalam-dalam.
"Besok. Hari baru. Masih banyak yang harus
diperbaiki."
"Dan Anto... aku akan menghadapimu. Aku tidak akan
lari."
---
Ponselnya bergetar. Raka.
"Gi, besok kita kumpulkan warga. Aku dengar Anto
menyebarkan isu lagi. Hati-hati."
Sugianto membalas:
"Aku siap, Mas. Aku tidak akan lari."
Raka: "Bagus. Kita hadapi bersama."
Sugianto: "Bersama."
Ia mematikan ponsel. Di luar, malam semakin larut.
Dari balik jendela, bayangan seseorang masih berdiri di
bawah pohon. Anto menatap kamar Sugianto, rokok di bibirnya.
"Besok kumpulan warga," bisiknya. "Mari kita
lihat."
Ia membuang puntung rokok dan menginjaknya.
"Kita lihat siapa yang tertawa terakhir."
---
BAB XIV
Di Antara
Tugas dan Perasaan
Hari ketiga puluh delapan Sugianto di Desa Awan Biru.
Mahasiswa KKN sudah tiga setengah minggu berada di desa.
Pagi itu, Sugianto datang ke kantor dengan perasaan yang
campur aduk. Sejak kejadian surat hilang, ia menjadi lebih berhati-hati. Setiap
dokumen ia periksa dua kali. Setiap rak ia pastikan rapih.
Namun ada hal lain yang mengganggu pikirannya. Sesuatu yang
tidak berhubungan dengan pekerjaan.
Nadia.
Semakin hari, ia semakin sadar bahwa perasaannya kepada
Nadia bukan sekadar persahabatan. Ada sesuatu yang lebih dalam. Dan ia tidak
tahu bagaimana mengatakannya.
Ketika ia masuk ke ruang pelayanan, Ibu Lulu sedang
melayani warga. Sugianto membantu merapikan berkas.
"Gi," panggil Ibu Lulu setelah warga pergi.
"Iya, Bu?"
"Kamu kelihatan melamun."
Sugianto tersentak. "Saya, Bu?"
"Iya. Dari tadi kamu menatap pintu terus. Padahal
tidak ada siapa-siapa."
Sugianto tersenyum malu. "Maaf, Bu. Saya agak
capek."
Ibu Lulu tersenyum tipis. "Bukan capek, Gi. Kamu
sedang memikirkan seseorang."
Sugianto terkejut. "Bu, saya..."
"Tidak usah dipungkiri. Saya juga pernah muda."
Ibu Lulu tertawa kecil. "Tapi ingat, pekerjaan tetap harus jalan."
Sugianto mengangguk. "Baik, Bu."
"Dan satu lagi."
"Apa, Bu?"
"Hati-hati dengan Anto." Ibu Lulu menatapnya
serius. "Saya dengar dia semakin sering membicarakanmu. Tidak baik."
Sugianto terdiam. "Saya tahu, Bu."
"Jangan biarkan dia mengganggu pekerjaanmu."
"Saya akan berusaha, Bu."
---
Siang itu, Sugianto bertemu Nadia di halaman belakang
kantor. Nadia sedang duduk di bawah pohon, memandangi langit.
"Nadia," sapa Sugianto.
Nadia menoleh. "Gi. Kamu tidak bekerja?"
"Jam istirahat." Sugianto duduk di sampingnya.
"Kamu kenapa di sini?"
"Menikmati angin." Nadia tersenyum. "Kadang
aku butuh waktu sendiri."
Mereka diam sejenak. Daun-daun berguguran tertiup angin.
"Nadia," panggil Sugianto pelan.
"Iya?"
"Aku ingin bertanya sesuatu."
"Tanya saja."
Sugianto menarik napas. "Apa kamu pernah berpikir...
tentang kita?"
Nadia menoleh. Wajahnya sedikit berubah.
"Maksudmu?"
"Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Tapi setiap
hari aku senang bertemu kamu. Aku senang bicara dengan kamu. Aku
senang..." Ia berhenti. "Aku senang kamu ada."
Nadia terdiam. Matanya menatap Sugianto dengan ekspresi
yang sulit dibaca.
"Gi," katanya akhirnya, "aku juga senang
kamu ada."
Sugianto merasa dadanya berdegup.
"Tapi," lanjut Nadia, "aku takut."
"Takut apa?"
"Takut kalau ini hanya sementara." Nadia
menunduk. "Kamu akan kembali ke kotamu. Aku akan tetap di sini. Dan semua
ini akan menjadi kenangan."
Sugianto tidak tahu harus menjawab apa. Karena Nadia benar.
Magangnya akan berakhir. Ia akan pergi.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi," katanya
akhirnya. "Tapi aku tidak ingin berpura-pura bahwa perasaan ini tidak
ada."
Nadia menatapnya lama. Kemudian ia tersenyum tipis.
"Kita jalani saja pelan-pelan," katanya.
"Tidak perlu buru-buru."
Sugianto mengangguk. "Baik."
---
Namun dari balik pepohonan, Anto mengamati. Ia sudah
berdiri di sana sejak tadi, menyembunyikan diri di balik batang pohon besar.
Tangannya mengepal di saku celana.
"Kita jalani pelan-pelan," ulangnya dalam hati dengan nada sinis. "Mesra
sekali."
Ia menggigit bibir. Melihat Nadia tersenyum pada Sugianto
membuat darahnya mendidih.
Ia mundur perlahan. Kemudian berjalan menjauh dengan langkah
cepat.
---
Sore itu, Sugianto membantu Raka dan timnya mengevaluasi
program. Mereka berkumpul di ruang perpustakaan.
"Kita sudah tiga setengah minggu," kata Raka.
"Masih ada satu setengah minggu lagi."
Agatha membuka catatan. "Dokumentasi sudah 80%.
Tinggal beberapa kegiatan yang belum difoto."
Farida menambahkan, "Konten sudah berjalan. Tapi kita
perlu lebih banyak cerita dari masyarakat."
Jevin mengangguk. "Video pendek tentang kehidupan desa
juga masih kurang."
Theo membuka laptop. "Perpustakaan digital sudah punya
50 judul buku. Tapi masih perlu bahan baru."
Raka menatap Sugianto. "Mas Gi, bagaimana dari sisi
masyarakat?"
Sugianto berpikir. "Anak-anak mulai sering datang.
Tapi orang dewasa masih belum banyak."
"Kenapa?"
"Mungkin karena mereka belum tahu. Atau karena mereka
merasa perpustakaan digital hanya untuk anak-anak."
Raka mengangguk. "Kita perlu sosialisasi ke orang
dewasa."
"Bisa kita buat kegiatan bersama," kata Sugianto.
"Misalnya, pelatihan membaca digital untuk orang tua."
"Bagus," kata Raka. "Theo, bisa?"
Theo tersenyum. "Bisa. Nanti saya siapkan
materinya."
---
Saat mereka berbicara, pintu ruang perpustakaan terbuka
tanpa ketukan.
Anto masuk dengan langkah santai, tangan di saku. Wajahnya
tersenyum—tapi senyum yang tidak pernah ramah.
"Wah, rapat lagi?" katanya.
Raka mengangkat wajah. "Mas Anto. Ada yang bisa kami
bantu?"
"Tidak. Cuma mau lihat." Anto berjalan
mengelilingi ruangan. Matanya mengamati setiap sudut—komputer, rak buku, layar
yang menampilkan perpustakaan digital.
"Bagus," katanya dengan nada datar. "Banyak
peralatan."
Sugianto berdiri. "Mas Anto, apakah ada yang mau
disampaikan?"
Anto berhenti. Ia menatap Sugianto.
"Kamu cepat sekali mengambil alih, ya," katanya
pelan. "Awalnya cuma anak magang. Sekarang koordinator. Rapat ini rapat
itu."
"Kami hanya bekerja, Mas."
"Bekerja." Anto tertawa kecil. "Saya juga
bekerja. Tapi saya tidak perlu pamer."
Suasana ruangan menjadi kaku.
Raka melerai. "Mas Anto, kami di sini untuk membantu
desa. Bukan untuk pamer."
"Ah, membantu desa." Anto menatap Raka.
"Kata-kata bagus. Tapi saya sudah lihat banyak orang datang dengan
kata-kata bagus."
Theo berdiri. "Mas Anto, kami serius dengan program
ini."
"Serius?" Anto menatap Theo. "Kamu anak IT,
ya? Datang, bikin komputer, lalu pergi. Desa ini tetap desa."
"Tapi perpustakaan digital ini akan tetap
berjalan," kata Theo.
"Akan." Anto tersenyum sinis. "Kata-kata
masa depan. Yang penting sekarang, kalian sibuk dengan program kalian. Warga?
Tidak peduli."
Sugianto melangkah maju. "Mas Anto, kami sudah
mendengar keluhan warga. Kami akan perbaiki."
Anto menatapnya lama. "Kamu selalu bilang akan
perbaiki. Tapi kesalahan terus terjadi. Surat hilang. Warga marah."
Sugianto terdiam.
Anto mendekat. Suaranya pelan, hanya untuk Sugianto.
"Kamu pikir dengan menjadi koordinator, kamu lebih baik dari kami? Kamu
hanya anak magang, Sugianto. Tiga bulan. Lalu pergi."
Ia menepuk bahu Sugianto—keras. "Nikmati
waktumu."
Anto berbalik dan keluar. Pintu dibanting.
Ruangan hening.
Raka menatap Sugianto. "Gi, kamu baik-baik saja?"
Sugianto mengangguk, meskipun dadanya sesak. "Aku
baik."
---
Malam itu, Sugianto duduk di kamar kos. Ia membuka ponsel
dan melihat pesan dari Nadia beberapa jam lalu.
"Gi, aku senang kita bicara tadi. Aku merasa lebih
tenang."
Ia membalas:
"Aku juga. Aku senang kita jujur satu sama lain."
Nadia membalas cepat:
"Besok ketemu?"
Sugianto tersenyum.
"Ketemu. Seperti biasa."
Nadia:
"Bagus. Aku tunggu."
Sugianto mematikan ponsel. Namun sebelum ia bisa tidur, ada
ketukan di pintu kamar kosnya.
Tok... tok... tok...
Sugianto membuka pintu. Di luar, berdiri Anto. Matanya
merah, napasnya sedikit berat. Ada bau rokok dan alkohol.
"Mas Anto?" Sugianto terkejut. "Ada
apa?"
Anto mendorong pintu dan masuk tanpa izin. Ia berdiri di
tengah kamar, menatap Sugianto dengan tatapan tajam.
"Kamu pikir kamu bisa, ya?" kata Anto dengan
suara pelan, tapi mengancam.
"Bisa apa, Mas?"
"Bisa merebut Nadia dariku."
Sugianto menegang. "Mas Anto, saya tidak merebut siapa
pun. Nadia memilih..."
"Tutup mulutmu!" Anto menunjuk wajah Sugianto.
"Kamu datang ke desa ini, tiga bulan, terus kamu ambil semua. Program,
perhatian warga, Nadia. Semua!"
Sugianto berdiri tegak. "Mas Anto, saya tidak
bermaksud..."
"Kamu tidak bermaksud. Tapi terjadi!" Anto
mendekat. Wajahnya hanya beberapa sentimeter dari Sugianto. "Kamu pikir
setelah kamu pergi, Nadia akan tetap menunggumu? Tidak. Aku yang akan ada di
sini. Aku yang akan menjaganya."
Sugianto menatap Anto dengan tenang, meskipun jantungnya
berdegup kencang.
"Mas Anto, Nadia bukan milik siapa pun. Dia punya hak
memilih."
Anto tersenyum sinis. "Kata-kata manis anak
magang."
Ia berbalik menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh.
"Kamu sudah diperingatkan, Sugianto. Jangan
menyesal."
Pintu ditutup dengan keras. Sugianto berdiri diam di tengah
kamar. Tangannya gemetar.
---
Malam itu, ia tidak bisa tidur. Ia membuka buku catatan dan
menulis:
"Hari ini Anto datang ke kamarku. Dia mengancam. Dia
bilang aku akan menyesal."
"Aku tidak takut padanya. Tapi aku takut dia akan
melakukan sesuatu yang membahayakan program ini. Atau membahayakan Nadia."
"Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Tapi aku
tidak akan lari."
"Besok aku akan bicara dengan Pak Iwan. Atau dengan
Herman. Aku butuh bantuan."
Ia menutup buku. Di luar, malam semakin larut.
Ponselnya bergetar. Nadia.
"Gi, aku dengar Anto pergi ke kamarmu. Kamu baik-baik
saja?"
Sugianto tersenyum. Ia membalas:
"Aku baik. Jangan khawatir."
Nadia:
"Aku khawatir. Anto bisa berbuat apa saja."
Sugianto:
"Aku akan hati-hati. Janji."
Nadia:
"Besok kita bicara. Aku tidak suka ini."
Sugianto:
"Besok. Aku tunggu."
Ia mematikan ponsel. Namun sebelum tidur, ia mendengar
suara langkah di luar. Pelan. Mendekat. Lalu berhenti di depan pintunya.
Sugianto menegang. Ia menahan napas.
Langkah itu bergerak menjauh. Kemudian menghilang.
