Peran Pemuda Desa: Menjadi Garda Depan Literasi Digital di Era Transformasi
Peran
Pemuda Desa: Menjadi Garda Depan Literasi Digital di Era Transformasi
Latar Belakang: Dua
Wajah Desa di Era Digital
Di tengah derasnya arus teknologi digital, desa-desa di
Indonesia berada pada persimpangan yang kritis. Satu sisi, infrastruktur
digital mulai merambah: internet 4G telah menjangkau 94% wilayah Indonesia
menurut data Kominfo 2024, bahkan desa-desa terpencil mulai terhubung dengan
dunia maya. Namun, sisi lain memperlihatkan kesenjangan yang masih lebar—digitalisasi
infrastruktur belum diimbangi dengan literasi yang memadai.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 menunjukkan bahwa
meski 78% penduduk desa memiliki akses smartphone, hanya 34% yang mampu
menggunakannya untuk tujuan produktif seperti pemasaran digital, administrasi
online, atau pengembangan keterampilan. Mayoritas pengguna masih terjebak pada
lingkaran konsumsi konten hiburan dan media sosial pasif. Inilah paradoks
desa digital: terhubung tetapi belum sepenuhnya berdaya.
Pemuda Desa: Bukan
Sekadar Pengguna, Tapi Pegiat Digital
Di tengah kondisi ini, pemuda desa muncul sebagai aktor
kunci transformasi. Mereka bukan lagi sekadar "generasi penerus"
dalam narasi klasik, melainkan "penggerak masa kini" yang
memiliki modal unik:
Modal Teknologis:
Lahir dan tumbuh di era digital, pemuda desa melek teknologi secara intuitif.
Mereka memahami algoritma media sosial, navigasi aplikasi, dan budaya digital
dengan lebih natural dibanding generasi sebelumnya.
Modal Sosial:
Sebagai bagian dari komunitas, mereka memahami konteks lokal—kearifan, masalah,
dan potensi desanya—yang sering kali tidak dipahami oleh teknolog dari kota.
Modal Kultural:
Mereka menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, mampu mengemas kearifan
lokal dalam format digital yang menarik bagi generasi muda maupun tua.
Profil Pegiat Digital
Desa: Empat Peran Strategis
- Digital Navigator
Pemuda yang bertindak sebagai pemandu bagi warga
desa—terutama kelompok lansia dan orang tua—dalam mengakses layanan digital
pemerintahan (e-surat, pelaporan online), perbankan digital, dan layanan publik
lainnya. Mereka menjadi "penerjemah" antara teknologi dan kebutuhan
sehari-hari.
- Content Creator Lokal
Menggunakan platform TikTok, Instagram, YouTube, dan
Podcast untuk mendokumentasikan dan mempromosikan potensi desa. Tidak sekadar
konten viral, tetapi konten yang bernilai edukatif: tutorial pertanian organik,
dokumentasi proses kerajinan tangan, atau cerita sejarah lokal yang hampir
punah.
- Data Activist Desa
Pemuda yang terampil mengumpulkan, mengolah, dan
memvisualisasikan data desa—dari profil kependudukan, potensi ekonomi, hingga
pemetaan lahan. Data ini menjadi basis pengambilan keputusan yang lebih akurat
bagi pemerintah desa.
- Digital Economy Enabler
Membantu UMKM desa masuk ke pasar digital: membuat katalog
online, mengelola pemasaran media sosial, hingga mengintegrasikan dengan
platform e-commerce. Mereka menjadi motor penggerak ekonomi sirkular desa.
Urgensi: Mengapa
Pemerintah Desa Harus Melibatkan Pegiat Digital Muda?
Pertama, isu efektivitas program. Dana desa yang mencapai rata-rata Rp1 miliar per desa per
tahun sering kali tidak dimanfaatkan secara optimal karena perencanaan yang
kurang berbasis data aktual. Pemuda pegiat digital dapat menyediakan data
real-time tentang kondisi desa.
Kedua, masalah transparansi. Dengan melibatkan pemuda dalam mengelola sistem informasi
desa (SID) digital, pemerintah desa dapat membangun akuntabilitas publik yang
lebih kuat. Laporan keuangan, progress pembangunan, dan pengadaan barang dapat
diakses secara terbuka.
Ketiga, krisis regenerasi kepemimpinan. Partisipasi pemuda dalam literasi digital menjadi jalan
masuk bagi mereka untuk terlibat dalam pemerintahan desa,
mempersiapkan calon-calon kepala desa, sekretaris desa, atau BPD yang melek
teknologi di masa depan.