Sugianto menghela napas. Ia tahu siapa itu.
---
BAB XV
Hari-Hari
yang Mulai Dihitung
Hari keempat puluh Sugianto di Desa Awan Biru. Mahasiswa
KKN sudah empat minggu berada di desa. Tinggal dua belas hari lagi.
Pagi itu, Sugianto tiba di kantor dengan perasaan yang
berat. Ia tidak tahu mengapa, tapi ada sesuatu di udaranya. Mungkin karena hari
semakin dekat dengan akhir masa KKN. Mungkin karena ia mulai menyadari bahwa
waktunya sendiri juga terbatas.
Atau mungkin karena kejadian semalam masih terngiang di
kepalanya. Anto di kamarnya. Ancaman itu.
Ketika masuk, ia melihat Raka dan Agatha sedang berbicara
dengan Pak Iwan di ruang pertemuan. Wajah mereka serius.
"Gi, masuk," panggil Pak Iwan.
Sugianto menghampiri. "Ada apa, Pak?"
Raka menjawab, "Kami sedang membahas jadwal akhir.
Tinggal dua belas hari lagi."
Sugianto mengangguk. "Berarti program harus segera
diselesaikan."
"Ya." Raka menghela napas. "Dan kami juga
harus memikirkan keberlanjutan."
Pak Iwan menatap Sugianto. "Gi, kamu sudah belajar
banyak tentang program-program mereka. Bagaimana menurutmu?"
Sugianto terkejut dimintai pendapat. "Saya, Pak?"
"Iya. Kamu yang paling sering bekerja dengan
mereka."
Sugianto berpikir. "Menurut saya, program yang paling
bisa bertahan adalah perpustakaan digital. Itu sudah mulai digunakan
masyarakat. Theo juga sudah mengajarkan pengelolaannya."
Raka mengangguk. "Setuju. Tapi dokumentasi dan konten
juga harus diteruskan."
Agatha menambahkan, "Kami sudah menyusun arsip.
Tinggal siapa yang akan mengelolanya."
Pak Iwan menatap Sugianto. "Gi, bagaimana kalau kamu
yang bantu?"
Sugianto terkejut. "Saya, Pak? Tapi saya juga akan
selesai magang."
"Kamu masih punya waktu. Dan kamu sudah tahu cara
kerjanya." Pak Iwan tersenyum. "Setidaknya sampai kamu pergi."
Sugianto mengangguk. "Baik, Pak. Saya bantu."
---
Setelah rapat, Raka menghampiri Sugianto di teras.
"Mas Gi, terima kasih sudah mau bantu."
"Sama-sama, Mas."
Raka menatapnya. "Kamu tahu, sejak kami datang, kamu
sudah banyak membantu. Bukan hanya sebagai anak magang, tapi sebagai bagian
dari tim."
Sugianto tersenyum malu. "Saya hanya melakukan yang
bisa saya lakukan."
"Tidak semua orang melakukan itu." Raka menepuk
bahunya. "Jaga dirimu, Gi. Dan jaga desa ini."
Sugianto mengangguk. "Saya akan coba, Mas."
"Dan satu lagi," kata Raka dengan nada serius.
"Aku dengar tentang Anto."
Sugianto terdiam. "Mas Raka..."
"Aku tidak mau ikut campur dalam urusan pribadimu.
Tapi kalau dia mengganggu program, kita harus bicara dengan Pak Iwan."
Sugianto menghela napas. "Aku akan coba atasi sendiri
dulu, Mas."
Raka menatapnya lama. "Baik. Tapi kalau semakin parah,
bilang padaku."
"Baik, Mas."
---
Siang itu, Sugianto bertemu Nadia di warung dekat pasar.
Nadia sedang membantu ibunya berjualan.
"Gi, kamu sudah makan?" tanya Nadia.
"Belum. Baru saja dari rapat."
Nadia menyodorkan sepiring nasi. "Makan dulu."
Sugianto duduk dan mulai makan. Nadia duduk di sampingnya.
"Kamu kelihatan capek," katanya.
"Aku capek. Tapi aku senang."
"Senang karena apa?"
"Karena aku merasa berguna." Sugianto menatapnya.
"Dan karena kamu ada."
Nadia tersenyum. "Aku juga senang kamu ada."
Mereka makan dalam diam. Sesekali saling menatap dan
tersenyum.
"Nadia," panggil Sugianto setelah selesai makan.
"Iya?"
"Tinggal dua belas hari lagi."
Nadia terdiam. "Aku tahu."
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah
itu."
Nadia menatapnya. "Kita sudah bicarakan ini, Gi. Kita
jalani pelan-pelan."
"Tapi aku takut."
"Takut apa?"
"Takut kehilangan kamu."
Nadia meraih tangannya. "Kamu tidak akan kehilangan
aku, Gi. Selama kita masih mau berkomunikasi."
Sugianto merasa hangat. "Baik. Aku percaya
padamu."
---
Namun dari balik tiang warung, Anto mengamati. Ia sudah
datang sejak tadi, duduk di sudut, memesan kopi yang tidak pernah ia minum.
Matanya tidak lepas dari Sugianto dan Nadia.
Ketika melihat Nadia meraih tangan Sugianto, ia mengepalkan
tinjunya di bawah meja.
Dia berdiri. Langkahnya menuju ke meja mereka.
"Wah, romantis," katanya dengan nada tinggi.
Sugianto dan Nadia menoleh. Anto berdiri di samping meja
mereka, tersenyum sinis.
"Anto," kata Nadia dengan nada peringatan.
"Apa? Aku cuma mau lihat." Anto menatap Sugianto.
"Makan siang bersama. Manis sekali."
Sugianto berdiri. "Mas Anto, ada apa?"
"Tidak ada." Anto mengangkat bahu. "Aku cuma
mau bilang, besok ada pertemuan warga. Aku sudah siapkan sesuatu."
Sugianto menegang. "Siapkan apa?"
Anto tersenyum. "Kamu lihat nanti."
Ia menatap Nadia. "Nadia, ibu minta kamu pulang. Ada
urusan."
Nadia mengerutkan dahi. "Urusan apa?"
"Tanya saja nanti." Anto tersenyum. "Aku antar."
"Tidak usah. Aku pulang sendiri."
Anto tersenyum—tapi matanya dingin. "Baik. Tapi tolong
sampaikan pada ibumu kalau aku sudah ingatkan."
Ia berbalik dan pergi. Nadia menatap Sugianto dengan wajah
khawatir.
"Gi, aku tidak suka ini."
"Aku juga."
"Dia sedang merencanakan sesuatu."
Sugianto menggenggam tangannya. "Aku akan
hadapi."
---
Sore itu, Sugianto membantu Theo memeriksa sistem
perpustakaan digital. Mereka duduk berdua di ruang perpustakaan.
"Theo, bagaimana cara memastikan sistem ini tetap berjalan
setelah kamu pergi?" tanya Sugianto.
Theo menatap layar. "Kita perlu orang yang mengelola.
Minimal satu orang yang paham dasar-dasarnya."
"Kamu sudah mengajariku."
"Iya. Tapi kamu juga akan pergi." Theo tersenyum.
"Kita perlu orang desa."
Sugianto berpikir. "Bagaimana kalau kita latih pemuda?
Herman atau Nadia?"
Theo mengangguk. "Bagus. Mereka tinggal di sini.
Mereka bisa jaga."
"Besok aku bicara dengan mereka."
"Bagus." Theo menutup laptop. "Gi, terima
kasih sudah membantu."
"Sama-sama, Mas."
"Sungguh, Gi. Tanpa kamu, perpustakaan ini tidak akan
sejauh ini."
Sugianto tersenyum. "Kita sama-sama bekerja."
Theo menatapnya. "Gi, ada yang mengganggumu?"
Sugianto terkejut. "Apa maksudmu?"
"Kamu dari tadi melamun." Theo menatapnya.
"Ada masalah?"
Sugianto menghela napas. "Ada, Mas. Tapi aku tidak mau
membebanimu."
"Kita tim, Gi. Cerita."
Sugianto menceritakan tentang Anto—ancamannya,
kedatangannya di kamar, dan pertemuannya di warung.
Theo mendengarkan dengan saksama.
"Gi," katanya setelah Sugianto selesai,
"kamu tidak bisa menghadapi ini sendirian."
"Tapi aku tidak mau melibatkan orang lain."
"Kadang melibatkan orang lain adalah bagian dari
keberanian." Theo menatapnya serius. "Kita lawan bersama."
Sugianto tersenyum. "Terima kasih, Mas."
---
Malam itu, Sugianto menghubungi Herman.
"Mas Herman, besok aku mau bicara tentang perpustakaan
digital. Ada waktu?"
Herman membalas cepat:
"Ada. Besok pagi di kantor?"
Sugianto:
"Baik. Besok pagi."
Ia kemudian menghubungi Nadia.
"Nadia, besok aku mau ngomong sama Herman tentang
perpustakaan. Kamu mau ikut?"
Nadia:
"Mau. Aku ke kantor besok pagi."
Sugianto tersenyum.
"Sampai besok."
Nadia:
"Sampai besok."
---
Namun ada pesan lain. Dari nomor tak dikenal. Tapi Sugianto
tahu siapa.
"Besok pertemuan warga. Aku sudah bicara dengan
beberapa orang. Mereka akan menolak programmu. Kita lihat siapa yang
bertahan."
Sugianto menatap layar. Dadanya berdegup.
Ia tidak membalas. Ia hanya mematikan ponsel.
Besok. Aku siap.
---
Pagi berikutnya, Sugianto, Herman, dan Nadia duduk di teras
kantor. Sugianto menjelaskan rencana perpustakaan digital.
"Jadi, perpustakaan ini perlu pengelola," kata
Sugianto. "Saya dan Theo akan pergi. Kami butuh orang yang bisa
menjaga."
Herman mengangguk. "Aku bisa bantu. Tapi aku tidak
terlalu paham komputer."
"Tidak masalah. Nanti Theo akan mengajar."
Nadia menambahkan, "Aku juga bisa bantu. Aku bisa
mengumpulkan bahan bacaan."
Sugianto tersenyum. "Bagus. Kalian berdua bisa jadi
tim."
Herman menepuk bahunya. "Gi, kamu memang hebat. Selalu
memikirkan keberlanjutan."
"Aku hanya ingin program ini tetap berjalan."
Nadia menatapnya dengan hangat. "Kamu orang yang baik,
Gi."
---
Saat mereka berbicara, dari balik pagar kantor, Anto
mengamati. Ia tidak sendirian. Beberapa pemuda lain berdiri di sampingnya.
"Lihat mereka," bisik Anto. "Anak magang itu
sedang merekrut orang-orangnya."
"Kenapa kita tidak masuk?" tanya salah satu
pemuda.
"Tidak usah. Biarkan mereka bicara." Anto
tersenyum. "Nanti kita lihat siapa yang lebih dipercaya warga."
Ia menatap Sugianto yang sedang tersenyum pada Nadia.
Matanya menyipit.
"Besok pertemuan warga. Semua akan berubah."
---
Siang itu, Sugianto melaporkan hasil diskusinya kepada Theo
dan Raka.
"Herman dan Nadia setuju. Mereka akan belajar
mengelola perpustakaan."
Theo tersenyum. "Bagus. Besok saya mulai latih
mereka."
Raka mengangguk. "Ini langkah yang baik. Program kami
tidak akan mati."
Agatha yang mendengar dari samping berkata, "Kalau
begitu, dokumentasi juga bisa diteruskan. Herman dan Nadia bisa bantu."
Farida menambahkan, "Dan konten. Mereka bisa kirim
cerita dari desa."
Jevin mengangguk. "Kita bisa buat sistem kirim konten
secara rutin."
Sugianto tersenyum melihat semuanya bergerak. Ia merasa
bangga menjadi bagian dari kolaborasi ini.
Raka menatap Sugianto. "Gi, aku dengar ada pertemuan
warga besok. Anto mengundang beberapa orang."
Sugianto mengangguk. "Aku tahu."
"Kamu siap?"
"Aku siap, Mas."
Raka menepuk bahunya. "Kami di belakangmu."
---
Sore itu, Sugianto dan Nadia berjalan di sekitar desa.
Mereka melewati sawah, melewati sungai kecil, melewati rumah-rumah penduduk.
"Nadia," panggil Sugianto.
"Iya?"
"Aku senang hari ini."
"Kenapa?"
"Karena semuanya mulai berjalan. Perpustakaan,
dokumentasi, konten. Dan kalian akan melanjutkannya."
Nadia tersenyum. "Kami akan menjaganya."
"Terima kasih."
Mereka berhenti di bawah pohon besar. Angin sore berhembus.
"Gi," kata Nadia pelan, "aku ingin kamu tahu
sesuatu."
"Apa?"
"Aku tidak pernah menyangka akan bertemu seseorang
sepertimu. Seseorang yang peduli pada desa ini. Pada anak-anak. Pada
kami."
Sugianto tersenyum. "Aku juga tidak menyangka."
Nadia menatapnya. "Aku tidak tahu apa yang akan
terjadi. Tapi aku bersyukur kamu ada."
Sugianto meraih tangannya. "Aku juga bersyukur."
Mereka berdiri dalam diam. Angin sore berhembus lembut.
Waktu seolah berhenti.
---
Namun dari kejauhan, Anto mengawasi. Ia sudah mengikuti
mereka sejak tadi, bersembunyi di balik pepohonan.
Ketika melihat Sugianto meraih tangan Nadia, ia menggigit
bibirnya hingga hampir berdarah.
"Besok," bisiknya dengan suara gemetar.
"Besok semuanya berakhir."
Ia berbalik dan pergi.
---
Malam itu, Sugianto menulis di buku catatan:
"Hari ini aku belajar bahwa keberlanjutan adalah
bagian terpenting dari pengabdian. Program tidak boleh berhenti ketika
orang-orangnya pergi. Harus ada yang melanjutkan."
"Aku senang Herman dan Nadia bersedia. Mereka akan
menjaga perpustakaan digital, dokumentasi, dan konten."
"Dan Nadia... dia bilang dia bersyukur aku ada. Aku
juga bersyukur dia ada."
"Tapi Anto tidak akan berhenti. Besok ada pertemuan
warga. Dia sudah merencanakan sesuatu."
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi aku akan
menghadapinya."
"Aku tidak akan lari."
Ia menutup buku dan memejamkan mata.
Ponselnya bergetar. Raka.
"Gi, besok pertemuan warga. Aku dengar Anto sudah
menyiapkan bukti-bukti untuk menolak program kita. Hati-hati."
Sugianto membalas:
"Aku siap, Mas. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan
lari."
Raka:
"Bagus. Kami semua di belakangmu."
Sugianto:
"Terima kasih, Mas."
Ia mematikan ponsel. Di luar, malam semakin larut.
Dari balik jendela, bayangan seseorang masih berdiri di
bawah pohon. Anto menatap kamar Sugianto, rokok di bibirnya.
"Besok," bisiknya. "Besok aku akan tunjukkan
siapa yang sebenarnya berkuasa di desa ini."
Ia membuang puntung rokok.
"Kita lihat siapa yang tertawa terakhir, anak
magang."
---
BAB XVI
Hari
Terakhir: Ketika Empat Puluh Hari Menjadi Kenangan
Hari keempat puluh delapan Sugianto di Desa Awan Biru. Hari
terakhir mahasiswa KKN.
Pagi itu, Sugianto bangun lebih awal dari biasanya. Ia
tidak bisa tidur nyenyak. Pikirannya penuh dengan hari yang akan dilewati. Juga
dengan pertemuan warga kemarin—yang ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan.
Tapi Anto tidak menyerah. Ia hanya mundur sementara.
Ketika tiba di kantor, suasana sudah berbeda. Mahasiswa KKN
sibuk membereskan barang-barang mereka. Agatha memeriksa kamera untuk terakhir
kalinya. Farida dan Jevin mengumpulkan laptop dan kabel. Theo memastikan
perpustakaan digital dalam keadaan baik. Raka berbicara dengan Pak Iwan di
ruang pertemuan.
Sugianto berdiri di halaman, memandangi semua itu. Dadanya
terasa sesak.
"Gi," panggil Si Amat dari pintu.
Sugianto menoleh. "Pak Amat."
"Kamu kelihatan murung."
"Saya hanya... merasa sedih, Pak."
Si Amat mendekat. "Wajar. Kalian sudah bekerja bersama
selama empat puluh hari."
"Saya akan merindukan mereka, Pak."
Si Amat menepuk bahunya. "Itu artinya kalian sudah
menjadi teman."
Sugianto mengangguk. "Iya, Pak."
---
Pukul sembilan, acara perpisahan dimulai di ruang
pertemuan. Hadir Pak Iwan, Ibu Yuni, Pak Eko, Ibu Lulu, Bu Endang, Pak Edi, Si
Amat, Pak Didit, Pak Sugeng, Pak Hasan, Herman, Nadia, Yulia, Anita, dan
beberapa warga.
Sugianto melihat Anto berdiri di sudut ruangan, bersandar
di dinding dengan tangan di saku. Matanya mengawasi dengan tajam. Ada senyum
tipis di bibirnya—senyum yang tidak ramah.
Raka berdiri di depan. "Atas nama teman-teman, saya
mengucapkan terima kasih."
Semua diam mendengarkan.
"Empat puluh hari yang lalu kami datang sebagai orang
asing. Sekarang kami pulang membawa banyak kenangan."
Ia menatap Pak Iwan. "Kami belajar dari Pemerintah
Desa Awan Biru tentang bagaimana melayani masyarakat."
Ia menatap Pak Sugeng dan Pak Hasan. "Kami belajar
dari tokoh masyarakat tentang arti kebersamaan."
Ia menatap Herman dan pemuda. "Kami belajar dari
pemuda bahwa masa depan desa ada di tangan mereka."
Ia menatap Sugianto. "Dan kami belajar dari seorang
anak magang bahwa pengabdian tidak membutuhkan jabatan."
Sugianto terkejut. Ia tidak menyangka akan disebut.
Raka melanjutkan, "Terima kasih, Desa Awan Biru. Kami
akan membawa pelajaran ini seumur hidup."
Tepuk tangan bergemuruh.
---
Pak Iwan kemudian berdiri. "Raka, terima kasih untuk
semua yang sudah kalian lakukan. Perpustakaan digital, dokumentasi,
konten—semua akan kami teruskan."
Ia menatap semua mahasiswa. "Kalian datang dengan
empat puluh hari. Tapi jejak kalian akan bertahan lebih lama."
Raka menunduk. "Terima kasih, Pak."
Pak Iwan menambahkan, "Dan pintu Desa Awan Biru selalu
terbuka untuk kalian."
Tepuk tangan kembali bergemuruh. Beberapa mahasiswa
terlihat menahan air mata.
---
Namun dari sudut ruangan, Anto mendengus pelan. Ia tidak
bertepuk tangan. Matanya tetap tertuju pada Sugianto.
"Anak magang," bisiknya. "Mereka
semua memujimu. Tapi aku tahu siapa kamu sebenarnya."
Ia tersenyum sinis.
---
Setelah acara, Sugianto membantu mahasiswa membereskan
barang-barang. Ia mengangkat kardus berisi buku-buku sumbangan ke kendaraan.
"Mas Gi," panggil Raka dari belakang.
Sugianto menoleh. "Mas Raka."
Raka mendekat. "Kami akan segera berangkat."
"Baik, Mas."
Raka mengulurkan tangan. "Terima kasih untuk
semuanya."
Sugianto menjabatnya. "Sama-sama, Mas."
"Kamu orang baik, Gi. Jaga desa ini."
"Saya akan coba, Mas."
Raka memeluknya. "Jangan lupa kami."
Sugianto menahan air mata. "Tidak akan, Mas."
Raka berbisik, "Dan hati-hati sama Anto. Dia masih
mengawasimu."
Sugianto mengangguk. "Aku tahu, Mas."
---
Agatha datang dengan kamera di tangannya. "Mas Gi,
foto bersama dulu."
Sugianto tersenyum. Mereka berfoto bersama—Sugianto, Raka,
Agatha, Farida, Jevin, Theo, dan mahasiswa lainnya.
"Ini akan saya simpan," kata Agatha.
"Sebagai kenangan."
"Kirimi saya, ya," kata Sugianto.
"Pasti."
Theo mendekat. "Gi, perpustakaan digital sudah saya
serahkan ke Herman dan Nadia. Tolong pantau terus."
"Siap, Mas."
"Kalau ada masalah, hubungi saya."
"Baik, Mas."
Theo memeluknya. "Terima kasih sudah menjadi teman
yang baik."
Sugianto tersenyum. "Kamu juga, Mas."
---
Farida dan Jevin juga berpamitan.
"Gi, konten desa kita lanjutkan, ya," kata
Farida.
"Kami akan kirim panduannya," tambah Jevin.
"Baik. Aku tunggu."
"Jaga diri, Gi."
"Kalian juga."
---
Satu per satu mahasiswa naik ke kendaraan. Sugianto berdiri
di halaman, melambaikan tangan.
Raka naik terakhir. Sebelum masuk, ia menoleh sekali lagi.
"Gi," teriaknya, "jangan lupa!"
Sugianto mengangkat tangan. "Tidak akan!"
Kendaraan mulai bergerak. Sugianto melihat wajah-wajah itu
semakin jauh. Agatha melambaikan tangan dari jendela. Theo mengacungkan jempol.
Jevin tersenyum.
Sugianto berdiri sampai kendaraan itu hilang dari
pandangan.
---
Nadia datang dan berdiri di sampingnya. "Kamu
sedih?"
Sugianto mengangguk. "Iya."
"Mereka sudah pergi."
"Aku tahu."
Nadia meraih tangannya. "Tapi kita masih di
sini."
Sugianto menatapnya. Dadanya terasa hangat. "Iya. Kita
masih di sini."
Mereka berdiri dalam diam. Halaman kantor mulai sepi.
---
Namun dari balik pohon di dekat gerbang, Anto mengamati. Ia
sudah berdiri di sana sejak tadi, memperhatikan segalanya.
Ketika melihat Nadia meraih tangan Sugianto, ia mengepalkan
tinjunya.
"Masih di sini," bisiknya. "Tapi tidak akan
lama."
Ia berbalik dan pergi.
---
Sore itu, Sugianto duduk di ruang perpustakaan. Ia
memandangi komputer yang biasa digunakan Theo. Perpustakaan digital masih
terbuka di layar.
Ia membuka buku catatan dan menulis:
"Hari ini mahasiswa KKN pulang. Empat puluh hari
mereka telah selesai. Aku merasa kehilangan. Tapi aku juga merasa bangga."
"Mereka datang sebagai orang asing. Mereka pergi
sebagai teman. Dan mereka meninggalkan jejak yang tidak akan hilang."
"Perpustakaan digital. Dokumentasi. Konten. Semua akan
terus berjalan."
"Dan aku? Aku masih di sini. Masih ada beberapa hari
lagi."
"Tapi Anto masih ada. Aku tahu dia tidak akan
berhenti. Dia sedang menunggu."
Ia menutup buku. Di luar, langit mulai jingga.
---
Malam itu, Sugianto dan Nadia duduk di halaman kantor.
Lampu-lampu mulai menyala.
"Nadia," panggil Sugianto.
"Iya?"
"Aku takut."
"Takut apa?"
"Takut setelah semua ini, semuanya berubah."
Nadia menatapnya. "Kenapa harus berubah?"
"Karena mereka sudah pergi. Dan aku juga akan
pergi."
Nadia meraih tangannya. "Gi, aku sudah bilang. Aku
tidak akan menghitung hari."
Sugianto menatapnya.
"Yang penting," lanjut Nadia, "kita masih
saling mengingat. Dan kita masih mau berkomunikasi."
Sugianto tersenyum. "Kamu benar."
"Tentu saja aku benar." Nadia tersenyum.
"Aku selalu benar."
Mereka tertawa bersama. Tawa itu menghangatkan malam.
---
Namun dari balik pagar, Anto mengamati. Ia sudah berdiri di
sana sejak lampu-lampu mulai menyala.
Ketika mendengar tawa mereka, ia menggigit bibirnya.
"Tertawa," bisiknya. "Tertawalah sekarang.
Nanti kamu yang akan menangis."
Ia berbalik dan pergi ke kegelapan.
---
Sebelum pulang, Sugianto kembali ke ruang perpustakaan. Ia
menyalakan komputer dan membuka perpustakaan digital.
Di layar, ada pesan dari Theo yang tertinggal di papan
pengumuman:
"Gi, terima kasih untuk semuanya. Jaga perpustakaan
ini. Jaga Desa Awan Biru. Dan jaga dirimu. Sampai jumpa."
Sugianto tersenyum. Ia mengetik balasan:
"Terima kasih, Theo. Perpustakaan ini akan aku jaga.
Desa ini juga. Sampai jumpa."
Ia mematikan komputer dan keluar ruangan. Di luar, Nadia
menunggu.
"Sudah siap pulang?" tanyanya.
"Sudah."
Mereka berjalan bersama meninggalkan kantor desa. Di
belakang mereka, lampu-lampu mulai padam satu per satu.
---
BAB XVII
Jejak
yang Harus Dilanjutkan
Hari pertama setelah kepulangan mahasiswa KKN.
Sugianto datang ke kantor dengan perasaan hampa. Udara pagi
terasa sama seperti biasa, tapi suasana berbeda. Ruang perpustakaan yang
kemarin masih ramai kini sunyi. Meja-meja yang biasa digunakan Agatha, Farida,
dan Jevin untuk bekerja kini kosong.
Ia duduk di mejanya, memandang ruang kosong di depannya.
"Pagi, Gi."
Sugianto menoleh. Si Amat sudah duduk di depan komputer.
"Pagi, Pak."
"Kamu datang pagi sekali."
"Saya tidak bisa tidur, Pak."
Si Amat tersenyum. "Masih memikirkan mereka?"
Sugianto mengangguk. "Iya, Pak. Rasanya... aneh.
Kemarin masih ramai. Sekarang sepi."
"Memang begitu." Si Amat menyalakan komputer.
"Tapi kehidupan desa tetap berjalan. Mereka pergi, kita lanjutkan."