Keempat, ancaman disrupsi digital. Tanpa literasi yang memadai, warga desa rentan terhadap
penipuan online, hoaks, eksploitasi data, dan manipulasi informasi. Pemuda
menjadi first line of defense dalam melindungi komunitasnya.
Fungsi, Maksud, dan
Tujuan Strategis
Fungsi Pegiat Digital Desa:
- Edukator: Menyelenggarakan pelatihan
bertahap sesuai kelompok usia dan kebutuhan.
- Fasilitator: Membantu proses digitalisasi
layanan dan administrasi desa.
- Inovator: Mengembangkan solusi teknologi
tepat guna berbasis masalah lokal.
- Jembatan Komunikasi: Menerjemahkan
kebijakan pemerintah pusat/daerah ke bahasa yang mudah dipahami warga.
Maksud:
Mengubah pola pikir dari konsumen teknologi menjadi produsen
konten dan solusi digital yang relevan dengan konteks desa.
Tujuan:
- Jangka pendek (1 tahun): Terbentuknya
minimal 5 pegiat digital per desa yang terampil.
- Jangka menengah (2-3 tahun): 50% UMKM desa
memiliki akses pasar digital.
- Jangka panjang (5 tahun): Desa mandiri
data, dengan sistem pemerintahan yang transparan dan partisipatif.
Dampak dan Tantangan
Nyata
Dampak Positif yang Telah Terbukti:
- Di Desa Ponggok, Klaten, pemuda mengembangkan sistem informasi
pariwisata yang meningkatkan kunjungan wisatawan 300% dalam 3 tahun.
- Desa Kandri, Semarang, berhasil memasarkan produk kerajinan rotan ke
pasar Eropa melalui e-commerce yang dikelola karang taruna.
- Di beberapa desa di Lombok, pemuda membentuk "komunitas
anti-hoaks" yang memverifikasi informasi sebelum menyebar.
Tantangan Struktural:
- Digital Divide: Kesenjangan infrastktur antara
desa di Jawa dan luar Jawa masih signifikan.
- Regulasi: Belum ada payung hukum yang
jelas dari pemerintah desa untuk melibatkan pemuda secara formal dalam
struktur pemerintahan.
- Kapasitas: Mayoritas pemuda desa hanya
menguasai aspek konsumtif teknologi, bukan aspek produksi dan keamanan
digital.
- Sustainability: Program literasi digital sering
bersifat proyek, tidak berkelanjutan karena bergantung pada pendanaan
eksternal.
- Resistensi Kultural: Ada
kecurigaan dari generasi tua bahwa digitalisasi akan mengikis nilai-nilai
tradisi.
Harapan: Menuju
Ekosistem Digital Desa yang Berkelanjutan
Pertama, diperlukan regulasi inklusif dari
pemerintah desa. Bukan sekadar Peraturan Desa, tetapi juga alokasi anggaran
tetap untuk program literasi digital dan insentif bagi pegiat muda. Pemerintah
desa dapat membentuk Unit Literasi Digital yang diisi pemuda
dengan kontrak kinerja jelas.
Kedua, kolaborasi triple helix antara
pemerintah desa, akademisi (kampus), dan sektor swasta (tech company). Program
magang pemuda desa di perusahaan teknologi, atau kuliah kerja nyata tematik
literasi digital dari kampus.
Ketiga, pendekatan kontekstual. Literasi
digital di desa nelayan akan berbeda dengan desa pertanian atau pariwisata.
Kurikulum harus disesuaikan dengan potensi dan masalah spesifik desa.
Keempat, membangun pride lokal. Literasi
digital seharusnya tidak membuat pemuda desa berlomba menjadi "orang
kota", tetapi justru membanggakan identitas desanya dengan cara yang
modern.
Penutup: Dari Konsumen
Menuju Kedaulatan Digital
Literasi digital bagi pemuda desa bukan sekadar ajang
pelatihan teknis. Ini adalah proyek kedaulatan—agar desa tidak
hanya menjadi obyek digitalisasi, tetapi subyek yang menentukan arah transformasi
teknologinya sendiri.
Pemuda desa yang menjadi pegiat digital adalah penjaga
gawang antara desa dan dunia luar. Mereka memastikan teknologi
melayani kebutuhan desa, bukan sebaliknya. Dalam narasi besar Indonesia Emas
2045, desa-desa yang memiliki generasi muda melek digital secara kritis akan
menjadi penyangga ketahanan nasional.
Seperti kata pepatah lama yang perlu direinterpretasi:
"Pemuda hari ini adalah pemimpin hari ini." Tidak perlu menunggu
besok. Di genggaman smartphone mereka, terletak masa depan desa yang lebih
partisipatif, transparan, dan berdaulat.

Komentar
Posting Komentar