Sugianto mengangguk. "Saya tahu, Pak. Tapi..."
"Tapi kamu masih sedih?"
"Iya."
Si Amat menepuk bahunya. "Wajar. Tapi jangan terlalu
lama. Ada pekerjaan yang menunggu."
"Pekerjaan apa, Pak?"
"Perpustakaan digital. Herman dan Nadia akan datang
nanti. Mereka mau belajar mengelola."
Sugianto tersenyum. "Baik, Pak. Saya tunggu."
---
Namun sebelum Herman dan Nadia datang, Anto muncul lebih
dulu.
Sugianto sedang merapikan meja ketika pintu kantor terbuka.
Anto masuk dengan langkah santai, tangan di saku. Wajahnya tersenyum—tapi
senyum yang tidak pernah ramah.
"Pagi," sapanya dengan nada tinggi.
Sugianto menegang. "Pagi, Mas Anto."
"Wah, sepi sekali," kata Anto sambil melihat
sekeliling. "Mahasiswa sudah pergi. Tinggal kamu."
"Iya, Mas."
"Dan sebentar lagi kamu juga pergi." Anto
mendekat. "Tinggal beberapa hari, kan?"
Sugianto mengangguk. "Iya, Mas."
Anto berdiri di hadapannya. Jaraknya terlalu dekat.
"Kamu tahu, Sugianto," katanya pelan,
"sekarang tidak ada lagi mahasiswa yang melindungimu. Tidak ada Raka.
Tidak ada Theo. Hanya kamu."
Sugianto menatapnya dengan tenang, meskipun jantungnya
berdegup kencang. "Saya tidak butuh perlindungan, Mas."
Anto tertawa kecil. "Berani. Aku suka." Ia
menepuk bahu Sugianto—keras. "Tapi kita lihat seberapa lama keberanianmu
bertahan."
Ia berbalik dan pergi. Pintu dibanting.
Sugianto berdiri diam. Tangannya gemetar di samping tubuh.
---
Pukul sembilan, Herman dan Nadia datang. Mereka masuk ke
ruang perpustakaan bersama Sugianto.
"Gi, kita mulai dari mana?" tanya Herman.
Sugianto berusaha tersenyum, meskipun pikirannya masih pada
Anto. "Kita mulai dari dasar. Cara mengunggah buku, cara mengedit, cara
menambahkan kategori."
Herman duduk di depan komputer. "Aku siap."
Nadia duduk di sampingnya. "Aku juga."
Sugianto mulai menjelaskan. Ia menunjukkan cara membuka
sistem, cara memilih folder, cara mengunggah file.
"Coba kamu lakukan," kata Sugianto setelah
selesai menjelaskan.
Herman mencoba. Tangannya sedikit gemetar. "Ini?"
"Geser ke sini. Lalu klik."
Herman melakukannya. Layar berubah. "Berhasil?"
"Berhasil." Sugianto tersenyum. "Sekarang
kamu sudah bisa mengunggah."
Herman menghela napas lega. "Ternyata tidak terlalu
sulit."
"Memang tidak. Tapi harus teliti."
Nadia mencoba berikutnya. Ia juga berhasil.
"Bagus," kata Sugianto. "Kalian berdua sudah
bisa."
Herman menatap layar. "Ini akan kami jaga, Gi."
"Terima kasih, Mas."
Nadia menambahkan, "Kami tidak akan biarkan ini
mati."
Sugianto merasa lega. "Aku percaya kalian."
---
Setelah sesi pelatihan, Sugianto duduk di teras bersama
Herman dan Nadia. Mereka minum es teh dari warung depan.
"Herman, bagaimana rencana kegiatan pemuda setelah KKN
selesai?" tanya Sugianto.
Herman menghela napas. "Kami akan lanjutkan. Tapi
butuh ide baru."
"Contohnya?"
"Kegiatan literasi. Ajak anak-anak baca di
perpustakaan digital."
Sugianto mengangguk. "Bagus. Aku bisa bantu buat
jadwalnya."
Nadia menambahkan, "Dan aku bisa bantu kumpulkan
anak-anak."
Herman tersenyum. "Kalau kalian berdua bantu, pasti
berhasil."
Sugianto dan Nadia saling pandang. Mereka tersenyum.
---
Namun dari balik pagar, Anto mengamati. Ia sudah kembali,
bersembunyi di balik pohon besar. Matanya tidak lepas dari mereka.
"Mereka berencana," bisiknya. "Kegiatan literasi.
Perpustakaan digital. Mereka pikir mereka bisa mengubah desa ini."
Ia menggigit bibirnya.
"Tidak akan. Aku tidak akan membiarkan."
Ia berbalik dan pergi dengan langkah cepat.
---
Siang itu, Sugianto menghampiri Pak Iwan di ruang kerjanya.
"Pak, saya mau lapor."
Pak Iwan mengangkat wajah. "Lapor apa, Gi?"
"Saya sudah melatih Herman dan Nadia mengelola
perpustakaan digital. Mereka siap melanjutkan."
Pak Iwan tersenyum. "Bagus. Itu yang kita
butuhkan."
"Juga, Pak, saya mau minta izin untuk membantu
kegiatan pemuda. Mereka mau buat kegiatan literasi."
Pak Iwan mengangguk. "Silakan. Selama masih ada
waktu."
"Terima kasih, Pak."
Pak Iwan menatapnya. "Gi, kamu tahu? Kamu sudah banyak
berubah sejak pertama datang."
Sugianto tersenyum. "Saya belajar banyak, Pak."
"Dan kamu juga sudah mulai berpikir tentang masa depan
desa. Bukan hanya tentang tugasmu."
Sugianto terdiam. "Saya hanya ingin membantu,
Pak."
"Itu yang membuatmu berbeda." Pak Iwan tersenyum.
"Teruslah seperti ini."
"Pak," kata Sugianto setelah beberapa saat,
"boleh saya tanya sesuatu?"
"Tentu."
"Tentang Anto."
Pak Iwan menghela napas. "Apa yang ingin kamu
tanyakan?"
"Saya tahu dia tidak suka dengan saya. Dengan
program-program ini. Tapi saya tidak tahu kenapa."
Pak Iwan menyandarkan tubuhnya. "Anto adalah anak yang
kehilangan arah. Dulu, ayahnya adalah tokoh masyarakat yang dihormati. Tapi
ayahnya meninggal ketika Anto masih muda. Sejak itu, Anto berubah."
Sugianto mendengarkan.
"Ia merasa tidak dihargai. Ia merasa orang luar selalu
datang dan mengambil peran yang seharusnya miliknya." Pak Iwan menatap
Sugianto. "Dan dengan Nadia... itu membuatnya semakin sakit hati."
Sugianto mengangguk. "Saya mengerti, Pak."
"Tapi itu bukan alasan untuk membiarkannya
menghancurkan apa yang sudah kalian bangun." Pak Iwan menatapnya serius.
"Kamu harus tetap berdiri."
"Baik, Pak."
---
Sore itu, Sugianto bertemu Pak Sugeng dan Pak Hasan di
rumah Pak Sugeng. Ia ingin mendengar pendapat mereka tentang program-program
setelah KKN.
"Pak Sugeng, Pak Hasan," sapa Sugianto.
"Gi, masuk," kata Pak Sugeng.
Sugianto duduk. "Saya mau tanya pendapat Bapak-bapak
tentang perpustakaan digital dan kegiatan pemuda."
Pak Sugeng mengangguk. "Bagus. Kami dengar Herman dan
Nadia sudah siap."
"Ya, Pak. Mereka sudah belajar."
Pak Hasan menambahkan, "Yang penting bukan hanya
teknologinya. Tapi bagaimana masyarakat menggunakannya."
"Bagaimana caranya, Pak?"
Pak Sugeng tersenyum. "Libatkan mereka. Ajak
anak-anak. Ajak orang tua. Buat mereka merasa memiliki."
Sugianto mencatat. "Baik, Pak."
Pak Hasan menepuk bahunya. "Kamu sudah berkembang, Gi.
Kami bangga padamu."
Sugianto tersenyum. "Terima kasih, Pak."
"Tapi," lanjut Pak Hasan, "kami juga dengar
tentang Anto."
Sugianto terdiam.
"Kami kenal Anto sejak kecil," kata Pak Sugeng.
"Dia anak yang pintar. Tapi dia kehilangan arah."
"Bagaimana cara menghadapinya, Pak?" tanya
Sugianto.
Pak Sugeng berpikir. "Jangan melawannya dengan
kemarahan. Lawan dengan kebaikan. Tunjukkan bahwa kamu datang untuk membantu.
Bukan untuk merebut."
Sugianto mengangguk. "Saya coba, Pak."
---
Malam itu, Sugianto duduk di kamar kos. Ia membuka laptop
dan melihat website desa. Berita terakhir adalah tentang perpisahan KKN.
Ia membuka buku catatan dan menulis:
"Hari pertama setelah KKN pergi. Aku merasa hampa.
Tapi aku juga merasa ada tanggung jawab baru."
"Aku sudah melatih Herman dan Nadia mengelola
perpustakaan digital. Mereka siap. Aku percaya pada mereka."
"Pak Iwan mengatakan Anto kehilangan arah. Pak Sugeng
mengatakan aku harus melawannya dengan kebaikan."
"Aku tidak tahu apakah itu bisa berhasil. Tapi aku
akan mencoba."
"Dan Nadia... dia selalu ada. Membantuku, mendukungku,
mengingatkanku bahwa aku tidak sendiri."
"Masih ada beberapa hari lagi. Aku akan
memanfaatkannya sebaik mungkin."
Ia menutup buku.
Ponselnya bergetar. Pesan dari nomor tak dikenal.
"Anak magang, kamu pikir dengan bicara dengan Pak Iwan
dan Pak Sugeng, kamu aman? Aku tahu semua yang kamu lakukan. Aku selalu
mengawasi."
Sugianto menatap layar. Dadanya berdegup.
Ia tidak membalas. Hanya mematikan ponsel dan memejamkan
mata.
Besok. Aku akan hadapi apa pun yang terjadi.
---
BAB XVIII
Menjelang
Akhir Sebuah Perjalanan
Hari kelima puluh dua Sugianto di Desa Awan Biru. Satu
minggu setelah mahasiswa KKN pulang. Tiga bulan masa magangnya tinggal beberapa
hari lagi.
Pagi itu, Sugianto datang ke kantor dengan perasaan yang
berbeda. Tidak lagi hampa seperti beberapa hari lalu. Ada semacam ketenangan
yang mulai tumbuh. Mungkin karena ia sudah mulai menerima bahwa perpisahan
adalah bagian dari perjalanan.
Namun ada satu hal yang belum selesai. Anto.
Sejak mahasiswa KKN pergi, Anto semakin sering muncul.
Kadang di warung, kadang di pinggir jalan, kadang hanya berdiri di kejauhan
sambil mengawasi. Sugianto tahu Anto sedang menunggu. Menunggu saat yang tepat
untuk menyerang.
Ketika masuk, Ibu Yuni sudah di meja kerjanya. Ia menatap
Sugianto dengan senyum tipis.
"Gi, kamu datang tepat waktu," katanya.
"Seperti biasa, Bu."
"Bagus." Ibu Yuni menunjuk kursi di hadapannya.
"Duduk. Kita bicara."
Sugianto duduk. "Ada apa, Bu?"
Ibu Yuni membuka catatan. "Kamu tinggal beberapa hari
lagi, kan?"
"Iya, Bu. Tiga hari lagi."
"Sudah siap?"
Sugianto berpikir. "Saya tidak tahu, Bu. Tapi saya
akan berusaha."
Ibu Yuni tersenyum. "Kamu sudah banyak berubah, Gi.
Ketika pertama datang, kamu masih canggung. Sekarang kamu sudah seperti bagian
dari keluarga."
Sugianto merasa hangat. "Terima kasih, Bu."
"Ada satu hal yang ingin saya sampaikan."
"Apa, Bu?"
"Jangan pernah berhenti belajar. Di mana pun kamu
berada. Apa pun pekerjaanmu." Ibu Yuni menatapnya serius. "Itu yang
membuat orang tumbuh."
Sugianto mengangguk. "Saya ingat, Bu."
"Dan satu lagi," tambah Ibu Yuni dengan nada
lebih pelan. "Hati-hati dengan Anto. Saya dengar dia semakin sering
berkeliaran di sekitar kantor."
Sugianto menghela napas. "Saya tahu, Bu."
"Jangan biarkan dia mengganggu hari-hari terakhirmu di
sini."
"Saya akan berusaha, Bu."
---
Setelah berbicara dengan Ibu Yuni, Sugianto membantu Pak
Eko memeriksa data perencanaan. Pak Eko sedang menyusun laporan akhir tahun.
"Gi, coba lihat ini," kata Pak Eko sambil menunjuk
layar.
Sugianto mendekat. "Apa ini, Pak?"
"Data pembangunan desa tahun ini. Termasuk yang
dibantu mahasiswa KKN."
Sugianto membaca. Ada daftar kegiatan, anggaran, dan
capaian.
"Pak, ini semua berjalan?"
"Sebagian. Ada yang sudah selesai, ada yang masih proses."
Pak Eko menatapnya. "Tapi yang penting, semua tercatat."
Sugianto mengangguk. "Saya mulai mengerti kenapa
perencanaan itu penting, Pak."
"Kenapa?"
"Karena tanpa perencanaan, kita tidak tahu apa yang
sudah dilakukan dan apa yang harus dilakukan."
Pak Eko tersenyum. "Bagus. Kamu sudah paham."
---
Siang itu, Sugianto keluar kantor untuk makan siang di
warung dekat pasar. Ia baru saja duduk ketika Anto muncul.
Anto datang dengan langkah santai, tangan di saku. Wajahnya
tersenyum—tapi senyum yang tidak pernah ramah.
"Wah, anak magang sedang makan siang," katanya
dengan nada tinggi.
Sugianto menegang. "Mas Anto."
Anto duduk di hadapannya tanpa diundang. Ia memesan kopi,
lalu menatap Sugianto.
"Tinggal tiga hari lagi, ya?" tanyanya.
"Iya, Mas."
Anto tersenyum. "Senang mendengarnya."
Sugianto tidak menjawab.
"Kamu tahu," lanjut Anto, "selama kamu di
sini, kamu sudah membuat banyak masalah."
Sugianto menatapnya. "Apa maksud Mas?"
"Surat hilang. Warga marah. Program mahasiswa yang
cuma buang-buang waktu." Anto menghitung dengan jarinya. "Dan kamu
merebut Nadia dariku."
"Nadia bukan milik Mas, Mas."
Anto tertawa kecil. "Kata-kata manis. Tapi Nadia dan
aku sudah dekat sejak kecil. Keluarga kami sudah bicara tentang masa depan.
Lalu kamu datang. Tiga bulan. Dan semuanya hancur."
Sugianto tetap tenang. "Saya tidak datang untuk
menghancurkan apa pun, Mas. Saya datang untuk belajar."
"Belajar?" Anto mendekat. "Kamu belajar
dengan merebut pacar orang?"
"Mas Anto, saya tidak..."
"Tutup mulutmu!" Anto menunjuk wajah Sugianto.
"Setelah kamu pergi, aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan bicara dengan
Nadia. Aku akan bicara dengan keluarganya. Dan aku akan memastikan kamu tidak
pernah kembali ke desa ini."
Sugianto berdiri. "Mas Anto, saya tidak takut dengan
ancaman Mas."
Anto juga berdiri. Matanya menatap Sugianto tajam.
"Kamu seharusnya takut. Karena setelah kamu pergi, aku masih di sini. Dan
aku akan melakukan apa pun untuk membuat Nadia melupakanmu."
Ia menepuk bahu Sugianto—keras. "Nikmati tiga hari
terakhirmu, anak magang."
Anto pergi. Sugianto berdiri diam, tangannya gemetar di
samping tubuh.
---
Sugianto kembali ke kantor dengan perasaan campur aduk. Ia
duduk di teras, mencoba menenangkan diri.
Nadia datang beberapa menit kemudian. Wajahnya terlihat
khawatir.
"Gi, aku dengar Anto menemuimu di warung."
Sugianto mengangguk. "Iya."
"Dia bilang apa?"
Sugianto menceritakan semuanya. Nadia mendengarkan dengan
saksama. Wajahnya semakin gelap.
"Gi," katanya setelah Sugianto selesai, "aku
minta maaf. Ini semua karena aku."
"Sudah kubilang, ini bukan salahmu."
"Tapi kalau aku tidak..." Nadia menunduk.
Sugianto meraih tangannya. "Nadia, lihat aku."
Nadia mengangkat wajah.
"Aku tidak menyesal. Tidak sedikit pun." Sugianto
tersenyum. "Aku senang bertemu denganmu. Dan aku tidak akan membiarkan
Anto menghancurkan itu."
Nadia tersenyum, meskipun matanya berkaca-kaca. "Kamu
yakin?"
"Aku yakin."
---
Sore itu, Sugianto mengunjungi Pak Sugeng dan Pak Hasan. Ia
ingin mengucapkan terima kasih dan juga meminta nasihat untuk terakhir kalinya.
"Pak Sugeng, Pak Hasan," sapa Sugianto ketika
tiba.
"Gi, masuk," kata Pak Sugeng.
Sugianto duduk di kursi tamu. Pak Hasan sudah ada di sana,
minum teh.
"Ada apa, Gi?" tanya Pak Hasan.
"Saya mau mengucapkan terima kasih. Sudah banyak
membantu saya selama magang."
Pak Sugeng tersenyum. "Kami hanya memberi nasihat.
Kamu yang menjalankannya."
"Tapi nasihat Bapak-bapak sangat berarti."
Pak Hasan menatapnya. "Kamu sudah berkembang, Gi. Kami
bangga padamu."
"Terima kasih, Pak."
Pak Sugeng menambahkan, "Kalau nanti kamu sukses,
jangan lupakan desa ini."
"Saya tidak akan lupa, Pak."
"Dan kalau ada kesempatan, kembali lagi."
Sugianto tersenyum. "Saya akan coba, Pak."
Pak Hasan memandangnya dengan tatapan tajam. "Ada yang
mengganggumu, Gi?"
Sugianto terdiam. Kemudian ia menceritakan tentang
Anto—ancamannya, kedatangannya di warung, dan rencananya untuk mengambil Nadia
setelah Sugianto pergi.
Pak Sugeng menghela napas. "Anto memang keras
kepala."
Pak Hasan menambahkan, "Tapi dia bukan orang jahat.
Dia hanya kehilangan arah."
"Bagaimana saya harus menghadapinya, Pak?" tanya
Sugianto.
Pak Sugeng berpikir. "Jangan membencinya. Jangan
membalas kejahatan dengan kejahatan. Tunjukkan bahwa kamu datang untuk
kebaikan."
"Tapi dia terus mengancam saya, Pak."
"Kadang orang yang paling keras justru yang paling
takut." Pak Sugeng menatapnya. "Anto takut kehilangan. Takut
ditinggalkan. Itu sebabnya dia marah."
Sugianto meresapi kata-kata itu.
"Kamu sudah melakukan yang terbaik, Gi," kata Pak
Hasan. "Pergilah dengan damai. Biarkan Anto belajar dengan caranya
sendiri."
---
Malam itu, Sugianto duduk di kamar kos. Ia membuka buku
catatan dan menulis:
"Hari ini aku menyelesaikan laporan magang. Aku juga
serah terima tugas ke Pak Eko. Aku berbicara dengan Nadia tentang masa depan.
Dan aku mengucapkan terima kasih pada Pak Sugeng dan Pak Hasan."
"Tapi Anto masih mengancam. Hari ini dia menemuiku di
warung. Dia bilang dia akan merebut Nadia setelah aku pergi."
"Aku takut. Bukan karena ancamannya. Tapi karena aku
tidak tahu apakah Nadia akan kuat menghadapinya sendiri."
"Tapi aku percaya pada Nadia. Dan aku percaya pada apa
yang kami bangun."
"Tinggal tiga hari lagi. Aku akan memanfaatkannya
sebaik mungkin."
Ia menutup buku. Di luar, malam semakin larut.
Ponselnya bergetar. Nadia.
"Gi, aku tidak bisa tidur. Aku terus memikirkan
Anto."
Sugianto membalas:
"Aku juga. Tapi kita tidak boleh membiarkannya
mengendalikan kita."
Nadia:
"Aku takut, Gi. Takut setelah kamu pergi, Anto akan
melakukan sesuatu."
Sugianto:
"Kamu tidak sendiri, Nadia. Herman dan yang lain ada.
Pak Sugeng dan Pak Hasan juga."
Nadia:
"Aku tahu. Tapi aku tetap takut."
Sugianto:
"Aku akan selalu ada untukmu. Meskipun jarak
memisahkan."
Nadia tidak membalas untuk beberapa saat. Kemudian:
"Aku percaya padamu, Gi."
Sugianto:
"Aku juga percaya padamu. Tidurlah."
Nadia:
"Kamu juga."
Sugianto mematikan ponsel. Namun sebelum ia bisa tidur, ada
suara dari luar.
Langkah kaki. Pelan. Mendekat.
Sugianto menegang. Ia berjalan ke jendela dan mengintip ke
luar.
Di bawah pohon, bayangan seseorang berdiri. Anto. Rokok di
bibirnya. Matanya menatap kamar Sugianto.
Mereka saling menatap beberapa detik. Kemudian Anto
tersenyum—senyum dingin—dan pergi.
Sugianto berdiri diam di depan jendela. Dadanya berdegup
kencang.
---
Pagi berikutnya, hari kelima puluh tiga Sugianto di Desa
Awan Biru. Dua hari lagi.
Ia datang ke kantor dengan perasaan waspada. Anto tidak
muncul. Tapi Sugianto tahu itu bukan pertanda baik. Anto sedang menyimpan
sesuatu.
Di ruang pelayanan, Ibu Lulu memanggilnya.
"Gi, ada yang ingin saya sampaikan."
"Ada apa, Bu?"
"Saya dengar dari beberapa warga, Anto sudah bicara
dengan keluarga Nadia."
Sugianto terkejut. "Bicara apa?"
"Katanya dia ingin melamar Nadia setelah kamu
pergi."
Sugianto terdiam. Dadanya terasa sesak.
"Gi," kata Ibu Lulu pelan, "kamu harus siap.
Anto tidak akan menyerah begitu saja."
Sugianto mengangguk, meskipun pikirannya kacau.
---
Siang itu, Sugianto bertemu Nadia di halaman kantor. Wajah
Nadia terlihat pucat.
"Gi," katanya dengan suara gemetar, "aku
dengar Anto sudah bicara dengan orang tuaku."
"Bu Lulu sudah bilang."
Nadia menunduk. "Orang tuaku... mereka tidak tahu
tentang kita. Mereka pikir Anto masih..."
Sugianto meraih tangannya. "Nadia, lihat aku."
Nadia mengangkat wajah.
"Aku tidak peduli apa kata Anto. Aku hanya peduli apa
yang kamu inginkan."
"Aku menginginkanmu, Gi." Nadia menatapnya.
"Tapi aku takut. Orang tuaku... mereka sudah dekat dengan keluarga Anto
sejak lama."
"Kamu harus bicara dengan mereka," kata Sugianto.
"Jelaskan perasaanmu."
"Tapi kalau mereka tidak setuju?"
Sugianto menarik napas. "Maka kita hadapi
bersama."
Nadia tersenyum, meskipun air matanya mulai jatuh.
"Aku tidak tahu bagaimana hidupku sebelum kamu datang, Gi."
"Aku juga tidak tahu bagaimana hidupku sebelum datang
ke desa ini."
Mereka saling menatap. Angin sore berhembus.
---
Malam itu, Sugianto menulis di buku catatan:
"Hari ini aku mendengar bahwa Anto sudah bicara dengan
keluarga Nadia. Dia ingin melamarnya setelah aku pergi."
"Nadia takut. Orang tuanya dekat dengan keluarga Anto."
"Aku juga takut. Tapi aku tidak akan menyerah."
"Aku akan berbicara dengan Nadia besok. Kita akan
mencari jalan bersama."
"Dua hari lagi. Aku akan memanfaatkannya sebaik
mungkin."
Ia menutup buku. Di luar, malam semakin larut.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Anto.
"Kamu sudah dengar, kan? Aku sudah bicara dengan
keluarga Nadia. Mereka setuju. Setelah kamu pergi, Nadia akan menjadi
milikku."
Sugianto menatap layar. Darahnya mendidih.
Ia membalas:
"Nadia bukan milik siapa pun. Dia punya hak
memilih."
Anto:
"Kata-kata manis anak magang. Kita lihat nanti."
Sugianto tidak membalas lagi. Ia mematikan ponsel dan
memejamkan mata.
---
BAB XIX
Hari-Hari
Terakhir di Desa Awan Biru
Hari kelima puluh empat Sugianto di Desa Awan Biru. Dua
hari lagi masa magangnya berakhir.
Pagi itu, Sugianto terbangun lebih awal dari biasanya. Ia
tidak bisa tidur nyenyak. Pikirannya penuh dengan hari-hari yang akan dilewati,
orang-orang yang akan ditinggalkan, dan perasaan yang masih hangat di dadanya.
Juga tentang Anto. Tentang ancaman terakhirnya. Tentang
keluarga Nadia.
Ia mandi, berpakaian, dan berangkat ke kantor lebih cepat
dari biasanya. Ketika tiba, kantor masih sepi. Hanya Si Amat yang sudah di
depan komputer.
"Pagi, Gi," sapa Si Amat tanpa menoleh.
"Pagi, Pak Amat."
"Kamu pagi sekali. Biasanya kamu datang jam setengah
delapan."
"Saya tidak bisa tidur, Pak."
Si Amat berbalik. "Kenapa? Gugup?"
Sugianto duduk di mejanya. "Sedikit, Pak. Dan
sedih."
"Karena dua hari lagi?"
Sugianto mengangguk. "Iya, Pak."
Si Amat tersenyum. "Wajar. Tapi jangan biarkan
kesedihan mengganggumu. Masih ada dua hari. Manfaatkan."
"Baik, Pak."
"Ada pekerjaan yang harus kamu selesaikan?"
Sugianto mengeluarkan daftar dari tasnya. "Ada
beberapa. Laporan magang, serah terima tugas, dan..."
"Dan?"
Sugianto tersenyum. "Dan mengucapkan selamat
tinggal."
Si Amat mengangguk. "Itu yang paling sulit."
---
Pukul delapan, Ibu Yuni datang. Ia melihat Sugianto sudah
duduk di mejanya.
"Gi, kamu sudah di sini?"
"Sudah, Bu."
"Ada yang bisa saya bantu?"
Sugianto mengangguk. "Bu, saya mau menyelesaikan
laporan magang. Ada beberapa bagian yang ingin saya tanyakan."
Ibu Yuni duduk di sampingnya. "Silakan."
Sugianto membuka laptop. "Bagian ini, Bu. Tentang
kegiatan administrasi. Saya sudah menulisnya, tapi saya ingin memastikan tidak
ada yang salah."
Ibu Yuni membaca. Matanya bergerak cepat dari satu paragraf
ke paragraf lain.
"Ini sudah benar," katanya. "Tapi tambahkan
satu kalimat tentang pentingnya ketelitian."
"Baik, Bu."
Sugianto menambahkan kalimat itu. Ibu Yuni membaca ulang.
"Sekarang sudah baik."
"Terima kasih, Bu."
Ibu Yuni menatapnya. "Gi, kamu tahu? Saya senang
melihat perkembanganmu."
Sugianto tersenyum. "Terima kasih, Bu. Saya belajar
banyak dari Ibu."
"Jangan lupa apa yang sudah kamu pelajari."
"Saya tidak akan lupa, Bu."
---
Setelah menyelesaikan laporan, Sugianto menemui Pak Eko di
ruang perencanaan.
"Pak Eko, saya mau serahkan data yang sudah saya
kumpulkan."
Pak Eko menerima dokumen itu. Ia membacanya sebentar.
"Bagus, Gi. Ini lengkap."
"Terima kasih, Pak."
Pak Eko menatapnya. "Kamu tinggal dua hari lagi?"
"Iya, Pak."
"Sudah siap?"
Sugianto tersenyum. "Saya tidak tahu, Pak. Tapi saya
akan berusaha."
Pak Eko mengangguk. "Kamu orang yang baik, Gi. Jangan
berubah."
"Saya tidak akan berubah, Pak."
Pak Eko mengulurkan tangan. "Terima kasih sudah
membantu."
Sugianto menjabatnya. "Terima kasih sudah mengajari
saya, Pak."
---
Siang itu, Sugianto bertemu Nadia di halaman kantor. Nadia
membawa dua gelas es teh.
"Kamu kelihatan capek," katanya sambil menyerahkan
satu gelas.
Sugianto menerimanya. "Aku capek. Tapi aku
senang."
"Kenapa senang?"
"Karena aku bisa menyelesaikan semua pekerjaan."
Nadia tersenyum. "Bagus."
Mereka duduk di bangku di bawah pohon. Angin siang
berhembus.
"Nadia," panggil Sugianto.
"Iya?"
"Aku mau tanya sesuatu."
"Tanya saja."
"Setelah aku pergi, apa yang akan kamu lakukan?"
Nadia menatapnya. "Aku akan tetap di sini. Menjaga
warung. Membantu perpustakaan digital. Melanjutkan kegiatan pemuda."
"Kamu tidak akan bosan?"
Nadia tersenyum. "Aku akan merindukanmu. Tapi aku
tidak akan bosan."
Sugianto meraih tangannya. "Aku juga akan
merindukanmu."
"Kamu tidak akan lupa padaku, kan?"
"Tidak mungkin."
Nadia tersenyum. "Bagus."
Mereka duduk dalam diam. Angin berhembus. Daun-daun
berguguran.
---
Namun dari balik pagar, Anto mengamati. Ia sudah berdiri di
sana sejak tadi, menunggu saat yang tepat.
Ia mendekat. Langkahnya pelan, tapi tegas.
"Nadia," panggilnya dengan nada datar.
Nadia menoleh. "Anto."
"Orang tuamu minta kamu pulang. Ada yang mau dibicarakan."
Nadia mengerutkan dahi. "Tentang apa?"
"Tentang kita." Anto tersenyum tipis. "Dan
tentang masa depan."
Nadia menatap Sugianto. "Gi..."
"Pergilah," kata Sugianto pelan. "Kita
bicara nanti."
Nadia berdiri. Ia menatap Anto dengan tatapan tajam.
"Aku akan bicara dengan orang tuaku. Tapi bukan tentang kita."
Anto tersenyum—tapi matanya dingin. "Terserah
kamu."
Nadia pergi. Sugianto dan Anto berdiri berhadapan.
"Kamu lihat?" kata Anto pelan. "Dia tetap
pulang ketika orang tuanya memanggil."
"Karena dia menghormati orang tuanya."
Anto tertawa kecil. "Kamu selalu punya jawaban, ya.
Tapi setelah kamu pergi, aku yang akan ada di sampingnya. Aku yang akan bicara
dengan orang tuanya. Aku yang akan meminangnya."
Sugianto menatap Anto dengan tenang. "Kalau Nadia setuju,
aku tidak akan menghalangi. Tapi kalau dia tidak setuju, tidak ada yang bisa
memaksanya."
Anto mendekat. "Kamu pikir dengan kata-kata manismu,
kamu bisa mengalahkanku?"
"Saya tidak ingin mengalahkan siapa pun, Mas Anto.
Saya hanya ingin yang terbaik untuk Nadia."
Anto tersenyum sinis. "Kata-kata bagus dari anak
magang yang akan pergi."
Ia berbalik. Sebelum pergi, ia menoleh.
"Besok hari terakhirmu. Nikmati."
---
Sore itu, Sugianto mengunjungi Pak Sugeng dan Pak Hasan. Ia
ingin mengucapkan terima kasih secara langsung.
"Pak Sugeng, Pak Hasan," sapa Sugianto ketika
tiba.
"Gi, masuk," kata Pak Sugeng.
Sugianto duduk di kursi tamu. Pak Hasan sudah ada di sana,
minum teh.
"Ada apa, Gi?" tanya Pak Hasan.
"Saya mau mengucapkan terima kasih. Sudah banyak membantu
saya selama magang."
Pak Sugeng tersenyum. "Kami hanya memberi nasihat.
Kamu yang menjalankannya."
"Tapi nasihat Bapak-bapak sangat berarti."
Pak Hasan menatapnya. "Kamu sudah berkembang, Gi. Kami
bangga padamu."
"Terima kasih, Pak."
Pak Sugeng menambahkan, "Kalau nanti kamu sukses,
jangan lupakan desa ini."
"Saya tidak akan lupa, Pak."
"Dan kalau ada kesempatan, kembali lagi."
Sugianto tersenyum. "Saya akan coba, Pak."
Pak Hasan memandangnya dengan tatapan tajam. "Ada yang
mengganggumu, Gi?"
Sugianto menceritakan pertemuannya dengan Anto di halaman
kantor.
Pak Sugeng menghela napas. "Anto tidak akan berhenti,
Gi. Tapi kamu sudah melakukan yang terbaik."
"Bagaimana dengan Nadia, Pak?" tanya Sugianto.
Pak Hasan menjawab, "Nadia adalah gadis yang kuat. Dia
tahu apa yang dia inginkan. Percayalah padanya."
"Tapi orang tuanya..."
"Orang tua Nadia adalah orang baik," kata Pak
Sugeng. "Mereka mungkin dekat dengan keluarga Anto. Tapi mereka juga
mencintai anak mereka. Mereka tidak akan memaksa."
Sugianto merasa sedikit lega. "Terima kasih,
Pak."
---
Malam itu, Sugianto duduk di kamar kos. Ia membuka buku
catatan dan menulis:
"Hari ini aku menyelesaikan laporan magang. Aku juga
serah terima tugas ke Pak Eko. Aku berbicara dengan Nadia tentang masa depan.
Dan aku mengucapkan terima kasih pada Pak Sugeng dan Pak Hasan."
"Tapi Anto terus mengancam. Hari ini dia memanggil
Nadia pulang. Dia bilang orang tuanya mau bicara tentang masa depan
mereka."
"Aku takut. Bukan karena ancamannya. Tapi karena aku
tidak tahu apakah Nadia akan kuat menghadapi tekanan dari keluarganya."
"Tapi Pak Sugeng dan Pak Hasan bilang orang tua Nadia
adalah orang baik. Mereka tidak akan memaksa."
"Tinggal dua hari lagi. Aku akan memanfaatkannya
sebaik mungkin."
"Aku akan merindukan desa ini. Aku akan merindukan
orang-orangnya. Aku akan merindukan Nadia."
Ia menutup buku. Di luar, malam semakin larut.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Anto.
"Besok hari terakhirmu. Aku sudah bicara dengan orang
tua Nadia. Mereka setuju. Setelah kamu pergi, semuanya akan kembali seperti
semula."
Sugianto menatap layar. Dadanya berdegup.
Ia membalas:
"Kita lihat nanti, Mas Anto."
Anto:
"Kamu masih berani? Besok kita lihat siapa yang
menang."
Sugianto tidak membalas. Hanya mematikan ponsel.
---
Pagi berikutnya, hari kelima puluh lima Sugianto di Desa
Awan Biru. Satu hari lagi.
Ia datang ke kantor dengan perasaan campur aduk. Hari ini
ia akan berpamitan dengan semua orang.
Di ruang pelayanan, Ibu Lulu sedang melayani warga.
Sugianto menunggu sampai selesai.
"Bu Lulu," panggilnya.
Ibu Lulu menoleh. "Gi. Ada apa?"
"Saya mau berpamitan, Bu."
Ibu Lulu tersenyum. "Besok kamu pulang?"
"Iya, Bu."
"Sudah siap?"
Sugianto mengangguk. "Saya sudah siap, Bu. Tapi saya
sedih."
"Wajar." Ibu Lulu menepuk bahunya. "Kamu
sudah seperti keluarga di sini."
"Terima kasih, Bu. Sudah banyak mengajari saya."
"Kamu anak yang baik, Gi. Sukses selalu."
Sugianto tersenyum. "Terima kasih, Bu."
---
Ia kemudian menemui Bu Endang di ruang administrasi.
"Bu Endang," panggilnya.
Bu Endang mengangkat wajah. "Gi. Ada apa?"
"Saya mau berpamitan, Bu. Besok saya pulang."
Bu Endang tersenyum. "Kamu sudah selesai magang?"
"Iya, Bu."
"Bagaimana perasaanmu?"
"Saya sedih, Bu. Tapi saya juga senang."
Bu Endang mengangguk. "Kamu sudah banyak berubah, Gi.
Ketika pertama datang, kamu masih canggung. Sekarang kamu sudah seperti orang
dewasa."
"Terima kasih, Bu."
"Jangan lupa apa yang sudah kamu pelajari."
"Saya tidak akan lupa, Bu."
---
Siang itu, Sugianto bertemu Pak Edi di teras.
"Pak Edi," panggilnya.
Pak Edi menoleh. "Gi. Besok pulang?"
"Iya, Pak."
"Sudah siap?"
"Saya sudah siap, Pak. Tapi saya akan merindukan semua
ini."
Pak Edi tersenyum. "Itu tanda bahwa kamu sudah menjadi
bagian dari desa ini."
"Terima kasih, Pak. Sudah banyak mengajari saya
tentang masyarakat."
"Kamu sudah belajar dengan baik, Gi. Teruslah seperti
ini."
"Baik, Pak."
---
Sore itu, Sugianto mengunjungi Herman, Yulia, dan Anita di
posko pemuda.
"Mas Herman, Mbak Yulia, Mbak Anita," sapa
Sugianto.
"Gi," sapa Herman. "Besok pulang?"
"Iya, Mas."
"Kami akan merindukanmu."
Sugianto tersenyum. "Aku juga akan merindukan
kalian."
Yulia berkata, "Terima kasih sudah banyak
membantu."
Anita menambahkan, "Kamu sudah seperti saudara."
Sugianto merasa hangat. "Terima kasih. Jaga
perpustakaan digital, ya."
Herman mengangguk. "Kami akan menjaganya."
"Dan jangan lupa kegiatan pemuda."
"Tidak akan."
Sugianto memeluk mereka satu per satu. "Sampai
jumpa."
"Sampai jumpa, Gi."
---
Menjelang sore, Nadia datang. Ia berdiri di halaman,
menatap Sugianto dari kejauhan.
Sugianto menghampirinya. "Nadia."
Nadia tersenyum. Tapi matanya berkaca-kaca. "Besok
kamu pulang?"
"Iya."
Mereka berdiri dalam diam. Angin sore berhembus.
"Nadia," panggil Sugianto pelan.
"Iya?"
"Aku tidak tahu bagaimana mengucapkan selamat tinggal."
Nadia meraih tangannya. "Kamu tidak perlu mengucapkan
selamat tinggal. Cukup ucapkan sampai jumpa."
Sugianto tersenyum. "Sampai jumpa, Nadia."
Nadia menatapnya. "Sampai jumpa, Gi."
Mereka saling memandang. Kemudian Nadia memeluknya erat.
"Jangan lupa aku," bisiknya.
Sugianto membalas pelukan itu. "Aku tidak akan pernah
lupa."
Mereka melepaskan pelukan. Nadia tersenyum, meskipun air
matanya mulai jatuh.
"Pergilah," katanya. "Sebelum aku menangis
lebih keras."
Sugianto tersenyum sedih. "Aku akan kembali."
"Aku tunggu."
---
Malam itu, Sugianto menulis di buku catatan:
"Hari ini aku berpamitan dengan Ibu Lulu, Bu Endang,
Pak Edi, Herman, Yulia, dan Anita. Mereka semua baik padaku. Mereka mengucapkan
selamat tinggal dengan hangat."
"Dan Nadia... aku memeluknya. Aku bilang aku akan
kembali. Dia bilang dia akan menunggu."
"Besok hari terakhir. Aku akan mengucapkan selamat
tinggal pada desa ini."
"Tapi Anto masih ada. Aku tahu dia tidak akan
berhenti."
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Tapi
aku tahu, Desa Awan Biru akan selalu menjadi bagian dari hidupku."
"Dan Nadia... aku tidak akan menyerah padanya."
Ia menutup buku dan memejamkan mata.
"Besok. Hari terakhir."
---
BAB XX
Ketika
Langkah Harus Pulang
Hari kelima puluh enam Sugianto di Desa Awan Biru. Hari
terakhir masa magangnya.
Pagi itu, Sugianto terbangun sebelum alarm berbunyi. Ia
sudah tidak bisa tidur sejak pukul empat. Pikirannya penuh dengan hari yang
akan dijalani. Ia memandang langit-langit kamar kosnya untuk terakhir kalinya.
Dinding-dinding sederhana yang selama tiga bulan menjadi tempatnya
beristirahat. Meja kecil yang menjadi tempatnya menulis catatan setiap malam.
Ia bangun, mandi, dan berpakaian dengan perlahan. Ia ingin
menikmati setiap momen pagi itu. Setelah siap, ia memandangi kamar kosnya
sekali lagi.
"Terima kasih sudah menjadi rumah sementara,"
bisiknya.
Ia mengangkat tasnya dan keluar. Langkahnya terasa berat.
Hari ini adalah hari terakhir. Setelah ini, ia harus meninggalkan Desa Awan
Biru.
---
Ketika tiba di kantor, suasana sudah berbeda. Beberapa
perangkat desa sudah ada. Pak Iwan sudah di ruang kerjanya. Ibu Yuni sedang
memeriksa dokumen. Si Amat di depan komputer. Ibu Lulu menyiapkan ruang
pelayanan.
Sugianto berdiri di halaman, memandangi papan nama kantor
desa untuk terakhir kalinya.
PEMERINTAH DESA AWAN BIRU
Ia tersenyum. Tiga bulan lalu, papan itu terasa asing.
Sekarang ia tahu, di balik papan itu ada orang-orang yang telah mengajarinya
banyak hal.
"Gi," panggil Si Amat dari pintu.
Sugianto menoleh. "Pak Amat."
"Masuk. Ada yang mau kamu tanda tangani."
Sugianto masuk. Si Amat menyerahkan sebuah dokumen.
"Ini surat keterangan selesai magang. Tanda
tangani."
Sugianto membaca surat itu. Ada namanya, tanggal magang,
dan keterangan bahwa ia telah menyelesaikan tugas dengan baik. Ia
menandatanganinya.
"Terima kasih, Pak."
Si Amat tersenyum. "Kamu sudah resmi selesai."
Sugianto tersenyum. Tapi ada rasa sedih di balik senyum
itu.
---
Setelah menandatangani surat, Sugianto menghampiri Pak Iwan
di ruang kerjanya. Ia mengetuk pintu.
"Masuk."
Sugianto masuk. Pak Iwan sedang duduk di balik meja,
membaca beberapa dokumen. Ia mengangkat wajah ketika melihat Sugianto.
"Gi. Duduk."
Sugianto duduk di kursi di hadapan Pak Iwan. Tangannya
diletakkan di pangkuan.
"Pak, saya mau mengucapkan terima kasih,"
katanya.
Pak Iwan meletakkan dokumennya. "Untuk apa?"
"Untuk semua yang sudah Bapak ajarkan. Untuk
kesempatan yang sudah diberikan. Untuk kepercayaan yang sudah Bapak
berikan."
Pak Iwan tersenyum. "Kamu sendiri yang menjalankannya,
Gi. Kami hanya memberi jalan."
"Tapi tanpa Bapak dan yang lain, saya tidak akan
sampai di sini."
Pak Iwan mengangguk. "Kamu sudah banyak berubah, Gi.
Ketika pertama datang, kamu masih canggung. Sekarang kamu sudah seperti orang
dewasa."
"Terima kasih, Pak."
Pak Iwan menatapnya. "Satu pesan dari saya."
"Siap, Pak."
"Jangan pernah berhenti belajar. Di mana pun kamu
berada. Apa pun pekerjaanmu. Jadilah orang yang terus tumbuh."
Sugianto mengangguk. "Saya ingat, Pak."
Pak Iwan mengulurkan tangan. "Selamat jalan, Gi. Desa
ini akan selalu terbuka untukmu."
Sugianto menjabat tangannya. Tangannya sedikit gemetar.
"Terima kasih, Pak."
---
Setelah dari ruang Pak Iwan, Sugianto menemui Ibu Yuni. Ia
sedang merapikan dokumen di meja kerjanya.
"Bu Yuni," panggil Sugianto.
Ibu Yuni menoleh. "Gi. Sudah selesai?"
"Sudah, Bu. Saya mau pamit."
Ibu Yuni berdiri. Ia menatap Sugianto dengan senyum hangat.
"Kamu sudah menyelesaikan semuanya?"
"Sudah, Bu. Laporan, serah terima tugas,
semuanya."
"Bagus." Ibu Yuni mendekat. "Gi, saya bangga
padamu."
Sugianto terkejut. "Bu..."
"Benar. Kamu datang sebagai anak magang yang canggung.
Sekarang kamu pergi sebagai seseorang yang sudah memahami tanggung jawab."
Sugiantu menunduk. "Terima kasih, Bu. Saya belajar
banyak dari Ibu."
"Jangan lupa apa yang sudah kamu pelajari."
"Saya tidak akan lupa, Bu."
Ibu Yuni memeluknya. "Sukses selalu, Gi."
Sugianto membalas pelukan itu. "Terima kasih,
Bu."
---
Sugianto kemudian menemui Pak Eko di ruang perencanaan.
"Pak Eko," panggilnya.
Pak Eko mengangkat wajah dari laptopnya. "Gi. Besok
pulang?"
"Hari ini, Pak."
Pak Eko tersenyum. "Sudah siap?"
"Saya sudah siap, Pak. Tapi saya sedih."
"Wajar." Pak Eko berdiri dan mendekat. "Kamu
sudah seperti anak sendiri di sini."
"Terima kasih, Pak. Sudah banyak mengajari saya
tentang perencanaan dan data."
"Kamu belajar dengan baik, Gi. Jangan berhenti."
"Saya tidak akan berhenti, Pak."
Pak Eko menjabat tangannya. "Sukses selalu."
"Terima kasih, Pak."
---
Sugianto kemudian menemui Ibu Lulu di ruang pelayanan. Ibu
Lulu sedang melayani warga. Sugianto menunggu sampai selesai.
"Bu Lulu," panggilnya kemudian.
Ibu Lulu menoleh. "Gi. Ada apa?"
"Saya mau pamit, Bu. Saya pulang hari ini."
Ibu Lulu tersenyum. "Sudah selesai?"
"Sudah, Bu."
"Bagaimana perasaanmu?"
"Saya sedih, Bu. Tapi saya juga bersyukur."
Ibu Lulu mendekat. "Kamu sudah banyak belajar, Gi.
Dari meja pelayanan ini, kamu belajar tentang manusia."
"Terima kasih, Bu. Ibu sudah mengajari saya banyak hal
tentang kesabaran dan pelayanan."
"Kamu anak yang baik, Gi. Sukses selalu."
Sugianto tersenyum. "Terima kasih, Bu."
---
Sugianto kemudian menemui Bu Endang di ruang administrasi.
"Bu Endang," panggilnya.
Bu Endang mengangkat wajah. "Gi. Pulang hari
ini?"
"Iya, Bu."
"Sudah siap?"
"Saya sudah siap, Bu."
Bu Endang tersenyum tipis. "Kamu sudah berubah banyak,
Gi. Dulu kamu masih ceroboh. Sekarang kamu sudah teliti."
"Terima kasih, Bu. Karena Ibu yang mengajari."
"Jangan lupa apa yang sudah kamu pelajari."
"Saya tidak akan lupa, Bu."
Bu Endang menjabat tangannya. "Sukses selalu."
"Terima kasih, Bu."
---
Sugianto kemudian menemui Pak Edi di teras.
"Pak Edi," panggilnya.
Pak Edi menoleh. "Gi. Pulang hari ini?"
"Iya, Pak."
"Sudah siap?"
"Saya sudah siap, Pak. Tapi saya akan merindukan semua
ini."
Pak Edi tersenyum. "Kamu sudah menjadi bagian dari
desa ini, Gi."
"Terima kasih, Pak. Sudah banyak mengajari saya
tentang masyarakat."
"Kamu belajar dengan baik, Gi. Teruslah peduli pada
orang lain."
"Saya akan, Pak."
Pak Edi memeluknya. "Sukses selalu."
"Terima kasih, Pak."
---
Siang itu, Sugianto mengunjungi Pak Sugeng dan Pak Hasan
untuk terakhir kalinya. Mereka duduk di teras rumah Pak Sugeng.
"Pak Sugeng, Pak Hasan," sapa Sugianto.
"Gi," kata Pak Sugeng. "Pulang hari
ini?"
"Iya, Pak."
Pak Hasan tersenyum. "Sudah siap?"
"Saya sudah siap, Pak. Tapi saya akan merindukan
nasihat Bapak-bapak."
Pak Sugeng mengangguk. "Kami juga akan merindukanmu,
Gi."
"Terima kasih sudah banyak mengajari saya."
Pak Hasan menepuk bahunya. "Kamu sudah berkembang, Gi.
Kami bangga padamu."
"Jangan lupakan desa ini," tambah Pak Sugeng.
"Saya tidak akan lupa, Pak."
"Dan kalau ada kesempatan, kembali lagi."
Sugianto tersenyum. "Saya akan coba, Pak."
Pak Sugeng mengulurkan tangan. "Sukses selalu."
Sugianto menjabatnya. "Terima kasih, Pak."
---
Sore itu, Herman, Yulia, dan Anita datang ke kantor. Mereka
ingin mengucapkan selamat tinggal.
"Gi," sapa Herman.
"Mas Herman, Mbak Yulia, Mbak Anita."
Herman memeluknya. "Kami akan merindukanmu."
"Terima kasih, Mas."
Yulia mendekat. "Kamu sudah seperti saudara."
Anita menambahkan, "Jangan lupa kami."
Sugianto tersenyum. "Aku tidak akan lupa kalian."
Herman menatapnya. "Jaga diri, Gi."
"Kalian juga, Mas."
---
Joko, Titik, dan Juana datang berlarian. Mereka memegang
gambar-gambar yang mereka buat.
"Kak Sugianto!" teriak Joko.
Sugianto berjongkok. "Ada apa?"
"Ini untuk Kakak." Joko menyerahkan gambar.
Sugianto menerimanya. Ada gambar kantor desa, pohon besar,
dan beberapa orang berdiri bersama. Di bawahnya tertulis: "Terima
kasih, Kak Sugianto."
Sugianto menahan air mata. "Terima kasih, Jok."
Titik menyerahkan gambar lain. "Ini dari aku."
Juana juga menyerahkan gambarnya.
Sugianto memeluk mereka bertiga. "Kakak akan
merindukan kalian."
"Kapan Kakak kembali?" tanya Joko.
"Suatu hari nanti," jawab Sugianto.
"Janji?" tanya Titik.
Sugianto mengangguk. "Janji."
Anak-anak itu berlari pergi. Sugianto masih memandangi
gambar-gambar itu.
---
Menjelang sore, Nadia datang. Ia berdiri di halaman,
menatap Sugianto dari kejauhan.
Namun sebelum Sugianto bisa menghampirinya, Anto muncul
dari balik pohon. Ia berjalan mendekati Nadia dengan langkah tegap.
"Nadia," katanya dengan nada tegas, "orang
tuamu minta kamu pulang."
Nadia menatap Anto dengan tajam. "Anto, aku sudah
bilang. Aku tidak mau."
"Tapi orang tuamu..."
"Aku akan bicara dengan orang tuaku sendiri."
Nadia menatapnya. "Kamu tidak perlu ikut campur."
Anto terdiam. Wajahnya mengeras. "Kamu memilih
dia?"
"Aku sudah memilih, Anto. Sudah lama."
Anto menatap Sugianto. Matanya menyala dengan kemarahan.
"Ini semua karena dia," katanya dengan suara
pelan tapi mengancam. "Dia datang tiga bulan dan menghancurkan
segalanya."
"Anto," kata Nadia, "kamu yang menghancurkan
segalanya sendiri. Dengan kebencianmu. Dengan kecemburuanmu."
Anto tidak menjawab. Ia hanya menatap Sugianto.
"Kamu pikir kamu menang, anak magang?" katanya.
"Kamu pergi hari ini. Tapi aku tetap di sini. Aku akan menunggu."
Sugianto menatap Anto dengan tenang. "Saya tidak
menang, Mas Anto. Dan saya juga tidak kalah. Saya hanya menjalani hidup saya.
Saya tidak datang untuk menghancurkan apa pun. Saya datang untuk belajar."
Anto mendengus. "Kata-kata manis."
"Bukan manis, Mas. Itu kenyataan." Sugianto
melangkah mendekat. "Saya tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
Tapi saya tahu satu hal: Nadia bukan milik siapa pun. Dia punya hak memilih.
Dan saya akan menghormati pilihannya."
Anto terdiam. Ia menatap Sugianto lama. Kemudian ia menatap
Nadia.
"Aku tidak akan menyerah," katanya pelan.
"Terserah kamu," kata Nadia. "Tapi aku sudah
memilih."
Anto berbalik dan pergi. Langkahnya tegap, tapi kali ini
ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang terasa seperti kekalahan.
---
Sugianto menghampiri Nadia. "Kamu baik-baik
saja?"
Nadia mengangguk, meskipun tangannya gemetar. "Aku...
aku minta maaf. Harus berakhir seperti ini."
"Tidak apa-apa." Sugianto meraih tangannya.
"Kita sudah melalui semua ini bersama."
Nadia tersenyum. "Kamu benar."
Mereka berdiri dalam diam. Angin sore berhembus.
"Nadia," panggil Sugianto pelan.
"Iya?"
"Aku tidak tahu bagaimana mengucapkan selamat
tinggal."
Nadia meraih tangannya. "Kamu tidak perlu mengucapkan
selamat tinggal. Cukup ucapkan sampai jumpa."
Sugianto tersenyum. "Sampai jumpa, Nadia."
Nadia menatapnya. "Sampai jumpa, Gi."
Mereka saling memandang. Kemudian Nadia memeluknya erat.
"Jangan lupa aku," bisiknya.
Sugianto membalas pelukan itu. "Aku tidak akan pernah
lupa."
Mereka melepaskan pelukan. Nadia tersenyum, meskipun air
matanya mulai jatuh.
"Pergilah," katanya. "Sebelum aku menangis
lebih keras."
Sugianto tersenyum sedih. "Aku akan kembali."
"Aku tunggu."
---
Sugianto berjalan menuju kendaraan yang sudah menunggu.
Sebelum naik, ia menoleh sekali lagi.
Pak Iwan, Ibu Yuni, Pak Eko, Ibu Lulu, Bu Endang, Pak Edi,
Si Amat, Pak Sugeng, Pak Hasan, Herman, Yulia, Anita, Joko, Titik, Juana, dan
Nadia—semua berdiri di sana.
Ia mengangkat tangan. "Terima kasih, Desa Awan
Biru!"
Mereka melambaikan tangan. Sugianto naik ke kendaraan.
Pintu ditutup. Kendaraan mulai bergerak.
Dari balik jendela, ia melihat mereka semakin kecil. Nadia
masih berdiri di sana, melambaikan tangan.
Sugianto menundukkan kepala. Air matanya akhirnya jatuh.
---
Di perjalanan, Sugianto membuka buku catatan. Ia menulis:
"Hari ini aku pulang dari Desa Awan Biru. Tiga bulan
telah berlalu. Aku datang sebagai anak magang yang canggung. Aku pergi sebagai
seseorang yang telah belajar banyak."
"Aku belajar tentang pemerintahan dari Pak Iwan.
Tentang administrasi dari Ibu Yuni. Tentang perencanaan dari Pak Eko. Tentang
pelayanan dari Ibu Lulu. Tentang ketelitian dari Bu Endang. Tentang masyarakat
dari Pak Edi. Tentang informasi dari Si Amat."
"Aku belajar tentang kebijaksanaan dari Pak Sugeng dan
Pak Hasan. Tentang persahabatan dari Herman, Yulia, dan Anita. Tentang
ketulusan dari Joko, Titik, dan Juana."
"Dan aku belajar tentang cinta dari Nadia."
"Anto... aku tidak tahu apa yang akan terjadi padanya.
Tapi aku berharap suatu hari dia menemukan kedamaian."
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
Tapi aku tahu, Desa Awan Biru akan selalu menjadi bagian dari hidupku."
"Dan Nadia... aku akan kembali untuknya."
Ia menutup buku dan memandang ke luar jendela. Desa Awan
Biru semakin jauh. Tapi jejaknya akan tetap di hatinya.
---
Dari kejauhan, Nadia masih berdiri di halaman kantor. Ia
memandang kendaraan yang semakin kecil.
Anto muncul di sampingnya. Ia tidak berkata apa-apa. Hanya
berdiri di sana.
"Nadia," katanya akhirnya.
Nadia tidak menoleh. "Apa, Anto?"
"Aku... aku minta maaf."
Nadia menoleh. Anto menunduk. Ada sesuatu di
matanya—sesuatu yang belum pernah terlihat sebelumnya.
"Aku tahu aku sudah bertingkah buruk," katanya
pelan. "Aku cemburu. Aku marah. Aku takut kehilangan."
Nadia menatapnya. "Anto..."
"Aku tidak akan mengganggumu lagi." Anto
mengangkat wajah. "Aku akan mencoba menjadi lebih baik."
Nadia tersenyum tipis. "Itu yang aku harapkan darimu,
Anto."
Anto mengangguk. Kemudian ia berbalik dan pergi. Langkahnya
pelan, tapi kali ini tidak ada amarah di dalamnya.
Nadia kembali memandang ke arah jalan. Kendaraan Sugianto
sudah hilang dari pandangan.
"Kembalilah, Gi," bisiknya. "Aku akan
menunggu."
---
EPILOG
Jejak yang Tidak Pernah
Hilang
Beberapa bulan telah berlalu sejak Sugianto meninggalkan
Desa Awan Biru.
Kehidupan desa terus berjalan. Pemerintah desa tetap
melayani masyarakat. Perpustakaan digital masih digunakan. Herman dan Nadia
mengelolanya dengan baik. Kegiatan pemuda terus berkembang. Anak-anak masih
datang untuk membaca dan belajar.
Namun ada satu perubahan yang cukup terasa. Anto, yang dulu
dikenal sebagai pemuda yang keras kepala dan penuh amarah, kini mulai berbeda.
---
Suatu pagi, Anto datang ke kantor desa. Bukan untuk
mengganggu. Bukan untuk merusak. Ia datang dengan langkah pelan dan wajah yang
lebih tenang.
Di ruang perpustakaan, Nadia sedang mengajar Joko, Titik,
dan Juana membaca di komputer. Ia terkejut melihat Anto masuk.
"Anto?" sapa Nadia dengan hati-hati.
Anto tersenyum—senyum yang tulus, bukan senyum sinis
seperti dulu.
"Nadia," katanya pelan. "Aku... aku mau
minta maaf."
Nadia menatapnya. "Untuk apa?"
"Untuk semua yang sudah aku lakukan. Untuk semua
kata-kataku. Untuk semua ancamanku." Anto menunduk. "Aku tahu aku
sudah menyakitimu. Dan aku juga menyakiti Sugianto."
Nadia terdiam. Ia tidak menyangka Anto akan datang dan
mengakui kesalahannya.
"Aku sudah bicara dengan Pak Sugeng," lanjut
Anto. "Dia membantuku memahami banyak hal. Bahwa kemarahanku hanya karena
aku takut kehilangan. Tapi aku tidak bisa memaksakan cinta."
Nadia mendekat. "Anto..."
"Aku tidak berharap kamu memaafkanku. Tapi aku ingin
kamu tahu bahwa aku berubah." Anto mengangkat wajah. "Aku akan
mencoba menjadi lebih baik."
Nadia tersenyum. "Itu yang aku harapkan darimu,
Anto."
Mereka berdiri dalam diam. Kemudian Anto menatap komputer
di hadapannya.
"Aku... boleh belajar?" tanyanya.
Nadia terkejut. "Belajar apa?"
"Perpustakaan digital. Aku ingin bisa membantu.
Seperti Sugianto dulu."
Nadia tersenyum lebar. "Tentu. Duduk."
Anto duduk di depan komputer. Untuk pertama kalinya, ia
tidak datang untuk merusak. Ia datang untuk belajar.
---
Raka dan mahasiswa KKN lainnya telah kembali ke kehidupan
kampus mereka. Namun mereka masih sering berkomunikasi dengan Sugianto. Kadang
melalui pesan, kadang melalui panggilan video. Mereka tetap menjaga hubungan
yang telah terbentuk di Desa Awan Biru.
Suatu malam, Raka menghubungi Sugianto.
"Gi, bagaimana kabarmu?"
Sugianto tersenyum mendengar suara Raka. "Baik, Mas.
Kamu?"
"Baik. Aku dengar Anto sekarang ikut membantu
perpustakaan digital."
Sugianto terkejut. "Benarkah?"
"Benar. Nadia yang cerita. Katanya Anto sudah berubah.
Dia minta maaf dan mau belajar."
Sugianto terdiam. Ia tidak pernah menyangka Anto akan
berubah.
"Aku senang mendengarnya, Mas."
"Aku juga. Itu artinya jejak kita di desa itu tidak
sia-sia." Raka tertawa kecil. "Kamu sudah berhasil mengubah
seseorang, Gi."
"Aku tidak melakukan apa-apa, Mas."
"Kamu hadir. Kamu bertahan. Kamu menunjukkan bahwa
kebaikan bisa mengalahkan kebencian." Raka terdiam sejenak. "Itu
sudah cukup."
---
Sugianto sendiri kembali ke kehidupannya sebagai mahasiswa.
Namun ia tidak lagi sama. Ia lebih dewasa. Lebih bertanggung jawab. Lebih
peduli pada orang lain.
Ia sering membuka buku catatan lamanya. Membaca kembali
catatan-catatan yang ia tulis selama tiga bulan di Desa Awan Biru. Nama-nama.
Cerita-cerita. Pelajaran-pelajaran.
Dan satu nama yang selalu membuatnya tersenyum.
Nadia.
---
Suatu malam, ia menerima pesan dari Nadia.
"Gi, apa kabar?"
Sugianto tersenyum. Ia membalas:
"Baik. Kamu?"
Nadia:
"Baik. Perpustakaan digital ramai. Anak-anak sering
datang."
Sugianto:
"Bagus. Aku senang."
Nadia:
"Ada yang mengejutkan."
Sugianto:
"Apa?"
Nadia:
"Anto sekarang ikut membantu perpustakaan."
Sugianto menatap layar. Ia tidak percaya.
"Benarkah?"
Nadia:
"Benar. Dia datang dan minta maaf. Dia bilang dia
ingin berubah."
Sugianto:
"Aku tidak menyangka."
Nadia:
"Aku juga. Tapi dia benar-benar berubah, Gi. Dia
sekarang membantu anak-anak belajar."
Sugianto tersenyum. Ia merasa ada sesuatu yang hangat di
dadanya.
"Aku senang mendengarnya."
Nadia:
"Aku juga."
Mereka diam sejenak. Kemudian Nadia mengetik lagi.
"Kapan kamu kembali ke sini?"
Sugianto menatap layar cukup lama. Kemudian ia mengetik:
"Aku tidak tahu kapan. Tapi aku pasti kembali."
Nadia:
"Aku tunggu."
Sugianto:
"Jangan lupa aku."
Nadia:
"Tidak mungkin."
---
Beberapa minggu kemudian, Sugianto menerima kabar lain.
Dari Anto.
Pesan itu datang secara tiba-tiba. Dari nomor yang dulu
sering mengirim ancaman.
"Sugianto, ini Anto."
Sugianto menatap layar dengan waspada.
"Aku tidak akan mengancammu lagi. Aku hanya ingin
minta maaf. Aku tahu aku sudah menyakitimu."
Sugianto membaca pesan itu berulang kali.
"Aku tidak berharap kamu memaafkanku. Tapi aku ingin
kamu tahu bahwa aku berubah. Aku belajar dari kesalahanku. Aku belajar dari apa
yang kamu tinggalkan di desa ini."
Sugianto tersenyum. Ia membalas:
"Terima kasih, Mas Anto. Aku menghargai ini. Dan aku
memaafkanmu."
Anto:
"Terima kasih. Suatu hari, kalau kamu kembali ke sini,
aku akan menyambutmu dengan tangan terbuka."
Sugianto:
"Aku tunggu hari itu, Mas."
---
Sugianto mematikan ponsel dan memandang langit malam.
Di kejauhan, di sebuah desa kecil yang bernama Awan Biru,
Nadia juga memandang langit yang sama.
Anto, yang kini duduk di teras rumahnya, juga memandang
langit yang sama. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia tersenyum
dengan tulus.
Mereka berpisah. Tapi jejak cinta yang tertinggal tidak
pernah hilang. Dan jejak kebaikan yang ditinggalkan Sugianto di Desa Awan Biru
terus tumbuh—bahkan pada orang yang dulu paling membencinya.
---

Komentar
Posting Komentar